Review Film: Disney Raya, The Last Dragon

Raya, The Last Dragon

Saya kaget ketika Disney diam-diam merilis film barunya yang berjudul Raya yang katanya bertema Asia Tenggara. Seperti biasa, Disney melakukan riset hampir ke seluruh negara di ASEAN. Indonesia apakah termasuk? Negara yang kaya budaya ini pastinya harus masuk dalam daftar prioritas dong.

Bahkan mereka sampai menyebutkan Indonesia dua kali!

Raya, The Last Dragon

Bali and Indonesia, seems they are TWO separated countries, huh? Biasa, orang bule yang bermazhab Balinesia wakakak.

Salah satu alasan saya menonton film Raya:

  1. Orisinal. Bukan sekuel, bukan pula Live Action.
  2. Mereka punya latar baru, dan sepertinya calon putri Disney lainnya.
  3. Ada INDONESIA! (Jiwa overproud dirikuh kambuh)

Yang saya kaget ternyata ini sudah bulan Maret! Asik! Bioskop mana bioskop?

Dalam review ini saya akan mencoba untuk sama sekali tidak menuliskan “Spoiler”.


  • Animasi: 9/10

Setelah Frozen II, sepertinya Disney melanjutkan formula animasinya dengan mantap. Apalagi kali ini, nuansa Indonesia begitu kental di film Raya ini. Ada adegan saat warganya mencanting batik, ada wayang, ada keris, dan ada…

RUMAH GADANG!!! Yes baby! You rock ON! Wahahah!

Raya, The Last Dragon

Sumpah ngakak banget sih waktu liat desain surealis yang terinspirasi dari rumah gadang ini. Apalagi tempat ini dijadikan area klimaks film. Nice try Disney! Saya apresiasi banget deh yang ini.

Oh, ada juga nuansa floating market yang realistis, dan beberapa desain yang terinspirasi dari negara ASEAN lainnya.

Dan atmosfernya? Beuh, Frozen II abis! Coba lihat pemandangan berikut:

Raya, The Last Dragon Keren. Saya tidak bisa berkata-kata lagi. Saya justru antara galau dan takjub jika komputer sudah memiliki abilitas untuk me-render adegan se-beautiful dan serealistis itu.

Namun mengapa saya tidak menggenapkan nilainya menjadi 10? Sekarang lihat gambar ini:

Raya, The Last DragonTipikal Disney. Latar realistis dengan karakter yang seperti plastik.

Belum lagi karakternya memiliki formula yang begitu Disney. Tahu mengapa judul filmnya memakai embel-embel “The Last Dragon”? Yup, si Sisu itu. Ingin berkenalan dengan Sisu? Katakan hai kepada naga ‘elegan’ berikut:

Raya, The Last Dragon

HALO ELSA DALAM BENTUK NAGAAA…!!!


  • Komedi: 7/10

Raya ini adalah film serius. Satu-satunya yang memiliki kandungan humor tingkat tinggi adalah si Sisunya itu. Naga yang seakan ditakuti, seakan berkharisma, namun lagi, formulanya mengikuti kemunculan Mushu di film Mulan. Dan mungkin saya aman untuk mengatakan bahwa ini adalah film Mulan, edisi Asia Tenggara.

Ada beberapa komedi cerdas di sini seperti ide sistem kredit yang di luar pikiran, kemudian ada beberapa mini plot twist yang ditujukan untuk humor.

Namun sekali lagi, jika memang ditujukan untuk humor, maka cukup fokus kepada karakter Sisunya. Si Raya terkadang mencoba untuk menjadi tokoh humoris, namun gagal total. Seakan setiap si Raya mencoba melucu, saya membalas, “Haha… lucu ya?”


  • Musik: skip/10

Apa yang lebih YES dari film Disney tanpa nyanyi-nyanyi? Sebetulnya nggak ada yang salah sih dari adegan nyanyi-nyanyi yang sudah menjadi identitias Disney itu. Cuma mungkin saya masih agak mules dari semenjak film Frozen II yang plotnya justru terhalang oleh sesi nyanyi-nyanyi yang hampir setiap lima menit sekali itu.

Untuk musik pengiring sudah menjadi standar Disney. Jadi tidak ada yang bisa dikomentari untuk bagian ini.


  • Cerita: 5/10

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Raya adalah film Serius seperti Zootopia. Bahkan saya sebutkan bahwa Raya adalah Mulan versi Asia Tenggara dengan sedikit lebih banyak adegan laga yang menurut saya agak terlalu diekspos di sini.

Apakah segala sesuatu yang berhubungan dengan Asia Tenggara harus digambarkan dengan adegan berantem-beranteman? Asia Timur mungkin hanya mengernyitkan dahi.Raya, The Last Dragon

Raya, The Last Dragon

Dan adegan bertengkarnya kebanyakan dengan dia lagi, dia lagi. Hampir tidak ada adegan yang saat Raya bertemu dengan Namaari, damai. Setidaknya adegan berantemnya memadukan tiga budaya sekaligus, Muaythai, Kali, dan tentu saja Pencak Silat. Namun direktor gerakan laganya justru dari Vietnam.

Mulan pun memiliki adegan laga tetapi begitu mengalir dengan cerita. Lagi pemeran antagonis Mulan adalah benar-benar pemeran antagonis, bukan hanya sekedar pemeran yang hanya miskom seperti film Raya ini.

Bagaimana dengan jalan ceritanya? Sebenarnya mudah ditebak karena mereka hanya mempertaruhkan sebuah benda yang pecah. Rebutan kekuasaan antarwarga, persis dengan kasus politik yang memang sedang terjadi di Asia Tenggara ini, Singapura dipersilakan minggir hahah.

Yang ini cerdas sih. Masalah kepercayaan dan kekuasaan, intinya itu. Dari masalah kepercayaan dan perebutan kekuasaan inilah yang menciptakan wabah baru, disebut Druun yang dapat memburu warga dan mengubah mereka jadi batu jika tersentuh.

Walaupun ceritanya ngebut, karena Raya harus merebut kembali pecahan barang di masing-masing wilayah yang sepertinya mewakili beberapa daerah di Asia Tenggara itu, namun ceritanya masih dapat dinikmati. Sepertinya akan lebih baik jika dibuat TV seriesnya seperti Avatar The Legend of Aang itu.

Sayangnya tidak begitu banyak plot twist, dan jalan ceritanya terlalu mengalir. Setidaknya cukup ada kandungan emosi di dalamnya. Endingnya? Dari melihat awal ceritanya saja sudah dapat dengan mudah ditebak endingnya.

BUT BOIISSS… SEENGGAKNYA DISNEY MENYUGUHKAN SOMETHING ORIGINAL DAN ADA UNSUR INDONESIANYA PULAKKK!


  • Kesimpulan

Raya, The Last Dragon ini cukup sukses menggambarkan wilayah Asia Tenggara. Semuanya dicapture dengan baik di sini. Cuma yang saya heran satu, itu si klan Fang kok rambutnya kayak anak Punk begitu, cuma sebelah doang hahah. It’s ok.

Lagi-lagi Disney ada masalah dengan jalan cerita meskipun saya melihatnya sedang dalam tahap improvisasi. Apa poin menonton film jika akhir ceritanya sudah dapat ditebak saat baru ingin duduk dan mencoba untuk memulai menikmati cemilan?

Dan lagipula, untuk melengkapi alur cerita tidak melulu harus dengan adegan laga yang awalnya terlihat keren namun… adegan tersebut saya pikir sedikit terlalu banyak. Apakah pemirsa di Asia Tenggara begitu menyukai adegan laga karena daerah mereka masih banyak spot-spot yang tidak aman? Okelah jika ingin menampilkan budaya seni bela diri dari Asia Tenggara, tetapi sekali lagi, adegan bela dirinya sedikit terlalu banyak.

Bahkan beberapa adegan klimaksnya seharusnya dapat diisi dengan adegan menegangkan lain seperti di film Disney serupa, Mulan. Saya bahkan seakan bilang adegan bela dirinya justru mengakibatkan adanya sedikit plot hole.

Setidaknya Disney mencoba untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Yang ini saya apresiasi betul sih.

Daaannn… ADA INDONESIIAAAAA!!! XD

Nilai keseluruhan: 6/10

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon