
Alangkah malangnya nasib kaum menengah.
Mereka dihimpit golongan atas dan golongan bawah.
Punya apalagi kaum menegah? Mereka tidak mendapatkan fasilitas wah.
Namun tidak cukup untuk mendapatkan subsidi dan bantuan pemerintah.
Simpati saya begitu dalam untuk para kaum menengah. Tadinya.
Sampai saya sadar dengan kuburan yang mereka pilih sendiri untuk menggalinya.
Alih-alih berusaha untuk mencari jalan keluar bersama.
Mereka justru menghibur diri dengan terlalu banyak beretorika.
Seperti, “Jakarta Keras!”, mereka gaungkan.
Padahal penyebab kerasnya Jakarta, mereka juga yang lestarikan.
Mereka juga bilang Jakarta bukan untuk pemula.
Di saat segelintir orang yang peduli berusaha membuat Jakarta ramah segala usia.
Kalimat pemanis bersahutan, “Sehat-sehat pejuang rupiah.”
Tidak, saya tidak ingin berpura-pura sehat di tengah realita yang goyah.
Jika ingin ada solusi, sebelumnya pasti ada identifikasi masalah.
Sayangnya, drama sudah menjadi konsumsi mental para kaum menengah.
Bukannya menyemangati mereka yang memiliki kerja nyata.
Mereka memilih menyerap alkisah sendu dari rakyat jelata.
Sebagian mereka yang tidak seperti itu pun hanya bisa berdalih, “Saya nggak gitu, tuh!”
Menyisakan sedikit sekali yang bisa melihat permasalahan sosial dengan utuh.
Menyalahkan pemerintah korup menjadi ajang pelarian.
Ironinya, para pendukungnya mereka biarkan dengan sebab kasihan.
Memang siapa pendukung pemerintah korup itu?
Lihatlah keluar, mereka yang hobi membuat resah, mereka mudah disuapi, itu.
Tidak sedikit kaum menengah yang sadar kalau mereka kalah jumlah.
Juga kalah dari segi apa pun, termasuk kekuatan rasional dan emosional yang seharusnya berlimpah.
Pahamilah jika ingin negara maju yang pemimpinnya sayang kepada rakyat,
Maka pendukungnya harus berasal dari orang yang giat dan taat.
Nyatanya, kaum menengah memilih membela para pelanggar yang kerap membuat gelisah.
Membuat para biang onar semakin berani karena berhasil berlindung di balik kasta lemah.
Akhirnya orang-orang produktif yang bermanfaat pun menyerah.
Harapan mereka kepada kaum menengah agar bangkit melawan pun kandas sudah.
Belum lagi, banyak dari kaum menengah yang kosong dalam ketidakpastian.
Bahkan banyak yang mengalihkan dengan belanja gengsi demi palsunya pencapaian.
Hiburan berupa dopamin instan menjadi sebuah candu baru.
Apa pun kegiatannya, FOMO dan kegiatan pamer menjelma sebagai tren semu.
Sebagian menjadikan pinjol dan paylater sebagai pelarian dari realita.
Hingga keuangan mereka semakin tercekik karena tingginya bunga.
Apa daya kaum menengah yang seolah menjerit tak punya pilihan.
Tetapi telah jadi tanggung jawab mereka sendiri untuk keluar dari lingkaran setan.
Orang yang peduli pun sudah lelah. Lelahnya orang peduli tak ada yang merasakan.
Tujuan mulia orang yang peduli dibalas dengan dahsyatnya kesepian.
Mengapa kaum menengah banyak yang tidak menghiraukan orang yang peduli?
Padahal jumlah orang peduli begitu sedikit dan cenderung memilih tempat sunyi.
Orang peduli itu tidak bising, namun manfaatnya terasa oleh banyak orang.
Apa yang mereka posting di media sosial, kebanyakannya membuat tenang.
Kita tidak sedang dijajah. Kita tidak perlu orasi semangat merdeka.
Menyadari hal kecil yang membuat kita lebih baik saja sudah cukup untuk membuka,
Membuka apa? Membuka peluang masa depan bangsa yang begitu emas.
Tidak lagi menjadi slogan, namun efeknya sudah mulai terasa sendiri secara totalitas.
Kaum menengah adalah harapan, maka jangan jadi batu sandungan.
Mulailah melihat sesuatu secara objektif, tidak lagi sebatas dari ekonomi dan golongan.
Kita ingin negara yang ramah kepada seluruh komponen.
Baik kepada manusia atau alam, dan ingin mempertahankannya agar permanen.
Ciri kaum menengah idaman, adalah mereka yang bisa jadi contoh lagi memotivasi.
Tanpa ada rasa iri, karena kita pasti ingin merasakan perbaikan yang tiada henti.
Bisa terlepas dari lingkaran setan, ialah tanggungjawab kaum menengah itu sendiri.
Mulailah menyadari ini dan mulailah pula melakukan perbaikan diri.
Catat, siarkanlah perbaikannya. Teruslah lakukan tanpa henti setiap celah improvisasi.
Karena laporan yang dapat dinikmati publik adalah sebaik-baiknya senjata melawan korupsi.
Kita berharap pemerintah melakukan aksi kerja nyata yang menyenangkan hati.
Namun tidakkah itu hipokrit jika kita enggan memulai dari diri sendiri?
Coba kita pikirkan lagi, apa hasil kerja atau aktivitas kita yang membuahkan senyuman.
Sulit? Lalu apa yang diharapkan dari pemerintah yang tidak memiliki jejak serupa?
Saya rindu masa di mana saya masih menemukan pencapaian yang menginspirasi.
Bukan pencapaian fiktif hasil memaksakan diri, yang berbeda dengan realita inti.
Tidak peduli kaya atau miskin, setiap manusia punya kewajiban berbenah diri.
Alihkan drama kepada hasil kerja, carilah cara agar kegiatan kita bisa membuat lebih bahagia.
Terakhir, carilah orang-orang yang peduli dan terbuka, mereka menunggu kita.
Tanyakan apa pun dan berdiskusilah, mereka bersenang hati memberikan apa pun yang bisa menyenangkan kita.
Jepang dan Singapura, serta banyak negara-negara Eropa sudah menjadi contoh nyata.
Tanpa pandang fisik dan golongan, yang benar dibina, yang salah dipidana.
Negara maju memiliki masyarakat yang lelahnya adalah berlomba memberi manfaat.
Jadi siapa pun yang berdrama, akan langsung mereka sikat.
Kaya atau miskin, setiap manusia tetap punya kewajibannya.
Kaum menengah yang telah terbuka, mereka akan dengan sendirinya merdeka.