
Meski saya bukan yang mendirikan langsung perusahaannya, namun saya memiliki jabatan sebagai CTO atau direktur utama IT yang bertanggung jawab dengan produk utama perusahaan yang berupa aplikasi IT.
Di tengah gempuran aplikasi-aplikasi buatan AI yang canggih dan begitu jenuh karena jumlahnya sudah terlalu banyak, belum lagi dengan banyaknya perusahaan startup atau rintisan IT yang tutup, mempertahankan perusahaan IT serupa adalah kewajiban.
Banyak faktor yang harus saya pertimbangkan, dari mulai keamanan, optimasi, manajemen sumber daya untuk meringankan biaya server, hingga ranah di luar IT-nya itu sendiri.
Alhamdulillah perusahaan masih mendapatkan klien baru dan mempertahankan banyak klien lama, itu setidaknya menjadi salah satu prestasi yang wajib dipelihara khususnya bagi saya sendiri.
Kalau dari segi keuntungan untuk pegawai, perusahaan saya sudah memberikan banyak benefit seperti jatah WFH per minggu, gaji tanpa potong pajak (dilebihkan seolah tidak terkena potongan), katering, bonus, dan lain sebagainya.
Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman dan sedikit tips, bagaimana tantangan saya sebagai “juru kunci” produk utama perusahaan, dalam berusaha membuat perusahaan lebih baik.
Pukul lima sore, setiap pegawai umumnya sudah tidak lagi terikat pekerjaan dan bersiap ke rumah masing-masing.
Jalanan menjadi macet, sistem transportasi umum semerta-merta memberlakukan “rush hour”.
Selepas magrib, lingkungan kantor saya menjadi sepi seketika. Tidak terdengar lagi aktivitas kecuali seorang petugas office boy kantor yang mencuci piring sisa dari aktivitas kantor sewaktu siang.
Di sini, saya tidak langsung pulang, melainkan “rush hour” ini adalah momen bagi saya untuk mengalokasikan sisa tenaga menjadi sebuah karya yang benar-benar murni dari hati, saya tuangkan kepada produk saya sendiri.
Jam-jam sepi ini sudah minim distraksi, sehingga saya bisa mengeluarkan “superpower” saya untuk mengekspresikan apa yang saya mau ke dalam produk saya.
Entah dengan membuat fitur baru, belajar hal-hal terkait yang memuaskan apalagi dengan bantuan AI, menerapkan bingkai kerja yang bersih, membuang sampah kode program supaya aplikasi lebih ringan, hingga beberapa kejutan atau easter egg untuk tim saya baik di divisi saya ataupun divisi lainnya.
Saya ingat wajah sumringah tim-tim saya saat mereka menemukan atau mengetahui kalau mereka sudah tidak perlu lagi menulis kode yang panjang berbaris-baris dan melelahkan karena saya sudah buatkan versi satu barisnya.
Untuk divisi luar, mereka pun bahagia saat saya buatkan jalan pintas yang secara mendadak bisa memangkas waktu kerja mereka secara signifikan supaya bisa beralih ke pekerjaan lain secara lebih cepat.
Bahkan klien pun beberapa kali melaporkan kalau fitur barunya begitu memudahkan mereka, dan itu berkala. Hal ini tentu bisa menjadikan mereka lebih “lengket” dengan produk kami.
Saat saya melihat tim saya melakukan hal ekstra di luar tugasnya namun masih dalam lingkup bidang pekerjaannya, saya tidak membiarkannya.
Misalnya, saat sedang tidak ada tugas, pasti ada tim saya yang bosan di dalam jam kerja.
Peraturan perusahaan, tidak boleh bermain game atau menonton film saat jam kerja karena bisa mengurangi produktivitas dan menjadi contoh buruk bagi tim yang lain.
Karena itulah, ada tim saya yang mengalokasikan waktunya menelusuri situs web seperti Quora, Medium, hingga Pinterest.
Dan, ada juga yang sesekali iseng membuat kodingan atau fitur kecil-kecilan di luar tugas utama kantor.
Terkadang saya juga menyimak apa yang dia buat. Apabila menarik dan bermanfaat, maka saya akan terapkan juga di lingkup perusahaan. Tim saya yang mencetuskan itu juga akan saya berikan insentif lebih sebagai penghargaan.
Ini juga ternyata sudah banyak diterapkan oleh perusahaan besar dunia, semisal Nintendo. Dahulu, sebelum Nintendo punya konsol permainan yang kita kenal sekarang, itu hanya sebuah perusahaan permainan kartu.
Pernah di ambang kebangkrutannya karena kartu sudah tidak lagi diminati sebagai permainan utama di masyarakat, Direktur utama Nintendo melihat salah satu pegawai pabriknya bermain-main dengan alat mainan sederhana buatan sang pegawai sebagai hiburan kala jam istirahat.
Rumusnya sama, saat ada seseorang, apalagi orang dewasa yang “anteng” dengan sebuah produk, bisa jadi itu adalah sebuah produk yang diminati segala usia, meski hanya sebuah mainan.
Terbukti, saat direktur utama Nintendo menyuruh sang pegawai memproduksi mainannya sendiri tersebut, ternyata sukses terjual jutaan unit, menyelamatkan Nintendo dari krisis finansial perusahaan pada saat itu. “Ultra Hand”, nama mainannya.

Ultra Hand Nintendo
Contoh lain, masih dalam lingkup permainan. Capcom, pengembang game yang telah menciptakan banyak game yang kita kenal seperti Resident Evil, Street Fighter, hingga Mega Man, punya cerita menarik saat membuat game Mega Man 11.
Manajemen bingung apakah Mega Man versi berikutnya harus memiliki grafik piksel seperti di konsol Nintendo jadul atau grafik yang lebih modern.
Saat melihat salah satu staf yang melakukan imajinasi ulang dengan mengubah pemandangan piksel salah satu tangkapan layar Mega Man jadul kepada gambar lukisan digital, manajemen ternyata menyukainya karena lebih indah.
Mega Man 11 menjadi salah satu permainan Capcom yang terjual lebih dari satu juta unit.
Hari ini kita sepertinya sudah mendengar semakin banyak dan banyak orang yang membicarakan betapa toxic-nya lingkungan perusahaan mereka.
Sebagai atasan, saya menganggap diri saya sebagai benteng pertahanan untuk tim saya sendiri.
Benar, saya berusaha menjadikan lingkungan divisi di bawah naungan saya steril.
Saya tidak menoleransi atau mengabaikan saat saya menemukan cikal-bakal sifat toksik baik dari dalam maupun dari luar.
Pertumbuhan sifat toksik atau beracun itu amatlah cepat dan menular, saya paham tidak akan bisa menyelesaikannya seorang diri di suatu hari nanti.
Akibatnya tentu saja bisa fatal, bukan hanya produktivitas terganggu, namun juga bisa membuat tim saya yang kerjanya rajin dan giat menjadi tidak nyaman.
Bagi saya, tim atau karyawan adalah aset.
Kita sendiri selalu memperhatikan barang yang kita cintai, merawatnya, memberikannya perhatian lebih, bahkan rela merogoh kocek yang begitu dalam supaya membuatnya awet.
Itulah aset, dan itu sangat berharga. Begitu juga dengan pegawai berkualitas.
Mencari sumber daya manusia yang mumpuni di dalam negara di mana banyak masyarakatnya yang seringkali disebut dengan “SDM rendah” bagi saya itu tantangan yang sangat berat.
Karena tentu saja, merekrut sembarang orang bisa sangat membahayakan perusahaan. Ibarat membeli onderdil atau suku cadang kendaraan yang kualitasnya dapat menghancurkan kendaraan itu sendiri.
Pernah dari ratusan pelamar yang saya pilah, hanya berhasil dapat dua orang berdedikasi yang justru asalnya dari kenalan rekan kerja. Padahal saya tidak membatasi usia pada lowongan pekerjaannya.
Dan belum lagi, tim-tim saya menjadi semakin berharga setelah mereka mendapatkan pelatihan serta bimbingan langsung dari saya pribadi. Membuat mereka menjadi barang langka.
Saya tidak ingin “aset mewah” itu terpapar racun dari lingkungan kerja yang tidak sehat.
Alasan utama mengapa anak bangsa berprestasi begitu sulit berkembang di negeri ini dan banyak yang memilih keluar negeri, tidak semerta-merta karena pemerintah semata.
Kita sendiri terkadang tidak menghargai hasil jerih payah seseorang dan lebih fokus kepada pencapaian semu mereka, entah di dunia nyata, atau di dunia maya.
Seperti, masih banyak kita yang merasa tersilaukan dengan kemewahan yang didapatkan seseorang daripada apa manfaat yang telah ia tebar.
Perlu kita ingat, orang kaya yang sudah lelah dari usaha sendiri dan menghasilkan manfaat, biasanya menutup diri karena sudah tidak tertarik lagi dengan kebisingan media sosial.
Inilah mengapa jika seorang pejabat korup yang minim prestasi mulai bekerja secara nyata, ia akan mengundang banyak wartawan untuk memublikasikan kinerjanya yang tidak terlalu signifikan demi meraih validasi yang ia tidak punya.
Bukankah kita sering melihat pejabat pemerintah yang melakukan seremonial mewah hanya untuk peletakan batu pertama dari proyek semisal pembangunan jembatan kecil?
Pejabat pemerintah yang hobi bekerja biasanya memang sudah tidak tertarik lagi dengan peresmian heboh karena mereka sudah lelah bekerja dan menjadi bermanfaat, jadi energi mereka memang sudah habis dengan sendirinya untuk melakukan kegiatan yang tidak perlu.
Seremonial atau peresmian hanya sebentar dan seperlunya. Kemudian berlanjut ke program lain yang lebih krusial.
Bahkan lebih menyedihkan lagi, masyarakat kita masih banyak berburu drama daripada berburu manfaat.
Porsi kita dalam mengonsumsi drama di media sosial kebanyakannya lebih besar daripada porsi mengonsumsi inspirasi kerja yang manfaatnya bisa kita rasakan langsung.
Mirisnya, banyak dari kita yang tidak tahu saat ditanya siapa orang di luar keluarga dan sanak saudara yang kinerjanya memberikan manfaat langsung kepada kita secara rutin.
Maka dari itu, saya menyusun validasi dari setiap kinerja saya supaya jadi motivasi dan inspirasi bagi tim. Jadi mereka tidak seperti kebanyakan pekerja berkualitas rendah yang minim kinerja dan terlalu menuntut hak.
Tim saya wajib tahu bagaimana kinerja saya di belakang layar demi mempertahankan “periuk nasi” mereka.
Bukan saya menuntut mereka supaya kerja lebih keras, melainkan mengajarkan mereka supaya bisa menghargai kinerja sesama dan tidak termakan banyak drama.
Memiliki konektivitas adalah hal yang sudah sangat lazim untuk mendapatkan ilmu hingga klien baru.
Tetapi, saat saya mendapatkan seorang kenalan untuk berbincang, saya sudah tidak lagi banyak berbasa-basi.
Jika tujuannya untuk mengobrol masalah perusahaan atau profesionalitas, saya langsung masuk ke inti pembicaraan, bahkan seringnya tanpa saringan.
Banyak yang mengira tindakan saya itu bisa membuat orang lari karena topik pembicaraan saya langsung ekstrem dan frontal seolah tanpa pemanasan terlebih dahulu.
Tetapi itu justru menghemat waktu saya dalam menghadapi orang-orang yang memang sedari awal tidak ingin serius, hanya dalam hitungan menit.
Terbukti, koneksi yang berkualitas biasanya akan langsung relate dengan permasalahan bisnis dan profesionalitas mereka saat saya hadapkan langsung kepada topik yang ekstrem ini.
Bahkan sebagian besar koneksi yang berkualitas itu langsung bilang secara blak-blakan kepada saya, “Ngomong sama bapak ini enak ya!”
Seolah mereka baru menemukan lawan bicara yang sepadan dan memahami mereka.
Saya tidak masalah mendapatkan kritik pedas selama itu punya bobot tinggi karena saya sudah lelah dengan drama dan ketidakpastian.
Intinya, kalau saya ingin membuat perusahaan lebih baik, tentu caranya berasal dari mereka yang sudah lebih ahli dan berpengalaman.
Padahal orang-orang ahli itu jumlahnya jarang dan seringkali mereka kesepian karena minimnya orang yang bisa mereka ajak bicara.
Orang yang benar-benar ahli dan bermanfaat itu sulit menemukan orang yang bisa mereka ajak bicara sebab kebanyakan orang hanya dapat mengeluh dan membicarakan orang lain. Sisanya sibuk pamer pencapaian dan mengadu nasib.
Orang ahli dan bermanfaat juga perlu teman bicara untuk menuangkan ilmu mereka karena memiliki banyak ilmu itu menjadi beban yang harus mereka keluarkan.
Information/cognitive overload, atau urgensi berbagi ilmu, istilahnya. Namun mencari penampungnya ternyata luar biasa sulit, pernah juga saya bahas di artikel saya yang lain mengenai ini.
Tidak heran koneksi saya biasanya mereka yang umurnya sudah jauh lebih tua, bahkan hingga berusia lebih dari dua kali lipat usia saya.
Lain halnya jika dengan teman saya yang topiknya santai, nyeleneh, dan tidak masuk di akal. Saya sudah punya porsinya sendiri bagaimana menempatkan diri saya dengan orang-orang.