Seni Planga Plongo: Bogor, Curug Cikuluwung I

Curug Cikuluwung

Bermula dari Instagram… tidak, saya tidak mendapatkan tempat ini dari Google Maps seperti banyak artikel jalan-jalan saya sebelumnya. Katanya ini “Green Canyon”nya Bogor, atau terserah. Hal yang pertama saya lakukan adalah memburunya di Google Maps, mengecek apakah tempat tersebut ramah angku… Eh ternyata bisa naik angkot!

YAY!

Menjadwalkan dengan melingkari angka kalender di komputer dengan lipstik mama beres dilakukan. Bohong, jangan didengarkan. Saya menembak Imlek yang saya tidak tahu tiba-tiba datang memoles warna merah pada sebuah angka di kalender. Jika tidak diberitahu mengenai hari libur, saya pasti sudah masuk kantor pada hari tersebut. Maklum, workaholic hahah.


  • NostalEdan, eh NostalGila

Saya berangkat jam 9 pagi menuju Stasiun Pasar Minggu, untuk naik KRL ke Bogor. Seperti biasanya, dari Stasiun Bogor saya lanjut angkot menuju terminal Laladon yang ngetime manis menunggu penumpang. Jangan khawatir, tidak lama kok ngetimenya, karena penumpang yang dimuntahi oleh stasiun begitu banyak yang ingin ke Laladon.

Oh, hello Laladon… we meet again. Belum banyak berubah, lagipula apa memangnya perubahan yang ingin saya saksikan? Ya sudah, bermodal aplikasi Trafi yang kembali handy di genggaman, saya diperintah untuk mengambil angkot jurusan Leuwiliang Jasinga dan turun di Jalan KH. Abdul Hamid, atau orang-orang biasa sebut Pertigaan Cemplang.

Macet. Gerah. Setiap orang berkeringat. The End.

Oh, saya punya kipas USB yang bisa saya colok di Powerbank, horyay!

Tetap Gerah. Saya lupa jaket saya anti angin. The End (2).

Setelah semua semburan keringat dari kulit-kulit yang tidak terima akan pengapnya angkot (eh, hari ini tumben cerah), tibalah di Cemplang. Ongkosnya Rp8.000.

Dari sini, saya naik angkot ke…

“Parabakti! Kamana jang?! Ka Parabakti? Ayo Bakti, Bakti!!!” Teriak para supir angkot tidak bernomor di pangkal jalan KH. Abdul Hamid. Berlomba merebut jiwa manusia untuk mencicipi angkot mereka.

Sebentar, Trafi bilang saya harus naik angkot 54. Jurusan mana sih?! Saya acuhkan teriakan “Bakti, Bakti, Bakti” yang berisik itu. Saya coba melipir ke antah-berantah dan mengecek ke mana angkot jurusan 54 di database Angkot Trafi. Oh, 54 ternyata trayeknya berakhir di Parabakti.

Jadi malu, saya balik ke angkot yang meneriaki saya tadi. Dan memang 54 itu adalah satu-satunya angkot di KH. Abdul Hamid, tidak seperti 57 yang bisa tertukar dengan BL bagi yang belum tahu sewaktu saya ke Curug Lontar waktu itu.

Kata Trafi saya harus turun di SMK Nur Fadhillah dan diperkirakan tiba pukul 11.35.

Bohong. Kali ini Trafi bohong. Kecewa saya.

Banyak blog travel bilang untuk ke Curug Cikuluwung katanya harus turun di Gang Gardu. Where the heck Gang Gardu is!

Penumpang yang saya pikir tahu lokasi curugnya menyuruh saya turun di Ponpes Daarul Mustaqiem, meninggalkan saya sendirian bengong di jembatan Sungai Cikuluwung. Sekarang saya benar-benar berada di antah-berantah. Jam berapa sekarang? Oh 11.35, Trafi tepat untuk yang satu ini.

Curug Cikuluwung

Gambar di atas khusus untuk kalian yang tidak tahu letak Gang Gardu yang bahkan Mbah Gugel pun enggan menunjukkannya. Jika kalian pakai Trafi, pastikan sudah turun tepat setelah tanjakan curamnya selesai ketika ingin tiba di pemberhentian Leuwi Khitan (di sini banyak orang sunatan begitu?).

Bahkan plangnya pun jelas,

Curug Cikuluwung

Di sana tertulis 700 meter menuju curugnya, tapi siMbah bilang 1,1km. Saya lebih manut sama SiMbahnya. Tengkyu ya Mbah Gugel…

Oh, tadi tarif angkotnya Rp5.000.


  • Penuh drama

Saya kembali jalan kaki di tengah perkebunan. Tapi jalanannya aspal bagus. Tips mudah dari saya, cukup lurus ikuti aspalnya, jangan bulak-belok dalam kondisi apapun kecuali jika jalannya memang harus belok. Tetap stay in aspal. Jika ada pertigaan, pokoknya cari yang aspalnya paling bagus aja.

Eh, saya keluarin kamera saya yang sepertinya sudah mengeluh karena pengap di dalam tas saya.

Jepreng…!

Curug Cikuluwung

Yes!

Awan yang sudah mendung-mendung pun sepertinya menaruh iba kepada saya yang sendirian berjalan di daerah yang saya tidak tahu apa yang bahkan saya tidak tahu ini. Pancaran sinar mentari perlahan-lahan menerangi diriqquh yang rapuh ini, melihat sepasang kekasih berboncengan di atas kendaraan mereka.

Saya tebak, mereka mau ke air terjun juga.

Oke, dramatisasi kelar. Di depan saya tiba-tiba muncul plang besar dan sepeda motor banyak yang antri. Apa ini? SPBU? Pertamini? Oh, loket masuk.

What? Loket masuk???

Baguslah, saya dengan mudahnya terobos antrian tanpa takut dimarahi, atau mungkin yang antri tidak tega memarahi saya ya? *hiks

“Rp65.000!” Kata petugas loket.

Wait, what! Mahal amat!

“Dua orang sama motor kan?” Petugas loket menanyai saya yang insta-plongo.

“Enggak, saya satu orang…” Saya masih dalam mode planga-plongo.

“Kalo gitu Rp35.000. Motornya mana?”

“Saya jalan kaki…” Saya menjelaskan.

“APPAAAA???!!!” Setiap orang di sekitar itu tiba-tiba kaget seperti apa yang sering kalian lihat di sinetron-sinetron dengan kamera yang di-juum, lebih persis seperti adegan melihat kuntilanak mungkin ya?

Ada apa sih? Sepertinya mereka terheran-heran bak baru saja melihat keajaiban dunia yang ke-186. Saya cuma pejalan kaki sendirian yang sedang merantau tak tentu arah pak, bu… oke, fix. Hanya saya saja pejalan kaki, dan mereka sudah sebegitu terkejutnya.

Seorang ibu merobek tiket dan berkata, “Rp30.000 nak”.

“Rp30.000 apa Rp20.000 bu?” Saya lihat memang dikarcis tertera Rp20.000 saja.

“Rp10.000nya pelampung nak.”

Oooo… pqrstuvwxyz… Selamat tinggal Rp30.000 quh…

Banyak orang yang tiba-tiba ingin jadi pemandu. Tidak bisakah kalian menunjukkan plang yang besar dan jelas agar bisa dibaca setiap orang??? Coba lihat petunjuk jalan yang seperti ini,

Curug Cikuluwung

Dan petunjuk berikut sudah dalam kondisi patah sebelah serta terhalang tembok jika tidak jeli,Curug Cikuluwung

Oke, oke. Terus ini ke mana?

Curug Cikuluwung

Saya lewat perumahan warga yang jalannya hanya setapak. Kemudian entah dari mana muncul warung-warung, toilet, dan mushalla, serta hal berikut,

Curug Cikuluwung

Oh nais. Nais… Saya banyak melihat para pengunjung tidak langsung masuk. Katanya dikuota. Sudah seperti ingin naik haji saja. Sambil menunggu, saya duduk dan berkenalan dengan sepasang pengunjung muda-mudi yang dari Jonggol. Saya berkata bahwa kemarin saya pun ke Jonggol, tepatnya ke Curug Kantri.

Saya kemudian memperkenalkan diri, “Kenalkan, nama saya Johan! Kalian tahu apa itu Johan???”

Dua sejoli itu menggeleng.

Saya lanjutkan dengan mantap, “JOmblo kasihHAN!”


  • Permisi… permisi… saya mau lewat

Oke, basa basi baso selesai, saya mendengar suara berikut, seperti berasal dari pengeras suara,

“Yang ingin ke Curug, harap merapat ke gerbang bintang!” Oh, kuota sudah dibuka lagi.

“Yang barang bawaan harap dititipkan! Tidak diizinkan bawa barang bawaan kecuali baju ganti.” Kata pengelola berkali-kali setelah melihat tas saya.

Saya tahu, yang dituju adalah saya. Lihat barang besar yang saya bawa di punggung saya, tidakkah itu cukup sebagai bukti bahwa yang dimaksud barang bawaan oleh pengelola adalah saya? Saya bawa laptop btw…

Saya melihat tempat penitipan barang, dan ada tulisan “bayar seikhlasnya”. Oh please, no. Saya sudah alergi dengan tulisan “seikhlasnya”. Berapa “seikhlasnya” yang mereka inginkan? Rp2.000? Atau Rp50.000? Saya akhirnya bilang,

“Ada barang berharga di dalam tas saya!”

“Oh… ya sudah titipkan saja di bawah.”

Ya ampun. Pengen banget ya minta dititipin… Akhirnya satu rombongan jalan ke bawah dengan tangga yang anak tangganya berjauhan dan licin. Di bawah akhirnya dimintai lagi bukti tiketnya yang tadi saya bayar di paling awal. Untung nggak saya buang!

Curug Cikuluwung

Ini pemandangan dari atas,

Curug Cikuluwung

Dan pengelola sudah menyiapkan tangga kayu yang super curam. Jadi please, perhatikan langkah dan barang bawaan Anda, jangan sampai… Eh, ini bukan dalam bus btw. Tapi tangganya emang beneran curam.

Dan setiap orang mulai turun.

Curug Cikuluwung

Belum cukup, kita harus berpegangan kepada tali sebelum benar-benar sampai di bawah karena sesi tangga kayunya sudah selesai. Jangan khawatir, tidak jauh kok, ada pengelola yang siap bantu. Tapi kemudian selanjutnya kalian harus melipir sendiri di antara batu-batu yang sempit dan licin. Kakinya jangan sampai bercanda ya…

Tapi tempat ini penuh! Ini air terjun apa pasar?!

Curug Cikuluwung

Hellaw… hellaw… Boleh minggir sebentar mas, mbak? Saya mau lewat… Terima kasih…

Saya tidak sedang di stasiun KRL atau halte busway Harmoni. Tapi tempat ini lebih pengap daripada di angkot tadi.

Aduh ini saya ambil air terjunnya gimana ya… Boro-boro mau santai dengan buka laptop, mencari titik foto pun susahnya minta mati. Padahal hanya hari libur kejepit dan bukan weekend, kok ya sehancur ini jumlah pengunjungnya. Wups, saya akhirnya sedikit juum eh, zoom dan setidaknya terambillah ini.

Curug Cikuluwung

Dan kalian tebak, saya kembali menengok ke belakang, serta-merta antrian sudah seperti emak-emak yang siap menyerbu toko sembako yang setengah harga.

Curug Cikuluwung

Tidak terlihat? Baiklah saya juum… eh zoom.

Curug Cikuluwung

Saya pulang bijimana??? Oke, saya mengalah. Saya selesai. Saya pulang yang ternyata saya juga harus mengantri. Di antara pengunjung ada orang tidak sabaran yang menerobos antrian dan mengeluh lama. Dek, dek, bersyukur kamu tidak kepleset. Apa orang itu merasa seperti jagoan? Mungkin dijalanan sering menerabas lampu merah ya?

Barudak. Jaman. Now.

Oke, saya sampai di atas. Saya tahu ada Curug Cikuluwung 2 yang juga fenomenal karena airnya jernih katanya. Tapi saya khawatir itu hanya editan seperti Curug Cikuluwung 1 ini yang terlihat di Instagram memiliki air biru jernih. Ya sudah saya pulang. Lagipula tiketnya pun terpisah.

Saya pun mendengar pengelola teriak-teriak para pengunjung yang di bawah untuk segera menyudahi segala tektek-bengeknya di areal air terjun karena harus gantian dengan badai antrian di atas.

Waw, that’s a disaster. Guys, guys, jika kalian ingin pergi ke air terjun yang cukup damai dengan pemandangan super hingga kalian bisa bebas beristirahat, go visit Curug Jatake instead! Tiketnya murah hanya goceng.


  • Kembali ke habitat

Oh, saya belum shalat Zhuhur, sudah pukul 2 lewat. Di atas ada mushalla, jadi saya wudlu di toilet dan bayar Rp4.000. Yang jaga adalah ibu-ibu dengan seorang nenek, berterima-kasih dengan tulus. Ya ampun, saya terenyuh, jadi ingat saudara-saudara di kampung.

Di dekat mushalla ternyata ada keran wudlu, yang seharusnya saya tidak perlu ke toilet. Tapi sudahlah, untuk yang ini saya tidak komplain. Mushallanya pun benar-benar masih gubuk bambu alami, terdengar decitan di setiap gerakan shalat.

Curug Cikuluwung

“Sudah jang ke curugnya?” Tanya seorang bapak yang tadi di loket kasir dengan ramah.

Sudah pak, saya balas dengan senyuman manis dibumbui bonus gigi-gigi kuning mencekam saya. Oh, omong-omong, pemandu yang dari awal ingin mengantarkan kita, mereka benar-benar ikhlas. Kata mereka, “Tidak perlu bayar lagi, sudah sekaligus di awal.”

Ya ampun saya jadi merasa bersalah.

Saya kembali pulang, sendirian. Setidaknya alam yang menghibur saya kali ini.

Curug Cikuluwung

Bai bai alam…

Di angkot yang langsung menghampiri saya, saya melihat bapak-bapak ‘sangar’ di kursi depan saya menggendong tas yang bergambar Elsa dari Frozen. Oh ya ampun, ada hiburan mini, kebahagiaan itu memang benar-benar sederhana, mereka tercecer dimana-mana, tidak harus selalu di tempat tujuan. Alhamdulillah.

Saya baru makan siang di warung bakso di ujung jalan KH. Abdul Hamid yang memiliki menu bakso beranak. Sebentar, ini maksudnya bukan beranak dalam kubur kan? Baksonya besar dan di dalamnya banyak bakso kecil dan telur puyuh. Saya pikir tadinya akan mahal, ternyata dengan botol air mineral dan botol teh kemasan, hanya Rp23.000! Wew!

Pelanggan yang puas akan promosi tanpa diminta hahah.

Yasudah, saya sampai kamar tercinta lagi. Jangan tanya bagaimana perjalanan pulang saya selanjutnya, karena dijamin boring.

Yah setidaknya, saya memiliki alias lain, ya itu JOHAN, JOmblo berlebiHAN. Jangan dibajak ya, ada hak ciptanya hahah.


  • Galeri

Lagi-lagi, tidak ada galeri di sini. Saya tidak mendapatkan banyak foto soalnya hehe… Ini ada yang mengintip dari jauh.

Curug Cikuluwung

Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , , . Bookmark.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)