Kembali
Ke Atas
  • Konsisten Berkarya

    Bagi pemula yang mulai menekuni sebuah hobi, terkadang sering gelisah apakah ia akan ‘nempel’ dengan kegiatan barunya itu. Sebelumnya saya pernah menulis artikel serupa, namun kali ini saya ingin menambahkan suplemen agar seseorang dapat tetap terikat dengan hobi barunya itu.

    Masalahnya, beberapa orang bertanya mengapa saya masih konsisten menulis blog saya sampai sekarang ini. Maka dari itu saya mencoba menuliskan tips yang saya ketahui sebagai suplemen kalian dengan harapan kalian akan tetap dan terus berkarya sesuai passion kalian.

    Jangan khawatir, tips di sini bukanlah tips dasar seperti “Kalian harus tekun” atau “Kalian harus mencari ide”, blablabla yang kita sudah tahu.


    Jangan memforsir diri

    Seorang penulis konten pernah berkata kepada saya betapa galaunya ia saat mengikuti tantangan menulis setiap hari selama sebulan. Mengapa galau? Ia bilang bahwa saat ia “dipaksa” menulis satu artikel setiap hari, di satu sisi ia berbangga saat ia berhasil melakukannya, namun di satu sisi, ia merasa bahwa artikelnya begitu kosong.

    Maksud artikel kosong di sini adalah, artikel tersebut hanya ditulis karena ia mengikuti acara atau event “satu tulisan sehari selama sebulan”. Jadi ia merasa jika hasil-hasil tulisannya selama sebulan itu ‘tidak memiliki daging’ karena ia menulis hanya berdasarkan tuntutan event, bukan murni dari hati.

    Makanya alih-alih penulis tersebut menjadi lebih konsisten menulis setelah acara tersebut, ia justru sebaliknya, semakin tidak ingin menulis lagi.

    Jangan salah sangka, sebenarnya acara tantangan “satu tulisan sehari selama sebulan” bukan acara yang buruk, justru itu adalah acara yang sangat baik dan sangat produktif. Namun yang jadi perhatian di sini adalah sasaran pesertanya.

    Perlu diketahui tantangan “satu tulisan sehari selama sebulan” atau semacamnya berjenis tantangan “endurance” atau “ketahanan”. Artinya hanya penulis yang berpengalamanlah yang dapat melakukannya. Ibarat gym, melakukan tantangan pushup 50 kali sehari selama sebulan tidak cocok dilakukan untuk pemula. Bukannya pemula semakin bersemangat, justru menganggap bahwa tantangan tersebut ‘merusak’ tubuhnya.

    Jadi bagaimana baiknya? Cobalah untuk menjadwalkan minimal tiga kali seminggu untuk melahirkan sebuah sebuah karya. Jangan dilonggarkan, dan jangan pula diperketat kecuali sudah lebih sanggup.


    Jangan cari-cari jalan pintas

    Salah satu ‘kesalahan’ pemula yang saya sangat tidak suka adalah mereka langsung mencari tips dan trik untuk langsung membuat karya yang heboh. Mengapa seseorang yang baru belajar sepeda langsung ingin melakukan gerakan akrobatik sepeda?

    Bahkan kemungkinan yang lebih parah adalah si pemula lama-lama akan merasa bosan dengan karyanya karena memang lingkup yang ia bisa hanya di seputar tips dan triknya itu saja, dalam kata lain, tidak meluas.

    Tidak menutup kemungkinan pula, pemula yang belajar via jalan pintas lama kelamaan akan menjadi orang yang tidak menghargai hobinya sendiri. Terlebih, hal itu juga akan mengakibatkan orang lain ikut menganggap remeh hobinya.

    “Ah cuma gitu doang”.

    Seorang pemula sebaiknya tidak terlalu banyak melihat orang yang sudah di puncak gunung karena itu menyebabkan alih-alih ia mencari konsep bagaimana mendaki gunung yang baik, justru ia akan lebih mencari bagaimana cara sampai ke puncak dengan cepat dan mengabaikan sisanya.

    Saya sudah pernah membuat artikel serupa yang membahas hal ini juga.


    Temukan identitas diri

    Beberapa pemula terkadang minder jika ia melihat karya orang lain yang lebih hebat darinya. Bahkan ia terlalu membanding-bandingkan karyanya dengan karya orang lain tersebut.

    Padahal perlu diketahui, karya boleh bertema sama, musik boleh satu aliran, gambar bisa satu jenis desain, tapi yang membedakannya adalah identitas. Identitas seniman yang ditorehkan kepada karyanya bukan hanya akan membuat dirinya diingat oleh para penggemarnya, namun tentu saja membuat ia akan lebih menempel dengan hobinya tersebut.

    Beberapa seniman ternama awalnya memiliki hasil karya yang tidak bagus, namun karena memang ia memiliki identitas yang membuat dirinya terhanyut dalam karyanya, seiring dengan waktu karyanya akan menjadi lebih baik dengan sendirinya tanpa khawatir akan ditinggal oleh para penikmatnya hanya karena jenuh.

    Mengenai identitas, saya pernah menulis artikel mengenai bagaimana saya mendapatkan identitas saya dalam memulai fotografi saya hingga saat ini.


    Gandeng tema lain

    Saat kehabisan ide, itu adalah saat dimana mungkin gairah seseorang untuk berkarya, menurun. Tidak masalah, karena memang manusia pasti memiliki batas. Tetapi tips dari saya untuk tetap konsisten berkarya adalah meluaskan cakupan tema.

    Banyak tema tersebar luas di angkasa yang siap dipadankan dengan hobi masing-masing. “Crossover”, begitu orang-orang menyebutnya. Kira-kira bagaimana hasil dari hobi kita jika disandingkan dengan tema horor, atau humor, atau teknologi, atau tataboga, atau desain, atau musik, dan sebagainya?

    Hal ini tentu saja dapat menjadi ‘PR’ untuk dipikirkan di waktu senggang bagi siapa pun yang ingin mendalami hobi.

    Dan tebak, artikel serupa yang membahas ini pun sudah saya pernah buat di sini.


    Setiap orang yang berkarya punya pangsa pasar masing-masing. Mereka yang sudah menjadi penggemar, jangan sekali-kali kecewakan mereka.

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *