Melebarkan Jalan

Beragam diskusi mengenai mana yang lebih penting antara melebarkan jalan atau menambah transportasi umum, yang saya sering lihat di forum-forum diskusi atau artikel-artikel independen, kebanyakan memiliki jawaban serupa.

Jawaban tersebut sebagian besar kompak menyebutkan bahwa membangun rute transportasi umum lebih dipilih daripada melebarkan jalan atau menambah ruas jalan.

Alasan utamanya adalah, jika jalan dilebarkan, maka minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi akan semakin tinggi, yang mana kemacetan akan terus bertambah.

Lain halnya dengan menambah moda transportasi umum, orang-orang diharapkan akan menggunakan transportasi umum yang mana membuat jalan lebih lancar dan ditambah mengurangi polusi udara dari knalpot kendaraan bermotor.

Dear, saya adalah penggemar transportasi umum. Namun, izinkan saya kini untuk menjadi sebagian kecil dari pendapat kebanyakan.

Lalu apa maksudnya saya tidak mendukung moda transportasi umum dan malah justru mendukung pelebaran atau penambahan ruas jalan?

Secara mengejutkan, jawaban saya adalah iya dan tidak.

Saya kemudian memunculkan kembali dua buah pertanyaan dari sana, dan kita akan pilah satu persatu di artikel berikut.


Pertanyaan pertama, mengapa saya mendukung untuk dilakukannya pelebaran jalan daripada menambah transportasi umum?

Menarik, saya sendiri menilai ini menarik mengingat saya sendiri adalah ‘fans’ transportasi umum namun mengapa justru mendukung pelebaran jalan daripada menambah moda transportasi itu sendiri.

Ironis, tapi saya punya alasan.

Sejujurnya saya yang dulu pun lebih memilih menambah moda transportasi umum daripada menambah ruas jalan, tentu saja karena alasan mengurangi kemacetan dan polusi udara.

Tetapi sekarang saya mencoba untuk memikirkan hal yang berbeda. Sebab saya sendiri mulai memahami keadaan sebenarnya di lapangan, terkhusus di negeri tercinta ini.

Begini, jika alasan menambah ruas kendaraan hanya akan menambah kemacetan karena banyak warga yang tergiur untuk memiliki kendaraan pribadi, itu sebenarnya antara benar dan tidak benar.

Saya telah berbicara dengan banyak orang, bahwa entah macet atau tidak macet, ternyata tidak memudarkan keinginan mereka untuk memiliki kendaraan pribadi terkhusus mobil.

Bahkan warga Singapura sekali pun yang katanya dipersulit untuk membeli mobil, mereka tetap memiliki impian untuk memiliki mobil sendiri dari apa yang saya baca di media sosial mereka.

Apalagi meskipun Jakarta sudah memiliki beberapa moda transportasi masal yang memadai, namun masalah ternyata belum selesai hanya sampai sana.

Perlu diketahui, lebih dari 1,3 juta penduduk yang bekerja di Jakarta justru berasal dari luar Jakarta, mereka pulang dan pergi dari Jakarta ke daerah mereka setiap harinya.

Banyak sekali orang-orang mengeluh bahwa di beberapa daerah penyangga, mereka tidak menemukan transportasi yang efisien untuk sampai ke Jakarta. Jika menggunakan transportasi umum, seperti angkot dan bus, mereka tetap terjebak kemacetan parah setiap harinya.

Di samping itu, menambah atau membangun transportasi berbasis rel seperti KRL, MRT, dan LRT bukanlah sesuatu yang memakan biaya yang sedikit dan waktu yang sebentar.

Apalagi rute-rute rel baru kebanyakan hanya menggunakan jalan-jalan utama terkhusus di daerah padat penduduk seperti di ibukota dan pinggirannya, serta sangat jarang menyentuh beberapa kawasan di daerah penyangga yang juga padat penduduk kecuali dalam cakupan yang sangat sedikit.

Kita juga tidak dapat memaksa masyarakat untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum dengan moda transportasi yang kebanyakan belum sepenuhnya dapat diandalkan, apalagi jika kita bicara angkutan pengumpan.

Namun dengan melebarkan dan menambah ruas jalan baru, setidaknya pemerintah dapat memiliki kesempatan untuk menambah jumlah trayek bus dan angkot.

Bahkan dengan adanya ruas jalan baru, pilihan jalur alternatif akan semakin luas dan beragam. Tentu saja hal ini selain dapat mengurangi kemacetan, beragam rute transportasi bus dan angkot baru memiliki kesempatan untuk melengkapi kebutuhan warga hingga ke pemukiman yang selama ini tidak terjangkau transportasi publik.

Sekarang nyatanya, jangankan menambah ruas jalan, melebarkan jalan saja sepertinya masih cukup jarang dilakukan. Kita tidak sedang berbicara tentang jalan tol, kita berbicara tentang jalan yang digunakan oleh setiap orang secara gratis.


Pertanyaan kedua, kebalikan dari pertanyaan pertama, mengapa di saat yang sama saya secara ironi mendukung untuk dilakukannya penambahan rute transportasi umum daripada menambah ruas jalan?

Perlu diketahui, Indonesia, atau khususnya di pulau Jawa saja, yang kita persempit kembali untuk provinsi Jawa Barat saja, begitu banyak daerah yang sulit dijangkau sebab dikelilingi oleh dataran-dataran tinggi.

Membangun ruas jalan baru melewati dataran tinggi, selain medannya sulit dan rawan longsor, pilihan alternatifnya sangat sulit dan terlalu berkelok-kelok karena konturnya adalah perbukitan yang naik dan turun.

Saya sangat mendukung jika pemerintah membangun transportasi rel dengan jembatan-jembatan yang membelah perbukitan demi terjangkaunya layanan transportasi umum ke desa-desa terpencil.

Masalahnya, penjajah kita, Belanda, dahulu sudah melakukan hal serupa, yakni membangun rute-rute kereta api dengan jembatan-jembatannya yang lurus dan kokoh menerjang perbukitan dan jalur-jalur tersebut masih beroperasi hingga sekarang.

Sebenarnya saat kita berbicara transportasi berbasis rel, saya sendiri tidak peduli apakah ingin moda seperti KRL, MRT, atau LRT.

Saya hanya peduli jika transportasi kereta tersebut memiliki stasiun yang mudah dijangkau hingga pedalaman sekali pun.

Di sinilah saya benar-benar mendukung pemerintah untuk membangun transportasi masal berbasis rel sebab selain dapat mengangkut lebih banyak penglaju atau komuter, transportasi berbasis rel lebih dapat menembus daerah-daerah terpencil.

Berbeda dengan bus atau angkot, yang bahkan pernah saya temukan ada beberapa daerah dengan kontur jalan ekstrem seperti banyak tanjakan atau turunan curam yang sangat tidak ramah angkutan umum seperti bus.

Atau jika kita berbicara transportasi berbasis rel di tengah ibukota, saya lebih mendukung transportasi rel yang dibangun dari pusat kota ke daerah-daerah di penghujung ibukota.

Faktanya, setidaknya sampai ditulisnya artikel ini, jangankan ke daerah penyangga, masih banyak daerah-daerah di penghujung ibukota yang sulit mendapatkan transportasi berbasis rel.

Sekali pun memang ada, maka angkutan pengumpannya masih belum cukup bisa diandalkan.

Jadi, saat saya ditanya mana yang lebih saya pilih antara melebarkan jalan dan menambah moda transportasi umum, saya jawab bisa keduanya, tergantung kondisi dan praktik di lapangannya.

Tujuan transportasi masal adalah untuk membuat masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, tanpa paksaan, dan bahkan transportasi umum mendapatkan kepercayaan yang dapat diandalkan oleh masyarakatnya seperti di negara-negara maju.

Semakin banyak pilihan transportasi umum, semakin terurai pula kemacetan terutama di daerah-daerah padat yang alternatif jalan dan angkutan umumnya masih sedikit.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas