Review Film Disney/Pixar: Inside Out

inside out

 

Disney/Pixar: Inside Out, adalah sebuah film dari Pixar yang memiliki jalur cerita unik dan kreatif. Inside Out (terjemahan Bahasa Indonesianya yang pas apa ya?) bercerita tentang lima buah karakter emosi yang hidup di setiap otak manusia, yang di sini karakter utamanya adalah seorang anak gadis imut bernama Riley dengan keluarganya yang harmonis. Konflik pertama terjadi ketika mereka pindah rumah dan Riley merasa kehidupan barunya tidak semenyenangkan kehidupan sebelum dia pindah.

Awalnya benar-benar tidak tertarik saya dengan film ini. Saya hanya menebak film ini hanyalah kehidupan emosi yang mengontrol kehidupan seorang anak manusia dan terlalu bertemakan anak-anak. Namun karena saya sudah tidak lagi punya stok film CG Disney yang saya suka, akhirnya saya coba-coba menonton film Pixar yang notabene sudah dibeli Disney.

Pertama kali film Pixar pada saat itu yang saya benar-benar tonton adalah Brave. Yang ternyata filmnya cukup apik ditonton meskipun jalan ceritanya klise bak putri-putri Disney lain. Maka tak heran kemudian Merida masuk jadi golongan incess Disney dan benar-benar dikumpulkan semuanya dalam film Ralph: Breaks The Internet.


OK, reviewnya mulai dari sini.

Bagi yang belum menonton filmnya, lebih baik langsung ke bagian paling bawah artikel ini, alias langsung ke kesimpulannya saja. Kecuali bagi yang memang tidak tertarik untuk menonton hehe…

Keseruan: 9/10

Apa yang seru dari film karakter-karakter fiktif ini? Di luar dugaan. Saya pikir saya akan bermimpi sepanjang sesi film, namun filmnya benar-benar membuat mimpi saya menyuruh saya agar tetap terjaga.

Serius, tidak ada yang spesial jika memang film ini hanya berdasarkan kehidupan normal. Justru dengan bantuan makhluk-makhluk fiksi imut yang bersemayam di kepala itulah jalan ceritanya menjadi lebay dalam hal yang positif tentu saja. (Memang ada ya lebay positif?)

Konfliknya justru dimulai ketika Joy dan Sadness terlempar keluar HeadQuarter dan kendali emosinya diambil alih oleh Disgust, Anger, dan Fear yang nyata-nyata bukanlah karakter utama Riley. Emosi Riley diacak-acak yang membuat Joy harus secepatnya kembali dan menyelamatkan pulau-pulau karakter Riley.

Mata saya benar-benar berkeringat ketika melihat pulaunya satu per satu mulai runtuh. Ini mungkin termasuk genre film yang ada urgensi sehingga pemain film harus cepat menyelesaikan suatu masalah yang ada sebelum hal yang sangat buruk terjadi. Dan Inside Out telah sukses memberikan sensasi tegang sendiri terutama di bagian klimaksnya.

inside out

Bayangkan, seluruh hal itu terjadi di dalam kepala kita. MaiGahd!

Alasan bintang hanya 9 dari 10 alias kurang 1, tipikal film Pixar, di mana saat awal-awal adalah perkenalan yang mungkin sedikit terlalu lama sehingga cukup boring jika memang senang menonton film yang langsung berhadapan dengan kasus.


Humor: 6/10

Mungkin karakter favorit saya adalah Disgust yang artinya adalah si Jijik. Dengan tampilan necis dan ekspresi muka yang benar-benar saya suka dari frame-ke-frame, Disgust mungkin karakter emosi yang saya katakan paling realistis di sini. Cocok dengan perannya yang modis dan ‘ogah kena becek‘.

Sayangnya, Disgust tidak menerima waktu adegan yang banyak karena memang karakter utama sekaligus semi-antagonisnya adalah Joy yang merupakan kemudi utama bagi Riley.

Saya ingat ada tiga hal yang membuat saya tersenyum puas bahkan hingga ngakak:

  1. Ketika Joy meniru Sadness.
  2. Ketika pacar imajinasi Riley benar-benar ‘die’ demi Riley, “Fooorrr Riillleeeeeyyyyy!!!”
  3. “Come! Fly with me, Gatinha!”

Alasan bintangnya paling rendah, film ini lebih mengutamakan emosi dibandingkan humor. Banyak humor yang terlihat dipaksakan dan saya tidak begitu ‘tersentuh’ dengan humornya, termasuk Bing Bong yang menurut saya karakter tersebut tidak lucu.


Musik: 6/10

Ini bukan film musikal, namun ada skor-skor musik di latar belakangnya yang lumayan memompa adegannya seperti judul “We Can Still Stop Her” yang merupakan salah satu adegan musik latar yang saya suka di Inside Out. Sangat cocok untuk klimaks yang bikin tegang sekaligus depresi.

Alasan bintangnya kurang 4, karena musiknya agak jarang yang dapat saya ingat dan memompa semangat adegan. Tolong yang memaksa saya untuk menyukai musik “Tripledent Gum”.


Cerita: 9/10

Ini hanya cerita kehidupan seorang anak di keluarga biasa. Seolah tidak ada yang spesial. Tapi ini Pixar! Bohong jika mereka tidak membuat cerita biasa menjadi seru. Dan bukan hanya seru, melainkan emosional dan membuat depresi hingga banyak review yang memberi film ini bintang 1 hanya karena film ini dapat memberikan sedikit gangguan mental kepada anak-anak karena depresi.

inside out

Namun itu bukti bahwa Pixar benar-benar berhasil sekali lagi dalam memainkan jika emosional para penontonnya bukan?

Tidak hanya masalah emosi, film ini juga kaya sains dan pengetahuan. Tidak ada yang tahu bahwa adegan kereta pikiran yang dihancurkan oleh pulau kejujuran itu sebenarnya adalah masalah serius bagi anak-anak. Bayangkan, jika anak mulai berani berbohong dalam skala besar, kemungkinan jalan berpikirnya sudah tidak sehat.

Meskipun tanpa karakter antagonis dan plot twist, namun film ini berhasil untuk menjadi sebuah film keluarga yang dapat dinikmati setiap kalangan usia.

Alasan saya kasih nilai 9 di sini, memang jalur ceritanya terlalu banyak yang flat. Namun itu hanya sebuah pengetahuan yang membuka wawasan bahwa di dalam diri kita ternyata menyimpan peristiwa begini dan begitu.


Animasi: 8/10

Seluruh adegan terjadi di dalam otak manusia, dengan karakter berupa sel-sel yang hidup dan diberi mata serta gaya rambut.

Tetap saja kita menyenangi fantasi yang surreal bukan? Dan Pixar setidaknya bisa memberikan gambaran praktis meski tidak wah mengenai dunia dalam pikiran kita yang saya pikir itu adalah sebuah nilai plus.

Animasi karakternya pun cukup realistis dan beberapa ada yang sedikit… kaku? Namun tetap saja itu tidak mengurangi antusias saya dalam mendalami jalan ceritanya yang menarik ini.

Alasan bintangnya kurang dua, penggambaran dunia ‘long term’ memory mungkin terlalu flat ya? Namun bersyukur setidaknya tampilannya jarang disorot. Karakter-karakter pendukungnya juga agak sedikit aneh dan terlihat sedikit ‘asal jadi’ sehingga kurang begitu menarik.


 Nilai keseluruhan: 8/10

Kesimpulannya, film animasi Disney/Pixar Inside Out perlu ditonton setidaknya sekali untuk melihat apa saja yang terjadi di alam bawah sadar kita. Tentu saja dibumbui dengan jalan cerita dan tektek-bengek yang sangat rapi untuk ditonton meskipun oleh orang dewasa sekali pun. Teman saya yang sudah berusia 33 tahun pun suka dengan ceritanya.

Oh, tolong jangan cepat-cepat menyudahi menonton filmnya ketika ceritanya berakhir. Banyak adegan tambahan di kredit stafnya yang mungkin menjadi hiburan tambahan bagi kalian.

inside out

Saya sekarang benar-benar ingin tahu siapa karakter yang merupakan kemudi utama di otak saya dan berapa jumlah pulau personalitas yang saya punya ya? Bagaimana cara ceknya?

Sesekali tonton deh, serius.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)