Yin dan Yang: Sukabumi, Ujung Genteng dan Curug Cimarinjung

Curug Cimarinjung

Teman saya mengajak jalan saya tiba-tiba, saya menjadi panik bukan kepalang. Memang apa yang tiba-tiba merasuki engkau wahai kawan tiba-tiba mengajak saya ke perantauan? Aduh ogut jadi pusing menentukan pilihan kemananya, akhirnya ogut memanggil peta di ransel. Dapatkah kalian memanggil peta? PETTAAA!!!

Aku petaa… aku petaaa… AKU PETAAA!!!

Masih jaman ya pake peta manual? Google Maps dong ceu! Akhirnya saya tidak ingin muluk-muluk dan memilih perjalanan ke daerah Bogor Barat saja. Yah yang banyak air terjunnya itu, you know lah. Oh, karena teman saya yang mengajak, artinya saya cari daerah yang sangat tidak ramah angkutan umum. Jadi angkoters akan banyak mendapat sambaran petir di artikel ini whuahahahaha!

Kidding, bagi yang ingin membaca artikel jalan-jalan yang ramah angkot dapat klik di sini kok…

Okkaaa… Bogor Barat! I’m coming… ~

Hari H mendung, petir jelegar-jeleger. Dapat karma kayaknya saya gegara paragraf sebelumnya. Nggak jadi. Saya cemberut. Teman saya akhirnya menjanjikan harapan-harapan lainnya. Yaitu menyediakan waktu dua hari untuk saya siksa hahahah.

Ih, saya tuh dari dulu pengen ke Curug Malela. Mau ke situ…! TytyQ. Tapi ternyata rencana perjalanan membanting stirnya ketika sudah melaju di atas aspal. Teman saya biang keroknya. Hah ada apa memangnya dengan si do’eui? Ya… dia bilang katanya mau ke Tegal nggak? Ke Guci?

Oh hell no. I didn’t have much time karena berangkatnya sore beud. Bada ashar.


  • Ujung stamina

Akhirnya saya memutuskan untuk ke Ujung Genteng, Ujung Asbes, Ujung Seng, atau terserah yang banyak pantainya itu tuh di ujung selatan. Saya beritahu bahwa lokasinya dekat Curug Cikaso yang waktu itu cuma kepleset dikit dari sana. Ywd, kami lewat bawah alias tidak lewat puncak menuju Sukabumi.

Seperti biasa, saya memilih lewat Cikidang namun saya dan teman saya memilih untuk makan malam dulu di warung lesehan ketika baru saja belok dari jalan Cibadak menuju Cikidang.

“Ada nasi nggak kang?” Saya bertanya.

“Oh, kalo mau nasi, di kape bang, di sebelah persis ini. Nanti makannya di sini juga boleh.” Kata si akangnya dengan logat Sunda kental.

Ya ampun, persis di sebelah saya ternyata ada KAFE! Benar, tempat nongkrong yang ada WiFi dan colokannya itu! Serius! Saya nggak bercanda. Namanya kalau nggak salah Edo’s cafe. What? Ada kafe tengah hutan’ begini? ALHAMDULILLAH! Bisa cas happe! Bahahahah.

Tapi di kafenya ada tulisan “KAFE BUKAN TEMPAT MABOK!!!”

Oh yaampun di sini banyak orang yang suka mabuk ya? Tapi baguslah, menunya murah-murah. Saya pesan dua paket chicken katsu yang ternyata lebih terlihat seperti nugget beserta air minumnya yang bisa diganti. Saya pilih es teh tawar, teman saya lemon tea. Terus pas lagi nunggu kami diberi cemilan. Good Service. Customer yang hepi dapat menjadi marketer tanpa diminta. Hahah.

Kemudian ya… setelah melanjutkan lagi pukul 09.00 kami melewati tempat yang biasa itu, apalagi kalau bukan jalanan super gelap di tengah kebun sawit Cikidang? Belum lagi kami memasuki jalanan super gelap lainnya menuju ke selatan Sukabumi dari Pelabuhan Ratu karena memang saya memutuskan tidak melewati Ciletuh.

Aduh ampun-ampun, saya dan teman saya kelelahan di tengah jalan, namun kami memilih untuk terus melanjutkan perjalanan karena yaa… mau gimana lagi? Saya saja yang menumpang merasakan bagaimana lelahnya, tangan menjadi kaku karena terus memantau Google Maps.

Untung saja langit cerah. Eh ada bulan purnama!

Teman saya selama perjalanan di tengah kegelapan sering melihat ke atas, ke arah rimbunnya dedaunan pohon. Kenapa? Ada apa? Banyak Miss Key kah? Iya, yang pake baju putih itu tuh, yang masa kecilnya kurang bahagia banget kayaknya sampe main ayunan di atas dahan pohon.

Teman saya mengangguk. “Banyak Nan.” Wah!

Sampai jam 11.14 akhirnya kami benar-benar istirahat di sebuah saung warga. Saya memutuskan untuk shalat Isya di mushalla kecil yang ternyata kamar mandinya sudah seperti hutan, banyak binatang yang jenisnya bahkan saya tidak tahu. Kelabang keluar dari lubang siram? Cek. Semut besar bersayap atau apa itu banyak yang mati di bak? Cek. Belalang sembah? Cek.

Ujung Genteng

Tapi setidaknya mushallanya sudah terang dan memakai keramik, jadi saya tidak terlalu mempedulikan segala sesuatu yang terjadi di… EH SERANGGA TERBANGNYA BIKIN KESELL!!!!

Sesudah kami shalat isya, dan teman saya hampir lupa bayar kopinya, kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng yang tinggal 20km lagi. Ketika 5km kami ingin sampai di pantainya, kami ditagih Rp8.000 untuk sepeda motor. Ya sudah, kami dikasih semacam tiket masuk kawasan Ujung Genteng begitu. Wah hebat, jam 1 pagi orang-orang masih pada stay di pos tiket.

Di jalan banyak anjing berkeliaran hingga teman saya harus menekan rem dadakan berkali-kali. Karena kesal saya akhirnya berteriak, “DASAR ANJING!!!”

Lho, memang benar mereka anjing kan hahah.

Tiba-tiba kami diserang hujan tapi teman saya memilih untuk melanjutkan. Saya bilang “nooo…” saya menyuruhnya untuk mencari masjid untuk bermalam, persetan dengan jarak yang tinggal 3km lagi. Saya mau boboq cantiQ! Jadilah kami bermalam di masjid terdekat dan memarkirkan kendaraan kami di samping masjid.

Entah dari mana seorang warga keluar dan memaksa kami menitipkan kendaraannya di rumahnya. Saya mulai berpikir yang tidak-tidak, teman berkata it’s fine kalau kami taruh di masjid sekali pun. Sang warga seakan menakut-nakuti kami dengan maling hingga akhirnya kami menyerah dan menitipkan sepeda motor kami ke rumahnya.

Jadilah kami bermalam sampai subuh, ditemani dengan suara salak anjing yang super mengganggu sepanjang malam, tidak lama kemudian diikuti suara kucing berantem dan diiringi suara hujan yang super deras hingga shubuh.

Apa? Jam berapa ini? 04.38? Shubuh sudah 15 menit yang lalu. Hanya ada seorang bapak yang berdiri untuk shalat tanpa terdengar azan sama sekali. Yaampun. Akhirnya kami shalat dan meneruskan perjalanan kami ke… Yah mendung!!!

Oh, akhirnya teman saya diberitahu oleh warga tersebut ketika mengambil sepeda motornya bahwa di sini banyak pemuda yang menganggur, makanya beberapa dari mereka ada yang menggarong sepeda motor pengunjung. Warga tersebut pun menolak ketika kami beri tip. Wah, merasa bersalah ogut sempet suuzhan.


  • Ujian lahir dan batin

Sampai ke pantainya daannn…

Yah? Gini doang? Kalau tahu begini ya ke Pelabuhan Ratu ajah. Pantainya di kasih tulisan huruf-huruf yang berukuran sangat besar, beberapa tempat selfie yang oleh pemuda setempat kami diberhentikan. Ehm enggak, makasih. Pasti bayar. Benar, saya suuzhan. Lagipula tujuannya mau nikmatin pantai sekaligus mencari tempat bobok dan melanjutkan zzzz….

Kami melihat ada dua buah tenda dan beberapa sepeda motor yang terparkir, wah pengunjung banyak yang bermalam ya… Kami disapa oleh penduduk setempat dan berbincang-bincang mengenai pantai yang sedang surut dan banyak sampah ini, tapi… ya sudahlah.

Ujung Genteng

Teman saya menawarkan saya untuk pulang, saya bilang, “Mau lewat Ciletuh?” Dia semangat. Yoyoy cusss!

Kami lewat jalan pintas, melewati kebun-kebun kelapa yang maknyuss… jalanan aspal mulusss… Mbah Google pintar. Daripada ke jalan utama yang sampai 40km, lebih baik lewat jalan pintas yang cuma 19km. Asik, asik!

Lihat, kelapa sekebon ini mengucapkan selamat pagi… ~

Ujung Genteng

Alhamdulillah. Kami benar-benar menikmati perjalanan kami sejauh hampir 200km dari Jakarta ini.

Tapi… jalanan tiba-tiba makin rusak, dan rusak. What?!

Aduh semakin sini jalanan semakin tanah dan AH! Nggak mungkin… balik lagi. Teman saya bingung kenapa jalanan seperti ini dideteksi mbah Gugel ya? Dan parahnya saya mengarahkan ke jalan yang lain, yang menurut mbah jaraknya sama juga.

Di sinilah mimpi buruk kemudian terjadi.

Sepeda motor saya terjerembab di jalanan yang hanya berupa tanah basah hingga terjerembab, terjebak tidak dapat lagi dikendarai. Offroad brohh!!! Saya akhirnya turun, ikut mendorong dan mengangkat kendaraan teman saya yang sedang mandi di kubangan lumpur. Teman saya menggas, saya mengangkat.

Parahnya, saya ada di belakang kendaraannya, tersiram lumpur yang terciprat dari amukan putaran roda hingga coklat seluruh tubuh saya. Bahkan saya berbalik dan kini cipratan tersebut memoles dengan sempurna tas saya hingga bercorak polkadot coklat. Huaaaa!!! Untung bawa baju ganti, jadi saya ganti baju dulu.

Lihat?

Ujung Genteng

Belum lagi, jarak yang harus kami tempuh masih 2 KA’EM lagi, OFFROAD! Mau nangis, saya dan teman saya lelah, lapar, lesu, dan kata-kata negatif yang dimulai oleh huruf “L” lainnya. Belum lagi treknya naik turun, menyebrangi sungai, dan tanah yang sangat licin mengingat semalam hujan lebat. Siapa saja, lontong.

Saya hanya berjalan, biar teman saya berjuang dengan kendaraannya, jika perlu bantuan, saya ikut mengangkat dan mendorong. Begitu terus hingga 2 kilometer ke depan. Ya Allah serasa baru keluar dari goa ketika kami melihat aspal satu jam kemudian.

Akhirnya? Teman saya mencuci kendaraannya di tempat pencucian kendaraan sedangkan saya mencari mushalla dan kemudian mencuci celana, tas, lalu saya jemur di pagar mushalla, atau masjid (kecil begitu) kemudian tidur sambil memakai kolor di mushalla. Tak lupa hape saya charge di mimbar mushalla. Alhamdulillah listriknya jalan dan mataharinya lagi ganas-ganasnya pagi itu jadi celana saya yang saya jemur langsung kering 1.5 jam kemudian.

Okei, tanpa pikir panjang kami langsung ke Ciletuh via jalan besar. Enggak, Google Maps saya bunuh, no Google. Well, sepanjang perjalanan kami melihat banyak air terjun dari kejauhan, subhanallah. Saya tidak sedang ingin memotonya karena terlalu lelah. Dan tak lama, kebahagiaan kami memuncak ketika ada plang besar yang bertuliskan Ciletuh ~


  • Usaha tak bohongi hasil

Meliuk-liuk di jalanan Ciletuh kembali kami sambangi. Teman saya kagum bahwa ini benar-benar ada di Indonesia. Lihat tebing-tebing yang disirami oleh air-air terjun. Saya tebak itu adalah Curug Cikanteh, Curug Sodong, dan lain-lain. Namun teman saya hanya ingin melihat air terjun yang (seharusnya) terlihat dari pantai yang waktu itu. Oh, Curug Cimarinjung…

Kami harap-harap cemas dengan keberadaan air terjunnya. Daaannn… Wah deras! Alhamdulillah kami langsung banting kendaraan dan parkir. Cusss menuju Curug Cimarinjung yang biaya masuknya…

Seikhlasnya. You nggak bercanda. Biaya masuknya seikhlasnya. Sebuah kata yang menguji harga diri saya. Akhirnya saya beri 20ribu yang artinya saya dan teman saya masing-masing 10ribu. Pengelola tidak komplain dan ramah. Seikhlasnya kan?

Oh air terjunnya hanya 20 meter dari gerbang masuk daaannn…

Curug Cimarinjung

UUooooUU! Mantap tenan kaanngg! Ada dua jalan untuk menikmati air terjun namun kami hanya memilih jalan lurus dan tidak menikmati air terjun dari bawah. Karena dari sanalah kami bisa jauh lebih mendekati air terjunnya.

Weee… Saya menyuruh teman saya agar berdiri di dekat bebatuan yang berada di luar zona selfie. Teman saya langsung berlari dan memakai gaya terbaiknya untuk saya foto. Teman saya melihat hasilnya dan teriak kegirangan seperti orang baru dapat pacar baru. Saya juga mau foto yang persis seperti itu, akhirnya saya berlari dan bergaya dengan sudut seperti yang saya ajarkan ke teman saya tadi. Itu tuh kami sambil diliatin pengunjung-pengunjung yang juga mau pada ke tempat foto.

Eh, hasil foto teman saya malah ngeblur parah! Saya cemberut maksimal. Saya lihat pengunjung lain berbondong-bondong ingin berfoto seperti pose saya tadi. Dasar.

Akhirnya saya masih dengan mode bibir terbalik a.k.a cemberut abis menunggu pengunjung yang pada selfie bubar, setelah itu, saya dapat dengan puas foto-foto dengan gaya yang tadi.

Curug Cimarinjung

Air terjunnya bisa dipakai berendam, namun hanya di pinggir-pinggirnya saja. Mungkin bagian tengahnya super dalam, saya tidak tahu. Waktu itu airnya lagi butek, apa mungkin gegara habis hujan?

Eh, ada bagian yang longsor… hati-hati.

Curug Cimarinjung

Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke warung yang diluar area air terjun. Artinya, kami harus keluar dari pintu masuk. Bayar lagi dong kalau habis makan mau melihat air terjun lagi?

Dua buah mangkuk bakso dengan soto mie seharga Rp15.000 mendarat mulus di meja, mendukung mata teman saya untuk segera terlelap selama satu setengah jam. Saya hanya mengecas hape di warung dan shalat zhuhur di mushalla. Eh, banyak biawak besar ya di sini. Sayang tidak saya foto.


  • Sudahkah sayonara?

Setelah saya ‘bersusah payah’ membangunkan teman saya dengan adegan-adegan yang disensor (eh?), Teman saya langsung bangun dan melompat ke mushalla. Hapenya yang sudah hilang daya baterainya saya cas hingga dapat 30%. Setelah itu, balik ke alamnya masing-masing deh via jalanan Ciletuh di Prefektur Sukabumisan.

Bagaimana tidak? Pemandangan amazing itu kembali lagi! Subhanallah! 8 jam perjalanan jadi tidak terasa karena ini:

Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh

Oh iya, di Ciawi ada mall yang baru buka sehingga macet parah. Kali ini mbah Gugel menawarkan untuk melewati jalan yang berbeda. Saya dan teman saya dengan pasrah mengikuti mbah Gugel kembali, melewati jembatan katulampa yang sering terlihat di TV-TV itu. Air sungainya terlihat mengalir deras, di samping jembatan ada sebuah ruangan.

“Itu apa Nan?” Teman saya bertanya mengenai ruangan itu.

Saya jawab, “Oh, itu tuh J*N*E, tugasnya buat nganter kalau ada kiriman banjir ke Jakarta.”

Hehe.

Eh, ternyata kami tiba-tiba sampai di Jalan Raya Bogor! Tidak harus lewat Bogor yang macet itu, tidak harus lewat palang KRL yang bejubel itu, dan tidak harus puter balik di kolong tol yang nggak pernah lancar jalanannya itu. Kami terharu dengan anjuran mbah Gugel.

Hingga saya berkata, “Wahai mbah, jika ini adalah bentuk permintaan maafmu atas kejadian waktu di Sukabumi tadi, kami maafkan.”


  • Galeri

Ujung Genteng Ujung Genteng Curug Cimarinjung Curug Cimarinjung Geopark Ciletuh Geopark Ciletuh

Ingin piknik ke tempat indah namun sedang malas berkendara, atau tidak punya kendaraan, atau bahkan tidak bisa berkendara? Ada angin segar, Anandastoon memiliki banyak artikel yang memuat tempat wisata angkotable. Klik dimari. Tengkyuk... (Sama jangan lupa follow IG saya @anandastoon untuk info jalan-jalan lainnya hehehe)

  , , , . Bookmark.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)