oknumSeringkali saat kita melihat berita mengenai seorang anggota aparat yang melakukan pelanggaran hukum, atau seorang anggota komunitas yang berbuat melenceng, maka ia dengan serta-merta dijuluki oknum oleh instansi atau solidaritas yang bersangkutan.

“Itu hanya ulah oknum! Bukan bagian dari kami!” Begitu kira-kira kilah mereka.

Perlu diketahui, itu adalah alasan yang umum dan wajar, lalu mengapa saya mengangkat tema ini ke sebuah artikel khusus?


  • Telaah makna

Oknum itu sendiri sebenarnya memiliki banyak arti di KBBI, namun jika diartikan secara istilah, arti dari “oknum” dapat menjadi seseorang yang tidak mewakili suatu kelompok atau instansi tertentu.

Misalnya, jika ada sebuah perusahaan ternama yang manajemennya sudah terbukti unggul dan dipercaya, kemudian suatu ketika salah seorang karyawannya berbuat sesuatu yang merusak citra perusahaan di mata rekan bisnis atau pelanggannya, karyawan tersebut dapat dikatakan sebagai oknum.

Mengapa? Tentu saja karena ulah pegawai tersebut tidak mewakili profesionalitas yang telah menjadi budaya perusahaan.

Namun sayangnya, banyak oknum di sini yang ternyata bukanlah oknum.


  • Sebab lain yang lebih kuat

Kita pernah dengar sebuah peribahasa, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Nila yang setitik saja sudah dapat merusak sebuah susu sebelanga, apalagi jika nilanya dituang atau bahkan diguyur.

Sayangnya, banyak sekali kejadian dari anggota atau pegawai yang dapat menghilangkan kepercayaan dari masyarakat, namun kelompok atau instansinya hanya dengan enteng berkata, “itu cuma ulah oknum”.

Tidak dapat lagi disebut oknum jika kelakuan yang meresahkan dari keanggotaan tersebut sudah cukup banyak dan telah menjadi stigma negatif di masyarakat.

Seseorang yang tinggal di daerah A tidak dapat lagi berkilah “ulah oknum” jika banyak warga di daerah A yang bertindak tidak menyenangkan. Bahkan sudah menjadi tanggungjawab pemimpin di daerah A untuk membangun kembali citra baiknya di mata daerah lain.

Perlu diketahui, beralasan, “Kan nggak semuanya begitu…” hanyalah memperburuk keadaan, karena itu berarti menambah fakta bahwa memang hampir semuanya seperti itu.

Bagaimana bisa disebut oknum jika kenyataannya yang disebut “oknum” tersebut jumlahnya memang sudah sangat banyak?


  • Oknum asli

Saya pernah melihat di situs Quora tentang seorang mahasiswa Vietnam yang mengeluh bahwa di Singapura ia tidak mendapatkan pengalaman yang baik dari pemilik tempat ia menginap.

Mahasiswa tersebut dikenakan kenaikan harga yang tidak wajar atas perbaikan apartemen yang ia bahkan bukan penyebabnya.

Saya melihat di bawahnya banyak sekali orang Singapura yang membalas kisahnya dengan nada simpatik. Hampir semuanya memiliki balasan yang serupa, yang kira-kira isinya adalah,

“Kami sebagai warga di Singapura menyayangkan kejadian ini. Meskipun warga kami adalah warga yang baik, taat hukum, dan berpikiran maju, namun kami tidak dapat mengelak kenyataan bahwa akan masih tetap ada orang-orang brengsek yang tinggal di negara kami, dan pastinya di negara maju lainnya.

Namun percayalah, orang seperti itu mungkin hanya satu atau dua di negara kami.”

Perhatikan kalimat terakhirnya, “Orang seperti itu mungkin hanya satu atau dua di negara kami.”

Artinya, warga Singapura berusaha menenangkan mahasiswa asal Vietnam tersebut agar jangan khawatir dengan kejadian itu, bahkan ada yang memberi tips bagaimana cara mendapatkan apartemen yang nyaman di Singapura kepada sang mahasiswa.

Dari kisah di atas, barulah warga Singapura yang menjadi pemilik apartemen itu dapat disebut dengan “oknum”.


  • Oknum yang lain

Jika ditilik dari sebuah pengertian pada bagian pertama, maka kita dapat mengartikan bahwa “oknum” adalah orang yang tidak mewakili suatu kelompok atau instansi. Hal ini juga dapat diaplikasikan untuk hal lain.

Bagaimana jika yang dimaksud oknum di sini adalah orang baik?

Maksudnya orang baik?

Misalnya, di sebuah perusahaan, hampir seluruh pegawainya bertindak meresahkan dan sembrono yang dapat membahayakan perusahaan dan memutuskan hubungan bisnis dengan pelanggan dan mitranya. Jika diaplikasikan alasan, “tidak semuanya begitu”, artinya masih ada satu atau dua pegawai yang baik dan profesional di perusahaan tersebut.

Hal ini dapat menjadi arti bahwa pegawai baik di perusahaan itulah yang menjadi ‘oknum’. Sebab tentu saja, sikap pegawai baik tersebut tidak mewakili budaya di perusahaan tersebut.

SOP dan manajemen-manajemen mungkin terpajang, namun nyatanya yang mematuhinya hanya satu atau dua orang saja, yakni pegawai yang baik tersebut.

Bisakah pegawai baik tersebut kini yang menjadi oknum? Pegawai baik tersebut bertolak-belakang dengan kelakuan dari hampir seluruh pegawai di perusahaan tersebut.


Jadi, mungkin oknum yang selama ini kita sebut-sebut bisa jadi bukanlah oknum…

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap