Curug Ciampea

Saya pikir perjalanan kemarin saya ke Curug Cikoneng adalah perjalanan terakhir saya dengan angkot menuju air terjun-air terjun di Bogor karena sepertinya sisanya sudah tidak lagi ramah angkutan umum. Ternyata setelah saya mengacak-acak Google Maps dengan brutal kemarin, pikiran saya tiba-tiba berubah bak Power Ranger. Curug Ciampea, ‘kata’ simbah Gugel cuma 2km. Wew! Dibandingkan dengan Curug Cikoneng kemarin yang sampai hampir 3,5km…

Kebetulan saya tahu besok hari buruh jadi saya meliburkan karyawan saya untuk ikutan demo di jalan-jalan. Oke, cabut…


  • Ini serius?

Berbekal Trafi yang selalu handy, ternyata saya temukan rutenya persis seperti saya dulu ke Curug Luhur. Menurut ramalan cuaca, Bogor besok hujan deras pada siang hari, berarti saya harus sudah berangkat sebelum jam 8 pagi.

Esoknya, pukul 07.30 pagi alarm saya berbunyi (biasa, saya suka bobok cantiQ abis shalat subuh, jangan ditiru ya kelakuan om-om yang satu ini), dan pada saat alarm berbunyi sepertinya mata saya masih senang dengan dunia mimpinya jadi saya manjakan dia dengan memencet tombol “Snooze” alias tidur ‘sebentar’ sebelum alarmnya berbunyi lagi 5 menit kemudian.

08.40. Mampus gueh!

Nooo…! Episode kesiangan gegara ketiduran terulang lagi bak pelem legendaris Tersanjung! Padahal saya mau datang pagi dengan harapan Bogor belum hujan! Langsung saja ta’ lepas baju, ta’ hajar kamar mandi. Jebras jebrus gosak gosok pakai jaket ta order ojol sampe brojol ke stasiun Pasar Minggu. Fyuh, kereta Bogornya baru saja melenggang manis di depan mata saya. what.

10.30 akhirnya tiba di Stasiun Bogor. Aduh mendung! Lanjut angkot ke Laladon, saya tidak turun di terminalnya, tapi di pertigaan besar di depannya yang ada plang Alfam*rtnya. Dari sana saya naik angkot Tumaritis ke Tenjolaya dan melenggang sampai tujuan paling terakhir. Senyum deh.

Aduh macetnya ternyata bikin mules. Beruntung penumpangnya sepi jadi supir angkot lewat jalan pintas via Cibeureum Petir. Angkot-angkot Cibeureum hanya bengong melihat angkot nyasar yang kesetanan cari jalan pintas. Ciyaangg… Ciyunngg… Ckiiittt… Angkot, the game.

Langitnya lucu btw, setengah cerah dan setengah mendung. Gunung Salak dari kejauhan… eh, gunungnya terlihat sangat dekat, hanya terpaku diam dengan langit yang nano-nano, membuat pola-pola lucu dengan garisan sinar-sinar matahari yang keluar dari celah-celah awan. Oke, pukul 01 lewat saya sampai di Tenjolaya, mampir sebentar ke Indomar*t untuk beli roti dan susu sebagai bahan bakar.

Ta duduk sebentar di masjid setelah masuk gang yang ada tulisan Curug Ciputri/Curug Ciampea, pas beberapa meter di sebelah timur Indomaretnya. Saya duduk sebentar sambil memangsa apa yang tadi saya beli, sambil melihat Gunung Salak yang memiliki rupa berbeda dari masjid. Aduh pemandangannya dari tempat wudu aduhai banget ya…

Curug Ciampea

Saya melihat tanjakan curam, seperti yang terlihat di foto atas, akan menjadi jalan yang wajib saya lalui. Ya ampun.

Hampir setengah dua setelah saya shalat Zhuhur, dengan basmalah saya lanjut menuju tanjakan horor di depan saya. Beberapa orang yang sedang berkendara melihat ke arah saya yang kepayahan dan bertabur keringat bauk, menerjang jalanan yang kemiringannya cukup brutal.

Akhirnya saya sampai atas. Oh, masih 350 meter, berarti sisanya masih ada satu setengah kilo lagi. Ayo cumungudth Qaqaq! Eh, tunggu, saya lihat di depan saya ada pertigaan. Ada petunjuknya di sana, Curug Ciampea harus belok kanan? Lho? Berarti bukan lurus dong? Berapa kilo perubahan jaraknya? Aduh galau ogut… Google Maps dan Trafi bohong (lagi).

Harapan Rute:

Curug Ciampea

Kenyataan:

Curug Ciampea

Saya bertanya dengan orang-orang pun mereka menjawab dengan jawaban yang sama. Tidak bisa lurus ke Curug Ciampea, soalnya kalau lurus itu Curug Ciputri! Allahu Akbar! Sudahlah betis saya meronta-ronta dengan tanjakan yang ternyata semakin lama semakit brutal, eh saya pakai acara salah belok pula tidak menurut kepada lebar jalan yang lebih besar. AH!

Setidaknya saya sudah berada di atas, eh, itu terlihat gedung-gedung di Jakarta! Masya Allah.

Curug Ciampea

Saya sadar ternyata saya sudah dekat dengan curugnya, well, setidaknya pintu masuknya.

Oh iya, omong-omong, meskipun saya berjalan kaki sendiri ke sini dari tempat angkot terakhir, saya sarankan kalian untuk naik ojeg, pulang pergi Rp50.000, selain karena jauhnya perjalanan, treknya naik turun. Kecuali, jika kalian sudah biasa berjalan kaki atau setidaknya sudah sering naik gunung, atau benar-benar ingin tantangan lebih.


  • Selebriti dadakan

Semuanya memakai sepeda motor, mobil tidak dapat masuk. Yang berjalan kaki selama tiga kilo hanya saya seorang. Petugas parkir bertanya, “Sendiri aja A?” Saya jawab iya.

Kemudian dia bertanya, “Motornya mana A?”

Saya hanya jawab sejujurnya, membuat petugas parkir seperti langsung terserang sesak nafas. Mulai lagi deh, drama shock melihat spesies pejalan kaki, saya tidak tahu ini episode yang keberapa. Saya hanya menumpang duduk sebentar, meneguk botol air yang saya bawa, sebelum akhirnya saya diberitahu masih ada sekitar setengah jam lagi saya harus menanjak. Loket masuknya masih berada di atas. Nice… *tepar

Betis saya kembali saya pecut, menemui loket masuk yang mungkin hanya beberapa puluh meter dari area parkir, dan drama barusan yang di area parkir kembali terjadi.

Well, setidaknya saya tidak membayar parkir yang tidak seberapa kan? Saya berusaha keras menghibur diri, sendirian lagi. Ya sudah, karcisnya Rp22.000,-. Wah, lumayan ‘mahal’ ya? Yasudah, mau diapakan lagi, setidaknya tanjakan lain di depan saya secara horor sudah memanggil-manggil saya lagi. Efek suaranya pada saat itu adalah “Hash, hesh, hosh…”

Well, setidaknya jalanan mulai mendatar dan saya banyak melihat orang berkemah di atasnya, serta beberapa pengunjung yang sepertinya telah selesai mengunjungi air terjun.

Aroma asri di hutan pinus mengikis rasa lelah saya meskipun hanya sedikit. Maksud saya, sedikiiitttttt banget.

Curug Ciampea

Saya tebak jaraknya mungkin 700 hingga 800 meter naik turun di area hutan pinus tersebut. Saya pun sembari bertanya kepada orang-orang yang lewat khawatir air terjunnya masih jauh. Duh mana sudah hampir setengah tiga sore lagi…

Tidak lama, saya melihat di atas ada warung-warung. Pasti sudah dekat. Ya, pasti sudah dekat…

Dan wah! Dari atas terlihat air terjunnya ada dua. Yang mana yang Ciampea? Saya tidak tahu, pastinya saya mau lihat air terjun yang terbelah dua di sisi kiri. Langsunglah saya menyerbu turun bak tentara yang tiba di daerah lawan. Ya, saya adalah tentara travelling bersenjatakan kamera. Yuss!

Dor! Dor! Eh, bukan itu bunyi senjata saya, tapi cekrak! Cekrek!

Curug Ciampea

Airnya bening, bisa dipakai untuk mandi. Banyak juga pengunjung yang terjun bebas sambil menggigil kedinginan. Sebegitu dinginkah airnya?

Saya bertanya kepada bapak pedagang di samping saya, air terjun mana yang Ciampea? Dia bilang yang ini. Yang sebelah? Curug Cipatat. Oh… Yowees, ta mlipir ke sebelahnya. Air terjunnya juga lumayan tinggi, bisa dipakai mandi juga lagi. Jadi guys, kalau air keran di rumah atau indekos kalian mati, apalagi pas mau menghadiri acara penting, mandinya di sini saja, segar lagi banyak pepohonan.

Curug Ciampea

Oh iya, banyak orang yang berinteraksi dengan saya, bertanya mengapa saya sendiri. Saya menjawab bahwa saya bukan hanya sendirian ke sini, melainkan juga saya berjalan kaki dari pemberhentian angkot terakhir. Mendengar itu tiba-tiba seantero negeri gempar, mereka yang sedang makan tiba-tiba muntah, burung-burung panik beterbangan, anak-anak menjerit menangis, gedung-gedung roboh, tebing-tebing longsor, semua menyelamatkan diri masing-masing, segala sesuatunya porak-poranda. Sudah.


  • Intepretasi potensi

Banyak jalan menuju Roma, eh maksudnya Jakarta, eh bukan, maksudnya menuju jalan kembali saya setelah dari air terjun Cipatat. Saya mengambil via sungai yang cukup dangkal jadi saya bisa berkecipak-kecipuk ria dengan kaki saya. Eh, sungainya bening sumpah! Horeee…

Curug Ciampea

Dari sanalah kemudian saya menemukan sebuah tebing dan air terjun mini yang ternyata bagus untuk berendam dan… tentu saja… Cekrek!!!

Curug Ciampea

Di sana saya bertemu dengan seorang pemuda, lebih tua dari saya, mengaku membuka dan memperkenalkan banyak air terjun di Bogor bagian barat daya. Termasuk salah satunya Cikoneng, Cikuluwung, Jatake, dan ini. Wah hebat. Namun sayangnya, dia akui sendiri, dia belum maksimal melakukannya karena manajemen pengelolaan banyak yang masih belum profesional dan sering terjadi konflik antar warga karena setiap desa berebut ingin memiliki jalan sendiri ke tempat wisata tersebut.

Dia juga berkata dengan jujur bahwa dia tidak suka memperkenalkan tempat wisata itu ke jejaring sosial karena tanggung jawabnya berat di mana akibatnya adalah tempat wisata tersebut menjadi tidak lestari kembali.

Saya mendesah, saya katakan kepadanya, bahwa tujuan dia membuka tempat wisata itu adalah untuk membantu warga mendapatkan penghasilan tambahan, namun mengapa memasarkannya tidak boleh karena alasan sepele? Serius, inilah pentingnya manajemen. Wisata kita kebanyakan tidak berkembang karena terlalu banyak mengatur pengunjung daripada mengatur manajemen.

Tempat wisata yang baik, memiliki fasilitas dan pelayanan yang bagus wajib didahulukan sebelum membudayakan etika dan tata tertib yang baik kepada pengunjung. Misalnya, kita menganjurkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama plastik dan puntung rokok, namun tempat sampah masih sangat minim dan petugas tidak ada yang menghimbau sampai saya pernah beberapa kali menegur para pengunjung tersebut bahkan membersihkan sampahnya.

