Batas fantasi

Beberapa banyak yang heran mengapa beranda media sosial saya bersih dari keluhan masalah-masalah pribadi. Beberapa bahkan pernah bertanya apakah saya pernah terkena masalah, saya menjawab tentu saja iya. Masalah pribadi saya bahkan segunung.

Kemudian beberapa orang bertanya kembali mengapa saya seakan-akan seperti tidak punya masalah, saya hanya tertawa sedikit kemudian saya bercerita tentang apa yang terjadi pada diri saya yang sebenarnya, lalu secara dramatis mereka spontan mengusap-usap punggung saya. Dude, relax…

Saya tahu sulit sekali mencari orang yang dapat diajak mendengar tanpa harus mendapatkan penilaian awal. Maka dari itu, saya membuat ramuan saya sendiri agar saya tetap terlihat bahagia.


Tips Lebih Bahagia Ala Anandastoon #16

Batas Fantasi dan Dunia Nyata

Pada dasarnya manusia menyenangi kehidupan yang selalu dalam keadaan berbahagia dan berkecukupan. Beberapa manusia bahkan menginginkan diri mereka hidup bak pangeran atau permaisuri yang tinggal di negeri-negeri dongeng.

Terlepas dari impian-impian yang sarat fantasi tersebut, kita sebenarnya harus mengetahui mana saja batas fantasi dan dunia nyata.

Bagaimana pun, kita hidup di dunia ini tidak dapat mengelak dari peristiwa sebab dan akibat, atau sunatullah.

Sayangnya, masih banyak orang yang berusaha untuk mengelak kenyataan dan memilih berprinsip “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga”.

Padahal, dalam negeri dongeng sekalipun, Cinderella harus melalui berbagai penderitaan sebelum bertemu dengan pangeran.

Burung tidak dapat terbang jika sang induk tidak membiarkannya jatuh terlebih dahulu. Bahkan saat kita belajar mengendarai sebuah kendaraan, kita begitu rela untuk berjatuh-jatuh terlebih dahulu sebelum lancar pada akhirnya.

Namun cukup disayangkan jika prinsip tersebut tidak diaplikasikan dalam kehidupan kita.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang bercerita bahwa temannya tadinya adalah seorang pegawai kantoran dengan gaji yang cukup. Kemudian temannya itu ‘diracuni’ oleh kabar media sosial yang memberitakan beberapa orang dapat meraup pundi-pundi harta berlimpah hanya lewat bermain game secara online.

Pada akhirnya, ia meninggalkan pekerjaan utamanya dan beralih menjadi seorang streamer. Ia beranggapan jika uang bisa didapatkan dengan begitu mudahnya.

Sesuai tebakan, ia kini menderita. Sebab selain ia kehilangan sumber penghasilan utamanya, biaya hidupnya kian membengkak setelah adanya tambahan biaya tambahan listrik dan kuota internet.

Di kasus lainnya yang juga cukup marak, beberapa orang rela meninggalkan pekerjaan utamanya untuk membuka usaha sendiri hanya karena mereka memandang bahwa “menjadi bos lebih enak dan dapat memiliki gengsi yang tinggi.”

Tidak jarang saya mendengar bisnis baru yang tutup karena sang pengusaha menghadapi kenyataan pahitnya berbisnis. Mereka begitu kewalahan mengatur dan mengorganisir seluruh aspek utama dan tambahan sekaligus.

Para pengusaha yang bermodal “hanya ingin enak dan mendapatkan gengsi semata” tidak memiliki persiapan bagaimana cara memperbaiki produk, menarik pelanggan, menghadapi para pesaing, dan memanajemen sumber daya. Akhirnya, menyerah pun lebih baik bagi mereka daripada harus mempertahankan bisnisnya.

Intinya, harap tidak ada lagi yang menganggap bahwa seseorang bisa mendapatkan penghasilan lebih dengan begitu mudahnya tanpa ada usaha lebih.

Sekali pun ada orang yang mendapat penghasilan lebih tanpa usaha ekstra, itu bisa jadi tiga hal: Ia hanya mendapatkan itu hanya sesekali saja, atau pada dasarnya ia memang berasal dari keluarga mampu, atau kita tidak tahu seberapa keras pengorbanannya dalam meraih semua itu.

Contoh lainnya. saya pernah memiliki kenalan yang ia mencoba untuk mengelak dari prinsip sebab akibat yang berlaku dan memilih untuk hidup dalam fantasinya.

Dia adalah seorang biker yang gemar touring dengan sepeda motornya. Dia hanya ingin mencari pundi-pundi uang lewat kegiatan jalan-jalannya tersebut karena menurutnya ia bisa mendapatkan penghasilan sesuai kemauannya.

Menurutnya, yang perlu dilakukannya hanyalah mencari sponsor perlengkapan sepeda motor dan ia dapat sejahtera darinya.

Namun ternyata, kodrat tetaplah kodrat, saya bahkan tidak ingin menyebutkan bagaimana kehidupannya sekarang. Saya hanya mengambil hikmah dari pengalamannya tersebut.

Dunia ini tidaklah kejam, manusia itu sendiri yang mencoba berusaha menentang kodrat dan terpelanting dengan sangat menyakitkan.

Bagaimana pun hidup secara normal adalah memang yang terbaik. Maksudnya, seseorang boleh saja mencari nafkah lewat apa yang ia gemari. Ini adalah masalah niat, jika niatnya adalah hanya ingin menghindari usaha, kemungkinan besar ia akan menjadi pecundang.

Kita sudah memahami prinsip “ada uang ada barang”. Jika kita ingin bekerja secara bermalas-malasan, pertanyaannya adalah “siapa yang akan menikmati kerja santai kita?” atau “Orang membayar kerja santai kita untuk apa?”

Seorang pengusaha menjadi kaya-raya sebab ia secara siang malam terus berusaha tanpa henti, memikirkan strategi-strategi yang sarat risiko, dan menghadapi langsung setiap permasalahan yang ada.

Para pengusaha sukses selalu menyediakan yang terbaik bagi para pelanggannya sebab ia tidak ingin para pesaingnya yang mengambil alih para pelanggan yang menjadi sumber penghasilannya tersebut. Dan itu sangat-sangat tidak mudah.

Namun para pebisnis sukses pada akhirnya terbiasa dengan segala kesulitan tersebut dan pada akhirnya terbiasa dengan semua halang rintang yang sedang atau akan dihadapi mereka.

Pada tahap inilah kita memandang bahwa hidup para pebisnis sukses selalu terlihat enak. Padahal mereka hidup enak karena telah terbiasa dengan ‘sadis’nya dunia bisnis, bukan justru karena mencari jalan aman.

Saya pun dahulu juga seperti itu, membeli kamera dan kerap berjalan-jalan untuk memotret sekeliling dengan harapan hal itu dapat menjadi mata pencaharian utama saya.

Bayangkan, hidup nikmat berpiknik ria, memotret kanan dan kiri, kemudian saya hanya tinggal menjual karya saya dan mendapatkan rezeki dari sana.

Tetapi alhamdulillah hal itu tidak terjadi sebab saya kemudian dihadapkan dengan kenyataan bahwa saya harus bersaing dengan banyak orang, dan saya memerlukan peralatan tambahan yang nilainya hingga lebih dari sepuluh juta rupiah.

Saya kemudian kembali fokus kepada hobi saya sebagai programmer, mulai belajar untuk mendapatkan pelanggan dan melayaninya. Saya jatuh bangun pada saat itu. Hingga akhirnya saya bertemu rekan kerja saya dan membangun perusahaan bersama.

Awalnya saya pun masih memiliki penghasilan di bawah upah minimum selama hampir tiga tahun. Namun karena niat saya membangun perusahaan adalah untuk memberikan timbal balik dan manfaat bagi sesama, terutama bagi pelanggan saya, alhamdulillah perusahaan saya terus bertahan dan bahkan terus berkembang hingga saat ini.

Hidup secara “normal” memang selalu menjadi yang terbaik.

Pepatah “tiada hasil yang mengkhianati usaha” itu memang nyata adanya. Kita hanya diganjar sesuai apa yang telah kita lakukan.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas