The Art of ZONK: Sukabumi, Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh

“Nan, sepeda motor saya harus diservice. Udah gitu STNK sama SIM saya hilang jadi saya harus buat lagi.” Teman saya yang biasa saya ‘manfaatkan’ untuk jalan jauh itu seperti ke Curug Citambur, Ngebul, Puncak Manik, dst itu tiba-tiba membuka pembicaraan memelasnya alias curhat.

Saya tidak tahu mengapa dia bisa membuka suara setiba-tiba itu. Apakah ada hujan, angin, atau geledek?

“Total biayanya memang berapa?” Saya balik bertanya.

“Sejuta 8 ratus.”

Oookeeeee… kemudian dia berkata, “Gini deh, kalo kamu mau bantu, sejuta aja, delapan ratusnya saya aja.”

Ooookeeeee… (part dua) Dah, sejuta milik saya berkemas ingin melakukan pindah tempat tinggal ke dompet orang lain, ya, dompet teman saya itu.

“Apa komitmen kamu dengan uang ini?” Saya tanya sambil ada kegiatan tangan dengan teman saya, transfer uang maksudnya.

“Saya ajak kamu jalan-jalan deh, terserah kamu.”

Noted. Oh iya, Ciletuh! Yang ada gembel-gembel Geopark itu… eh, maksudnya embel-embel Geopark itu. Mauuu… Gambarnya bagus soalnya dari mbah Gugel. Liat deh foto orang berikut,

Geopark Ciletuh

Pantai, air terjun, pegunungan, semua sepaket. Teman saya itu pun juga seketika langsung terlelehkan liurnya. Gaazzzz!


  • Karet Gelang

Ini pasti bakalan ada sesi nginep-nginepnya. Jadi saya setel berangkat malam Minggu jam 8, karena malam Sabtunya saya banyak jadwal meeting huhuu… Tapi teman saya justru inginnya jam 9 atau 10 malam karena dia ada urusan. Ya sudalah. Semoga jam 1 malam sudah sampai Pelabuhan Ratu untuk cari warung 24 jam yang bisa dipakai bobok.

Nyatanya teman saya baru datang jam 11, lewat.

Belum puas, dia harus servis lampu depan sepeda motornya yang membuat saya menunggu hingga jam setengah satu malam. Bibir saya jadi melengkung ke bawah totalitas.

“Nan, kok cemberut mulu dari tadi?”

“Gak keburu sun rise di pantai keknya.”

“Ya deh, ya deh saya ngebut… tenang aja. Berapa jam sih ke sana kita?”

“7!” (bukan tujuh faktorial ya, itu tanda seru asli hahah)

Jam 1 masih sampai Cigombong, dan itu pun ternyata dia belum makan jadi dia mampir ke warung nasi meminta nasi goreng. Saya sudah makan jadi dia pesan satu saja. Dan next dramanya? Si akangnya malah ternyata buat dua! Pantes luuaammaa dan banyak yang ngantri. Semakin melengkunglah bibir saya itu.

“Ya deh saya makan satunya. Saya lupa Nan nggak bilang sebiji aja sorry…” Teman saya merasa bersalah. Baguslah.

Akhirnya dengan gregetan saya bantu makan nasi goreng di piring yang satunya. Eh, enak sih nasi gorengnya, akhirnya saya makan hampir semuanya. *sisipiSuaraKebahakDiSini

Saya mengarahkan teman saya ke Cikidang, lewat perkebunan sawit yang banyak sarang begal itu, masih tanpa penerangan sedikit pun selama 30 KM lebih. Teman saya bilang ‘Yakin?’, saya jawab, ‘Hajar!’ Yuk main bunuh-bunuhan hehe… Silakan lihat videonya di sini,

Jam 2 malam lewat benar-benar sendirian tidak ada kendaraan lewat, jalanan berliku tajam, tidak ada penerangan sama sekali, dan… semoga tidak ada ‘bajing loncat’ aka begal hehe. Siapa tahu aja makhluk-makhluk busuk itu sedang bersembunyi di balik salah satu pohon…

Eh, alhamdulillah akhirnya ada mobil yang juga sendirian di mana kami bisa ikuti. Tapi mobilnya jalannya nyantai gitu deh, namun ketika kami salip, malah itu mobil langsung mengikuti kami dengan kencang. Plot twist: Mobil itu isinya kawanan begal.

Enggak. Jangan dipercaya. Mobil biasa kok. Saya kebanyakan baca Urban Legend keknya hahah.

Setelah meliuk sana meliuk sini, deg-degan sana deg-degan sini, menerobos hutan-hutan gelap bak film Putri Salju, kami tiba di Pelabuhan Ratu yey… jam 3 lewat.

Aduh, mata saya ngajak ribut banget keknya. Ya sudah, akhirnya di daerah Simpenan (eh bener lho itu nama jalannya, saya jadi penasaran sama sejarahnya), kami masuk ke daerah Geopark dan beristirahat di warung 24 jam. Eh, saya istirahatnya di daerah sana atau di daerah Pelabuhan Ratunya ya? Saya lupa.


  • Kurang dan lebih, lebih dan kurang

Saya cuma tidur beberapa menit saja sepertinya karena teman saya lebih memilih untuk melanjutkan jalan. Okay, alarm subuh saya sudah bunyi juga jadi kami kembali mengaspal. Orang mah alarm subuh buat solat subuh, ini malah buat tebar aspal, yaampun.

Enggak ada masjid sih soalnya hahah.

Betewe, beberapa kilometer setelah pertigaan besar ke arah selatan, ada jalan kecil menuju Ciletuh di sebelah kanan yang jika kami tidak teliti, kami tidak sadari. Untung mbah Gugel punya produk Maps. Jangan khawatir, jalannya aspal lho, menuju ke Geoparknya itu sendiri. Udah warisan dari UNESCO keknya.

Daerah itu awalnya memang perumahan warga, tetapi begitu pemukimannya habis… taraaa!!!

VIEWNYA LAUT SEMUA CUY MASYA ALLAH!

Kiri gunung dan kanan laut, tengah-tengah aspal terbentang. Eh, kapan lagi di ‘deket’ Jakarta ada jalan macem gini? Emang sih nggak ada rumah sama sekali, atau ada, tapi dikiitttt, dan kebanyakan cuma warung yang mungkin untuk mengakomodir para pengendara.

Kabar baiknya? Indikator bensin kendaraan teman saya sudah kembang kempis. Mampus degueh.

Sudah jam 5 lewat, ya ampun kite belon solat subuh bang! Yang entah gimana, tiba-tiba ada masjid, atau mushalla, atau langgar, atau terserah, yang terbuat dari kayu di mana sepertinya masih dalam tahap pembangunan. Cakep! Viewnya langsung laut di mana saya lihat banyak rumah terapung di atasnya. Gimana ya para penghuninya kalau laper ingin pesan makanan? Via online gituh? Ya sudah berpikir positif aja barangkali persediaannya cukup hehe.

Air mati. Gak bisa wudhu. Di dekat masjid ada bedeng triplek mungkin untuk pekerja mushalla. Teman saya tanya orang yang di dalam mengenai airnya justru dijawab,

“Uda gak usah solat! Gak ada aer!”

Ya Allah galak amat, jangan-jangan itu orang lagi laper beneran. Akhirnya saya ingat ada air mineral dua buah yang kami punya dan kami bergantian berwudlu. Teman saya ingin menawarkan mushalla lain tapi feeling saya justru ingin tetap di sini.

Tuh kan, setelah shalat subuh kami memang tidak lagi menemukan perumahan penduduk karena semuanya pemandangan ciamik. Iyes! Naik gunung turun gunung dengan tanjakan ekstrem, di satu sisi keekstreman tanjakannya membuat saya khawatir apakah bus bisa lewat sini atau tidak. Tapi di luar itu, jalanannya semuanya aspal mulus, lebar lagi!

Kemudian ada saat di mana pemandangan laut kami tinggalkan karena kami kembali meliuk-liuk di pegunungan bak nyanyian Ninja Hatori, hal itu menyebabkan kami lupa bahwa kendaraan kami sudah sekarat kehabisan bahan bakar. Aduaduaduh!

Oh iya, di sini bener-bener nggak ada lampu jalan ya? PJU? Where are you? Bakal jadi next sarang ‘bajing loncat’ dong?

Alhamdulillah setelah beberapa buah tanjakan dan turunan mematikan, kami menemukan rumah penduduk di desa Cibatu, dan tentu saja Pertamini. 🙂

Kenyang lagi deh si Keti.

Oh, btw, sungai-sungai sana isinya hanya batu kering saja. Aduh gimana ya air terjunnya?


  • Zonkie ~:)

Tiba di pantainya jam 6 lewat dikit, masih keburu untuk sunrisenya.

TAPI AIR TERJUNNYA! EMMAAAKKK! AIR TERJUNNYAAAA!!!

Cuma disisain goa kecil aja seakan-akan pernah ada air yang hinggap di sana. Lengkungan terbalik pun kembali menghiasi bibir saya, sekarang dengan teman saya juga. :((((

Ya sudah, kami hanya bayar Rp5.000 untuk parkir tanpa biaya tambahan. Udah itu ajjah.

Geopark Ciletuh

Saya bawa baju ganti, saya bawa sarung, bahkan hingga bantal leher. Saya juga bawa handbody, skincare, perban, kipas, powebank, hingga obeng. Teman saya bilang, ‘Mau mudik Nan?’ Ya ya ya… You name it.

Tapi ternyata dengan idiotnya saya lupa bahwa destinasi saya adalah pantai. Tebak? Saya tidak bawa sandal. Teman saya yang bawa justru. Gak bisa main pacilll… Emaakkk!

Eh, Sunrise! Sunrise! Persetan dengan tebing kering dengan banyak lahan terbakar dan pohon mati karena musim kemarau (sedih sih, jadi gak hijau lagi), saya mau dapat momen sunrise! Bersih bersinar, Sunrise! 😀

Geopark Ciletuh

Puas cekrek sana-sini yang tidak begitu spesial pun. Bayangkan, airnya nggak bening, tebingnya nggak hijau, dan air terjunnya enggak ada. Ekspektasi manakah yang kalian dustakan? Zonk semuanya. Akhirnya kami cari pendopo atau saung kecil yang alhamdulillah ada di depan mata untuk… zzzz…

Kami bangun jam 11 siang lewat. 4 jam lebih daku tertidur. Bangun-bangun kaget luar biasa karena sekarang banyak anak pramuka momotoran di pantai.

Dakumah apa atuh, cuma bisa ambil ini,

Geopark Ciletuh

Teman saya pun akhirnya setuju untuk kembali pulang. 2km dari pantai ada Curug Cimarinjung yang air terjunnya ‘seharusnya’ terlihat dari pantai. Tapi ya sudahlah, kami setidaknya bersyukur dengan apa yang kami dapat hari ini.

Nah, harapan kami yang tersisa itu tinggal foto-foto di tengah jalan yang pemandangannya bagus itu lohhh… Eh, ketemu Puncak Darma, parkir dulu deh sekalian shalat Zhuhur dan pesan mie. 🙂

Kata si ibu penjaga warung,

“Udah 6 bulan Jang nggak ujan. Air terjun pada nggak ada. Kalo udah tau orang dari Tangerang sama Jakarta mampir dulu di sini nanya air terjunnya. Kalo lagi nggak ada ya mereka pulang lagi.”

“Ini juga di masjid pada nggak ada aer. Kering banget, itu juga kalo mau wudu ambil air aja digentong udah disiapin embernya yang ada pancurannya gitu.”

Si ibu ternyata orangnya ramah dan murah senyum meskipun nge-cas HP ditarif 2 ribu perak. Tapi tidak masalah, sama sekali tidak masalah. Apa lagi ternyata parkirnya gratis, foto-foto di tempat selfie dengan pemandangan pantai gratis. Wew, terima kasih everyone. 😀

Eh, saya juga mau ikut foto ah.

Geopark Ciletuh

Jadi tuh Ciletuh cuma teluk kecil seperti Ancol yang pantainya hanya teluk Jakarta. Tapi bedanya, Ciletuh lebih kecil.


  • Prefektur Sukabumisan

Kami kembali pulang dengan lagu ceria menyusuri kelokan-kelokan ekstrem namun indah dengan pemandangan laut yang kembali menyapa. Ada beberapa tikungan yang sudah disediakan tempat duduk karena mungkin warga paham kebanyakan milenial macem ogut senang cekrak-cekrek. Etapi gratis lho.

Bahkan beberapa saat sekali kami berhenti dan mengambil gambar-gambar cantik. Jika teman saya bertanya dimana, saya jawab, “Ini di Prefektur Sukabumisan. Mungkin sebelah Prefektur Nagoya dan Saitama. Kalo dilihat dari bulan cuma beda sejengkal doang kali ya…”

Tapi serius, ini tuh di Endon? *yaAmpunMosok’Endon’?

Geopark Ciletuh

Sayang bukitnya lagi kering dan banyak lahan terbakar yang kata teman saya, biasanya banyak yang buang puntung sembarangan sehingga menyebabkan hutan terbakar. Aduh, kok gak bisa dirawat sih hadiah dari Allah ini? Alamnya udah, tinggal manusianya aja diadjust dikittt hehe…

Wisata pantai so pasti kanan-kiri.

Oh, kendaraan umum yang lewat dimari cuma Elf, itu pun kalau penumpangnya sudah penuh, kalau masih kosong mereka cari customer di rute utamanya. Jadi ini hanya sebagai jalan pintas. Elf tersebut berakhir 2 kilometer dari Pantai Ciletuhnya itu. Yah, angkoters seperti saya kembali cemberut deh hahah.


  • Akhir kata

Kami sampai di Jakarta jam 8 malam. 7 jam perjalanan lebih ditempuh karena teman saya kembali beristirahat di warung 24 jam yang tersedia tempat untuk bobok cantiQ. 15 menit doang sih, biarlah, saya paham dia lelah.

Terima kasih bapak Presiden yang sudah mengaspal keseluruhan aksesnya hingga ujung teluk dari Pelabuhan Ratu. Btw, jangan ada yang panggil saya ‘warga kolam’ ya. Kalo presiden ‘salah’ ya saya kritik kok, terus jika saya kritik bapak Presiden disangka saya itu adalah ‘warga gurun’. Inikah kerjaannya segelintir masyarakat di negeri +62?

I understand, tapi netrallah. Dan yang pasti ini tuh lapak travelling, bukan lapak politik. Jadi kalo ada yang komen berbau ikan hangus kemungkinan akan dirikuh hapus dari hidupkuh. Sudahlah akutuh berasal dari generasi J (Jombles), malah dapet haters lagi.

Malangnya nasibQuh. *udaGakUsaLebaY,gakLucuK!


  • Galeri

Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh

Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , , . Bookmark.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)