Wajib Diajarkan

Dahulu saat orang tua kita hidup di zaman yang daerahnya mungkin belum disambangi oleh listrik sehingga penerangannya masih bergantung pada obor hingga lampu teplok, saat itu juga ada budaya unik untuk mengajarkan anak secara khusus.

“Budaya Pamali”, begitu orang menyebutnya. Misalnya, “Jangan keluar malam-malam, nanti diculik setan” atau “Jangan duduk di atas meja nanti hutangnya banyak”.

Meskipun sebagian besarnya hanya mitos, tetapi hal itu cukup berhasil mendidik anak-anak pada saat itu bahkan beberapa di antaranya masih membekas hingga mereka beranjak dewasa.

Mengapa saya tiba-tiba terpikir akan hal ini? Apa maksudnya?

Di zaman yang serba canggih sekarang, saya tidak tahu, tapi saya hanya merasa ada hal yang hilang dari beberapa masyarakat modern kini. Mungkin saya merasa hari ini segala sesuatunya seperti menjadi terlalu… bebas?

Maksudnya ada beberapa hal yang sepertinya harus kembali digalakkan kembali guna untuk menjaga segala sesuatunya tetap di dalam lingkaran yang menyenangkan.

Saya melihat kejadian sekarang ini dan berhasil merangkum tujuh hal:


  • Mengatur waktu tidur

Saya merasa yakin jika jam tidur beberapa masyarakat modern semakin hari semakin malam. Dahulu, seluruh keluarga saya sudah terlelap pukul 9 malam kecuali almarhum ayah saya yang memang terkadang sibuk dengan urusan kantor beliau hingga terjaga sampai tengah malam.

Namun sekarang, dapat tidur pukul satu malam saja sudah syukur.

Padahal dengan waktu tidur yang cukup, dengan paling malam pukul 11 sudah terlelap, dapat membuat seseorang lebih bersemangat di waktu paginya.

Perlu diingat bahwa, sekali kita tidur lebih larut, hampir tidak ada jalan untuk kembali.


  • Bekerja bukan untuk uang

Berapa banyak anak-anak milenial sekarang yang terlalu meyakini mereka hanya melakukan sesuatu demi uang, yang dari uang itu mereka dapat mengisi jejaring sosialnya sesuai nafsu mereka.

Anak-anak milenial banyak yang mencari-cari info mengenai pekerjaan yang menurut mereka sesuai dengan hobi mereka dengan iming-iming uang secara instan dan waktu kerja yang super fleksibel. Misalnya, banyak orang menjadi desainer atau youtuber hanya berlandaskan pendapatan instan semata.

Mereka belum begitu mengerti bagaimana sulitnya menghadapi saingan, memutar rolet judi popularitas, tuntutan konten siang malam.

Untuk hal tersebut saya pernah bahas di artikel berikut dan berikut.

Begitu juga dengan pekerjaan tetap seperti karyawan. Masih sangat banyak orang yang bekerja dengan orientasi utamanya adalah uang. Padahal, ada yang lebih penting dari itu seperti mengasah kemampuan dan bakat untuk sampai ke jenjang karir berikutnya.


  • Belanja bijak, hemat bukan kufur nikmat

Banyaknya diskon dan cashback hari ini tentunya sangat bermanfaat terutama bagi orang yang sangat begitu ingin berhemat.

Namun, jika tidak dialokasikan dengan bijak, sistem diskon, promo, dan cashback tersebut dapat menjadi parasit bagi seseorang. Karena pada dasarnya manusia jika sudah mendapatkan sesuatu yang nikmat, mereka akan sulit untuk melangkah maju. Apa maksudnya?

Seseorang yang terbiasa untuk meminimalisir budgetnya namun tidak disertai dengan meminimalisir nafsunya justru akan menjadikannya berbuat di luar kontrol. Selain dari hidup hematnya yang tidak akan dapat tercapai, lalu akan banyak barang yang kemungkinan tidak terpakai dan sia-sia, dan yang terakhir menumbuhkan sifat kikirnya.

Bahkan yang paling miris adalah saat temannya baru saja memulai bisnis dagangnya di sosial media, beberapa orang alih-alih membuat bisnis temannya lebih untung, yang ia lakukan adalah meminta potongan harga yang terlalu sampai hati.

“Harga teman” kilah mereka.

Saya punya anekdot mengenai hal ini saat ada teman saya ingin dibuatkan situs web perusahaannya oleh saya.

T (teman saya): “Nan, buat website di dirimu berapa Nan?”

S (saya): “Tiga juta.”

T: Harga teman lah.

S: Oke, enam juta.

T: Lho kok tambah mahal?

S: Kalau kau teman saya harusnya dukung usaha saya agar lebih untung.

T: Ya sudah kalau harga musuh berapa?

S: Sorry, saya tidak membuatkan website untuk musuh.


  • Menjadi kritis

Hari ini sudah begitu bebas siapa pun dapat memiliki akun di jejaring sosial. Sayangnya, kebebasan tersebut tidak disertai dengan persiapan-persiapan. Ada yang mungkin merasa dirinya menggunakan akun anonim, maka dengan seenaknya dia berkomentar dan memposting sesuatu yang tidak-tidak, mengganggu orang di dunia maya, mendebat hal yang tidak memiliki guna, hingga menjadi ‘sampah’ dunia maya.

Beberapa orang saya lihat pernah terpeleset jarinya dengan tidak sengaja hingga tulisannya mengandung makna yang lain, masyarakat dunia maya bukannya memperbaiki postingannya terlebih dahulu namun justru menilainya sebagai seorang pengikut ajaran tertentu hingga memfitnahnya terang-terangan.

Banyak manusia hari ini mencoba begitu sangar di dunia maya namun tidak tahan dengan timbal balik apa yang akan terjadi berikutnya.

Begitu mudah membuli, namun tidak tahan jika dirinya yang menjadi subjeknya.

Hingga bahkan yang lebih ringan, beberapa orang tidak siap saat memberikan sebuah review. Masih banyak yang mengira bintang satu adalah bintang terbaik dan bintang lima adalah buruk. Lalu yang mereka lakukan hanyalah meninggalkan jejak hanya berupa “mantap”, “keren”, tanpa ada informasi yang membantu.

Tergerusnya sikap kritis anak-anak zaman sekarang tentu saja bukanlah hal yang baik karena ia akan dengan mudahnya menilai suatu hal tanpa diketahui sebab akibatnya yang pada akhirnya orang-orang akan memanfaatkannya tanpa ia sadari.


  • Peka setiap saat

Jika kita menolong orang saat mereka susah adalah hal yang seharusnya. Namun sayangnya, banyak orang yang hanya ingin tergerak membantu orang yang menurut mereka sudah sangat susah.

Pada akhirnya, karena jiwa sebagian orang tidak dibiasakan untuk peduli dengan keadaan orang di sekitarnya, mereka akan cukup canggung saat benar-benar ada orang yang sedang kesusahan memerlukan bantuannya. Mereka baru mau terjun ke lapangan dengan syarat minimal mereka tidak sendirian.

Lalu bagaimana maksudnya tergerak untuk membantu setiap saat?

Kita sebenarnya didorong untuk tetap memperbaiki apa saja yang berada di bawah kaki kita dari mulai diri kita sendiri, keluarga dan kerabat, sahabat, daerah hingga negara yang kita tempati, hingga bumi ini, tanpa harus menunggunya untuk ‘rusak’ dahulu.

Bahkan sebuah negara dapat dikatakan menjadi negara maju jika cakupan kepekaannya sudah begitu luas seperti peduli disabilitas, menjaga kepercayaan dan suasana hati sesama, mulai menyorot isu polusi, dan bukan hanya polusi udara saja yang disorot, polusi suara, tanah, hingga cahaya pun mereka memiliki perhatian di dalamnya.


  • Mendalami teknologi

Saya sebenarnya tidak peduli siapa seseorang itu, namun di zaman modern ini masing-masing orang memiliki suatu kewajiban untuk mendalami teknologi yang sedang berkembang. Maksud saya adalah bukan menyuruh setiap orang menjadi programmer, namun hanya mengerti untuk apa sebuah teknologi yang berada dalam ganggaman tangan mereka.

Sama seperti orang tua dahulu yang menginginkan kita agar dapat mengendarai kendaraan. Pun hari ini seharusnya dibarengi dengan memahami teknologi.

Berapa banyak kejadian fatal terjadi hanya seseorang enggan mendalami teknologi. Mulai dari ketidakefisien waktu mereka karena menggunakan teknologi dengan cara yang salah sehingga merepotkan orang lain, menjadikan banyak fitur teknologi yang sia-sia, hingga kebocoran data.

Di negara maju itu sendiri, misalnya Cina, saya pernah lihat seorang atlet renang yang juga merangkap sebagai programmer profesional.

Dengan mendalami teknologi, setidaknya kita bisa merasakan hidup lebih mudah karena banyak masalah yang dapat dipecahkan hanya dengan browsing di internet daripada mengeluhkan kehidupan sebagian kita yang sepertinya tak kunjung berakhir.


  • Peduli lingkungan

Tidak jauh dari sebuah artikel saya baru-baru ini, minimnya orang yang peduli lingkungan dengan ego yang tinggi dapat memperburuk kondisi bumi. Mengapa sedikit sekali orang yang peduli lingkungan? Sebab efeknya adalah jangka panjang yang mana mereka tidak alami sekarang. Jangankan menyadari efek kerusakan global, yang beberapa orang pikirkan hanyalah memikirkan dirinya sendiri.

Karena polusi udara, sudah jelas banyak pemandangan indah jadi tak terlihat, hingga penyakit pernapasan.

Karena polusi suara, beberapa orang terganggu waktu istirahatnya, bahkan beberapa yang sedang sakit dapat memperparah penyakitnya, hingga dapat memicu perpecahan dan saling mengutuk.

Karena polusi tanah, tumbuhan menjadi lebih sulit untuk tumbuh sehingga harga pangan dapat melonjak karena sedikitnya tanaman yang tumbuh dan itu pun memiliki kualitas yang rendah sehingga target impor lebih diutamakan daripada mengonsumsi pangan dari petani sendiri.

Karena polusi air, berapa orang sulit untuk mendapatkan air bersih. Akibatnya perusahaan air harus meningkatkan upayanya untuk menyaring air dan konsumennya harus membayar air dengan harga yang lebih mahal.

Karena polusi cahaya, bintang-bintang malam sudah jarang terlihat, burung-burung yang terbang dapat terganggu penglihatannya, bayi-bayi penyu kebingungan mencari rumahnya, bahkan cahaya yang berlebih dapat mengganggu jam biologis seseorang.

Apalagi hari ini penebangan hutan dan pembukaan lahan yang masif dapat memperburuk semuanya. Cuaca kacau, badai dan banjir bandang bisa lebih sering, dan banyak sekali akibat lainnya karena ulah manusia itu sendiri, ditambah kebanyakan sisanya tidak lagi peduli dengan lingkungannya.


Jadi, mari kita bangkitkan lagi budaya pamali yang dulu pernah kita begitu turuti demi keberlangsungan hidup dan kedamaian yang akan didapatkan anak cucu kita nanti.

Memang tidak mudah, namun setidaknya kita berusaha untuk mengaplikasikannya sebagian kepada diri sendiri dahulu, baru kepada keluarga, kemudian teman, dengan pelan-pelan.

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap