Puas dan Jera: Sukabumi, Situ Gunung dan Curug Sawer (Update 2019)

Situ GunungEnggak tahu kenapa tiba-tiba saya ingin mampir ke Sukabumi, tepatnya ke Situ Gunung, mungkin karena apa yang saya lihat di akang Gugel gambarnya bagus-bagus. Dan parahnya, saya tiba-tiba menjadwalkan sendiri dalam waktu yang super dekat bahwa saya akan ke sana.

Malam sebelum berangkat, saya menderita galau akut. Masalahnya saya tidak tahu harus berangkat dengan apa. Apakah saya harus ke Kampung Rambutan dan naik bus atau, saya ke Stasiun Pasar Minggu naik KRL ke Bogor dan lanjut dengan KAJJ (Kereta Api Jarak Jauh)? Jika naik bus, maka banyak desas-desus bahwa jalanan akan macet sepanjang jalan raya Sukabumi karena pasar dan pabrik, apalagi jika sedang jam datang/pulang karyawan. Tetapi jika naik kereta, saya dengar relnya ditutup karena longsor kemarin serta saya baru pertama kali naik KAJJ.

Malam saya tidak bisa tidur sama sekali, atau tidur, namun dengan porsi yang sangat sedikit. Bahkan saya tidak tahu apakah saya harus jadi berangkat atau tidak.


  • Tut… Tuuuttt… Brek! Prang!

Katanya KAJJ jurusan Sukabumi sudah dioperasikan lagi ya paska longsor kemarin? Wah good! Saya tinggalkan pluit kebanggaan dan mulai mandi ketika akan Shubuh, karena rencana berangkat setelah shalat shubuh disebabkan jadwal berangkat KAJJ ke Sukabumi pertama adalah pukul 07.50. Saya sudah menduga, mata saya pasti akan menderita sepanjang sesi piknik. Sial! …dan ketika sampai stasiun Pasar Minggu jam setengah 6, kereta Bogor baru saja say goodbye persis depan mata saya. Sial 2x!

Stasiun Pasar Minggu

Akhirnya jam 5.45 baru dapat kereta Bogor, dan alhamdulillah dapat duduk. Saya benar-benar mau bobok! Tetapi entah kenapa tidak bisa. Ya sudah, saya pandangi saja matahari terbit dari seberang jendela KRL. It’s somewhat worth the view. Ah, ini merupakan perjalanan paling pagi yang pernah saya lakukan dalam hidup saya.

Jam 6.35 saya sampai Bogor dan bergegas menuju stasiun Bogor Paledang. Awalnya saya pikir namanya Padelang, mirip sih. Jadi dari Stasiun Bogor nyebrang sebentar pakai jembatan penyebrangan orang (JPO) dan jalan menuju Taman Topi. Nah, persis sebelum Taman Topi ada gang di pertengahan gedung persis depan stasiun Bogor menuju stasiun terpencil itu. Jaraknya dari Taman Topi hanya 200 meter.

photo_2018-02-25_15-12-11

Stasiunnya hanya seumprit, saya pikir tadinya bekas tempat untuk pemilihan kepala daerah, mungkin inilah mengapa Bogor Paledang lebih layak disebut halte dibandingkan stasiun. Kemudian, tidak ada istilah buang angin… ehm, buang waktu, saya langsung tunggang langgang menuju kasir, ikut antri dengan beberapa orang lain. Kabar baikmya, di kasir terdapat tulisan “Tiket KA Ekonomi Pangrango keberangkatan pukul 07.50 sudah habis.

WHAT. THE. FRICK!

Saya tetap antri di baris kasir beserta orang-orang. Saya tanya dengan calon penumpang di depannya, katanya semoga tiketnya belum habis. Sedangkan di sebelah kiri saya banyak orang yang tinggal memasukkan kode tiket dan mencetaknya di stasiun karena telah booking online atau beli di Indo****t. Ah, ternyata memang lebih baik booking ya daripada beli langsung (go show).

Alhamdulillah, ternyata ada 20 orang cancel tiket dan saya kebagian tiket yang seharga Rp25.000 itu. Syaratnya harus bawa KTP asli untuk diinput nama kita. Setelah secarik kertas diberikan dan KTP dikembalikan, saya harus mencetak tiket di mesin cetak dengan menscan barcode yang ada di selebaran tersebut. Setelah tercetak, taraa… saya bernorak-norak diri. Memang pantas norak soalnya baru pertama kali sih bhahahah.

photo_2018-02-25_15-12-07

Ekonomi/Gerbong 1, kursi 4E

Tadinya jika tidak kebagian tiket, saya ingin naik elf L300 ke Sukabumi dari Baranangsiang atau Ciawi. Namun baguslah saya tidak naik angkutan iblis itu. Mengapa saya sebut demikian, saya akan jelaskan di bawah.

Sebenarnya ada ibu-ibu panik kehilangan KTP setelah cetak tiket, saya beritahu agar langsung mengunjungi petugas stasiun dan akhirnya diumumkan. Ibu itu juga baru pertama kali naik KAJJ, ya ampun kasihan sekali.

Jam masih menunjukkan pukul 07.10, artinya masih 40 menit lagi untuk menunggu keberangkatan. Ya sudah saya putuskan untuk shalat Dhuha dulu di mushalla stasiun.

photo_2018-02-25_15-12-14

Skip. Skip. Saya akhirnya diizinkan masuk ke dalam peron dengan menunjukkan KTP ke petugas hanya untuk mencocokkan nama yang tertera di tiket. Oh begono toh fungsi KTPnya. Peron stasiunnya sempit, sesempit dunia ini, dan tidak memiliki tempat duduk. Namun whatever, keretanya sudah hampir tiba setelah berputar di stasiun Bogor.

Alhamdulillah saya bisa juga naik KAJJ sendirian. Ternyata naik kereta itu mudah ya bhahahah. Dasar orang norak! Gunung Salak pun terlihat sedang pamer diri dari kejauhan, karena saya duduk di samping jendela. Namun kemudian kereta tiba-tiba berjalan dengan sangat, sangat pelan karena terlihat persis di bawah gerbong yang saya tumpangi rel yang melayang karena kemarin tanahnya longsor. Ya Allah, relnya jangan jebol… jangan jebol…

Belum puas dari pemandangan yang menggigit adrenalin itu, sebuah suara terdengar keras dari jendela sebelah saya. “PRANG! BLETAK!” Apa, apa itu? Kaca jendela pun hingga retak dibuatnya. Saya diberi kabar oleh penumpang lain bahwa ada anak-anak iseng yang melempari kereta dengan batu. Oh, ya ampun, ini sudah 2018 dan kejadian melempari kereta seperti itu masih saja berlanjut?!!!

Ok, cukup, saya turun di stasiun Cisaat!


  • Hanya sebuah kaki gunung

Masih jam 09.40. Jadi ketagihan naik kereta. Dari stasiun Cisaat menuju Alun-Alun/Polsek Cisaat saya tempuh dengan berjalan kaki karena jaraknya hanya 800 meter. Sambil berjalan melewati jalan setapak yang masih asri, saya menikmati pemandangan segar yang tidak setiap hari saya rasakan. Ah, jadi tidak terasa sudah sampai di pertigaan Alun-Alun/Polsek Cisaat. Kemudian saya tanya kemana arah Situgunung, dijawablah oleh orang-orang bahwa jika ingin ke jembatan, (hah, jembatan?) saya harus berjalan masuk ke pertigaan persis sebelah polsek Cisaat dan naik angkot merah di Pasar Cisaat.

Jarak dari Polsek ke Pasar Cisaat adalah 300 meter, jadilah hari itu saya sudah berjalan lebih dari 1km. Tidak apa, angkotnya pun dengan mudahnya didapat, karena memang disanalah mereka ngetem. Kabar baiknya? Tidak, kali ini benar-benar kabar baik. Angkotnya hingga masuk ke gerbang Situ Gunung! Yass! Tarif angkotnya Rp10.000.

Situ Gunung

Tiket masuknya seharga Rp18.500. Dari sana ada dua jalan, ke Curug Sawer dan Situ Gunung. Tentu saja saya maunya ke Situ Gunung terlebih dahulu. Ternyata saya masih harus berjalan sejauh 1km untuk mencapainya. Tidak apalah, jalannya bagus. Wisata ini memang masih di areal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) jadi tidak perlu khawatir karena pengelolanya adalah organisasi pemerintah.

