Gemar Nyontek dari Sekolah, Apa Dampaknya Di Kehidupan Nyata?

nyontek“Nanda, sini kamu! Ibu jewer kamu!”

Waktu itu saya masih kelas tiga SD, sedang ujian caturwulan terakhir. Karena saya haus, rencananya saya mau meminta minum dari teman saya yang duduk di depan. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran saya waktu itu sehingga saya berjalan maju ke tempat saya ingin meminta minum.

Pengawas sedang tidak ada di tempat, namun begitu sampai ke tempat teman saya, muncul seorang ibu guru yang bukan pengawas namun tiba-tiba masuk ke kelas saya dan terucaplah perkataan pada kalimat di paling awal.

Saya mengingat-ingat masa itu, dan saya kagum ternyata sewaktu saya berjalan menuju teman saya, tidak ada satupun murid yang tidak bergeming dari tempat duduknya, termasuk yang paling tidak pandai sekalipun. Mereka semua tetap diam di kursi masing-masing. Makanya saya kaget dengan kenyataan di masa-masa sekolah berikutnya yang meskipun ada pengawas, kegiatan contek-mencontek ketika kegiatan ujian berlangsung tetap lancar dengan jayanya.


  • Terjadi begitu saja

Sejujurnya, sewaktu SMA saya pernah menjadi ‘agen’ untuk menyebarluaskan contekan untuk Ujian Nasional yang memang telah dibocorkan oleh seorang oknum, dan saya happy dalam melakukan itu dengan modus menolong orang lain. Bahkan pengawas yang didatangkan dari sekolah lain tahu akan kegiatan ini dan hanya menyarankan kami agar tidak menyebarkannya dengan berisik.

Di satu sisi, saya sering mengacungkan tangan ke seluruh kelas untuk memberikan isyarat jawaban mengingat seisi ruangan pada saat itu paham bahwa saya adalah orang yang paling berprestasi di kelas dan mereka mengandalkannya. Pengawas hanya bercanda dengan saya dan teman saya membantu celotehan tersebut dengan menyebut-nyebut saya sebagai maskot. Wait, what.

Semua orang tidak luput dari kegiatan menyalin, baik yang pintar maupun yang tidak. Saya pun salah satunya. Tidak jarang saya sangat jarang belajar meskipun malam itu adalah masa-masa ujian nasional. Contekan, salinan, sebuah kertas kecil yang disematkan dan ditransfer begitu halusnya menandakan sebuah solidaritas yang sangat baik tersebar seantero ruangan kelas membuat semua murid tidak memiliki kekhawatiran dalam menghadapi Ujian Nasional.

Sekarang hampir setiap orang mencontek. Di kampus, tes karyawan, bahkan dalam seminar dan kuisioner sekalipun yang nyata-nyata harus meminta kejujuran dari diri sendiri, menjadikan sebuah budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita.

Tidak heran, jika ditanya mengenai ilmu eksak yang pernah mereka pelajari di sekolah, jangankan teorinya, jenis mata pelajarannya pun mereka lupa seakan-akan tidak pernah mendengar akan sebuah ilmu eksak tersebut.

Dua pertanyaan mulia kemudian muncul ke permukaan, apa latar belakang budaya baru ini dan apa dampaknya ke depannya?


  • Sebuah hari di mana tidak ada contekan

Sekolah sudah selesai dan para alumnus sudah mendapatkan ijazahnya masing-masing. Setiap deret nilai palsu dari para pencontek membuat prasangka bahwa mereka akan dapat dengan mudah menghadapi tantangan hidup berikutnya. Apakah prasangka tersebut benar adanya?

Yang terjadi hari ini adalah, baru dapat masalah kecil sudah mengeluh, baru dapat beban kerja sedikit sudah mengeluh, baru dapat komplain dari pelanggan yang membayar murah sudah mengeluh, baru tidak dihargai oleh satu orang sudah mengeluh, dan baru mendapat suatu perkara yang belum ada apa-apanya sudah teriak-teriak.

Itulah yang hari ini dialami oleh orang-orang yang dahulunya senang mencontek di sekolah. Mereka kaget ketika menghadapi soal-soal di dunia nyata yang ternyata tidak memiliki contekan. Akibatnya, mereka sudah kalah dalam hal yang masih sangat mendasar.

Orang-orang yang gemar mencontek tidak dilatih untuk belajar dan bekerja keras dari kecil, mereka hidup dalam glamor kenikmatan dan kemudahan yang membuat mereka enggan mendapatkan berbagai macam masalah, meski sekecil apapun masalah itu. Mereka menampik kenyataan bahwa berbagai prahara, apapun bentuknya, pasti akan menimpa setiap makhluk hidup yang ada di dunia.

Orang yang sudah dilatih dengan belajar dan berusaha keras selagi mengenyam bangku sekolah, mereka tidak akan gegabah ketika diterpa sebuah masalah, bahkan masalah yang cenderung menimpa orang-orang seperti itu bukanlah sebuah masalah yang ringan. Dan mereka tidak sedikit yang berhasil untuk bersabar karena sudah terbiasa.


  • Segala sesuatu memiliki mula

Kita memahami bahwa tuntutan setiap orang tua agar anaknya menjadi yang terbaik tidak dapat disangkal lagi. Di sekolah pun akhirnya para anak berusaha dengan melakukan segala cara agar setidaknya nilainya tidak anjlok. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya seperti sebuah binatang sirkus yang ahli dalam setiap bidang, baik bidang yang disenanginya maupun yang tidak. Ditambah lagi, si anak bukanlah anak yang cepat dalam menerima pelajaran.

Tentu saja, menghindar dari amukan orang tua menjadi prioritas. Nilai yang di atas rata-rata kini menjadi target tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan si anak. Belajar? Si anak tidak mengerti apapun. Bahkan hampir setiap guru pun kini memang hanya duduk untuk memasukkan segala sesuatunya kepada si anak tanpa ada sebuah takaran dan parameter dalam mengajarnya.

Saya pernah memiliki seorang guru yang mengatakan, “Ibu sudah cukup senang jika kalian sudah dapat mengerti meski hanya 22 persen pelajaran ibu.”

Benar, kita tidak dapat membuat semua orang mengerti secara penuh bahkan diri saya pun yang kerap meraih juara pertama pun seringkali tidak mengerti apa yang tengah diterangkan oleh guru saya sendiri. Akhirnya, naluri suci setiap anak mulai berontak dan berusaha mendapatkan apapun yang membuat mereka aman dari setiap tuntutan yang ditujukan kepada mereka dengan berbagai cara.

“Yang penting orang tua saya tidak marah dengan nilai yang saya dapat.” Itulah standar minimalnya.

Yup, timbullah budaya mencontek. Dan si anak pun tidak perlu repot-repot belajar karena cukup bersandar kepada murid-murid yang ia rasa paling pintar di sekolahnya. Dari sinilah bermula sebuah era di mana setiap orang saat ini hanya ingin hidup dalam berbagai kemudahan dan pelayanan.


  • Menyelamatkan diri masing-masing

Saya bertanya kepada teman saya, “Pernah paham akan hal ini? Atau setidaknya tahu dasarnya?”

Teman saya menggeleng. Padahal itu adalah materi umum yang kerap dipelajari setiap murid di sekolahnya. Begitu saya jelaskan bahwa materi tersebut memiliki manfaat ini dan itu di dunia yang sedang dia alami kini, secara spontan dia kaget bukan kepalang. Dia akhirnya merasa setiap receh yang telah dikeluarkan oleh orang tuanya adalah sia-sia.

Seperti yang saya telah sebutkan sebelumnya, masalah yang dialami oleh setiap manusia di kehidupan nyata tidak memiliki contekan apapun, dan kita dipaksa untuk menyelam dan menemukan sebuah solusi di dasar masalah yang kita tidak sukai hingga kita berhasil menemukannya sebelum lautan masalah yang lain mulai mengguyur kita dari arah yang tidak dapat kita ramalkan.

