Apakah Kecanggihan Teknologi Mengurangi Porsi Berpikir Dan Bekerja?

Kecanggihan TeknologiBeruntung saya dilahirkan di generasi di mana teknologi mulai berkembang dengan pesat. Bahkan apa yang kita dapat 5 tahun lalu, sama sekali sudah jauh berbeda dengan apa yang kita dapatkan kini. Inovasi-inovasi baru bermunculan di mana-mana sehingga setiap hari setiap orang selalu menanti sesuatu yang baru perihal teknologi, baik itu berhubungan dengan komputer, ataupun kendaraan.

Alasan saya menulis artikel ini, awalnya saya merasa semakin tidak nyaman dengan reaksi masyarakat mengenai teknologi yang mereka sedang terlena akannya. Jangan dapatkan saya salah, saya pun termasuk penikmat teknologi, bahkan sehari saya tahan duduk di depan laptop saya sendiri selama 14 jam. Saya tidak akan mengomentari dan mengkritik teknologi secara blak-blakan, saya hanya mengangkat poin-poin dari dampak teknologi itu sendiri ke permukaan.


  • Semakin manja, bukan mandiri

Setiap perusahaan memiliki teknik khusus untuk menggaet para customernya agar tetap bertahan dari para saingannya. Peningkatan pelayanan demi pelayanan serta tawaran akan kemudahan akses yang luar biasa menjadi pemanis iklan-iklan mereka. Para customer pastinya lebih memilih sebuah jasa yang memiliki pelayanan paling membuat mereka nyaman.

Dahulu, jika ingin mentransfer sejumlah uang ke rekening seseorang, kita diwajibkan untuk berjalan jauh ke mesin ATM terdekat atau bahkan mendatangi banknya langsung dengan diberikan sejumlah persyaratan. Kini, kita cukup menggunakan internet dan lebih-lebih kita dapat langsung menggunakan ponsel kita untuk melakukan hal itu.

Atau dari yang paling jadul, jika ingin mengirim surat, kita mesti berjalan jauh menuju kantor pos terdekat. Surat yang disubmit pun tidak langsung dikirimkan, bahkan untuk sampai ke tempat tujuan diperlukan waktu berminggu-minggu. Sekarang? Sekali klik sekian.

Ingatkah bagaimana revolusi telepon genggam dari masa ke masa? Dahulu sebelum mengenal istilah HP, yang beredar pada saat itu adalah Pager atau radio panggil. Kemudian muncullah telepon selular yang menggerus eksistensi dari Pager. Setelah itu radio, permainan, kamera, perekam suara, kalkulator, dan lain sebagainya menjadi fitur tambahan dari sebuah ‘telepon’.

Waktu terus berlanjut, pengguna semakin dimanjakan. Munculnya teknologi GPS, layar sentuh, hingga dapat menggantikan beberapa fitur komputer membuat telepon genggam menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan sehari-hari. Saya ingat 3 tahun lalu, untuk mengecek pulsa internet, saya harus masuk ke situs providernya lewat browser dan melakukan beberapa langkah sebelum akhirnya saya dapat melihat nominal pulsanya. Sekarang? Saya cukup klik dari aplikasi di ponsel saya dan tara…!


  • Bencana yang tidak terlihat

Di sinilah kemudian letak kekhawatiran saya muncul. Segala sesuatunya hari ini adalah serba teknologi. Termasuk menonton siaran langsung hingga mengintip apa yang telah dilakukan oleh teman-teman kita. Semuanya dapat dilakukan hanya dalam sedikit sentuhan tangan. Kita mungkin berdecak kagum melihat fakta hari ini yang semenakjubkan itu, saya juga. Namun, entah mengapa saya menjadi sedikit tidak nyaman dengan kenyataan ini.

Jika hari ini orang-orang selalu mengatakan, “Searching aja di internet!” untuk suatu ilmu yang mereka tidak ketahui, maka itu adalah suatu hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tetapi mengingat banyaknya data yang tidak valid menyebar di dunia maya, penyebaran berita dusta atau hoax pun tidak dapat dielakkan. Ditambah lagi, banyak dari kita yang meninggalkan untuk bertanya kepada ahlinya secara langsung karena kopas (kopi paste) dirasa lebih memudahkan mereka.

Selanjutnya? Kemalasan menjadi merajalela. Beberapa orang karena sudah terlalu banyak mengetik, kualitas tulisan tangannya berkurang drastis. Yang dilakukan setelah bangun dari tidur, beberapa di antara kita bahkan ada yang langsung menyambut telepon pintarnya dan berlama-lama dengannya hingga berjam-jam. Orang-orang yang memiliki kendaraan bermotor kini menjadi jarang berjalan kaki meski hanya 100 meter. Saya sendiri terkadang malas untuk mengecek pulsa internet walaupun sekarang sudah dalam sekali sentuh, mengharapkan ada suatu metode yang dapat lebih mudah lagi.

Hal ini tentu saja jadi miss di kalangan masyarakat karena betapa halusnya pengaruh teknologi mengatur rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Mungkin banyak istri yang sudah jarang memasak karena merasa dapat dengan mudah memesan makanan lewat ponsel pintar mereka. Terlebih banyak jasa murah yang ditawarkan untuk melakukan laundry, bersih-bersih rumah, hingga mengurus anak. Sedangkan yang sebenarnya mengemban tanggung jawab lebih memilih untuk asyik depan layar.

Jika ada yang beralasan, “Tapi kan itu semua bisa menghemat waktu…

Jika memang alasannya seperti itu, maka mereka seharusnya lebih produktif karena waktu luang semakin banyak didapat. Namun yang terjadi adalah, mereka justru seharian menatap media sosial dan menggeser-geser jari mereka ke atas dan ke bawah tanpa memiliki tingkat manfaat yang begitu berarti serta cenderung membuang-buang waktu. Ditambah lagi, mereka menyangka bahwa media sosial itu adalah suatu hal yang bebas, sehingga banyak di antara masyarakat yang menyebarluaskan aibnya sendiri dan memancing setiap warga dunia maya yang membacanya untuk memandang rendah mereka.


  • Bahaya generasi alfa

Setelah generasi Z, maka akan timbul generasi alfa yaitu orang-orang yang lahir di atas tahun 2000. Mereka sudah dibesarkan dengan banyak kemudahan, bahkan dari kecilnya sudah mahir memainkan gadget-gadget. Saya kadang agak kaget melihat anak-anak kecil di daerah-daerah sudah sangat lancar mengendarai kendaraan-kendaraan bermotor, saya hanya memandang dari sisi yang berbeda pada saat itu, dan entah mengapa saya begitu khawatir.

Banyak anak-anak hari ini yang jika ditanya apa cita-cita mereka, beberapa dari mereka akan menjawab,

Saya ingin menjadi Youtuber, Biker, Traveller, dsj…

Saya tidak menyebut cita-cita mereka salah, tidak sama sekali. Namun saya begitu rindu dengan anak-anak di zaman saya dulu yang begitu innocent yang menyebutkan cita-cita mereka masing-masing dengan polosnya,

Saya ingin menjadi guru, dokter, ulama, ilmuwan, dsj…

Inilah suatu bentuk kekhawatiran saya yang lain. Jika banyak anak yang ingin menjadi selebritas dunia maya, siapa lagi yang akan menguasai ilmu-ilmu terapan? Baik itu ilmu dunia atau ilmu akhirat? Dikhawatirkan, pada hari di mana para pakar dan ulama sudah berangsur-angsur hilang dari muka bumi alias wafat, maka dapat dipastikan tidak ada lagi yang dapat dijadikan panutan.

Apalagi segala sesuatunya hari ini terlalu mengedepankan teknologi karena memang lebih akurat dalam melakukan banyak hipotesa dan perhitungan. Saya melihat, untuk merancang sebuah bangunan dan ukurannya, cukup gunakan sebuah software dan kita dapat tahu berapa berat bangunannya, masa jenisnya, prediksi keseimbangan dan ketahanan akan angin dan gempa. Jika ada bagian yang berbahaya, warna merah akan muncul disekitar bagian tersebut dan kita diberitahu apa yang harus kita lakukan. Tentu saja ini dapat menggantikan profesi dari seorang sipil. Setiap ilmu kini sudah dapat dicari di internet, pelahan-lahan melenyapkan profesi seorang guru.

Atau sekarang teknologi penerjemah yang dapat langsung menerjemahkan berbagai bahasa asing lewat HP dan suara. Sehingga, ini menjadi sebuah kabar buruk bagi setiap ahli bahasa dan penerjemah. Apalagi setiap harinya teknologi selalu mengalami peningkatan dan kemajuan-kemajuan, membunuh peran manusia dari hari ke hari. Tinggallah mungkin suatu masa di mana profesi hanya mengandalkan dari bidang hiburan dan celotehan-celotehan. Profesi agamawan pun kian pudar karena kita sudah terlena dengan hiburan-hiburan tersebut tanpa mau dengar lagi panggilan-panggilan adzan, apalagi panggilan taushiyah yang kita dapat berdiskusi langsung dengan ahlinya.

“Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.”

(Al-Hadits)

Akan kah anak cucu kita merasakan hal serupa?


  • Kesimpulan

Lestarikanlah ilmu-ilmu terapan. Belajarlah dari ahlinya. Belilah buku bagus dari toko buku dan gunakanlah waktu untuk naik kendaraan umum sambil membaca buku tersebut. Mungkin perlu adanya ilmu manajemen teknologi agar hal tersebut tidak terlalu jauh mengubah pola kehidupan masyarakat.

Sudah banyak profesi-profesi penting yang telah digantikan oleh teknologi, sehingga orang-orang akan lebih memutuskan untuk menggunakan teknologi untuk memproduksi karya-karya mereka dengan sedikit usaha dan mengemis like dari masyarakat jagad maya serta menjadi selebgram mendadak tanpa memiliki ilmu manajemen yang berarti.

Dunia yang seperti inikah yang diinginkan oleh kita?


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)