Agama Lewat Sains

Dahulu saya selalu mencari pembenaran agama lewat sains. Tidak ada yang lebih membahagiakan saya jika ada ayat alQuran atau hadits yang ternyata mendukung, atau setidaknya ‘menyerempet’ ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu pembuktian favorit saya waktu itu adalah tentang hubungan besi dengan surat alHadiid di alQuran. Pembahasan yang dijabarkan begitu lengkap hingga kepada keterkaitan antara nomor dan jumlah ayat dengan posisi besi di tabel periodik.

Lalu mengapa saya membuat judul yang kini justru kebalikannya?

Saya akan membahas ini pendek dan manis.

Dear, saya memahami jika banyak orang yang semakin mantap agamanya jika ada dukungan dari penelitian-penelitian dari para ilmuwan, termasuk saya pribadi, dan itu sebenarnya tidak salah.

Bahkan dengan maraknya pembuktian-pembuktian agama lewat sains, terkhusus agama Islam ini, semoga membuat para pelaku pembuktian ini mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala, minimal dengan membuka pandangannya dengan Islam ini secara lebih baik.

Tetapi semakin ke sini, khusus saya pribadi, seakan sudah tidak memerlukan lagi untuk membuktikan agama lewat sains. Bahkan saya cenderung menghindari perbuatan semacam itu.

Mengapa?

Jika seseorang sudah meyakini Tuhannya Maha Menciptakan segala sesuatu, mengapa ia masih harus membuktikan kuasa Tuhan lewat ciptaanNya sendiri?

Untuk membuktikan keMahakuasaan dan keMahabaikan Allah Ta’ala, cobalah lihat sistem tata surya ini.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang bukan hanya memilihkan planet Bumi untuk ditinggali makhluk terbaiknya yang bernama manusia, Dia juga menjadikan planet Bumi ini sebagai satu-satunya planet paling indah dan paling bersahabat di tata surya, atau bahkan di seluruh jagad semesta.

Mengapa banyak dari kita yang masih tidak mensyukuri hal ini?

Dia menjadikan banyak bahan-bahan dari mulai energi hingga mineral di planet Bumi yang mungkin tidak tersedia di planet lain untuk dikelola para manusia.

Allah Ta’ala telah menundukkan besi agar dapat diolah oleh manusia menjadi barang-barang elektronik hingga material infrastruktur. Jika Allah tidak menanamkan sifat elektromagnetik pada besi, mungkin manusiaNya akan masih tetap hidup di zaman purba.

Kemudian sebaiknya agar tidak mempertanyakan Allah Ta’ala dengan ilmu ciptaanNya. Saya kini terkadang cukup lucu jika mengingat-ingat bahwa dahulu saya mencari artikel seputar sains dan matematika untuk lebih membuktikan kekuasaan Allah.

Padahal, pernahkah kita bersyukur jika Allah Ta’ala menciptakan jari tangan dan kaki kita yang masing-masing berjumlah sepuluh?

Dari jari tangan yang berjumlah sepuluh tersebut kita dapat karunia berupa mudahnya melakukan perhitungan dengan basis 10. Coba pikirkan jika Allah Ta’ala ternyata menciptakan jari-jemari kita yang berjumlah 11, atau 13, atau hanya 6.

Betul bahwa banyak sekali basis hitung yang dipakai untuk berhitung seperti bilangan oktal untuk basis 8, bilangan heksadesimal dengan basis 16, dan lain sebagainya. Namun tetap saja, yang umum adalah perhitungan berbasis desimal atau 10.

Mengapa dengan bukti seperti itu kita masih mencoba mencari-cari pembuktian lain?

Saya pun memahami jika ada yang bertanya apakah ada ayat mengenai sains dan teknologi dalam alQuran dan hadits, tetapi saya sudah tidak peduli lagi dengan itu.

AlQuran dan hadits adalah ‘buku manual’ bagi manusia agar dapat menjadi pedoman bagi para manusia selama hidup di bumiNya. Justru menganggap alQuran dan asSunah sebagai buku sains itu adalah tindakan merendahkan keduanya.

Sekarang bayangkan kita membeli kipas angin, atau barang elektronik lainnya. Pasti ada petunjuk penggunaan tentang barang elektronik tersebut. Pertanyaannya adalah, apakah di dalam buku panduan tersebut ada formula dan rumus-rumus mengenai proses perakitan kipas tersebut dari awal hingga selesai? Tidak ada bukan?

Dunia diciptakan agar manusia dapat berkreasi sepuasnya, menemukan dan mengolah apa yang telah Allah Ta’ala sediakan, memberikan manfaat bagi sesama. Namun tentu saja dengan batasan yang telah tercantum dalam alQur’an dan alHadits.

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”
(HR. Muslim, no. 2363)

Bukankah sebuah hal yang nikmat jika makhlukNya diberi keleluasaan untuk mempelajari, menggali, hingga memanfaatkan seluruh fasilitas dari Allah Ta’ala di bumiNya?

Bahkan, Allah Ta’ala pun menganjurkan hamba-hambaNya agar mencari karuniaNya yang tersebar di bumiNya, tidak hanya mendorong untuk ibadah vertikal kepadaNya saja.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
(QS. AlJumuah: 10)

Maka dari itu merupakan hal yang lucu jika masih banyak manusia yang mempertanyakan keberadaan Tuhan dan bahkan hingga memilih untuk menjadi atheis karena putus asa dari pencarian bukti-bukti keberadaan Tuhan.

Dear, mohon diingat, jika alam dapat menciptakan diri mereka sendiri, mengapa selama kita hidup di dunia kita tidak pernah tiba-tiba geger dengan kemunculan makhluk baru entah dari mana yang belum pernah kita lihat atau bayangkan sebelumnya?

Padahal, sidik jari yang sudah pasti berbeda satu sama lain saja sudah menjadi bukti bahwa manusia memiliki identitas unik (atau primary key, bahasa saya sebagai programmer) yang sudah pasti ada basis datanya di suatu tempat.

Siapa yang memberi ID unik setiap manusia berupa sidik jari tersebut? Apakah alam dapat melakukannya sendiri?

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman, tidak bersyukur…

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas