Shalat Tarawih

Akhir-akhir ini perdebatan antar muslim mengenai berapa rakaat shalat tarawih yang benar mencuat lagi ke permukaan. Saya tidak tahu apakah ini sebenarnya terjadi setiap tahun atau saya baru melihat lagi kubu 8 vs 20 rakaat shalat tarawih.

Sebenarnya saya selalu menelisik argumen antar kubu, namun sepertinya saya sudah semakin lelah dengan perdebatan yang sepertinya tidak akan ada akhir seperti itu.

Memangnya Anandastoon sendiri berapa rakaat shalat tarawihnya? Saya sendiri hybrid, artinya jika saya sedang shalat tarawih di masjid yang 20 rakaat, ya saya ikut 20 rakaat. Namun jika sedang di kantor hingga malam, saya shalat 8 rakaat.

Dear, begini, saya hanya mencoba untuk objektif, karena alasan apa pun yang saya keluarkan pasti akan dikira berpihak atau menentang oleh fanboys yang bersangkutan.

Pada akhirnya, berapa kali saya justru berakhir dibenci oleh dua kubu, apa pun. Entah kubu politik, kubu agama, atau kubu rasial.

Tidak masalah, selagi saya insyaAllah mengerti konsekuensinya dan saya berusaha terus terbuka menerima masukan yang bermanfaat.

Kembali ke masalah jumlah rakaat tarawih, sebenarnya masing-masing kubu memang sudah memiliki kekuatan argumen masing-masing. Namun sayangnya, ilmu mereka hanya dipakai untuk mendebat dan merasa lebih baik.

Kubu 8 rakaat, berdalih bahwa mereka yang paling benar sebab Rasulullah saw., pada zaman beliau melakukan shalat tarawih sebanyak 8 rakaat dan ada dalil yang menyatakan bahwa beliau tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (asumsi 3 sisanya adalah rakaat witir). Wallahu A’lam.

Kubu 20 rakaat, berdalih bahwa mereka yang paling benar sebab jumhur ulama banyak yang melakukan versi shalat tarawih yang 20 rakaat, yang dihidupkan lagi mulai dari sahabat Umar bin Khaththab r.a.

Tetapi bagi sebagian orang, khilafiyah (perbedaan) ini justru dipakai sebagai senjata untuk menyudutkan pihak lain. Ilmu yang didapat bukan untuk menambah kebijaksanaan, sebaliknya dipakai untuk berbuat kerusakan.

Sekarang coba lawan saya,

Untuk kalian yang bersikeras bahwa tarawih itu harus 8 rakaat, mengapa kalian mengerjakan tarawih sepanjang Ramadan? Perlu diketahui bahwa di zaman Rasulullah saw., Beliau sendiri tidak tarawih sepanjang Ramadhan sebab khawatir akan menjadi wajib dan memberatkan umatnya.

Dan untuk kalian yang bersikeras bahwa tarawih itu harus 20 rakaat, ditambah dengan alasan lebih banyak rakaat lebih bagus, mengapa tidak sekalian saja kalian tarawih 36 rakaat? Bukankah lebih banyak rakaat akan lebih baik?

Jika kalian yang shalat tarawih 20 rakaat sebab ikut mazhab dan jumhur ulama, maka bukan hak kalian untuk mendebat mereka yang tidak shalat tarawih 20 rakaat. Begitu pun dengan shalat tarawih dengan jumlah rakaat yang lain.

Dear, bahkan bagi yang tidak shalat tarawih sekali pun, insyaAllah puasanya tetap sah dan tidak mengurangi pahala puasa. Kecuali dia tidak mendapatkan bonus pahala dari tarawih.

Berbeda dengan orang yang tidak shalat wajib saat puasa. Selain ia bisa dapat dosa karena meninggalkan shalat wajib, pahala puasanya pun bisa berkurang sebab puasanya tidak membuatnya lebih bertakwa.

Berdebat untuk urusan sepele seperti ini menunjukkan bahwa sebagian orang masih minim manfaat dan pengetahuan syariahnya.

Padahal, berdebat kusir apa pun (apalagi jika bertema agama), itu saja sudah melanggar minimal tiga aspek syariah.

Melanggar syariah karena berbantah-bantahan, melanggar syariah karena tidak memberikan rasa aman bagi orang lain, dan melanggar syariah karena merasa diri paling benar.

Dikhawatirkan, lelahnya tarawih justru tidak mendatangkan pahala apa pun kecuali sedikit, sebab muslim yang mengerjakan tarawih merasa jumlah rakaatnyalah yang paling benar serta hatinya dipenuhi sifat ujub (berbangga kepada diri sendiri).

Jadi, jika kalian ingin mengerjakan shalat tarawih 8 rakaat, kerjakanlah 8 rakaat jika mampunya hanya 8 rakaat. Jika kalian ingin 20 rakaat, silakan kerjakan 20 rakaat dengan syarat tumaninah shalat tetap terlaksana dan tidak terlalu cepat.

Selama sebuah hukum syariah ada ulama yang dapat mempertanggungjawabkannya, maka bukan hak muslim yang mengikutinya untuk mendebat pengikut hukum syariah lain yang ulamanya sama-sama jelas dan kredibel.

Mungkin jika Rasulullah saw. masih hidup dan beliau melihat perdebatan remeh tanpa akhir seperti ini, beliau kemungkinan akan berkata, “Bukan untuk ini aku diutus.”

Dear, Rasulullah saw., beliau hingga menghentikan shalat tarawih setelah beberapa hari karena beliau peduli umat beliau. Beliau khawatir shalat tarawih akan menjadi wajib dan menyulitkan kita sebagai umatnya. Lalu mengapa kita justru yang berdebat dan menyulitkan hari-hari orang lain?


—<(Wallahu A’lam Bishsawaab)>—

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas