Enggan Ke Masjid

Bukan sekali dua kali saya memperhatikan masjid yang begitu sepi dari jamaah. Bahkan pernah sekali sebuah masjid saya temukan tidak ada yang azan karena memang muadzinnya tidak ada. Hanya iqamat, dan itu pun jamaahnya hanya imam dan saya, disusul satu dan dua jamaah yang terlambat.

Saya sangat suka jalan-jalan sendirian, atau terkadang dengan mengajak seorang teman. Biasanya jika sudah masuk waktu shalat, saya mencari masjid di perjalanan untuk melakukan shalat jamaah.

Dan biasanya, masjid yang saya pilih adalah masjid-masjid di pinggir jalan yang eyecatching atau menarik pandangan karena arsitekturnya yang bagus atau cukup megah.

Namun sangat tidak jarang saya temukan jamaah masjid yang menghadiri shalat jamaah hanya kurang dari satu saf, atau bahkan kurang dari sepuluh orang.

Diperparah lagi, hampir tidak ada generasi muda yang menjadi makmum di masjid tersebut, kecuali saya sendiri tentu saja, tetapi saya pun bukan penduduk asli sana.

Ironisnya, setelah saya selesai beribadah dan keluar masjid, coba tebak? Banyak sekali sekumpulan anak muda yang nongkrong dan momotoran.

Pastinya, saya hanya dapat melakukan jalan-jalan di akhir pekan dan hari libur. Jadi alasan orang tidak ingin ke masjid karena bekerja di akhir pekan kemungkinannya hanya sedikit.

Dan perlu diingat, pemandangan seperti ini terjadi sebelum pandemi Covid19.

Pertanyaannya, mengapa orang-orang enggan ke masjid untuk minimal melaksanakan shalat berjamaah?

Mungkin pembaca mengira saya akan membahas yang lebih ke pribadi seseorang. Tidak, karena artikel yang membahas itu sudah bertebaran di internet. Jadi saya sekarang lebih menekankan pembahasan ke arah manajemen masjidnya itu sendiri.


1. Ego pengurus masjid yang masih tinggi

Tidak dapat dipungkiri, masih cukup banyak pengurus masjid yang menanggapi fenomena masyarakat yang enggan ke masjid dengan cara ‘menuduh’ mereka. Apa maksudnya?

Bukan hanya sekali dua kali saya mendengar pengurus masjid yang saat ditanya mengapa banyak orang yang enggan ke masjid, jawab mereka justru menghakimi dengan menuduh bahwa iman masyarakat masih lemah.

Well, bisa jadi yang dituduhkan para pengurus masjid memang benar. Namun itu bukan langkah yang sangat baik menanggapi fenomena ini. Sebab seakan-akan, pengurus masjid sudah memiliki ‘fitur’ untuk mengukur seberapa tinggi iman seseorang.

Jika pengurus masjid sudah berani menghakimi kualitas iman seseorang hanya karena mereka enggan ke masjid, artinya mereka sendiri yang tidak membutuhkan jamaah.

Padahal Allah Ta’ala memberikan rezeki kepada masjid via jamaah.

Pastinya kotak amal di masjid ada karena suatu alasan bukan?

Sebuah masjid akan gagal menjadi sentral pembinaan masyarakat jika mental kepengurusannya sudah tidak peduli dengan jamaahnya bahkan hingga tega menghakiminya yang tidak-tidak tanpa adanya ajakan yang signifikan.

Masjid sejatinya memang bukan hanya tempat beribadah secara umum semata (meskipun masjid adalah kata tempat dari sujud/isim makan (kata tempat)). Namun sayangnya masih banyak pengurus masjid yang belum menyadari hal ini dan hanya mengadakan kegiatan formalitas lain yang sepertinya tidak lebih dari sebatas, “yang penting masjid ada kegiatan“.


2. Masjid tidak ramah anak

Bagaimana sebuah masjid ingin memiliki generasi muda yang taat beribadah dan hatinya tertaut kepada masjid jika mereka bukannya menggandeng anak-anak kecil untuk cinta kepada masjid, justru mereka buat trauma.

