Kripikpasta Horor #40 : Pindah Rumah

Pindah Rumah

Aku mengendarai mobil vansku untuk menuju rumah baruku. Harga properti hari ini sudah semakin merangkak naik, terkhusus di tengah kota. Apa yang kudapat dari pekerjaan tetapku tidaklah cukup untuk membeli satu di sana, meskipun hanya sebuah apartemen kelas menengah.

Akhirnya aku menemukan yang menurutku terbaik, meskipun di pinggiran hutan, dengan jarak antar rumah yang masih cukup jarang. Namun… setidaknya hawanya menyegarkan di sini.

Kukeluarkan semuanya dari mobil vansku, perabotan-perabotan aku susun rapi di rumahku yang baru. Ah, rumah ini benar-benar sebuah surga! Kini akhirnya aku memiliki tempat tinggalku sendiri walau jauh dari keramaian.

Namun atmosfer tiba-tiba berubah menjadi menakutkan saat menjelang malam. Segala sesuatunya menjadi jauh lebih sunyi dan gelap. Aku menghibur diriku, bahwa aku mungkin belum terbiasa dengan suasana di sini dan aku meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara dari langit-langit, hampir membuat jantungku copot. Lantas aku menyalakan seluruh lampu kemudian pergi di dapur untuk meminum segelas susu. Mungkin itu hanya tikus. Maklum, rumah ini terlihat sudah tua.

Suara-suara tersebut kembali terdengar, semakin jelas. Aku berkeringat dingin. Asalnya dari langit-langit. Aku pergi ke kamarku dan mencoba mengabaikannya.

Suara itu akhirnya hilang setelah aku di kamar dan menikmati musik. Baguslah. Semoga aku dapat menikmati hidupku di rumah baruku ini tanpa ada sesuatu apa pun. Tidak ada yang mengganggu lagi, benar-benar tidak ada, hingga dua jam kemudian.

Suara mengganggu itu terdengar lagi, bahkan aku mendengar sebuah gumaman yang tidak jelas, melengking tinggi di suatu tempat di langit-langit rumahku. Aku semakin tidak nyaman. Suara itu semakin tinggi dan tinggi.

Aku hanya membeku, keringatku kembali keluar. Mengeraskan volume musik sepertinya tidak terlalu membantu.

Sampai akhirnya aku kesal, aku mengambil senter, pergi ke sebuah ruangan di bagian belakang rumahku, menuju tangga yang mengarah ke langit-langit. Aku memberanikan diri naik ke atas, dan membuka penutup plafon dan mengarahkan cahaya senter ke arah suara.

Kini terlihat tiga orang anak manusia terikat di pojok loteng.

“Diamlah! Kalian akan kuberi makan sebentar lagi!”

Obat biusnya sudah habis ternyata, semoga orang tuanya dapat menebusnya segera. Bagaimana aku dapat memiliki uang jika tidak?

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)