Dan… saya pun tiba. yay.Situ Gunung

Alhamdulillah cerah, pengunjungnya pun tidak banyak. Saya dapat puas-puas di sini. Sayangnya cerahnya tidak lama, hujan rintik-rintik namun agak deras pun mengusir setiap pengunjung yang sedang bersenang-senang. Semuanya mengungsi, kecuali saya yang sedang sibuk mengatur tripod untuk memfoto diri saya sendiri. Inilah sebahagia-bahagianya seorang jomblo, mereka yang memiliki pasangan, memperhatikan saya seorang diri berkelut di tengah hujan dari tempat berteduh mereka di kejauhan. Hasil fotonya tidak terlalu mengecewakan…

Situ Gunung

Saya tidak begitu lama di Situ, saya ingin melanjutkannya ke Curug Sawer. Oh, bagi kalian yang ingin naik rakit dan bebek-bebekan, tempat ini menyediakan itu semua.

Ada tempat tembusan ke Curug Sawer dari Situ Gunung, namun ada pohon tumbang di tengahnya. Ya sudah saya balik lagi ke gerbang utama untuk melaksanakan shalat Zhuhur dan melanjutkan kembali ke Curug Sawer, itupun saya diberitahu oleh seorang pedagang sosis bakar bahwa ada di tengah jalan menuju Curug ada jembatan gantung yang bagus. Oh, pantas saja orang-orang lebih mengenal jembatannya daripada Situ Gunung itu sendiri.


  • Antara Puas dan Jera

Saya jalan sepanjang 1km dengan jalanan yang sangat berbatu meskipun lebar (mengapa tidak diaspal saja sih daripada harus ditebar batu begitu?!) dan saya baru menemukan jembatan gantung tersebut di tengah perjalanan. Setelah itu…

photo_2018-02-25_15-12-24ZONK!!! Jembatannya ternyata masih sedang dalam perbaikan!

Yaudahlah, padahal katanya jembatan yang panjangnya 240 meter tersebut dapat jadi jalan pintas ke curugnya. Payah!Situ GunungUpdate Maret 2019: Semenjak September 2018, jembatan gantungnya sudah dibuka untuk umum. Yay! Eh, cuma katanya ada biaya tambahan ya?

Akhirnya saya harus menuju curug dengan jalan reguler, yang ternyata jauhnya tiga kali lipat dari perjalanan ke Situ Gunung! Belum lagi jalannya lumayan kecil, berbatu, bersebelahan dengan jurang, dan sangat tidak ramah sepatu. Treknya turun naik dengan sangat brutal. Jalanan baru bagus ketika 300 meter lagi ingin sampai curugnya. Terlihat banyak pekerja yang sepertinya baru memperindah jalan tersebut dan sedang membangun sebuah foodcourt di sana. What? Foodcourt!?

Saya lihat sepertinya bangunannya tingkat, dan juga sepertinya memang ditujukan agar dapat menikmati curug dari lantai atasnya. Cuma saya tidak tahu…

SukabumiSetidaknya curugnya memang worth it! Di curug banyak orang yang jualan dan orang-orang alay pacaran, tentu saja. Peduli amat, saya mau fokus potret-potret bhehehe…

Pulangnya? Males amat yakk lewat jalan tadi. Namun katanya dapat naik ojeg lewat jalan yang lain seharga Rp20.000,-, yang pada akhirnya saya lebih memilih jalan yang tadi. Dengan lelahnya yang bertambah dua kali lipat dari yang sebelumnya. Akhirnya di tengah jalan saya memutuskan untuk beristirahat tepat di atas sebuah jembatan bambu.

Situ Gunung dan Curug SawerAlhamdulillah bawa tripod.


  • Emang beneran iblis!