Akhirnya, mereka kebingungan dengan hal ini dan tidak menemukan orang pintar yang dapat menghilangkan masalahnya dengan sekedip mata. Yang ada, mereka justru meninggalkan orang-orang yang telah berpengalaman disebabkan orang-orang seperti itu hanya dapat memberikan sebuah saran dan jalan keluar dibandingkan dengan menghilangkan masalah mereka. Para pencontek inginnya instan, bukan hanya sekedar solusi yang di mana mereka harus repot-repot menjalankan solusi tersebut.

Di kehidupan masyarakat pun para pencontek masih memegang prinsip instan dan tidak ingin menunggu apalagi harus bersusah payah. Akhirnya, mereka merasa bahwa menunggu lampu merah itu adalah sesuatu yang merepotkan, kemudian mereka terobos. Hingga akhirnya kursi pemerintahan diisi oleh orang-orang yang dulunya seperti itu, mereka ingin instan, tidak ingin berusaha dan berlelah-lelah. Tak heran, praktek korupsi pun menjadi lagu kebangsaan mereka demi meraih sesuatu yang tidak butuh segala sesuatu yang mereka rasa sebagai hal yang mengulur-ulur waktu.

Itulah mengapa saya simpulkan bahwa para pencontek hanya dapat mementingkan dirinya sendiri seperti apa yang ia lakukan di sekolah. Persetan dengan masalah orang lain, masalah diri sendiri pun banyak. Maka tidak heran banyak orang yang jangankan bermanfaat bagi orang lain, bagi dirinya sendiri pun, dia tidak berguna. Pada akhirnya mereka hanya sibuk corat-coret dan bernyanyi, dan menjadi selebriti (apalagi selebgram) adalah sesuatu yang hanya dilakukan berdasarkan kesenangan mereka.

Tidak ada yang salah dengan pemusik, penyanyi, dan penggambar. Namun karena hari ini sudah banyak template-template keren yang dapat membuat gambar menakjubkan dalam sekejap tanpa repot serta dapat dikomentari positif oleh orang-orang di media sosial sudah menjadi pelampiasan hebat generasi muda kita sehingga kita lupa bahwa orang-orang yang ahli dalam ilmu eksak kian hari jumlahnya kian menurun. Akhirnya pada hari ini banyak orang ahli, termasuk orang yang ahli gambar dan musik hari ini sudah tutup akun mereka karena hal tersebut. Saya bahkan menuliskan artikel khusus untuk membahas paragraf ini yang dapat kalian baca di sini.


  • Kesimpulan

Ilmu yang baik adalah ilmu yang diturunkan, bukan didapat dengan instan. Bahkan saya sebagai programmer pun agak kecewa melihat kenyataan hari ini bahwa banyak programmer hari ini yang begitu mengandalkan framework atau landasan kemudahan bekerja yang dipenuhi fasilitas-fasilitas yang sangat memudahkan dan meninggalkan bahasa aslinya.

Jangan dapatkan saya salah, sayapun menggunakan framework, namun saya tetap mempelajari struktur bahasa aslinya. Framework diciptakan oleh orang-orang baik untuk memudahkan dan membuat waktu programmer lain lebih efisien, namun yang terjadi justru banyak programmer yang terlalu terlena dengan kemudahan-kemudahan tersebut dan semakin tidak mengetahui apa saja fungsi-fungsi yang ada dalam sintaks pemrograman.

Inilah mengapa banyak orang yang bangga berlebih ketika dapat membuat sesuatu yang hebat hanya berdasarkan alat, hanya berdasarkan tutorial, dan segala sesuatu yang hanya dalam sekali klik. Bahkan dosen saya pun pernah kesal kepada para penulis buku yang hanya bersandar pada daftar pustaka saja, sedangkan upaya murni yang disuntikkan bukunya tersebut tidak lebih dari 20 persen. “Ingin menulis buku atau kompilasi?” Begitu tuturnya.

Kabar buruknya? Banyak dari kita menyangka bahwa apa yang masyarakat kita lakukan dengan serba instan hari ini adalah salah satu tanda kebangkitan dan kemajuan negara. Benar-benar masa yang dipenuhi dengan berbagai tipu daya.


—<(Wallaahu A’lam)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)