serakah

Berawal dari dua kisah yang terjadi kepada diri saya sendiri, yang mana keduanya mendorong saya untuk menulis ini. Ternyata tanpa saya sadari, saya sudah menjadi manusia yang tamak dan serakah.

Kisah Pertama

Saya pun senang bermain game di kala waktu senggang. Salah satu game yang sering saya mainkan adalah Candy Crush, baik yang versi biasa maupun yang Soda.

Bersamaan dengan ditulisnya artikel ini, saya sudah mencapai level 12.100 di Candy Crush versi reguler dan level 9400 di versi Sodanya. Dan itu akan terus bertambah selagi pengembangnya terus merilis level setiap minggu.

Namun bukan itu yang ingin saya jadikan bahan tulisan di sini.

Di permainan tersebut, ada sejumlah “powerup” atau “booster” yang membantu pemain menyelesaikan level lebih cepat, terkhusus level yang dicap sebagai level yang sulit.

Saya mendapatkan booster gratis dari permainan tersebut, yang berasal dari sebuah event. Bahkan hingga saat ini, jumlah booster saya sudah mencapai ratusan.

Awalnya, saat jumlah booster saya masih dapat dihitung dengan jari, saya merasa sayang jika langsung menggunakannya untuk menyelesaikan sebuah level. Saya hingga menjadi perhitungan mengenai berapa jumlah booster saya jika saya pakai sekian per sekian level.

Akhirnya saya disibukkan dengan kegiatan menumpuk booster yang saya dapatkan dari berbagai event dalam game tersebut.

Sampai suatu hari kemudian, saya tiba-tiba seakan ‘dihantam’ oleh sesuatu yang sangat kuat, membuat saya menjadi sadar seketika.

Ternyata sifat sayang mengeluarkan “booster” ini membuat saya menjadi penimbun booster, padahal tidak ada prestasi yang saya dapat dari menumpuk booster tersebut.

Sekarang saat saya sudah berada di level paling akhir, jumlah booster saya masih berkisar ratusan, dan saya menjadi khawatir itu menjadi mubazir.

Inilah mungkin alasannya mengapa manusia gemar menumpuk harta mereka. Penumpuk harta merasa sayang jumlah hartanya berkurang apabila dikeluarkan.

Berawal dari rasa sayang memakai booster yang baru sedikit, ternyata itu telah menjadi benih dari sifat kikir yang tertanam dalam hati saya.

Waktu itu, saya hanya berpikir, “Ah nanti saja jika sudah banyak boosternya, baru saya pakai.”

Ternyata itu hampir tidak pernah terjadi. Saya hampir tidak pernah menggunakan booster saya hingga mencapai ratusan. Yang ada, sifat kikir saya menjadi tumbuh subur dari hari ke hari, menjadi sangat sulit untuk ‘ditebang’ dan dimusnahkan.

Dear, saat ada orang yang dicolek untuk bersedekah, mengeluarkan sebagian hartanya untuk kebaikan, lalu mereka menjawab, “Ah nanti saja jika saya sudah mapan.”

Padahal, tidak ada yang mengetahui kapan seorang manusia sampai ke tahap “mapan” menurutnya, sedangkan ia secara tidak sadar sedang memberi pupuk terhadap sifat kikirnya tersebut akibat rasa enggannya dalam mengeluarkan harta.

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”
(QS. Al-Adiyaat:6-8)

Kisah Kedua

Di suatu siang yang damai, saya tiba-tiba mendapatkan notifikasi dari operator seluler. Isi notifikasi tersebut adalah sebuah penawaran untuk mendapatkan kuota internet gratis dari sebuah aplikasi.

Karena si operator itu sendiri yang menawarkan aplikasi tersebut, saya menjadi percaya dan mengunduh aplikasi rekomendasinya.

Di dalamnya ternyata saya disodorkan beberapa penawaran untuk mendapatkan poin dengan sangat mudah, yang mana poin tersebut dapat ditukarkan menjadi paket data hingga 3GB.

Saya hanya diminta untuk menonton iklan yang saya dapat putar saat saya sedang melakukan hal lain. Jadi saat saya melihat ponsel saya, iklan sudah selesai diputar dan saya mendapatkan poin yang dijanjikan.

Baru dua hari, saya sudah mendapatkan ribuan poin yang sebenarnya sudah dapat ditukarkan menjadi 300MB.

Saya akhirnya menyadari bahwa si operator seluler bekerja sama dengan penyedia penawaran, yang mana si penyedia penawaran juga bekerja sama dengan beberapa pengembang game dan aplikasi agar mereka mendapatkan lebih banyak pengguna juga.

Jadi si operator seluler mendapatkan untung karena saya menyelesaikan tantangan penawaran yang mudah lewat iklan atau ujicoba aplikasi, sedangkan si pengembang game atau aplikasinya juga mendapatkan untung karena produknya saya coba.

Hingga akhirnya saya berpikir, kenapa saya harus mendapatkan poin ini dari operator seluler? Kenapa tidak saya saja yang langsung mendapatkan untung dari si penyedia layanan ini?

Akhirnya saya googling mengenai aplikasi penyedia layanan yang membayar saya jika saya menonton iklan atau menguji coba produk digital mitranya. Saya mendapatkan satu.

Memang saya tidak mendapatkan untung yang langsung banyak, namun setidaknya cukup menjanjikan jika dimainkan rutin. Intinya, saya dapat meraih ratusan ribu dalam satu atau dua pekan.

Yup, hanya dengan menonton iklan dan mencoba beberapa game dan aplikasi.

Setelah itu hari-hari saya disibukkan dengan menonton iklan dan bermain game dan aplikasi dari mitra-mitra si penyedia layanan.

Hingga suatu sore, tak lama setelah itu, saya merasa produktivitas saya anjlok. Saya bahkan baru shalat ashar di atas jam 5 sore karena dilalaikan kegiatan yang untungnya tidak seberapa itu.

Ya Allah, I’m sorry… I’m so sorry… Astaghfirullah al-Azhim. Saya telah zalim kepada diri saya sendiri.

Padahal, insyaAllah Allah Ta’ala akan memberikan rezeki saya lebih baik jika waktu saya saya gunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Seperti, jika saya fokus memperbaiki kinerja saya, pelanggan saya bisa semakin bertambah. Ditambah lagi, kesempatan saya untuk mendapatkan proyek sampingan bisa lebih besar, dan keuntungan yang saya dapat bisa sampai jutaan.

Kegiatan mencari keuntungan lewat penyedia layanan iklan itu telah memalingkan saya dari sesuatu yang lebih penting dan lebih agung.

Apakah saya kemudian meninggalkan kegiatan mengorek untung via aplikasi penyedia layanan tersebut? Tidak, tentu saja. Itu mungkin tetap saya lakukan di saat saya ‘stuck’ atau dilanda kebosanan yang cukup parah, tapi saya batasi penggunaannya secara ketat.

Saya hanya merasa saya sudah kehilangan akal sehat sewaktu saya terlalu asyik berangan-angan dengan keuntungan yang akan saya dapat dari aplikasi penyedia layanan tersebut.

Saya telah belajar sesuatu yang sangat penting bagi saya di sini. Subhanallahi wa bihamdih.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”
(QS. At-Takatsur:1-2)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah.”
(QS. Al-Humazah:1-4)


—<(Wallahu A’lam Bishshawab)>—

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
🤗 Selesai! 🤗

Nilai Keterbacaan

Polling

Sugesti

Permainan


  • Sebelumnya
    Lebih Baik Agar Tidak Lagi Membuktikan Agama Lewat Sains

    Berikutnya
    5 Aksi Ringan InsyaAllah Dapat Mengundang Rezeki




  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Apakah artikelnya mudah dimengerti?

    Mohon berikan bintang:

    Judul Rate

    Desk Rate

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Dan terima kasih juga sudah berkontribusi menilai kemudahan bacaan Anandastoon!

    Ada saran lainnya untuk Anandastoon? Atau ingin request artikel juga boleh.

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon.
    Rajin-rajin cek ya, barangkali sudah selesai suatu saat.

    Rencananya di sini kalian dapat iseng memberi polling seperti di Twitter, Facebook, atau Story Instagram. Pollingnya disediakan oleh Anandastoon.

    Kalian juga dapat melihat dan menikmati hasil polling-polling yang lain. 😊

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon.
    Rajin-rajin cek ya, barangkali sudah selesai suatu saat.

    Rencananya di sini Anandastoon akan menebak apa artikel yang mungkin menarik bagi kalian untuk baca.

    Temanya bermacam-macam, mulai dari humor, opini, horor, dan yang lainnya. 😊

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon.
    Rajin-rajin cek ya, barangkali sudah selesai suatu saat.

    Rencananya di sini kalian dapat main game langsung di artikel yang baru saja kalian baca! Wew!

    Ingin main game Anandastoon yang lain? Kalian dapat klik menu di pojok kiri bawah dan pilih Game Anandastoon. 😊