Media Sosial, Tren, dan Positif Palsu

Media sosial

Zaman semakin berubah, kita semua tahu. Namun saya tidak terlalu peduli masalah zaman, yang membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini adalah ketika perkembangan yang saya rasa semakin sedikit tidak seimbang khususnya apa yang terpantau di sosial media. Mungkin tulisan yang memuat hal ini memang sudah banyak, namun saya juga memiliki pandangan tersendiri akan fenomena yang terjadi sekarang ini.

Saya punya Facebook, Twitter, Linkedin, Instagram, Pinterest, DeviantArt, Tumblr, dan lain sebagainya meskipun saya hanya aktif sebagian besar di Facebook dan Instagram saja. Sisanya saya hanya buka secara periodik saja. Namun dari sanalah saya menemukan peristiwa unik yang membuat saya kurang nyaman. Memang apa saja?


  • F.O.M.O

Dimulai dari hobi sampingan saya sebagai fotografi amatir yang membuat Instagram saya gemuk. Saya nyaman dengan Instagram, menjalin dan melihat peristiwa apa saja yang terjadi dengan peristiwa saya yang mungkin akan menjadi cerita sendiri bagi saya di hari itu. Namun entah kenapa akhir-akhir ini berubah.

F.O.M.O (Fear of Missing Out) atau Takut Kudet tepatnya, merasa minder jika ketinggalan informasi yang mungkin tidak bermanfaat bagi diri kita sendiri. Misalnya, “Jangan ngaku orang Indonesia jika belum ke sini, atau belum melakukan hal ini.” dan sebagainya. Kalimat tersebut seakan menyihir setiap pemirsanya untuk melakukan hal yang serupa. Akibatnya, tidak jarang linimasa Instagram dan Facebook, bahkan Twitter saya dipenuhi dengan sesuatu yang monoton.

Banyak orang keluar biaya yang tidak sedikit demi menjaga citra mereka bahwa mereka bukanlah orang yang kurang apdet (kudet). Mereka terbawa arus sungai, diombang-ambing tuntutan kesenangan sesaat demi timbal balik yang bahkan hanya bersifat sangat sebentar bagi mereka.

Saya sendiri jika ditanya oleh orang lain, “Mengapa kamu belum begini atau belum begitu padahal yang lain sudah?” Maka saya cukup jawab, “Terus manfaatnya apa untuk saya? Apakah dari sana saya bisa jadi orang kaya? Sejahtera? Atau bahkan masuk surga?”

Jadi diri sendiri memang sulit. Jangan dapatkan saya salah, sesekali jika memang sudah jadi sebuah kebutuhan, saya pun melakukan apa yang disebut-sebut sebagai tren itu. Saya paham karena saya pun anak muda. Namun saya hanya melakukan sesekali, karena saya tahu jika saya terlalu mudah untuk disetir tren, maka persiapan saya untuk masa depan saya sangat minim.

Bagaimana saya bisa membahagiakan anak dan istri saya jika di masa muda seluruh uang saya habis hanya sesuatu yang sesaat dan tidak begitu penting padahal tuntutan hidup akan semakin hebat tanpa disertai dengan perkembangan kemampuan karena waktu yang terus-menerus disembarangi saat muda?

Meskipun mungkin nanti anak kita akan kagum dengan jejak tren kita di masa lalu, namun yakinlah, ada banyak pertanyaan yang kemudian dilontarkan oleh si anak di mana pada akhirnya si anak akan mengambil kesimpulannya sendiri. Bagaimana jika nanti buah hati kita bilang, “Ayah gua pernah sampai di Puncak Everest bro, tapi sekarang ya gitu deh.”

Agak miris sepertinya, jika memang benar puncak tertinggi pernah ditaklukkan, namun seseorang tersebut justru menyerah untuk sampai puncak kehidupan.

Sekali lagi bukannya tidak boleh mengikuti tren, namun terkadang anak muda masih tidak memiliki prioritas hidup. Tidak sedikit teman saya yang berkata, “Aduh, gua udah umur segini, cepet banget ya? Belom ngapa-ngapain, Nan.”

Lho, bukannya situ sendiri yang kerjanya piknik melulu terombang-ambing arus bersama orang-orang lain bahkan hingga kuliah pun terabaikan?


  • Positif palsu

Ini sebenarnya lebih saya khawatirkan dibandingkan F.O.M.O tersebut, karena ini jauh lebih berbahaya.

Bagaimana tidak? Fatamorgana ini seakan membuat seseorang terlihat lebih sukses, atau bahkan terlihat negara menjadi lebih maju hanya dari gambar-gambar dan berita-berita yang bertebaran di internet. Hal ini membuat saya lebih hati-hati dalam menilai orang di jagat maya.

Ada desainer handal lewat Facebooknya, yang ternyata sebagian besar mereka hanya mengikuti tutorial tok, atau bahkan mereka hanya mencomot template dan diubah sedikit untuk kemudian dipamerkan di jejaring sosial. Puluhan share, ratusan komentar, dan ribuan like telah membuat hampir setiap orang di dunia maya percaya bahwa banyak anak-anak negeri yang hebat.

Atau ada fotografer master lewat Intagramnya, yang nyatanya banyak dari mereka hanya ikut foto tur yang hanya melibatkan seorang ahli saja untuk mendatangi spot tertentu dan melakukan kegiatan pengambilan foto ‘berjamaah’ dengan settingan kamera yang selaras semuanya. Dari sana mereka diberitahu bagaimana teknik mengedit yang bahkan template/actionnya sudah disiapkan jadi mereka hanya memproses itu semua dalam sekali klik untuk kemudian dipublikasikan di media sosialnya. Belasan feature dari akun besar, puluhan follower baru, ratusan komentar, ribuan like, semua menghantam dan seakan memberikan harapan bahwa mereka akan menjadi tonggak kemajuan bangsa.

Nyatanya? Sebagian besar mereka kini dilupakan, dan itu berlalu dengan sangat cepat. Dunia tidak kejam, mereka sendiri yang menantang sunatullah dan menjemput sebab akibat mereka sendiri.

“Tapi kan itu lebih baik daripada mereka tidak melakukan sesuatu apa pun?”

Ya, benar. Itu sudah pasti. Namun yang saya sedang bicarakan adalah positif palsu. Sudah lelah saya mewawancarai beberapa calon karyawan programmer yang dari CV mereka dan portfolionya seakan mereka adalah orang hebat namun nyatanya mereka tidak memahami konsep dasarnya. Akibatnya saya tidak bisa memakai kebanyakan dari mereka.

“Ya seenggaknya mereka harus kita dukung dong…”

Benar, namun dukungan apa yang dimaksudkan? Apakah hanya sebatas memuji-muji saja kemudian ditinggalkan? Secara tidak sadar hal itu sudah menjatuhkan si pemilik karya karena mereka sudah merasa cukup dengan kegiatan mereka di balik layar yang kita mungkin sama sekali tidak tahu. Atau ada beberapa pujian terkadang hanya dimaksudkan untuk memancing sang artis untuk mengunjungi balik profil atau beranda kita. Hal itu kerap ditemukan di Instagram, atau Youtube.

Jika ingin mensupport mereka, dukunglah secara totalitas. Buat mereka melakukan secara maksimal dan beri semangat ketika mereka sedang kendor dengan memberikan kritik dan saran. Jangan sampai kita ‘membunuh’ bakat seseorang hanya karena kita memujinya secara berlebihan, bahkan hingga mendewakannya.

Saya juga pernah membahas hal serupa di postingan berikut.


  • Gengsi berlebih

Saya mengkonfrontir banyak dari teman jejaring sosial saya dengan kehidupan nyatanya. Siapa di sini yang pernah mendapatkan seseorang punya kendaraan mewah namun nyatanya mereka dibayang-bayangi oleh tumpukan hutang dan sering mengeluh? Mengapa hal ini bisa terjadi kepada mereka?

Banyak orang yang lelah dengan kehidupannya yang tidak berkualitas akibat ulah mereka sendiri dan pergaulan atau solidaritas yang salah. Akibatnya banyak jalan pintas diambil demi meningkatkan sesuatu yang menjadi martabatnya. Kebanyakan adalah dengan memiliki kendaraan mewah, minimal roda dua.

Tapi itu kan hak mereka? Selama halal tidak mengapa kan?

Ya, benar. Sama seperti beberapa orang kaya yang mengantri untuk mendapatkan beras miskin untuk menghemat pengeluaran. Hak mereka juga bukan?

Siapa di sini yang sangsi dengan seorang buruh pabrik dengan kemampuan rata-rata yang tiba-tiba sudah memiliki kendaraan besar di bulan-bulan pertamanya bekerja? Meskipun kita dituntut untuk berprasangka baik, namun di sinilah ketidakseimbangan terjadi. Apa salahnya kita menganalisis bagaimana dia mendapatkan benda berharganya tersebut dengan harapan jika dia punya rahasia terselubung, itu akan menjadi inspirasi bagi kita semua.

Namun nyatanya tidak jarang ditemukan bahwa mereka justru menangis dari balik glamor perhiasan dunia mereka yang mereka ciptakan sendiri. Mereka menjemput ujian mereka yang mereka mungkin belum tentu untuk sanggup untuk mempertahankan semua yang mereka miliki itu, hanya karena sebuah nafsu dengan takaran dosis berlebih. Gengsi. Apa lagi?

Mengapa mereka tidak menjalani episode mereka sebagai Cinderella sebelum ibu peri mereka datang menjemput? InsyaAllah akan ada saat mereka dijemput oleh pangeran mereka dan bahagia selamanya jika mereka termasuk orang-orang yang berkualitas dalam hidupnya. Kesabaran dan kegigihan mereka akan membuat apa yang mereka inginkan datang dengan sendirinya.

Banyak yang tidak dilatih untuk menerima kenyataan, yang pada akhirnya kenyataan pun menjadi tidak menerima perbuatan mereka. Inilah mengapa dunia terlihat begitu sangat kejam bagi sebagian orang yang seharusnya mereka dapat menjalani kehidupan normal, padahal mereka bukanlah warga negara yang hidup di negara miskin, atau negara perang.

Jadi jangan merebut simpati seseorang dengan menghilangkan simpati dari orang tersebut.

Jangan sampai orang berkata, “Ah, kok situ masih ngeluh kurang, kurang? Kan situ sudah punya kendaraan mewah?”

Bahkan perusahaan pun banyak yang masih menerapkan gengsi berlebih di luar bentuk leverage untuk meraup keuntungan perusahaan itu sendiri. Mereka terlalu menjual gengsi sebagai perusahaan nomor satu atau perusahaan pertama yang menerapkan sistem ini dan itu. Padahal customer tidak menemukan nilai apa pun pada perusahaan tersebut kecuali sedikit, yang pada akhirnya, pelanggan mereka banyak yang bukan berasal dari pelanggan setia karena saingan mereka dapat memberi pelayanan dan diskon lebih.


  • Paradoks cantik di tengah kecanggihan

Ya, teknologi sudah semakin maju. Maju di sini saya artikan sebagai peningkatan skala kemudahan di mana banyak orang-orang yang aktivitasnya terbantu dengan kehadiran teknologi yang sudah semakin kompeten untuk mempersingkat tugas-tugas manusia. Well, saya pun termasuk salah satunya yang terbantu banyak, bahkan sangat banyak.

Tetapi yang pernah saya bahas pula di postingan berikut, kemajuan teknologi justru dikhawatirkan akan lebih banyak membuang-buang waktu seseorang yang memang belum siap untuk itu. Akibatnya, skala produktivitasnya menurun tajam karena pada hari ini, apa pun sudah dapat dilakukan dengan sekali klik atau bahkan lebih mudah dari itu.

Banyak para ahli yang tidak lagi menjadi ahli karena mereka hanya bergantung kepada alat (tools), sedangkan para ahli yang benar-benar ahli sudah semakin sedikit karena mereka semakin dimakan oleh usia, atau tidak sedikit yang sudah meninggalkan dunia.

Pernahkah kita mengintrospeksi diri kita sendiri bahwa semenjak kita disibukkan dengan jejaring sosial, kualitas kehidupan kita sudah tidak semenarik dahulu. Kualitas pertemanan kita sudah tidak seasyik dahulu karena segala sesuatu dapat dipantau setiap waktu. Di satu sisi benar itu semua memudahkan cara berkomunikasi, namun efek samping juga perlu dipikirkan dan diwaspadai demi terciptanya harmoni atau keseimbangan dalam kehidupan.


  • Parade akhir dari rentetan fatamorgana

Banyak saya menemukan seniman dalam negeri yang mereka begitu hebat dalam melukis, mendesain, atau membuat sebuah karya visual yang bisa disebut mencengangkan. Banyak sekali. Tapi yang saya heran, misalnya, ada seniman yang menggambar sebuah korek api yang begitu nyata dengan aslinya, hiperrealistis, begitu sebutannya, namun justru mereka hanya memberi keterangan pada gambarnya, “Korek”.

Ya ya ya. Memang itu adalah sebuah korek api. Namun tidak adakah suatu keterangan yang bernilai seni yang membuat orang dapat menghargai lebih? Mengapa harus korek? Apa spesialnya korek? Bagaimana bisa korek? Kejadian ini bukan hanya sekali atau dua kali saya temukan di jejaring sosial, terutama Instagram.

Seakan saya harus berkata,

“Banyak hari ini yang dapat menciptakan karya fantastis, tetapi tidak menginspirasi.”

Tidak ada lagi kesan dari karya-karya mereka. Banyak yang hanya meniru dengan baik dan detail, namun tidak untuk sentuhan akhir yang membuat sebuah karya terlihat bernilai di mata orang lain. Mengapa hari ini sudah -hampir- tidak lagi seperti zaman dulu yang mana banyak orang yang karyanya dikenang bahkan hingga hari ini?

Pernah suatu hari saya mendengarkan sebuah musik jadul berbahasa Inggris (love song) di Youtube. Saat saya scroll-scroll di area komentar, ada sebuah komentar bagus.

“Mengapa musik hari ini sudah tidak ada lagi yang mendekati kecemerlangan kualitas musik-musik zaman dahulu?” Kemudian ada yang membalas, “Karena orang hari ini banyak yang membuat suatu karya hanya berdasarkan rate dan popularitas sebagai tuntutan industri, bukan lagi dari hati.”

Bukan sudah tidak ada lagi orang-orang yang karyanya tidak berkesan di zaman sekarang, namun keberadaan mereka sudah jarang, sangat jarang, atau bahkan terkubur oleh pendatang-pendatang baru yang karyanya terlihat lebih eksotis, namun tidak dapat dinikmati atau mudah dibuat bosan karena kehampaan nilai dari karyanya.

Hari ini, sudah banyak orang yang saya blokir dari jejaring sosial, terutama Instagram karena saya sudah terlalu bosan dengan foto bagus yang tema dan tonalnya itu-itu saja, walaupun pada awalnya saya benar-benar kagum dengan kehebatan foto-foto tersebut. Saya hanya ingin berbahagia di jejaring sosial, bukan hanya sekedar menyaksikan orang lain berbahagia. Apalagi yang hanya terikat oleh gengsi semata.

Jadilah diri kalian sendiri karena itu adalah bagian terberatnya, karena saya pun sedang menjalani masa-masa ini sampai saya menuliskan artikel ini. Carilah orang-orang kritis, mereka seperti emas di tengah kubangan lumpur.


Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)