Asing di Pinggiran: Bogor Cariu, Curug Kantri

Curug Country

Saya tidak tahu jika di daerah timur Bogor ada sebuah air terjun tersembunyi yang bernama Curug Country. Namanya keren amat?! Oh, yaampun, ternyata nama aslinya adalah Kantri, saya mendengar langsung dari orang sananya. Dari mbah Gugel gambarnya cukup apik, tapi pas baca reviewnya katanya jika sedang musim panas maka air terjunnya tinggal nama alias kering kerontang.

Oh, sekarang musim hujan, jadi bisa bobok…

Saya sebenarnya sedang tidak berselera untuk jalan-jalan. Namun karena diiringi rasa penasaran yang kuat, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat pada hari Sabtu, namun ternyata waktu itu saya dengar banyak air mengamuk terjun langsung dari langit.

Yaudah bobok lagi.


  • Apa?!

Hari Minggu itu, benar-benar tekad saya sudah trapesium (bulat melulu bosen) saya menghentakkan kaki, dan membungkus setiap bekal yang sudah saya beli dari mini market sebelumnya. Kalian tahu saya berangkat jam berapa? 10.15! Hore…!

Siang betul. Sumpah.

Saya lebih memilih naik ojeg online menuju halte busway Tanah Merdeka, karena dari sana saya bisa langsung naik angkot 121 jurusan Cileungsi dari putaran balik. Kebetulan setelah saya naik waktu itu angkotnya sudah penuh dengan penumpang jadi tinggal cuss…

Angkotnya via tol btw.

Oh iya! Saya kan pakai Trafi seperti jalan-jalan saya keliling Bogor beberapa waktu lalu seperti ke Curug Jatake, Curug Lontar, Curug Putri Pelangi, dan Curug Luhur. Katanya setelah tiba di tujuan akhir angkot 121 nanti di Simpang Cileungsi, saya harus naik angkot 60 jurusan Pasir Tanjung.

Cileungsi macet btw.

Saya bayar ongkos angkot 121 Rp8.000 saja, kemudian saya tinggal mencari angkot 60 jurusan Pasir Tanjung. Apa ini? Saya hanya menemukan angkot 64, 64, dan 64 lagi. Paling ‘banter’ angkot 92 ke Bantar Gebang. Saya berjalan di menerobos truk-truk parkir hingga saya menemukan alfamart dan bertanya kepada seorang ibu.

“Oh, kalo mau ke Cariu harus naik ke Jonggol dulu dek, nanti dari sana banyak yang ke Cariu…”

Ah, entah Trafinya yang salah atau memang trayek angkotnya yang berubah. Saya akhirnya naik angkot 64 ke Jonggol, hingga pemberhentiannya yang terakhir, yaitu Alun-Alun Jonggol. Dari sana saya mendengar suara teriak-teriak “Cariu… Cariu!”

Oh, baby sweet yass! Eh, hujan deras btw.

Saya bawa payung, namun saya lebih memilih menerobos gerombolan air tersebut. Akhirnya saya naik angkot itu. Tapi benarkah ini sampai ke Kantri? Oh, supir angkot juga berteriak “Tanjung! Tanjung!” Yang mungkin artinya adalah Pasir Tanjung. Yay!

Dan you know, sepanjang perjalanan ternyata saya menemukan banyak bus harusnya lewat Puncak jadi lewat jalan Transyogi! Marita, Doa Ibu, apa pun yang semuanya dari Kampung Rambutan. AH! Mending saya naik itu dari Pasar Rebo! Oh, berarti sampai sekarang tidak ada bus umum yang boleh lewat Puncak ya? Yah…

Tiba jam setengah dua, dengan tarif angkot Rp15.000. Saya langsung masuk jalan Cijejetnya (di Maps bilang begitu) dan menemukan masjid untuk shalat Zhuhur dulu.


  • Be to the Te, To to the Tal

Saya menggunakan ojek ke curugnya, dengan harapan bolak-balik bisa Rp40.000. Namun si akang minta Rp70.000! What?! Ya sudah lah. Padahal jaraknya hanya 4 kilometer. Inilah mungkin banyak orang yang malas naik ojeg pangkalan karena tidak ada standarisasi berapa harga per kilonya. Jika ditanya, alasannya pasti banyak seakan tidak butuh penumpang. 🙁

Si akangnya akhirnya saya suruh tunggu satu jam btw.

Di mana loket kasir? Yang ada hanyalah jalan turun langsung ke curugnya. Apa ini… gratis? Hanya ada warung-warung dan langsung ke air terjun, tanpa ada jalan kaki yang berarti. Oh iya, tadi loket telah dilewati, benar-benar sudah dilewati, tanpa dipungut biaya. Tapi berapa biaya karcis masuknya jika saya tidak menggunakan ojeg

Saya lihat di Google menurut para pengunjung yang pernah datang katanya tarif masuknya Rp10.000,-. Ya… standar. Baiklah, saya langsung turun via tangga-tangga unyu.

Curug Country

Yang datang sebenarnya tidak banyak, namun sekalinya ada yang datang, itu satu rombongan. Jadilah air terjun penuh dengan orang-orang welfie di jalan setapak di tengah air terjunnya.

Namun kebanyakan setelah selesai foto-foto, satu rombongan langsung hilang sekejap dari pandangan. Oh nice… tapi rombongan lain yang tak kalah banyaknya justru semakin menyerbu. Padahal saya mau tunggu sepi sehingga saya bisa monopoli foto-fotonya bhahahahahah!

Curug Country

Saya menunggu orang-orang selesai foto dengan sedikit cemberut. Yang akhirnya saya memutuskan untuk membeli susu di warung dan mengeluarkan roti yang telah saya simpan untuk saya makan sambil dicelup.

Uhuk, uhuk. Di sini banyak asap rokok btw.

Oh, ada jalan lain di sekitar air terjun. Yang artinya, saya bisa coba eksplor yang lain dulu. Hasil fotonya pun lumayan meski saya tidak bawa tripod.

Curug Country


  • Hadiah dari langit

Byurrr… hujan deras tiba-tiba melanda. Mengusir setiap manusia di areal air terjun… termasuk saya juga sih, untuk berteduh. Kali ini, air terjun benar-benar sepi total. Ya Allah alhamdulillah. Kabar baiknya? Saya pakai jaket gunung yang tahan air, jadilah saya terbang ke tengah areal air terjun untuk memporakporandakan shutter kamera saya.

Yass!!! Gass Poll!

Curug Country

Eh, tapi pemandangannya ya cuma segitu ajjah, what do you expect?!

Saya kembali lagi ke warung dengan dilihat banyak orang. Mungkin mereka bilang, ‘idih, kasihan ya jomblo sendirian begitu’. Untungnya hujan jadi tidak ada yang bisa membedakan mana air hujan dan air mata saya bhahahahah. Bohong, saya biasa saja kok, cuma… bapernya kelewat dikittt doang.

Eh, sudah hampir jam 3 btw.

Saya sudah harus bersiap pulang.


  • Mau apa lagi?

Si akang ojeg sudah menunggu dengan jas hujannya. Namun di jalan sepeda motornya terpeleset, eh, eh… alhamdulillah saya tahan dengan kaki saya juga. Jalanannya rusak sih. Saya tiba beberapa menit sebelum azan Ashar jadi saya bisa shalat dulu di masjid yang awal tadi. Ketika tiba, saya mengeluarkan uang yang kebetulan pas Rp70.000 dari kantong saya kepada si akang, yang sepertinya kurang ramah.

Ya ampun.

Ya sudahlah, selepas shalat ashar berjamaah (yang remajanya sepertinya saya sendirian saja), saya ditanya oleh sang imam ingin ke mana. Saya jawab ingin ke Jakarta habis main ke Curug Kantri. Ketika ditanya apakah saya menggunakan kendaraan pribadi, saya menggeleng. Sang imam yang sudah sepuh kemudian tersenyum manis kepada saya sembari saya berpisah dengan beliau.

Panjang umur ya, Kek.

Well, bus Marita sebenarnya cukup sering berlalu lalang di sini, 15 menit sekali. Namun saya berhentikan tidak ada yang mau berhenti! Apa sudah penuh? Atau memang tidak ingin menaikturunkan penumpang sepanjang Transyogi?

Tapi, pemandangannya bagus juga yang mengintip saya dari kejauhan. Gunung apa itu yang mirip grafik area begitu?

Curug Country

Untungnya ada orang yang mau ke Jakarta setelah setengah jam menunggu dan muncul angkot biru tak lama setelah itu jurusan Cileungsi dari Cianjur. WaW! Tarifnya Rp20.000.

Kalau tahu gitu lebih baik saya naik angkot jurusan Cianjur waktu di Cileungsi tadi. Saya tiba di Cileungsi pas hampir azan Maghrib, di mana saya langsung naik angkot 121. Namun karena macet parah di dekat plaza Cibubur setengah jam hampir tidak ada angin, saya terpaksa turun dan melaksanakan shalat Maghrib di Plaza Cibubur.

Setelah shalat, saya makan di restoran hahah. Serta melanjutkan kembali naik 121, di mana banyak orang turun di Cibubur Junction untuk beralih ke Transjakarta 7C jurusan Cililitan BKN. Karena mungkin supir angkot ‘ngambek’ angkotnya jadi sepi, saya pun ikut diturunkan beserta penumpang sisa.

Artinya, tidak dipungut biaya alias gretong! Wahahahah.

Sisanya tinggal naik Transjakarta hingga depan indekos dan bobok!

Di artikel ini saya banyak nulis kata ‘btw’ btw…


  • Sedikit Galeri

Curug Country Curug Country Curug Country

Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , , . Bookmark.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)