
Suatu malam di kantor yang sudah gelap, saya beristirahat dari pekerjaan saya pada hari itu, memutuskan untuk membuka sebuah situs web.
Nama situs webnya adalah The Cutting Room Floor, mencari permainan yang pernah saya mainkan dulu, entah Mega Man atau Mario, apa pun.
Situs web semacam apa itu? The Cutting Room Floor atau disingkat TCRF berisi sisa-sisa peninggalan bersejarah pengembangan permainan digital yang tidak dapat kita saksikan setelah produknya jadi.
Menyelami situs web seperti itu bagi saya memiliki sensasi tersendiri. Ada rasa “wah” dan “wow” saat saya mengetahui ternyata dulunya ada proses seperti ini sewaktu membuat game-nya.
Manusia memiliki rasa ingin tahu yang membuatnya menyukai penemuan atau penyingkapan sebuah misteri. Itu menyebabkan otak mengeluarkan dopamin sebagai salah satu hormon kebahagiaan.
Seorang petualang akan luar biasa bahagia saat petualangannya masuk ke dalam hutan yang tidak ia ketahui ternyata berakhir saat ia menemukan air terjun yang indah.
Rasa keingintahuan adalah senjata alami manusia supaya bisa bertahan hidup dan menikmatinya.
Dan ketika sebuah misteri terungkap, manusia entah akan menerima rasa takjub atau rasa lega karena sesuatu yang menggantung bisa menyebabkan rasa cemas.
Maka dari itu tidak heran mengapa kita begitu menyukai membaca cerita atau menonton film, karena harapannya kita menemukan sesuatu yang tidak terduga, yang dapat kita nikmati.
Apalagi saat penemuan tersebut ternyata terkoneksi dengan sebuah perasaan mendalam dari seseorang yang tidak kita kenal, dan hal itu menyisakan ruang teka-teki untuk kita pecahkan sendiri. Contohnya pada situs web TCRF yang saya kemukakan baru saja.
Pada TCRF, misalnya saya telusuri permainan Super Mario Bros yang legendaris itu.
Ternyata ada beberapa gambar, musik, musuh, hingga objek yang tidak jadi tampil kepada publik tetapi datanya masih ada di sana, dan hanya dapat diakses dengan menggunakan kode khusus.
Misalnya, di permainan Super Mario Bros jadul itu, dulunya ada musuh naga dan kepiting saat masih dikembangkan. Tetapi ternyata tidak pernah kita temukan di permainannya setelah dipublikasikan.
Di TCRF, saya bisa menemukan juga beberapa proses para pengembang game dari jejak-jejak kode yang ditinggalkan dan tidak dihapus.
Beberapanya bahkan ada pesan-pesan terselubung dan emotikon aneh saat melihat grafik-grafik yang tidak terpakai namun masih ada dalam file gamenya.
Melihat hal tersebut tentu membuat saya bertanya-tanya, mengapa para pengembang game tersebut meninggalkannya begitu saja? Apa cerita di baliknya?
Benar-benar mirip seperti arkeolog yang memasuki sebuah gua, dan kemudian menemukan bekas-bekas kehidupan manusia pada zaman itu.
Rasa penasaran itu memicu otak melepaskan dopamin, menggantikan kekosongan dari aktivitas monoton dan kehampaan saat bersosial media.
Dengan hormon dopamin tersebut, motivasi bisa kembali bangkit, karena pada dasarnya manusia memiliki fitur untuk bertahan hidup atau survival yang sesungguhnya. Jadi bukan survival palsu untuk menghadapi hari-hari yang begitu-begitu saja, atau berinteraksi dengan orang yang itu-itu lagi.
Contoh lain, adalah seni. Manusia menyukai seni. Saya akan ambil contoh seni lukisan di sini.
Museum galeri seni muncul dan memiliki tarif berbayar “hanya” untuk menikmati rentetan lukisan itu ada karena sebuah alasan.
Saat melihat lukisan, otak manusia menjadi aktif menerjemahkan misteri di balik lukisan tersebut dan mengisi ruang kosong sebagai kebutuhan fantasi yang cukup memuaskan.
Betul, maka dari itu, menikmati hasil lukisan bisa termasuk salah satu metode healing.
Namun, saya menghindari lukisan modern yang isinya terlalu sederhana seperti hanya lingkaran dan kotak saja.
Apalagi jika sang pelukis terlalu banyak menjelaskan arti yang seolah dibuat-buat untuk mendeskripsikan lingkaran dan kotak tersebut. Sejujurnya itu menghilangkan esensi dari seni itu sendiri.
Saya hanya ingin menikmati sebuah lukisan dan biarkan saya sendiri yang menafsirkannya, setiap goresan, setiap detail, dan setiap warnanya.
Ada pun penjelasan berbelit-belit di baliknya hanya sebagai tambahan saja yang tidak terlalu saya perlukan.
Tidak, saya tidak ingin dengar sebuah cerita panjang bak novel dari lukisan yang isinya hanya corat-coret bak anak kecil yang sedang bermain-main dengan botol kecap.
Kebanyakan orang hari ini merasakan hidup yang hampa di tengah kecanggihan dan kemudahan teknologi, bahkan hingga memasang mode survival yang sebenarnya tidak perlu.
Pada akhirnya, kekosongan itu perlahan membuat depresi yang mengakibatkan aktivitas sehari-hari terasa berat, hingga tidak lagi menjadi orang yang peduli.
Itu disebabkan oleh fitur rasa ingin tahu otak yang tidak lagi diasah, yang pada akhirnya rasa ingin tahu tersebut tersalurkan untuk mencari kabar terbaru di media sosial yang hari ini kebanyakan isinya tidak bermanfaat.
Belum lagi dengan hadirnya AI, banyak orang yang bukannya memanfaatkan AI tersebut untuk menggali keingintahuan mereka lebih dalam, justru menjadikan AI sebagai alat untuk mendapatkan timbal balik instan.
Padahal, misteri lahir dari sebuah proses yang terkompres dengan rapi, membuat kita bahagia saat kita menemukan detailnya satu per satu.
Hari ini orang-orang yang berbuat ekstra dan sepenuh hati sudah semakin jarang. Padahal, setiap produk yang mereka hasilkan bukan hanya bermanfaat, melainkan juga menyimpan detail tersembunyi yang membuat bahagia siapa pun yang berhasil menemukannya.
Di sanalah magic-nya.