Inilah yang hit and miss di manajemen pariwisata kita. Tidak heran, karena banyak calon pengunjung yang ragu dengan daerah wisata yang bersangkutan, mereka lebih memilih ke tempat yang memang sudah pasti apalagi dikelola swasta yang menurut mereka itu sudah pasti termanajemen dengan baik meski harus membayar lebih mahal seperti Curug Luhur atau Curug Bidadari. Bahkan tidak sedikit yang menghabiskan waktunya berwisata ke luar negeri.

Saya berbicara banyak hingga lupa sudah pukul setengah lima sore. Alamak! Angkotnya masih ada gak ya???


  • Mereka yang kembali

Saya pamit dengan beberapa orang dan kembali pulang. Oleh penjaga warung saya diberitahu bahwa jika kelelahan dan ingin mencari ojeg, lebih baik lewat jalan menuju sawah. Oke teteh, tengkyu infonya. Tak melenggang kembali ke haluan. Oh, saya juga lega diberitahu bahwa angkot Tumaritis ke Laladon tersedia 24 jam! Waahamdulillah.

Kemana jalan yang lewat sawah itu? Belok kiri dari warung. Meski petunjuknya tidak ada, tapi pertigaan yang berbentuk huruf Y itu masih mudah untuk dideteksi.

Eh, ternyata tidak hujan ya. Alhamdulillah, matahari sore pun terlihat melambai dari balik batang-batang pohon pinus, membuat saya bak putri Disney yang melenggang sambil menari sendirian di tengah hutan mirip orang gila yang dipaksa masuk rumah sakit jiwa…

Curug Ciampea

Dan… tibalah di pesawahan. Saya menghirup napas panjang, mulai meniti jalan setapak di sisi area sawah sambil memandangi pemandangan yang mungkin jarang saya temui. Mungkin ada 15 menit saya habiskan di area tersebut, persetan dengan jamnya. Oh iya, saya belum shalat ashar hehe… Tapi serius, pemandangannya itu loh, meskipun sawah, tapi ini beda…!

Curug Ciampea

Mirip di luar negeri!

Selesai dari sana, saya melihat gerbang bertuliskan POS 3, what? Ini memangnya jalur pendakian ke mana? Ke curugnya atau ke Gunung Salak? Bodoamat, gak ada orang ini. Saya hanya terus berjalan hingga sampai di perumahan warga. Di sana saya bertemu dengan para gadis berkerudung merah semuanya, dan bertanya jalan pulang.

Ada lagi drama orang-orang hampir pingsan begitu tahu saya pejalan kaki. Yaampun.

Karena kasihan, mereka menawarkan kenalan mereka untuk saya jual, eh bukan! BUKAN! Maksudnya untuk meng-ojek-i saya hingga Indomaret Tenjolaya. Tapi sebelum itu, saya minta ditunjukkan mushala untuk saya laksanakan shalat ashar.

Wah ternyata orang yang mengantar saya masih kecil, dia dengan lihai melewati jalan rusak yang kanan tebing kiri jurang di usianya yang masih SMP kelas 2. Perasaan saya campur aduk. Tapi saya benar-benar melihat sunset cantik setelah itu, cuma terlalu sayang saya tidak foto. Sial!

Ya sudah, saya kembali ke Tenjolaya, naik angkot ke Laladon, naik KRL ke Stasiun Cawang, dan naik Transjakarta ke indekos tercinta. Tidak, saya tidak naik ojeg online karena tarifnya sudah meroket, lebih baik lewat terowongan gedung Menara Saidah yang angker saja untuk menyelamatkan dompet saya.

Curug Ciampea


  • Galeri

Curug Ciampea

Curug Ciampea Curug Ciampea Curug Ciampea Curug Ciampea Curug Ciampea Curug Ciampea Curug Ciampea

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap