Cukup Sekali Saja: Curug Hordeng, Kembar, dan Ciburial

Curug HordengMinggu kemarin teman saya sedang sibuk-sibuknya mengurus sidang tugas akhirnya, jadi baru dapat kesempatan jalan-jalan hari ini. Saya sudah lama melirik daerah Sentul yang dengan Gunung Pancarnya menyimpan banyak wisata tersembunyi, yang kemudian saya tahu lewat Google bahwa masih banyak curug atau air terjun yang belum terekspos. Di antaranya adalah Curug Hordeng, Ciburial, dan Curug Kembar.

Saya lihat tidak ada istimewanya Curug Hordeng dan Curug Kembar. Well, itu hanya air terjun biasa dengan fitur lebar (nggak terlalu lebar sebenarnya) seperti hordeng yang dipasang di rumah kalian dan yang satunya lagi dobel seperti curug yang di Maribaya. Dari nama-nama curugnya saja sudah terbayang bagaimana curugnya. Sejujurnya saya mengincar Curug Ciburial, karena di Google terlihat sangat bagus.

Masalah cuaca? Screw that! Memang sedang musimnya hujan gila-gilaan. Saya bersenjatakan sebuah payung unyu bermotif bunga untuk menumpasnya. Jadi tidak ada istilah ‘takut hujan’.


  • Google Maps Akuratnya Kebangetan!

Hush! Hush! Para angkot traveller agar pergi jauh-jauh dari sini, ini jelas-jelas bukan untuk kalian, baca saja artikel jalan-jalan saya yang lain yang lebih ramah angkot (Mode Galak: ON). Jika kalian tetap membaca sampai akhir, resiko tanggung sendiri.

Ini kali ketiga saya membunyikan pluit kebanggaan untuk memanggil teman saya yang baik hati itu untuk saya manfaatkan. Namun kali ini tidak ada jawaban sama sekali, wah saya jadi agak kesal dan khawatir, apalagi dari jadwal yang telah ditentukan, yaitu jam setengah 6 pagi, tidak ditemukan adanya jawaban hingga jam setengah 8, 2 jam kemudian. Barulah jawaban muncul jam setengah 8 lebih sedikit.

“Maaf Nan, ketiduran. Jadi nggak?” Balasnya seperti itu.

“Jadi! Cepetan!”

Jam 8 lebih sedikit barulah ia sampai ke indekos saya di Warung Jati, dengan sesuatu yang berbeda. Sepeda motor matiknya sedang dipinjam, jadi dia bawa moge punya kakaknya. Saya sedikit ‘ciee cieee’ kepada teman saya itu saat melihat dia yang baru pertama kali membawa moge (sepeda motor gede). Ya sudah, tujuan telah ditetapkan dan cuss…

Rutenya sama seperti Curug Ciherang, namun dengan perbedaan yaitu berbelok ke arah Babakan Madang. Bahkan teman saya yang sama pernah berkata di kali pertama saya jalan bersama dia, bahwa sudah menjadi ‘lagu kebangsaan’ bahwa setiap sudah dekat dengan lokasi curug, maka jalanan akan rusak (padahal memang pemerintahnya saja yang tidak peduli). Dan kali ini dapat sebutan Worst Track EVER!!!

Jalanan bebatuan dengan tanjakan seamit-amit, saya dan teman saya syok. Belum lagi Google Maps menunjukkan arah ke jalan setapak yang lebarnya hanya 1 meter! Tanpa pagar, di sebelah langsung jurang. Teman saya belum berpengalaman dalam trek ini, saya pun akhirnya turun dan membantunya bermanuver. Jika ingin memutar balik maka itu adalah hal yang sangat mustahil, belum lagi di depan ada sungai besar yang hanya difasilitasi dengan sebuah jembatan bambu.

Belum lagi ditambah jalanan yang super duper licin setelah hujan, dan jalanan menurun serta menanjak dengan kemiringan yang tidak main-main ditambah dengan banyaknya kelokan untuk jalan yang lebarnya super sempit dan beralaskan batu yang licin. Kali ini saya sangat tidak tega dengan teman saya, yang kelelahan mendorong kendaraan besarnya yang telah mengibarkan bendera putih sampai ujung haluan. Tidak terpikir akan terjadi hal yang seperti ini. Mohon maaf saya tidak ambil bagaimana foto jalannya karena pada saat itu adalah masa-masa sulit.

Slogan “My Trip My Adventure” pun diubah menjadi “My Trip My Death”.

Dan judul perjalanan kami kali ini bukanlah “Finding Nemo”, atau “Finding Dory”. Melainkan “Finding Izrail”.

Mengapa si Mbah menunjukkan jalan lewat sini?!


  • Kesalahan yang selalu terulang

Alhamdulillah kami setelah beberapa kilometer kemudian menemukan jalan besar. Tidak besar, hanya tiga meter, tetapi much better dibandingkan tadi walaupun tanjakan seram, jalanan licin, dan jalanan hancur masih setia menemani. Ya Allah kapok saya ke sini lagi.

Gerbang curug akhirnya telah diraih, tetapi masih harus menanjak satu kilo lebih lagi untuk menikmati curugnya. Teman saya khawatir dengan mogenya jadi dia memilih untuk menjaganya di warung, mempersilakan saya sendirian ke atas.

Tiket masuk Rp17.500, namun saya justru ditagih Rp40.000 karena membawa teman dan parkir. Saya pun berdebat karena teman saya parkir di luar dan tidak ikut masuk. Penjaga loket pun bukan orang-orang yang ramah, yang sepertinya tidak membutuhkan pengunjung untuk membayar mereka. Tidak terima hal itu, saya lapor teman saya yang disekelilingnya ada warga sekitar. Beruntung ada seorang warga yang membantu saya dan membayar hanya Rp22.500 termasuk parkir.

“Jika tidak masuk namun tetap ditagih namanya korupsi dong.” Jelas saya kepada mereka. Tak heran sepi pengunjung. Beruntung pemerintah belum menargetkan penghasilan mereka seperti Goa Gudawang, meskipun yang mengelola adalah warga sekitar. Karena jika iya, dijamin mereka menjerit.


  • Ah, penat yang melepas penat

Sewaktu saya menanjak tiba-tiba ada seorang bapak yang merupakan warga sekitar menemani saya diperjalanan. Jalan tanah merah yang pada saat itu sangat, sangat licin membuat sepatu saya kehilangan kompromi, untunglah bapak tersebut mengarahkan ke mana saja saya harus memijakkan kaki saya. Di depan banyak kabut yang menanti kehadiran saya sepertinya, terlihat sedikit romantis meskipun saya jomblo.

Mengobrol sepanjang jalan, tak saya sangka obrolannya berbobot, bahkan sangat berbobot. Temanya pada saat itu adalah manajemen customer di bidang pariwisata. Sebuah tema yang saya tidak menyadari dibentuk oleh pembicaraan dengan seorang bapak yang pakaiannya sedikit lusuh dan ‘tidak meyakinkan’. Si bapak itu berbincang mengenai manajemen pengelolaan curug yang masih sangat buruk, ditambah akses yang sangat sulit membuat sedikit yang mengunjungi tempat wisata ini, apalagi musim hujan.

Awalnya si bapak adalah pengelola dan ‘marketing’ tempat wisata yang mencakup banyak curug ini, beliau juga melayani antar jemput customer dan turis dari stasiun bogor serta menjadi guidenya. Tetapi karena pengelolaan oleh warga sekitar yang buruk dalam menyambut pelanggan, akhirnya dia keluar dari pengelola.

Tak terasa tanjakan tadi sudah terlalui karena pembicaraan tadi. Bahkan ketika sampai ke dataran yang mulai sedikit menurun ke arah curug, banyak tempat-tempat ‘alay’ yang sengaja dibuat oleh kawula muda yang mengerti standar instagram.

Curug Hordeng

Curug pertama yang disarankan adalah Curug Hordeng, yang tidak begitu menarik.

Curug Hordeng

Tak berapa lama teman saya dari antah berantah muncul dari belakang. Oh, dia menguntit saya tadi. Di sini tidak terlalu menarik, kecuali bagi yang ingin terjun dan berenang. Kamar ganti sudah disediakan, ya memang standarnya demikian kan? Baiklah, lanjut ke Curug Kembar yang menurut papan hanya berjarak sekitar 70 meter saja.

Dan itu bohong! 200 meter saya bilang.

Tetapi ya… lumayan ketika sampai di curug kembar. Meski saya kurang begitu puas dengannya. Maribaya is better I think meski yang ini sedikit lebih alami. Ya sudahlah, pengalaman. Hujan pun mulai turun. Tidak masalah, senjata pamungkas saya siap melawannya. Setelah habis cekrak-cekrek, setelah itu pulang. Ya mau bagaimana lagi?Curug Hordeng


  • Penutup

Pulangnya saya mampir ke rumah si bapak yang lagi dibangun khusus penginapan bagi yang ingin menginap. Rumahnya dekat loket masuk sehingga mudah untuk dijangkau. Itupun saya dipersilakan untuk cuci kaki di rumahnya dan menunaikan shalat Zhuhur. Si bapaknya ternyata punya moge btw… sepertinya memang bukan orang sembarangan.

Akhir kata, saya memberi sedikit upah kepada si bapak sebagai rasa terima kasih.

Oh, pulangnya teman saya disemangati warga sekitar agar dapat bermanuver di jalan turunan yang brutal itu. Karena banyak tragedi jatuh dari sepeda motor, akhirnya ada pos yang isinya anak-anak sekolah menengah, membantu teman saya dalam menahan kendaraan dari belakang agar stabil. Terima kasih anak-anak baik, ini ada upah lagi untuk kalian…

Nggak, nggak, NGGAK! Saya dan teman saya NGGAK bakal sekali-kali lagi ke sini! Titik. Terima kasih.

Apa? Curug Ciburialnya mana? Saya skip. Not worth my feet.


  • Galeri

Curug Hordeng

Ini lagi pada ributin apaan sih?!

Curug Hordeng

Mengeluarkan air dari ujung jari.

Curug Hordeng Curug Hordeng Curug Hordeng Curug Hordeng Curug Hordeng Curug Hordeng Curug Hordeng Curug Hordeng


  • Lokasi Google Maps

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)