Sepatu saya mengibarkan bendera putih dalam menghadapi jalanan berbatu itu. Benar-benar hancur sepatu saya dibuatnya. Ya Allah malu amat yak… jalan seperti orang ngesot di tengah banyak orang mempertahankan sol sepatu yang ingin berpisah dari tuannya. Alhamdulillah ada angkot ngetem tepat di gerbang masuk Situ. Alhasil saya langsung naik.

photo_2018-02-25_15-12-22

R.I.P sepatu

Saya memutuskan untuk shalat ahsar di Masjid Alun-Alun, serta menuju masjid masih dalam mode ngesot. Sebenarnya di pasar banyak sepatu murah seharga Rp25.000,- namun saya malas beli. Di masjid saya menemukan colokan di sisi selatan jadi dapat charging HP. Ok, colokan tersebut adalah sebuah hal positif mengingat baterai HP saya sudah menjerit. Kereta terakhir ke Bogor pukul 15.45, sedangkan saya tiba di Alun-Alun pukul 16.00, jadi saya memutuskan naik Elf L300 ke Ciawi yang sedang ngetem berjejer depan masjid.

Ngetemnya tidak lama. Namun sepanjang perjalanannya itu loh… Ya Allah bener-bener kangen malaikat Izrail supir yang satu ini. Bukan hanya menyetir dengan brutal alias ngebut, namun juga melawan arus, klakson sana-sini, ngomel sana-sini, diteriaki pengendara lain sana-sini, dst (dan saya trauma). Memang sangat cepatΒ sihΒ tibanya sehingga saya dapat shalat maghrib di Ciawi, namun etikanya itu loh… bayangkan orang-orang seperti ini duduk di kursi pemerintahan, dan memang sepertinya mentalnya sama. Allah Rabbi…

Tarif Elfnya Rp25.000,-. Sedangkan jika naik kereta harus bayar Rp50.000 karena memang hanya tersedia untuk eksekutif. Dari Ciawi, sebenarnya banyak bus ke Jakarta, namun setelah satu jam menunggu dan mendapat info bahwa bus puncak dialihkan ke Jonggol dan Sukabumi, akhirnya naik mobil omprengan plat hitam arah Terminal Kampung Rambutan seharga Rp15.000,-.

Wahai kasurku, mataku sudah rindu dengan engkau…


  • Galeri

Situ Gunung dan Curug Sawer Sukabumi Sukabumi Situ Gunung dan Curug Sawer Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi


Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , , . Bookmark.

53 Ekspresi:

  1. bagus, foto fotonya

  2. Besok mau kesana, terimakasih informasinya 😁

    • Sama-sama mbak Santi, silakan ikuti terus wisata sendirian saya jalan-jalan singkat di blog ini.

      Terima kasih ~

      • Mau tany dongg..aku mau bawa rombongn pake bus bisakn samp ke situ gunung kurang lebih 30 orang .

        • Hai Lily, mohon maaf sebelumnya baru balas.

          Sama seperti komentar sebelumnya, mohon maaf saya tidak tahu hehe… saya tidak pernah lihat ada bus besar parkir di kawasan Situgunung. Saya ingat jalanannya agak curam dan tidak begitu luas jadi saya khawatir bus besar pariwisata tidak dapat masuk menuju gerbang parkir.

          Terima kasih. πŸ™‚

  3. wah, kebantu banget ama trip singkat lo. thanks.
    kalo pebruari masi direnovasi tu jembatan, sekarang uda kelar kali yakk. hehehe
    akhir bulan kesanalah gue… hehhe pake ngetrip ala2 lo, soalnya rumah gue juga di pasar minggu, deket stasiun. πŸ™‚

    • Terima kasih abang Ucok telah berkomentar.

      Benar, saya hobi melakukan travelling sendirian dalam waktu yang sangat singkat (no hotel, no motel). Silakan abang Ucok menyelusuri kategori jalan-jalan di menu atau mengklik tag “wisata dengan angkot” di sidebar untuk tempat wisata yang dapat dijangkau dengan angkot.

      Terima kasih…

  4. Maaf ijin tanya apakah akses menuju lokasi situ gunung dapat dilalui menggunakan bis besar? Trmkasih

    • Selamat malam sis Fanny. Situ Gunung bisa dicapai dengan bus, entah dari Bogor Baranangsiang, Tj. Priok, ataupun Kp. Rambutan. Namun saya tidak tahu apakah bus tersebut lewat jalan utama atau lingkar selatan. Namun jangan khawatir karena jika lewat Jalan Lingkar Selatan Sukabumi mungkin hanya sambung angkot sekali dari terminal ke pertigaan Cisaatnya.

      Saya pun melihat beberapa bus besar berlalu lalang di pertigaan Cisaat sebelum saya pulang ke Jakarta.

      Terima kasih. πŸ™‚

      • artinya dari terminal cisaat secara visuak, fisik jalannya tidak bisa dilewati bis besar?

        • Fisiknya sangat bisa dilalui bus besar. Namun saya tidak tahu apakah bus lewat Cisaat atau lewat Jalan Lingkar Selatan menuju terminal Sukabuminya. Harapan saya semoga bus lewat Cisaat sehingga bagi yang ingin ke Situ Gunung via bus bisa langsung turun di pertigaan Cisaat. πŸ™‚

          Jika ada orang asli Sukabuminya yang melihat ini mungkin dapat melengkapi komentar saya agar dapat saya update artikelnya. πŸ™‚

  5. Maaf gan, saya mau tanya, kalo pakai sepeda motor, rutenya nanjak banget ngga ya? Soalnya motor saya takut ngga kuat

    • Hai Agung,

      Benar bahwa sewaktu di angkot ada bagian yang cukup menanjak, namun jangan khawatir segala jenis sepeda motor banyak saya temukan di tempat parkir dari matik, gigi, hingga kopling, bahkan angkot yang sudah usang pun berhasil sampai atas.

      Bagian jalan yang menanjaknya pun tidak terlalu curam dan tidak panjang.

      Terima kasih. πŸ™‚

  6. Klo bawa kendaraan motor jalur nya gmn? Aman ga?

    • Hai sis Choirunisa, sepeda motor sepertinya tidak akan mengalami masalah yang berarti karena jalurnya lebar dan beraspal.
      Jadi cukup ikuti arahan dari Google Maps (atau dari Jakarta bisa lewat Bogor – Cibadak) kemudian tinggal dinikmati.

      Terima kasih.

  7. Kak… di sana menyediakan fasilitas umum, ndak? seperti toilet.
    Klo cari makan, sulit ndak?

    • Hai, sis Ani, jangan khawatir, hampir seluruh tempat wisata yang sudah dikelola termasuk Situ Gunung ini, memiliki toilet dan warung-warung makan karena pastinya banyak warga yang juga mencari rezeki di sana. πŸ™‚

      Namun pastinya siapkan uang Rp2.000 untuk biaya toilet umumnya ya… πŸ™‚

      Terima kasih.

  8. Mantap, saya berencana kesana mas awal tahun 2019. baca blog ini gakak sendiri tpi bnyk banget infonya

  9. Artikel pengobat rasa kecewa dan penambah rasa berani. Berencana kesana sendiri karna temanΒ² pada mau cancel. KiraΒ² untuk cwek sendirian aman kah?

    • Hai sis Lisda, untuk perempuan yang sendirian insyaAllah aman.

      Pada dasarnya, baik pria maupun wanita yang travelling sendirian insyaAllah aman selagi kita selalu berdoa dan selalu berjalan di jalur yang telah ditentukan (tidak terpisah dari keramaian/buat jalur sendiri).
      Situ Gunung insyaAllah merupakan tempat yang ramai sehingga sis Lisda tidak perlu khawatir. πŸ™‚

      Terima kasih atas komentarnya. πŸ™‚

  10. ka rencana saya mau kesana akhir bln ini kira2 jembatanya udh bgs blm yah thx infonya ka sya jd ga ragu lg pengen jalan kesana tuk liburan

    • Hai Ayu,

      Jembatan sudah diperbaiki dan sudah dapat dilewati. Saya lihat teman-teman saya sudah dapat melewati jembatan gantungnya sewaktu mereka berlibur.

      Terima kasih. πŸ™‚

  11. Saya sudah lama ingin kesana tapi bgm ya apakah aman mengajak anak balita umur 6 tahun? Mohon dibalas. Apakah memungkinkan dari tangerang,
    perjalanan pulang hari tanpa menginap mengingat besoknya harus msk kerja lg. Trims

    • Ibu Fitriyah, terima kasih telah berkomentar.

      Insya Allah sangat memungkinkan jika Ibu dari stasiun Tangerang langsung berangkat ke Bogor bada Shubuh, dengan catatan ibu sudah memegang tiket yang telah ibu pesan dari merchant penjual tiket kereta api (paling mudah di Indoma**t) untuk berjaga jika kehabisan tiket KAJJ ke Sukabumi nantinya.

      Alternatif lain, banyak sekali Elf ke Sukabumi di Bogor Baranang Siang/Ciawi. Namun pastinya agar anak ibu diberi pengawasan dan berjaga-jaga apabila ia mabuk dalam perjalanan. πŸ™‚

      Terima kasih. πŸ™‚

  12. Sangat membantu infonya..
    Rencananya saya mau kesana naik kereta..
    Untuk pulangnya mau naik kereta juga jam 15.45 nah saya dari situ gunung haru jam berapa ya?biar ga ketinggalan kereta…
    Deketan stasiun cisaat atau sukabumi klo dari situ gunung??
    Terima kasih banyak..

    • Hai Novi, terima kasih sudah berkomentar. πŸ™‚

      Untuk KA Pangrango tiba stasiun Cisaat terakhir ke Bogor Paledang jam 15.55, mungkin agar diusahakan paling lambat jam 2.30 sore (jam 14.15 dari Situ Gunung) sudah naik angkot untuk perjalanan pulang dari Gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrangonya.

      Jadi jika diasumsikan, timelinenya adalah sebagai berikut:
      09.40 Tiba di st. Cisaat.
      10.00 Naik angkot ke Situ Gunung.
      10.30 Sampai gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
      11.00 Sampai di Situ Gunung.
      14.00 Pulang dari Situ Gunung.
      14.30 Tiba di gerbang TNGGP menunggu angkot.
      14.45 Angkot berangkat.
      15.20 Tiba di pasar Cisaat.
      15.40 Tiba di St. Cisaat.
      15.55 Kereta Berangkat.

      3 Jam di Situ Gunung adalah waktu yang lebih dari cukup. Rata-rata orang hanya mengabiskan 1 hingga 2 jam setengah saja jika hanya menikmati pemandangan dan berfoto.

      Stasiun Cisaat lebih dekat dari Situ Gunung. πŸ™‚

  13. Assalamu’alaikum Mas,
    Saya mau tanya, kalau dari Garut ke Sukabumi bisa pake kereta juga nggak? Saya pernah ke Situ Gunung dulu tahun 2013. Belum ada jembatan waktu itu. Jadi penasaran pengen nyoba ke situ lagi. Omong2, foto-fotonya bagus ya? Kalau boleh tau pakai lensa apa? Kebetulan saya juga suka foto2 lanskap.

    • Waalaikumussalaam,

      Setahu saya kemarin sudah ada wacana dari PT. KAI untuk membuka kereta Garut – Sukabumi namun sayangnya hingga ditulisnya balasan komentar ini belum terlaksana.
      Mengenai foto-foto saya, terima kasih. Saya hanya pakai lensa biasa (52mm, 18-55) tanpa pakai filter apapun, dulu sempat pakai filter CPL namun hanya sebentar karena saya lebih memilih yang ‘alami’ hehe… Boleh difollow IG saya @anandastoon.

      Terima kasih. πŸ™‚

  14. Bawa mobil pribadi dr jakarta, apa disana mudah jalanan nya atau rusak atau menanjak, dan sedia lot parkir dengan akses mudah, thx

    • Hai Kusuma. Jangan khawatir jalanan mulus dan beraspal, jika menanjak pun tidak curam.
      Parking Lot tersedia banyak di sana.

      Terima kasih.

  15. Hai Kusuma. Kalau restoran de balcone itu ada di area danau situ gunung? Rencana saya mau makan dulu sebelum jalan2. Thanks

  16. Salam mas, saya mau tanya rencana kan saya mau ke situgunung minggu ini, tapi otw dari bandung jam 11 siang sepulang dari ngampus coz lagi uts, dan bisanya emang hari itu ditambah ngebettt banget wkwk. Kira2 ada angkot gak mas kalau sore ?
    mungkin nyampe jam 4/5 sore btw emang rencana mau camp juga.

    • Hai Sis Ismi, sore insyaAllah masih ada angkot karena memang tempat mangkal mereka lumayan ramai yaitu di pasar. Namun usahakan agar tidak lebih dari jam 5 sore ya, karena biasanya setelah jam-jam tersebut para tukang ojek pangkalan mengintervensi dan memonopoli angkot.

      Terima kasih. πŸ™‚

      • Mas Kusuma, kalau restoran de balcone ada di area Danau situ gunung kah? Karena rencananya saya mau makan dulu sebelum jalan2 keliling. Terima kasih.. salam

  17. cerita yang menarik dan bagus. namun sama spt judulnya, puas dan jera, setalh membaca kalimat mental orang pemerintah identik dg supir elf yg diceritakan… sayang sekali…
    ..

    • Hai Ira, terima kasih sudah berkomentar. πŸ™‚
      Semoga pemerintah memiliki kepedulian untuk membenahi sistem transportasi kita, membudayakan tertib mulai dari yang paling bawah.

      πŸ™‚

  18. Cukup menarik ceritanya dan aga ngenes yah karna pergi sendirian ke tempat seindah itu….😁✌

    • Hai kakak Niar Zega, terima kasih telah berkomentar.
      Sebenarnya saya tipikal orang yang solo travelling, jadi sendirian tidak masalah. Bahkan, kebanyakan artikel jalan-jalan saya memang saya lakukan sendiri, kecuali jika ada teman yang ingin ikut.
      Ada pun pernyataan saya menjadi penganut jomblonism dan sendirianism, itu hanyalah ‘pemanis’ artikel. Hehe…

  19. Yani Maryani / Mama Naufal

    Ceritanya bikin tambah pengen k sana insyaallah rabu besok pk kereta,tapi sy bawa anak umur 2 tahun aman ga ya???cuma berdua aja si coz ga ada yg berani di ajakin k sana hehehe

    • Hai Mama Naufal, terima kasih atas komentarnya.

      Jika yang ibu maksud aman di sini adalah kemudahan dalam mencapai situnya, InsyaAllah aman. Jalannya tidak menanjak dan terjal, pengunjung pun banyak yang membawa anak mereka ke sana, jasa ojeg pun dapat dengan mudah ditemukan.

      Terima kasih.

  20. Assalamualaikum mas
    Mau tanya kalo saya nginep di kota sukabumi lalu mau ke situ gunung,naik kendaraan umum apa ya?

    • Waalaikumussalaam mas Dani.

      Banyak angkot yang menuju pertigaan Cisaat dari kota atau terminal Sukabuminya itu sendiri. πŸ™‚

      Terima kasih.

  21. Halo mas, maaf kalau terlewat bacanya, karena ini saya bacanya jam 2 dinihari :)))

    Dari stasiun Cisaat ke situ gunung naik angkot apa ya? Dan berapakah ongkosnya jika saya hanya sendiri (tidak rombongan, jadi bukan carter angkot).

    Mohon direspons yaa, terima kasih, saya suka tulisannya (dan balasan komentarnya yang lucu2) πŸ˜€

    • Hai Ayu, saya berjalan kaki dari stasiun ke Pertigaan Cisaatnya, hanya 800 meter. Namun jika sis tidak ingin berjalan kaki, ada angkot yang ‘iseng’ masuk ke area stasiun untuk menjaring penumpang. Sis bisa ikut angkot tersebut, tarifnya normal (mungkin Rp3.000-5.000). Kemudian dari pertigaan polsek Cisaat, sis masuk ke gang arah pasar Cisaat, di sana banyak ngetem angkot merah tujuan Situ.

      Terima kasih. πŸ™‚

  22. Hai Mas
    Klo menggunakan big bus pariwisata, apakah bus bisa parkir langsung sampai depan pintu masuk situ gunung nya? Dan klo bisa biaya parkir brp? Thanks

    • Hai Raeysta.

      Mohon maaf saya tidak tahu hehe… saya tidak pernah lihat ada bus besar parkir di kawasan Situgunung. Saya ingat jalanannya agak curam dan tidak begitu luas jadi saya khawatir bus besar pariwisata tidak dapat masuk menuju gerbang parkir.

      Terima kasih.

  23. Mau tanya soal bis, apakah ada parkiran untuk bis besar spt bis pariwisata? apakah bis besar bisa melewati jalur ke situ gunung sampai ke lokasi parkir? terimakasih

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)