Cerita Dari: Fidha

Sejak mula kami sudah punya rumah yang nyaman tapi memang ukurannya tidak terlalu besar untuk menampung kami sekeluarga, sehingga ketika pada suatu hari seorang tetangga kami menawarkan tanah kosongnya yang jauh lebih luas ditukar dengan rumah yang kami tempati, orang tuaku langsung setuju. Pertimbangannya karena tanah itu meskipun masih kosong tetapi luasnya hampir 3 kali lebih luas dari rumah yang kami tempati. Pemilik tanah tersebut juga memberi kesempatan kepada kami untuk membangun dan membiarkan kami tetap tinggal di rumah kami. Konon tanah itu sudah kosong lebih dari sepuluh tahun.

Akhirnya tanah kosong itu selesai kami banguni rumah yang bertingkat. Kemudian kami pindah. Saya menempati kamar di tingkat dua yang pintunya disebelah ujung selatan dan jendelanya di sebelah timur. Ketika memasuki rumah baru kami mengadakan selamatan dan memanggil orang pintar agar kami bisa tinggal dengn tenang dan tentram. Kebetulan tanah di samping kiri juga masih kosong dan di depan rumah kami juga hanya menghadap tembok karena rumah itu meghadap ke sisi lain bukannya menghadap rumah kami.

Suatu malam ketika seisi rumah sudah masuk ke kamar masing-masing dan jam sudah menunjukkan lewat pukul 12 tengah malam. Suasana sangat hening dan agak panas, layap-layap masih terdengar kendaran lewat satu-satu. Aku sudah sangat mengantuk dan hampir terlelap, saat itulah aku merasa ada yg membuka pintu kamarku, aku tak mengenalinya. Yang membuka kamarku itu adalah Makhluk yang nampaknya hitam tinggi dan menyeramkan, ia tak mengeluarkan suara apa-apa hanya berdiri di muka pintu dan lekat memandang ke arahku. Aku jadi ketakutan dan gemetar, perasaanku menjadi dingin dan merinding. Makhluk itu mulai berjalan perlahan kearahku, kakinya yang telanjang melangkah satu per satu. Aku memejamkan mata dalam-dalam, kupeluk bantal guling erat-erat seakan ingin bersembunyi dibaliknya.

Tapi makhluk itu sepertinya tak menanggapi ketakutanku ia semakin dekat menghampiriku. Dipuncak ketakutanku lamat-lamat mulai kubaca berbagai macam doa dan kusebut nama Tuhan berulang-ulang, mulutku komat kamit. Akhirnya kurasa makhluk itu tiba didepanku tangannya terulur. Kutunggu dengan diam tapi tangannya tak kunjung menyentuhku. Ternyata tangannya memegang kusen jendela dibelakangku kemudian kakinya melangkahiku dan ia keluar lewat jendela. Lama aku masih terdiam ditempatku dan mataku perlahan-lahan kubuka ternyata tak ada siapa-siapa, pintu dan jendelaku masih tertutup, aku bangun dan memeriksa pintu ternyata terkunci begitupula dengan jendelaku, iiihhhh. Pokoknya malam itu aku tak dapat tidur nyenyak dan sampai saat ini aku tak tahu apakah kejadian itu nyata atau cuma ilusiku belaka. Namun yang jelas keberadaan makhluk itu sangat nyata dan ingatan tentangnya tak pernah pupus dari ingatanku. Mungkin aku tak melihatnya dengan kasat mata tapi mata batinku melihatnya.

Aku Fidha di Makassar

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap