Review Film Disney/Pixar: Coco

Coco

 

Disney/Pixar: Coco, adalah sebuah film dari Pixar yang menceritakan seorang anak yang bercita-cita menjadi pemusik namun dilarang oleh keluarganya yang anti musik disebabkan oleh sejarah keluarga mereka yang menceritakan bahwa buyut mereka meninggalkan keluarganya untuk menjadi seorang musisi namun tidak pernah kembali. Film ini berlatar di Meksiko.

Film Coco sewaktu tayang benar-benar diganggu oleh film ‘pendek’ Frozen yang membuat para penonton bingung dan bahkan ribut-ribut dengan petugas bioskop bertanya apakah benar mereka tidak salah ruangan. Beberapa pun hengkang bahkan sebelum Coco dimulai. Resek ya Disney…

Ini adalah kali kedua saya mereview film Disney sejak kemarin saya ulas film Ralph: Breaks The Internet tepat setelah saya tonton filmnya di bioskop. Semenjak itu saya menjadi senang melihat film-film animasi Disney & Pixar. Yang saya tonton full pertama film sekuel Ralph tersebut adalah Moana, yang mungkin dalam waktu dekat saya akan tulis reviewnya di sini.

Ironisnya, Coco adalah film terakhir yang saya tonton sebelum saya menulis ini karena saya pikir awalnya Coco hanyalah film anak kecil yang bertemakan musik dan berkawan dengan orang-orang mati. Jadi saya tidak tertarik. Namun setelah saya paksakan nonton filmnya ketika makan di Sol*ria saya berubah pikiran 195 derajat mengenai Coco.

Selesai film saya tonton, saya sadar jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam dan restoran sudah mulai sepi. Padahal di meja saya cuma ada es teh tawar doang… hahah.


OK, reviewnya mulai dari sini.

Bagi yang belum menonton filmnya, lebih baik langsung ke bagian paling bawah artikel ini, alias langsung ke kesimpulannya saja. Kecuali bagi yang memang tidak tertarik untuk menonton hehe…

Keseruan: 8/10

Tidak ada yang tahu bahwa budaya hari peringatan orang-orang yang telah meninggal akan menjadi sensasi unik bagi cerita yang disuguhkan. Miguel (tokoh utama) masuk ke dunia orang meninggal karena mencuri gitar dan membuat roh-roh kaget bukan kepalang. Di sini tantangannya adalah mendapat restu dari para buyut yang juga menentang musik untuk kembali ke dunia nyata.

Coco

Saya begitu kaget ternyata konflik dan klimaks film ini justru berada di atas panggung hiburan. Tentu saja sangat jauh berbeda dengan film-film lain yang memiliki adegan bertarung di ruang terbuka dan tempat-tempat klise. Bahkan, klimaksnya dibuat dengan sangat kreatif hingga para penonton konser tidak tahu jika para tokoh sedang dalam suasana konflik.

Alasan bintang hanya 8 dari 10 alias kurang 2, sebab di adegan awal terlalu fokus kepada pengenalan karakter sehingga agak sedikit boring. Kemudian beberapa adegan kemudian di dunia orang-orang mati memang terkesan ‘flat’.


Humor: 7/10

Karakter orang-orang mati digambarkan oleh Pixar dengan rangka manusia berjalan, yang pasti berhubungan dengan tulang-tulang. Di sini Pixar sepertinya sangat cerdas menguasai hampir segala sesuatu yang berhubungan dengan tulang sehingga gerakan karakter dan pengisi-pengisi waktunya sehingga humor ‘receh’ Pixar dengan tulang-tulang tersebut cukup didapatkan.

Alasan bintangnya kurang 3, Coco merupakan film yang lebih mendrama sehingga komedinya agak kurang.


Musik: 7/10

Ini adalah kali pertama Pixar ‘memaksa’ karakter-karakternya untuk bernyanyi. Bahkan film Brave di mana Merida sudah digolongkan menjadi incess Disney, tetap tidak ada satu pun nyanyian yang terucap langsung dari bibir Merida. Sedangkan Coco, karakternya memiliki banyak jumlah musikal yang dihasilkan.

Dan you know, klimaks film ini adalah di atas panggung konser yang ditonton ribuan mayat (kalo asli sih horor) dan karakternya sedang dalam aksi bernyanyi.

coco

Btw, lagu favorit saya adalah ‘Remember Me’. Coba cari deh versi instrumen biolanya di Youtube. Itu lagunya bener-bener cweet ~

Alasan bintangnya kurang 3, meski musiknya tergolong nyaman di dengar, namun mungkin saya tidak begitu berselera untuk mengingatnya. Mungkin karena bahasanya banyak kata ‘termos’ kali ya hahah. Está en España, mi amigo. Yo no lo se este idioma. Gracias…


Cerita: 9/10

Mata saya benar-benar berhasil dibuat melotot oleh film ini. Ya ‘now? Baru sempat nafas saja sudah ada plot twist! Ceritanya benar-benar cepat sehingga saya sedikit bingung karena ‘roketnya sudah tiba di bulan’ padahal masih setengah jalan. Bahkan di tengah jalan pun, plot twist lain bermunculan.

Cerita ini kaya plot twist, dan cerdas! Logika kalian mungkin akan dicabik-cabik jika menonton Coco dalam keadaan ‘kosong’, sebab jalan ceritanya seperti anak pramuka yang mahir bermain tali-temali.

Jalan cerita tokoh antagonisnya pun kreatif, bahkan matinya pun lebih membuat puas karena karmanya benar-benar membuat DejaVu yang jadi kenyataan.

Bahkan, belum puas Pixar membombandir perasaan penontonnya dengan gunungan plot twist yang terjadi di cerita, Pixar juga super iseng menyisipkan plot twist di judul filmnya. Benar, Coco adalah sebuah plot twist, jika kalian belum tahu bahwa Coco dialamatkan kepada apa/siapa.

Alasan saya kasih nilai 9 di sini, jalan ceritanya agak kurang greget. Tapi serius, persetan dengan jalan cerita greget. Mengapa masih senang yang greget-greget jika memang plot twistnya ternyata lebih greget daripada hanya yang sekedar greget-greget hingga kalian lebih gregetan dari greget yang telah kalian gregetkan? Gregetnya greget yang lebih greget dari greget yang cuma greget. Apa greget kini masih terdengar seperti sebuah kata?


Animasi: 9/10

Visualisasi dunia orang mati benar-benar surreal. Jika kalian melihat film Disney kebanyakan digambarkan sebagai film fantasi dengan istana-istana dan air terjun, Pixar mencoba mode yang lebih greget (greget lagi aja) dengan menggambarkan fantasi alam gaib. Eh, ada transportasi publiknya juga lho yang memudahkan travelling di dunia lain tersebut.coco

Pencahayaannya, materialnya, pemilihan warna efeknya, benar-benar terbawa ke dalam suasana para mayat (hiiii) yang justru ini adalah nilai plus. Animasi dan gerakan-gerakannya pun sangat terlihat natural dan ‘tidak biasa’. Berjalan a la tengkorak? Film ini menggambarkan semuanya.

Alasan saya tidak menyempurnakan nilai animasinya, yes ini memang bukan film fantasi yang -terlalu- fantasi. Hanya dunia mayat (hiii pt. 2)… So, what d’ya expect?


 Nilai keseluruhan: 9/10

Kesimpulannya, film animasi Disney/Pixar Coco merupakan film yang terlihat remeh namun ternyata itu semua hanya sangkaan awal. Wajar soalnya yang pertama kali dilihat di poster adalah tengkorak dan mayat (hiii lagi). Tetapi ternyata setelah dinikmati, film Coco ternyata memiliki jalur cerita yang lumayan parah dan penuh dengan plot twist.

Akhir film ini cukup klise, tapi setidaknya jalan cerita dan serangkaian plot twist yang cukup gila sudah sangat menyelamatkan ending yang mudah ditebak ini. Lagipula, mengapa masih mempermasalahkan ending jika kita sudah memiliki jalur cerita dan plot twist yang greget dan lebih greget dari setiap greget yang membuat kalian greg… (Stop that already!).

Direkomendasikan. Serius.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)