Pernah saya temukan pengurus masjid yang membentak anak-anak kecil dan menyuruh mereka pulang, bahkan pernah saya lihat ada masjid yang memasang peringatan agar jamaah dewasa tidak membawa anak kecil seakan-akan anak-anak kecil itu haram dan najis bagi masjid.

Akibatnya para anak kecil tersebut lebih diterima di warnet, di kafe, dan tempat-tempat bermain daripada di masjid.

Jangan salahkan jika ‘pohon kenyamanan’ mereka tumbuh di tempat-tempat bermain tersebut daripada di masjid.

Jika sudah seperti ini, pohon yang sudah tumbuh besar akan sulit untuk diluruskan atau dipindahkan kecuali ditebang.

Siapa yang akan disalahkan jika kejadian ini sudah terjadi? Sudah barang pasti pengurus masjid, sebab merekalah yang memiliki tanggungjawab untuk membina mental jamaah di masjid tetapi mereka gagal menjalankan tanggungjawab itu.

Saya memahami bahwa kehadiran anak kecil mungkin akan mengganggu sebagian para jamaah masjid yang sedang khusyuk beribadah sebab suara bising yang mereka hasilkan. Sejujurnya saya pun cukup terganggu dengan itu.

Namun begitulah sifat anak kecil. Entah di warnet, di kafe, dan di tempat lain pun mereka akan selalu seperti itu, setidaknya sebagian besar. Namun mengapa justru hanya di masjid saja mereka tidak diterima? Apa karena mengganggu kekhusuan ibadah?

Ibadah yang khusyuk justru memiliki hasil yang dapat diterapkan di masyarakat. Nyatanya, banyak masjid yang ‘pelayanan’ kepada jamaahnya masih tidak lebih baik daripada restoran, warnet, dan tempat lain.

Tetapi sekali lagi, tugas masjid adalah membina mental para jamaah, bukan membinasakannya. Kecuali mereka rela jika para jamaah muda lebih memilih untuk berada di tempat lain selain di masjid.


3. Ruang ibadah tidak nyaman

Seperti yang telah disebutkan di poin pertama, masih banyak pengurus masjid yang menghakimi masyarakat yang tidak ingin ke masjid dengan kualitas iman masyarakat yang masih lemah.

Di satu sisi, pengurus masjid haruslah mengetahui bahwa salah satu fungsi utama masjid adalah pusat dakwah.

Sekarang bagaimana bisa pengurus masjid langsung menuding para jamaah yang enggan ke masjid dengan tudingan yang tidak-tidak sementara mereka sendiri tidak menjalankan fungsi masjid sebagai pusat dakwah?

Dan yang dimaksud dengan dakwah bukan hanya mengajak orang-orang untuk segera ke masjid dengan berteriak-teriak lewat pengeras suara.

Perlu diketahui pula, membuat tempat ibadah senyaman mungkin adalah salah satu bentuk ajakan kepada jamaah agar hati mereka tertaut kepada masjid.

Toilet yang nyaman, tempat wudlu dengan air yang mengalir, papan petunjuk yang jelas, ruang shalat yang harum, dan lain sebagainya, semua itu dapat secara tidak langsung memikat hati jamaahnya agar terus-terusan kembali kepada masjid karena kemudahan yang diberikan sesuai anjuran Rasulullah saw agar senantiasa memudahkan dan tidak mempersulit.

Sebaliknya, sangat tidak etis jika pengurus masjid lebih memilih untuk menuduh jamaah yang enggan ke masjid itu sebagai orang yang hatinya sudah dikuasai setan.

Padahal justru sepertinya setan lebih senang kepada pengurus masjid yang ‘malas’ dan senang menghakimi manusia serta merasa diri mereka lebih baik daripada para jamaah yang enggan ke masjid.

Jangankan masjid, “tempat dunia” saja seperti restoran, warnet, dan sebagainya, jika mereka tidak menyediakan tempat yang nyaman dan pelayanan yang baik, maka mereka pun tidak akan mendapatkan pengunjung tetap.

Seharusnya masjid lebih baik dari “tempat-tempat duniawi” seperti itu.


4. Manajemen masjid yang samar

Para jamaah seringkali skeptis dan penasaran kemana uang mereka yang telah disalurkan kepada masjid.

Masjid-masjid yang transparan, di mana mereka merinci setiap pengeluaran mereka di tempat yang mudah diketahui oleh seluruh jamaah akan membuat para jamaah merasa uang sedekahnya benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan bermanfaat.

Dengan tindakan yang sangat ‘sepele’ ini seperti merinci pengeluaran dan mempostingnya di mading masjid akan membuat para jamaah merasa dihargai yang mana itu akan menambah tingkat kenyamanan mereka kepada masjid.

Yang mana, jamaah yang sudah nyaman dengan masjid kemungkinan besar mereka lebih bersemangat untuk lebih mendermakan lagi kelebihan harta mereka untuk masjid tanpa diminta lebih ekstrem.

Tetapi masih ada saja saya temui satu, atau dua masjid yang jangankan saat membangun masjid, mereka masih senang ‘mengemis’ kepada para jamaah hanya untuk menyediakan kopi dan cemilan bagi para pengurus seakan-akan tidak pernah ada saldo tersisa untuk membeli hal remeh-temeh seperti itu.

Ditambah lagi, para jamaah sering diancam dengan ditakut-takuti jika tidak bersedekah kepada masjid akan mendapatkan azab atau sebaliknya.

Di luar itu, saat ada acara besar, beberapa masjid masih menyelenggarakannya secara agak ‘sembrono’. Bukan sekali dua kali masjid yang mengadakan acara besar hingga larut malam hingga menutup keseluruhan akses ke seluruh pemukiman bahkan tidak memberikannya meski hanya untuk menyediakan sepetak jalan untuk pejalan kaki.

Hal ini diperparah dengan tidak adanya ‘filtering’ dari pengurus masjid mengenai siapa yang diundang untuk memberikan taushiyah di masjid mereka.

Pernah suatu ketika saya mendengar, saat ada acara santunan anak yatim, sang penceramah justru membahas omnibus law kepada anak-anak yang bahkan belum lulus sekolah dasar. Saya menganggapinya seperti oh my dear God what the hell?!

Atau saat ada acara sebuah majlis di sebuah masjid, saya pernah mendengar pemberi taushiyah menyebutkan personel-personel partai politik dan menyebut mereka dengan bahasa-bahasa yang tidak layak diutarakan di dalam masjid. Kemudian dipoles dengan serangan kepada sebagian suku dan golongan tanpa alasan yang begitu mendasar.

Tak cukup dengan itu, sang pemberi taushiyah mengagung-agungkan status ulama atau habib mereka dan mereka menggaung-gaungkan hal yang menurut mereka sangat terpuji seperti “Saya telah haji 10 kali”, dst secara berulang-ulang.

Oh dear what’s going on?

Saya tidak anti politik bahkan saya senang jika Islam membahas politik atau siyasah. Tetapi tentunya materi tersebut harus dibahas secara objektif dan mengglobal, bukan menyudutkan seseorang secara subjektif kemudian menghina dengan kata-kata kasar dan lontaran nama binatang di dalam masjid.

Saya pernah suatu hari disentil oleh seorang non-muslim, “Apa orang-orang masih mau ke masjid dengan manajemennya yang seperti itu?”

Saya hanya terdiam dan menghela nafas.


5. Fitur masjid yang stagnan

Saya pernah tinggal di lingkungan yang masyarakatnya begitu cinta kepada masjidnya, dari yang paling muda hingga yang tua.

Rahasianya pun sebenarnya bukan rahasia, yakni masjid tersebut memiliki pengurus yang cerdas dan pandai mengayomi masyarakatnya. Mereka terbuka dengan saran dan kritik dan remaja masjidnya begitu aktif memberikan ide. Kebetulan saya adalah salah satu remaja masjid tersebut.

Dari yang paling remeh sekali pun, masjid tersebut sepertinya memiliki pengertian. Seperti shalat berjamaah yang tidak terlalu lama. Maksudnya rakaat pertama shalat zhuhur, cukup bagi saya untuk membaca surat pendek seperti AdDhuha dengan kecepatan normal setelah Alfatihah.

Di masjid yang tidak jauh dari masjid ini, justru kebalikannya, jamaahnya sedikit, yang sewaktu saya mencoba shalat ashar berjamaah di sana, mungkin dapat saya taksir saat imam rukuk di rakaat pertama, pada saat yang sama masjid di lingkungan saya sudah tahiyat akhir karena begitu lamanya shalat di masjid tersebut.

Bahkan masyarakat di lingkungan masjid tersebut ‘iri’ dengan masjid di lingkungan saya karena banyak acara yang disajikan untuk masyarakat seakan setiap hari masjid di lingkungan saya itu tidak pernah tidur.

Dan yang saya beri nilai plus, masjid di lingkungan saya dulu itu pandai mengatur pengeras suara. Jika ada pengajian, baik pengajian umum, remaja, ibu-ibu, dan sejenisnya, mereka menggunakan pengeras suara dalam.

Pengeras suara luar hanya dipakai saat tahrim subuh dan beberapa saat sebelum azan.

Tak heran jika masjid seperti ini selalu penuh dengan jamaah dan tidak pernah sekali pun pengurusnya meminta sumbangan saat ada pembangunan lantai dan menara masjid.

Jamaah pun secara sukarela menginfakkan sebagian hartanya karena hati mereka sudah berhasil ditautkan oleh masjid.


Penutup

Semoga kita dapat mengerti bahwa sebelum kita menghakimi seseorang yang enggan ke masjid dengan sebutan “iman yang masih lemah” atau “dikuasai setan”, kita lebih baik melihat dahulu apakah pengemban tanggungjawab sentral sudah melakukan tugasnya dengan baik.

Jika kelima poin di atas tersebut sudah diperhatikan oleh masjid, tidak ada alasan lagi untuk para jamaah enggan ke masjid.

Dan jika kelima poin di atas sudah diperhatikan oleh masjid, barulah kita dapat kembalikan lagi kepada pribadi masing-masing yang masih enggan ke masjid di lingkungan tersebut.

Itu pun bukan dengan cara langsung menghakimi, melainkan dengan mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan terus mengajak mereka dengan lembut dan menyenangkan.

Ingat, masjid adalah pusat dakwah, pusat budaya dan akhlak masyarakat yang mana standarnya harus tercermin langsung dari apa yang telah diwanti-wanti oleh Allah dan RasulNya.

Jika sebuah lingkungan masyarakat banyak yang tidak memiliki akhlak yang baik dan enggan ke masjid, jangan-jangan memang masjidnya yang telah gagal memahami fungsionalitasnya sebagai masjid.


—<(Wallahu A’lam Bishshawaab)>—

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 2 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    1. Anak saya biasanya rajin ke mesjid utk sholat berjamaah..bahkan jg sering azan di masjid
      Pd suatu ketika ada bapak2 yg setiap anak saya azan selalu komplain..yg anak saya sendiri bahkan tidak tau dmana letak salahnya..padahal dia sudah menguasai bacaan azannya..berkali2 dikomplain..dia jd bingung..akhirnya jd malas sholat k mesjid..

      • Hai, terima kasih sudah berkomentar.

        Seperti yang telah kita ketahui, kejadian tidak menyenangkan yang dialami bapak/ibu memang kerap terjadi di sebagian masjid. Terkadang saya agak atau bahkan sangat miris dengan anak-anak yang sudah tidak terlihat lagi di masjid sebab masjidnya itu sendiri tidak ‘open’ dengan mereka.

        Padahal, di zaman Rasulullah saw. itu sendiri pun kerap terjadi suara anak-anak, bahkan suara anak menangis yang menyebabkan Beliau saw. mempercepat bacaan suratnya.

        Ini adalah PR bagi muslim itu sendiri untuk memberikan hikmah kepada sesama muslim lainnya mengenai bagaimana masjid seharusnya menjadi sentral akhlak.

        Wallahu A’lam.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas