Virus Corona COVID-19: Tentara Allah yang Menjadi Guru

Virus Corona

Awalnya saya mendengar wabah berupa pandemi virus corona hanya beredar di sekeliling Cina saja. Kemudian cerita menjadi agak berbeda ketika virusnya sudah mendarat sempurna di Hongkong, Jepang, dan Singapura. Dan pada akhirnya, ceritanya memang sudah jauh berbeda ketika kini saya perhatikan hampir seluruh dunia sudah memiliki setidaknya satu orang yang positif terkena wabah corona, dengan total kasus hingga lebih dari seratus ribu orang dan orang yang meninggal karena wabah ini mencapai puluhan ribu orang.

Ada apa dengan dunia? Hingga dituliskannya artikel ini, saya masih meliburkan karyawan-karyawan saya yang artinya mereka tetap bekerja di rumah, dengan waktu yang mereka tentukan sendiri selama masa karantina. Begitu pun saya, yang tetap berusaha untuk produktif selama terjadinya wabah.

Bagaimana pandangan kita tentang virus corona ini?


  • Mereka memang ‘tentara Allah’

Dalam sebuah khutbah Jumat, selagi virus tersebut masih ‘mendiami’ wilayah Wuhan dan sekitarnya, saya mendapatkan sebuah petuah menarik dari sang Khatib. Beliau memberitahu jamaah yang kira-kira begini, dibantu saduran dari sebuah situs berita resmi,

Presiden China Xi Jinping, pada Selasa 1 Oktober 2019, mengatakan dalam pidatonya bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menghentikan perkembangan Tiongkok.

Hal itu disampaikannya untuk memperingati HUT ke-70 RRC atau Hari Nasional China di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok.

“Tidak ada kekuatan yang dapat mengguncang pondasi negara besar ini,” kata Xi dalam naskah pidato berbahasa Mandarin, yang diterjemahkan secara resmi oleh media pemerintah, dikutip dari CNBC, Selasa (1/10/2019).

“Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan orang-orang China dan bangsa China untuk terus maju,” lanjutnya.

“Hiduplah Partai Komunis Tiongkok yang agung. Dan panjang umut Rakyat Tiongkok!” sang presiden China mengakhiri pidatonya, yang berlangsung kurang dari 10 menit.

Lanjut sang Khatib, “Allah Ta’ala tidak mengirimkan pasukan yang terlihat mata, hanya mengirimkan sebuah jenis virus, dan kemudian semuanya luluh-lantak.”

Kita berharap bahwa dengan adanya pandemi tersebut pemerintah Cina tidak lagi angkuh dan semena-mena terkhusus untuk muslim di Uighur.

Namun, Allah Ta’ala ternyata juga berkehendak untuk menyebarkan pandemi tersebut ke seluruh dunia, bahkan hingga menyebabkan ritual umrah ditutup sementara oleh pemerintah Arab Saudi.

Hingga saat ini, saya masih menuliskan artikel ini ‘dalam kegelapan’. Apa hikmah dari semua ini?


  • ‘Tentara Allah’ untuk dunia

Sudah 500-an orang yang positif corona di negeri tercinta ini, pertumbuhannya bahkan melesat jauh lebih tinggi dibandingkan Filipina, Kamboja, Vietnam, bahkan India sekali pun.

Saya ingat sebelumnya, beredar pesan berantai WhatsApp yang saya akui itu lucu, dari seorang dokter yang mengatakan bahwa orang Indonesia itu kebal-kebal, sering bermain kotor-kotoran, jika sakit hanya meminum temulawak dan obat herbal akan sembuh, dan printilan-printilan lain yang dibacakan oleh partner saya hingga gelak tawa terdengar seantero ruangan kantor.

Kecuali saya, yang sama sekali tidak tertawa. Atau tertawa, namun seadanya. Entah mengapa pada saat itu muncul kekhawatiran saya terhadap pesan WhatsApp yang begitu menggampangkan wabah tersebut, meskipun yang menulis adalah seorang dokter. Saya hanya berpikir apakah virusnya memang ogah dengan orang Indonesia atau yang lebih bahaya adalah apakah kita masih belum memiliki alat medis yang cukup dan mumpuni untuk dilakukannya tes?

Terbukti, tidak lama setelah itu, Indonesia hadir dengan setitik noda, yang kini noda tersebut sudah tersebar tidak hanya di Pulau Jawa saja, yang ironisnya, dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, hingga 9,8%. Benar, noda tersebut adalah jumlah orang yang positif terjangkit wabah corona.

Sekarang hampir seluruh dunia terkena wabah virus corona, di sinilah kita diuji untuk menyikapinya dengan bijak dan tidak angkuh, tidak merasa jumawa. Kita dapat melihat bagaimana sigapnya negara-negara maju menyikapi warganya yang terserang wabah corona COVID-19 ini. Tidak ada candaan, tidak ada cengegesan, tidak ada kesan meremehkan. Terbukti, mereka yang diberikan kesembuhan oleh Allah Ta’ala pun semakin banyak meskipun mereka kafir.


  • ‘Tentara Allah’ untuk Indonesia

Sempat saya tuliskan tentang ‘sisi gelap’ Indonesia yang sebagian masyarakatnya berbangga karena mendapatkan gelar sebagai negara yang paling santuy dalam menyikapi segala sesuatu. Sekarang kesantuyan masyarakat kita dapat terlihat lagi dalam menghadapi wabah corona hari ini.

Sudah berapa kali saya dengar orang-orang yang begitu meremehkan wabah ini. Mereka beralasan tawakkal, padahal tidak ada usaha yang mereka lakukan. Bahkan ulama dan ulil amri pun dilawan ketika mereka sudah memberikan kebijakan bahwa masyarakat tidak perlu shalat berjamaah di masjid dahulu selagi wabah merebak. Namun masyarakat sepertinya banyak yang merasa seolah mereka paling bertauhid, dengan melawan mentah-mentah saran ulama dan ulil amri tersebut. Mereka merasa meninggal dalam keadaan sujud akan lebih utama daripada meninggal di luar itu.

Ditambah lagi, setelah selesai shalat para jamaah bersalam-salaman.

Padahal, para Nabi yang memiliki ketauhidan yang tidak perlu dipertanyakan lagi, sebut saja Nabi Musa as. yang mendapat julukan Kalamullah karena dapat berdialog langsung oleh Allah Ta’ala, ternyata masih ‘lari’ dari bala tentara Firaun. Apakah kita merasa tauhid kita lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul as.?

Semenjak ditempel himbauan dari pemerintah atau ulil amri untuk tidak shalat berjamaah di masjid selagi tidak kondusif, saya lebih memilih di rumah. Bismillah saya ucapkan untuk mengamalkan Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 59 mengenai kewajiban patuh kepada ulil amri selagi bukan dalam koridor maksiat. Dan himbauan untuk menjauhi masjid sudah disetujui oleh para ulama. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak taat.

Belum lagi ketika kita menyadari, faktor ekonomi bisa menyebabkan semakin merebaknya wabah. Seperti mereka yang wajib bekerja hampir setiap hari demi sesuap nasi tanpa terkecuali. Tidak masalah karena himbauan social distancing dapat dilakukan, yang berbahaya adalah mereka yang merasa sudah hidup sehat dan selalu menghirup udara segar di desa-desa beranggapan mereka sudah pasti kebal dari virus apa pun. Plus, minimnya edukasi yang diberikan kepada warga-warga pelosok.

Ditambah lagi, virus corona menyukai para perokok.

Akibatnya? Mereka hanya berbuat hanya berpatokan kepada standar diri mereka masing-masing, menganggap benar tindakan mereka hanya bermodalkan perasaan.

“Sama virus kok takut? Virus kan ciptaan Allah!” Ya, begitu pun dengan harimau, singa, buaya, angin topan, lahar gunung berapi, dan gempa bumi. Lagipula, beruntunglah wabah yang sedang mengganas ini termasuk ‘wabah yang ringan’. Andaikata wabahnya bukan Corona, melainkan, sebut saja, Ebola yang menyerang warga Afrika itu, kita mungkin tidak akan begitu meremehkan.

Lagipula sebagian besar kita adalah muslim, sepatutnya kita merujuk kepada apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dalam menyikapi wabah yang pernah terjadi di masa Beliau.


  • ‘Tentara Allah’ pada zaman Nabi saw.

Rasulullah pernah mengajarkan cara menghadapi wabah penyakit dalam hadits yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf. “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim)

Dalam hal ini, Rasulullah saw. secara langsung pernah mengajarkan untuk me-lockdown, atau setidaknya mengkarantina umatnya jika terdapat wabah penyakit.

Dan yang lebih memprihatinkan, ada hadits yang beredar dalam masyarakat di mana hadits tersebut justru membuat masyarakat (termasuk saya, tadinya) semakin berani untuk meremehkan virus tersebut. Kemudian teman saya yang saya sebut alim, menegur saya secara tidak langsung bahwa hadits tersebut ternyata bathil. Innalillahi.

Hadits apa itu? Bagaimana bunyinya?

Di akhir zaman nanti banyak wabah penyakit melanda manusia di dunia, hanya umatku yang terhindar karena mereka memelihara wudhunya.” (HR. Thabrani)

Ketahuilah, semenjak pertama kali “hadits” dengan redaksi bahasa Indonesia ini muncul, kami berusaha mencari dan bertanya. Namun NIHIL!
Sampai² sahabat kami ust Mizan Qudsiyah hafizhahullâhu berkata: “GAK BAKALAN KETEMU”, karena beliau sudah yakin ini HADITS LA ASHLA LAHU…
Ust Nashiruddin Irfan pun mendukung perkataan ust Mizan dengan mengatakan, “Sampai unta masuk ke lubang jarum (gak bakal nemu).
Ust Sufyan Basweidan sendiri juga mengomentari HADITS BATIL.

Dalam buku Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam karya Abdus Salam Harun dijelaskan soal kisah para sahabat yang terjangkit wabah. Kisah itu salah satunya ditulis dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah.

“Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, kota itu adalah sarang wabah penyakit demam. Banyak dari sahabat Rasulullah SAW yang tertimpa wabah tersebut,” tulis hadis tersebut.

Kemudian hadis itu menceritakan soal tiga sahabat nabi yang terjangkit wabah, mereka adalah Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal, ketiganya tinggal di dalam satu rumah.

Ketiga sahabat nabi itu mengalami demam tinggi hingga tak sadar dengan apa yang mereka ucapkan.

Lihat? Sahabat-sahabat Beliau juga terkena wabah. Padahal ketiga sahabat Nabi tersebut sudah tidak diragukan lagi bahwa mereka begitu menjaga wudlu mereka. Mereka sembuh karena doa Nabi saw. Inilah fenomena yang selalu terjadi di masyarakat kita, yang sebagian besar begitu mudahnya menelan mentah-mentah segala sesuatu yang dibagikan secara luas di sosial media, terlebih jika dibumbui bahasa-bahasa pendukung yang begitu meyakinkan. Tidak terasa jari kita ikut menyebarluaskan hadits bathil tersebut bak virus yang sedang melanda.

Naudzubillah.

Bahkan, kebijakan sholat di rumah ternyata sempat terjadi di zaman para sahabat Nabi Muhammad SAW. Hujan dan jalanan berlumpur berisiko menyulitkan para muslim yang hendak menunaikan sholat bersama-sama di masjid. Ajakan menunaikan sholat di rumah itu konsekuensinya harus dengan mengubah bunyi adzan yang semula mengajak sholat di masjid menjadi sholat di rumah.

“Seperti dinarasikan Abdullah bin Al-Harith: “Hari itu sedang hujan dan berlumpur saat Ibnu Abbas hendak sholat bersama kami. Ketika muadzin yang mengumandangkan adzan berkata Hayyaa ‘alas Salaah, Ibnu Abbas mengatakan untuk mengubahnya menjadi As Shalaatu fir Rihaal (sholatlah di rumah masing-masing). Orang-orang saling melihat dengan wajah kaget. Ibnu berkata, hal ini pernah dilakukan di masa orang yang lebih baik dibanding dirinya (merujuk pada masa Rasulullah SAW) dan ini terbukti.” (HR Bukhari)

Jika memang kita merasa tawakal kepada Allah Ta’ala padahal belum ada tindakan kita untuk mencegah wabah, telisik kembali kisah berikut yang saya yakin juga populer di masyarakat.

Menurut cerita seorang sahabat Nabi SAW, Anas bin Malik, pada suatu hari ada seorang laki-laki berhenti di depan masjid untuk mendatangi Rasulullah. Unta tunggangannya dilepas begitu saja tanpa ditambat. Rasulullah bertanya, ”Mengapa unta itu tidak diikat?” Lelaki itu menjawab, ”Saya lepaskan unta itu karena saya percaya pada perlindungan Allah SWT.”

Maka Rasulullah menegur secara bijaksana, ”Ikatlah unta itu, sesudah itu barulah kamu bertawakal.” Lelaki itu pun lalu menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma. Suatu penjelasan yang gamblang mengenai tawakal telah diberikan Rasulullah lewat peristiwa itu. Bahwa sesudah manusia berusaha, lalu menyerahkan hasilnya pada ketentuan Allah, itulah tawakal menurut ajaran Islam.

Andaikata unta itu sudah diikat, dan ternyata tetap hilang juga, itulah yang dinamakan takdir. Terhadap keputusan takdir, tidak satu pun dapat kita lakukan, kecuali menerimanya dengan tulus ikhlas, sembari berharap, semoga di balik takdir itu ada manfaat yang lebih besar untuk kita.


  • Menyikapi ‘tentara Allah’ dan hikmahnya

Sebagai masyarakat, kita ingin melakukan aktivitas normal seperti sediakala, berharap segala sesuatunya menjadi kembali seperti saat sebelum ada wabah. Maka yang dapat kita lakukan adalah memperkecil kemungkinan wabah tersebut menyebar dan membabibuta. Pemerintah sudah mengeluarkan himbauan karantina dan menjaga jarak ke sesama minimal satu meter, sudah cukup itu saja kita taati.

Semoga dengan berakhirnya wabah ini, masjid dapat menjadi lebih ramai daripada saat sebelum ada wabah. Dan semoga, dengan wabah ini kita dituntut menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana dalam menyikapi setiap kejadian. Boleh saja santuy jika memang itu menjadi identitas negara kita, namun berpikir dua kali juga tetap harus dilakukan demi menjaga semuanya tetap seimbang.

Dan yang terpenting, semoga pandemi korona ini bukan hanya pelajaran bagi Cina untuk tidak angkuh, melainkan untuk setiap warga negara di dunia ini.


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Kutipan saya sertakan dari berbagai sumber

Apakah kalian memiliki masalah yang begitu sulit dan pelik serta kalian bingung ingin mengobrol dengan siapa? Jangan khawatir, daripada terus down dan banyak waktu terbuang karena meratapi nasib, mari buka-bukaan dengan Anandastoon dengan mengunjungi forum terbaru Anandastoon. InsyaAllah dalam selama situs ini dapat di akses akan saya balas. Klik dimari untuk menuju forum dan membuat topik kalian sendiri. Bisa privat lho. Tengkyuk... ^_^

  . Bookmark.

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon