
Sumber: Unsplash
Di beberapa postingan media sosial, terkhusus X dan Threads, saya makin sering melihat orang-orang yang katanya kehilangan “sparks” di usia 30 mereka.
Mereka fungsional, dalam arti bisa beraktivitas dan menjalani kegiatan serta hobi seperti biasa. Tetapi, percikan rasa sukacitanya sudah tidak ada.
Maka dari itu, mereka kehilangan “sparks”.
Semuanya berjalan hambar, waktu berjalan lebih cepat tanpa mereka sadar belum bergerak ke arah hidup yang mereka idamkan.
Mengapa hal ini terjadi? Bukankah hari ini kita hidup di zaman modern dengan segala kemudahannya yang seharusnya bisa membuat kita lebih efisien, lebih maju, dan lebih bahagia?
Saya sendiri tidak pernah merasa kehilangan “sparks” sejauh ini. Alasannya saya juga akan jelaskan di artikel ini.
Sebelumnya saya pernah prediksi hal ini jauh-jauh hari, namun waktu itu saya belum tahu istilahnya. Kalian bisa cek artikel ini dan ini.
Sekali lagi, bagi saya cukup aneh, di tengah kecanggihan dan kemudahan yang merangkul kita setiap saat ini, ternyata justru menjadikan kita makin banyak yang hidupnya merasa lebih hampa.
Ada apa gerangan?
Kita mendambakan era yang modern, termasuk saya sendiri.
Saya bersyukur karena pekerjaan saya lebih cepat selesai karena dibantu AI, hiburan tersedia setiap saat dalam genggaman, dan segala sesuatunya bisa cepat sampai hanya dengan menekan tombol.
Hanya saja, kebanyakan orang justru tidak pernah mendapatkan pendidikan tentang bagaimana cara menghadapi modernitas seperti ini.
Kata “modern” ternyata tidak selalu berarti lebih baik. Saat ini, mulai bermunculan orang mulai mengkritik modernitas karena membawa dampak negatif bagi kehidupan sehari-hari, budaya, dan estetika.
Tidak kita sangka, kemudahan ini justru dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menggantikan sifat alami seorang manusia.
Kapan kata “Modern” menjadi negatif?
Enggan berjalan dan memasak. Aplikasi makanan memang praktis, tetapi membuat sebagian orang kehilangan koneksi dengan makanan mereka. Memasak kini bergeser dari keterampilan hidup esensial menjadi sekadar hobi yang bukan untuk semua orang.
Kurang bergerak (Sedentary Lifestyle). Segala kemudahan teknologi membuat tubuh kita semakin jarang bergerak. Tentu hal ini memicu masalah fisik dan kesehatan mental.
Saya semakin sering menemukan anak-anak yang terserang diabetes di usia mereka yang masih begitu dini.
Dan secara bersamaan, semakin sering juga saya melihan anak-anak sekolah yang menggunakan transportasi online atau bahkan sepeda listrik untuk jarak rumah yang kurang dari 500 meter.
Estetika korporat & minimalis: Desain web atau logo zaman sekarang cenderung terlalu bersih, datar (flat design), dan kaku. Banyak desainer merasa estetika modern telah membunuh karakter unik, kreativitas, dan “jiwa” dari sebuah karya demi kenyamanan algoritma.
Interior rumah yang monoton: Pengaruh tren minimalis membuat rumah-rumah modern terlihat sama di seluruh dunia. Dinding abu-abu, furnitur putih, dan warna-warna beige yang terbatas menghilangkan kehangatan, sejarah, dan ciri khas budaya lokal pemiliknya.
Demi mengejar fungsi, aspek manusiawi, keunikan, dan seni sering kali dikorbankan. Inilah yang kita sebut dengan “homogenitas”.
Kehidupan memang menjadi terlihat mewah dan modern, namun apa artinya jika semuanya terlihat sama yang menggerus rasa memiliki setiap orang?
Padahal personalisasi memiliki dampak positif bagi kesehatan mental. Ini pernah saya tulis menjadi tips bahagia saya waktu lalu.
Apakah saya menyalahkan modernisasi? Tidak sama sekali, justru saya bersyukur dengan kemudahan yang saya alami.
Lalu di mana sisi negatif kehidupan modern yang harus kita waspadai? Inilah pentingnya ada pendidikan khusus untuk menghadapi modernisme.
Dahulu, modernitas berjanji untuk memberi manusia lebih banyak waktu luang melalui teknologi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, teknologi modern membuat kita harus selalu aktif, cepat merespons, dan ketergantungan pada aplikasi (seperti aplikasi makanan atau transportasi) yang menguras dompet dan kesehatan fisik.
Desain modern hari ini dikuasai oleh Flat Design (desain datar tanpa tekstur) dan Corporate Memphis (ilustrasi manusia dengan proporsi aneh dan warna solid).
Gaya-gaya ini dipilih bukan karena indah, melainkan karena murah, mudah diproduksi massal, dan cepat dimuat di layar ponsel. Akibatnya, semua aplikasi, situs web, dan logo merek di dunia terlihat seragam dan kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, perilaku-perilaku itulah menjadi pembunuh utama “spark” para manusia modern.
Jika kita bicara psikologi tentang bagaimana kebahagiaan kita bekerja, berikut alasan mengapa kehidupan orang-orang menjadi terasa kian hampa.
Teknologi modern dirancang untuk menghilangkan hambatan (frictionless). Mau makan tinggal klik, mau belanja tinggal geser layar.
Dampaknya, ketika segala sesuatu terlalu mudah didapat, otak kita berhenti memproduksi dopamin alami yang berasal dari usaha keras.
Rasa puas setelah memasak makanan sendiri atau berjalan kaki ke pasar hilang digantikan oleh kepuasan instan yang cepat menguap. Manusia butuh sedikit tantangan untuk menghargai pencapaian.
Ketika kantor, rumah, kafe, hingga layar ponsel semuanya berwarna abu-abu, putih, kaku, dan minimalis, otak kita kekurangan stimulasi visual yang kaya.
Estetika modern yang terlalu bersih terasa seperti bangsal putih rumah sakit.
Kita kehilangan rasa kagum (sense of wonder) yang dulu sering kita rasakan saat melihat desain yang penuh warna, tekstur, dan detail rumit seperti pada era Frutiger Aero atau desain retro.
Di era modern, hobi dan jati diri sering kali harus diseragamkan agar “estetik” di media sosial.
Orang-orang dewasa merasa harus mengikuti standar gaya hidup tertentu yang dikemas oleh algoritma.
Akibatnya, mereka melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menyukainya, melainkan karena itu adalah standar “sukses” atau “keren” yang seragam di internet.
Anhedonia yang saya pelajari, adalah kondisi psikologis di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan kesenangan atau kegembiraan dari aktivitas yang dulunya mereka sukai.
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu an- (tanpa) dan hedone (kesenangan).
Di era modern yang serba canggih ini, anhedonia tidak lagi hanya dialami oleh orang yang depresi.
Anhedonia telah berkembang menjadi sebuah fenomena massal yang menjangkiti orang dewasa yang sehat, sering kali dipicu oleh gaya hidup digital mereka.
Secara ilmiah, anhedonia sangat erat kaitannya dengan bagaimana otak kita mengelola dopamin, yakni hormon yang mengatur rasa senang, motivasi, dan penghargaan.
Kemudahan modern merusak sistem ini melalui dua cara utama,
Dahulu, untuk mendapatkan rasa senang, manusia harus berusaha.
Misalnya berjalan kaki ke bioskop, menunggu jadwal majalah atau komik favorti terbit, atau memasak makanan yang enak.
Sekarang, media sosial, aplikasi belanja dan transportasi, semuanya memberikan kesenangan instan dalam hitungan detik dengan usaha minim atau bahkan tanpa usaha sama sekali.
Akibatnya, otak kita dibanjiri oleh dopamin instan secara terus-menerus.
Hal ini otak menaikkan batas toleransinya. Aktivitas biasa yang butuh proses lama, seperti membaca buku, berbelanja, mengobrol dengan teman, atau melihat pemandangan alam, menjadi terasa membosankan karena tidak bisa menandingi kecepatan dopamin dari ponsel.
Anhedonia modern juga subur karena hilangnya unsur kejutan atau serendipity.
Algoritma streaming musik atau video selalu merekomendasikan hal yang pasti kita sukai berdasarkan data kita sebelumnya.
Desain lingkungan dan perkotaan dibuat sangat efisien dan seragam agar mudah dipahami, tanpa adanya tambahan identitas menarik.
Ketika semua hal di hidup ini bisa ditebak, berjalan sesuai rencana, dan serbaminimalis, otak kehilangan stimulasi baru.
Sesuatu yang terlalu mulus dan tanpa tantangan lambat laun akan terasa hambar.
Jika kita adalah salah satu yang sedang merasa anhedonia ini, ada sebuah tips yang mungkin bisa membantu.
Tipsnya adalah melakukan “Dopamine Detox” atau puasa dopamin.
Kita sesekali mulai memasukkan kembali hambatan (friction) ke dalam aktivitas harian kita, misalnya dengan membaca buku, membatasi penggunaan ponsel, berlari pagi tanpa harus unggah ke medsos, atau memilih berjalan kaki tanpa mendengarkan musik streaming.
Tujuannya satu, yakni melatih otak agar bisa kembali menikmati hal-hal kecil dan sederhana.
Bahkan saya melakukan hal yang lebih ekstrem dari 2024, saya telah uninstall aplikasi ojol dan sebagian besar dompet digital.
Efek positifnya masih terasa hingga kini, seperti gaji yang biasanya habis pada akhir bulan, ini masih tersisa setengahnya. Terlebih ini juga yang membantu saya mendapatkan Rp100 juta saya dalam kurun waktu satu tahun lebih sedikit.
Ternyata di Jakarta, saya hanya perlu menghabiskan Rp3,5 juta di luar bayar indekos dan menyisihkan untuk orang tua.
Padahal saya termasuk generasi sandwich.
Kalau kita sadari, anhedonia ini marak terjadi paska Covid19. Banyak yang merindukan kehidupan mereka pada tahun 2019 atau sebelum itu, bukan karena tahun-tahun sebelumnya lebih baik, namun karena masih banyak sumber dopamin lewat usaha lebih.