Kisah Orang Kentut Zaman Rasulullah SAW

Kisah Orang Kentut

Ada kisah menarik yang terjadi saat Rasul sedang berkumpul dengan sahabat di masjid. Saat itu, terciumlah bau tidak sedap. Bau kentut. Semua sahabat mulai tidak nyaman dengan bau itu. Lalu seseorang di antara mereka berdiri dan menyuruh dia yang kentut agar berdiri.

“Barang siapa yang kentut, berdirilah,” ujar salah seorang sahabat.

Semua hening. Tidak ada seorang pun yang berdiri. Mungkin orang yang kentut tersebut merasa malu.

Hingga tiba waktu shalat berikutnya, tak ada seorangpun yang berdiri dan mengaku dirinya yang kentut.

“Jika ada orang yang berdiri lalu berwudhu, pastilah ia orangnya. Orang itulah yang kentut.” Ujar salah seorang sahabat.

Semuanya diam. Tak ada yang beranjak dari tempat duduknya untuk berwudhu. Lalu Bilal berdiri untuk mengumandangkan Adzan.

Melihat keadaan itu, Rasulullah saw. mengerti orang yang kentut tadi merasa malu jika berwudhu seorang diri.

“Tunggu dulu, Aku belum batal, tapi saya hendak berwudhu lagi.” Kata Rasulullah saw.

Semua sahabat mengikuti Rasul untuk berwudhu. Dengan begitu, tidak diketahui siapa orang yang menyebabkan kehebohan akibat bau tak sedap itu, sampai sekarang. Itulah cara Rasulullah menutup aib seseorang. Begitu tinggi dan mulianya akhlak Rasulullah saw.

Perhatian: Untuk kisah di atas keshahihannya masih belum diketahui secara pasti, jika pembaca menemukan bahwa kisah tersebut palsu, mohon agar memberitahu saya via kolom komentar. Saya akan beri label hadits maudlu pada postingan ini guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan hadits-hadits palsu.
Namun di luar itu, setidaknya mari kita ambil hikmahnya perihal menutup aib seseorang. Terima kasih.


Kisah yang kurang lebih sama pun pernah terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya. Dikenal dengan Hatim Al A’sham, yang artinya Hatim “si tuli”.

Suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu syaikh ini pura-pura tuli, dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya.

Dengan sikap sang syaikh, wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang syaikh benar-benar tuli. Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.

Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.


Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda :

“… siapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.”

—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

10 Komplain:

  1. Masyaallah postingan yg penuh dengan pelajaran moral. Terimkasih sudah mengingatkan.

  2. Afwan siapa yang meriwayatkan kisah ini apakah shohih sanadnya akhi

    • Hai Adullah, terima kasih sudah berkomentar.

      Saya menemukan kisah ini di literatur kumpulan Akhlak Rasulullah, juga saya mendengar kisah yang sama dari seorang Khatib Jum’at. Beberapa artikel dari situs terpercaya seperti IslamPos juga mengutip kisah tersebut. Semoga insyaAllah riwayat kisah tersebut, setidaknya adalah hasan sekalipun tidak shahih.
      Atau jika memang ternyata riwayat tersebut dha’if atau maudlu, bukan berarti kita serta-merta mengabaikan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.

      Jika akhi Adullah (semoga nama akhi bukan typo dari Abdullah) masih ragu, lebih baik memang cukup mengabaikan kisah ini karena masih banyak kisah Rasulullah saw. lainnya yang dapat dijadikan teladan. Meskipun kisah ini tidak saya temukan tingkat mustholahnya, namun saya masih tidak menemukan artikel lain yang mendhaifkan atau bahkan me-maudlu-kannya.

      Meskipun demikian, kisah tersebut sejalan dengan sabda Beliau saw. berikut,
      “… siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (HR. Abu Hurairah)

      Wallaahu A’lam.
      Terima kasih. 🙂

      • Betul. Setidaknya nukil kisah diambil dari kitab tertentu supaya tidak terkesan dibuat2. Bagaimana kalau ternyata kisah itu fiktif dan sudah terlanjur mengambil nama baginda Rasullah? Bukan bermaksud menggurui atau sok tahu, tapi jika berkenaan dengan baginda Rasulullah, ada baiknya kita lebih berhati2 lagi. Afwan

        • Hai Riza, setuju dengan pendapatmu.
          Di luar dari literatur, saya pun sering mendengar kisah ini dari beberapa majlis, guru saya, situs islami, bahkan khutbah jumat sekali pun, sehingga menguatkan saya untuk menulis artikel berikut karena hikmahnya yang luar biasa.
          Bahkan jika kita berbicara kisah Rasulullah di luar artikel ini sekali pun, berapa banyak yang kita ketahui keshahihan cerita Beliau di luar hadits penguat yang tidak dhaif? Di sinilah kita seharusnya peduli.

          Jika memang kisah tersebut sudah terbukti maudhu atau gharib, insyaAllah akan segera langsung saya beri keterangan atau saya hilangkan artikelnya dikhawatirkan saya termasuk salah satu yang menyebarkan kisah bohong tentang Beliau saw.

          Wallahu A’lam.
          Terima kasih.

          • Allah Ta’ala berfirman:

            وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

            Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)

            Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: bahwa Alloh Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” (Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’:36)

            Berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam merupakan kemungkaran dan dosa yang besar. Imam al-Bukhâri meriwayatkan:

            عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

            Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri, no. 1229]

            Berdusta atas nama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sama dengan berdusta dalam syari’at dan dampaknya menimpa seluruh umat. Oleh karena itu, dosanya lebih besar dan hukumannya lebih berat. Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan:

            لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ

            Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka. [HR. Al-Bukhâri, no. 106 dan Muslim, no. 1]

          • Bapak Abu Kausar, terima kasih sudah diingatkan.
            Namun alangkah baiknya Bapak turut membantu saya dalam mencari dukungan yang dapat memverifikasi kisah di atas, dalam rangka membantu pembaca lain agar mereka lebih aware dengan kisah-kisah Maudlu yang beredar di masyarakat. Saya akan memberi label hadits palsu pada postingan ini jika terbukti Maudlu, sama halnya dengan kisah Bilal Ibn Rabbah ra. yang konon tidak dapat mengucapkan huruf Syin, yang ternyata saya sudah dapatkan sumbernya bahwa kisah tersebut ternyata palsu.

            Yuk, sama-sama kita permudah umat mendapatkan kisah yang shahih, sama-sama tunjukkan bahwa kita muslim yang peduli daripada hanya menaruh komentar yang terlihat seperti kopipaste tanpa tanggapan lebih lanjut. Saya akan memperbarui artikel di atas karena bagaimana pun sekali pun kisah tersebut benar palsu, ada hikmah yang masih dapat kita petik.

            Wallaahu A’lam.
            Terima kasih.

          • Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
            Saya memandang bahwa kaidah anda dalam menerima dan menilai kebenaran suatu informasi adalah kaidah yang salah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 :
            يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
            “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. “
            Maka yang benar adalah ketika datang suatu informasi (apalagi disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), maka periksa kesahihannya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebenaran. Rujukan untuk menilai suatu informasi pun harus benar-benar terpercaya, bukan berpatokan dari perkataan atau web yang anda nilai secara subyektif. Ada kitab-kitab hadits yang telah disepakati oleh para ulama ahli hadits dan kaum muslimin, seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan lain-lain. Apabila tidak didapati status kesahihan informasi tersebut (majhul), maka tidak layak dinilai sebagai kebenaran apalagi disebarluaskan.
            Kemudian terkait tujuan baik, tidaklah cukup hanya niat baik saja, tapi harus diikuti dengan cara yang benar menurut syari’at.
            Allahu a’lam

          • Bapak Abu Kautsar, terima kasih atas balasan komentarnya.

            Saya menerima jika bapak memandang saya salah karena saya mengakui rendahnya ilmu yang saya miliki. Bahkan hadits “Kebersihan adalah sebagian dari iman” memiliki derajat dhaif pun saya alhamdulillah mengetahuinya. Seperti yang bapak telah lihat, saya sudah menuliskan keterangan setelah kisah di atas, tujuannya agar masyarakat yang telah membaca tidak semerta-merta langsung membagikan kisah tersebut kepada orang lain.

            Dan seperti yang telah saya tulis sebelumnya, alangkah indahnya jika kita bantu memberikan edukasi kepada umat mengenai hadits mana saja yang belum shahih, apalagi kisah di atas saya dengar sendiri pernah dibawakan oleh seorang khatib Jum’at. Bisa saja saya menghapus artikel di atas dan saya mencuci tangan, namun bagaimana dengan umat yang belum paham bahwa kisah di atas adalah palsu dan kisah di atas terus menyebar mungkin dari sumber yang lain? Mengapa kita hanya peduli kepada diri kita sendiri Bapak?

            Bapak dipersilakan membawa segudang dalil mengenai ancaman berdusta atas nama Nabi saw. kepada saya, namun yang saya minta cukup satu, mohon bantu carikan saya musthalah pendukung bahwa kisah di atas benar-benar munkar, saya pun akan menghubungi guru saya mengenai kisah diatas.

            Wallaahu A’lam.
            Terima kasih.

Isi kotak di bawah untuk berkomentar, atau artikel di atas dapat kalian diskusikan di Forum Terbaru Anandastoon. :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon