“Nda, pinjem duit dong…” Teman saya tiba-tiba chat saya.
Setelah saya transfer sejumlah uang, dia langsung berterima kasih dan mengajak saya jalan-jalan malam ke Puncak. Saya tentu saja setuju (dia yang mau sendiri, bukan saya yang pamrih, hehe) namun ternyata malam itu dia tidak jadi karena ada urusan. Oh, lagipula malam itu malam Jumat, besok saya masih bekerja sehari lagi.
Besoknya saya ingat bahwa saya ingin mengajak dia ke Merak, ternyata saya tahu bahwa jaraknya dari Jakarta Selatan lebih dari 100km, maka dari itu saya ingin mengalihkannya ke yang lebih jauh dikit, yaitu daerah Cianjur Selatan, Curug Citambur. Tak disangka dia pun setuju, wah bagus!
Malamnya itu saya kemas-kemas barang sambil membawa baju ganti, barangkali mau basah-basahan. Akhirnya pada jam 20.05 saya berangkat dibonceng teman saya dengan sepeda motor matiknya. Saya katakan padanya apakah siap untuk perjalanan 180km? Dia sanggupi. Nice.
Sebelumnya saya mohon maaf, bahwa tempat wisata ini tidak ramah angkutan umum. Bagi para angkoters, dapat mengunjungi tempat wisata lain yang lebih ramah angkutan umum dengan mengklik tag “wisata dengan angkot” di sidebar. Terima kasih.
Tetapi jika ingin stay membaca ya… terima kasih juga.
Udara begitu dingin, mungkin sedang pergantian cuaca. Di Puncak kami berhenti untuk makan bekal yang telah disiapkan oleh ibu teman saya dan pada saat itu gigi saya bergemeretak karena dinginnya, padahal memakai jaket. Tumben, kemarin saya ke Talaga Bodas di Garut tidak hipotermia sama sekali.
Dari kota Cianjur belok kanan menuju Cibeber. Setelah itu malam-malam jalanan menanjak mengelilingi bukit dengan hampir minim penerangan. Dinginnya tidak ketulungan, tangan teman saya pun mati rasa, padahal dia yang menyetir.
Saya lihat sudah jam 1 malam, maka dari itu saya sarankan untuk cari warung yang 24 jam dan bobok. Namun tentu saja setelah teman saya memesan dua buah susu jahe panas untuk menghangatkan badan karena tidak enak dengan pemilik warung jika tidak hujan tidak geledek tiba-tiba langsung selonjor sambil bermimpi begitu saja.
Dengkuran teman saya begitu kencang hingga mendistraksi kenyamanan tidur saya yang baru saya dapatkan sekitar 15 menit. Waktu menunjukkan pukul 2 malam dan terus berdetik, seakan waktu menertawakan saya yang sedang repot menyusun ulang jaket saya agar saya bebas dari dingin. Dan ternyata tidak.
Akhirnya saya buka laptop dan mengecas HP saya yang sudah 20%. Saya tidak tahu saya berbuat apa dengan laptop saya itu, yang pasti tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul 03.45. Teman saya langsung saya bangunkan sebagai persiapan untuk berangkat kembali jam 4 subuh.
Memang jika berangkat malam itu harus beli sarung tangan. Alamak! Dinginnya benar-benar lebih parah dari suhu kulkas. Akhirnya azan shubuh berkumandang dan kami menyerah sementara. Tentu saja, berhenti di masjid yang terlihat oleh mata menjadi pilihan terbaik.
“Tut tuuuttttt!” Saya adalah kereta api! “Tut TuuuuuTTT!!!”
Semburan uap keluar dari mulut saya bak kereta uap zaman baheula karena dinginnya.
“Tut TuuuuTTT!!!”
Tangan saya sudah setengah beku, tubuh saya sedang bergoyang yang lebih parah dari goyangan penyanyi dangdut ekstrem. Dan saya dihadapkan oleh benda mungil yang sedang menjadi musuh terbesar saya pada saat itu, serta saya harus berperang hebat dengannya. Keran air, saya harus mengambil air wudlu dengan mulut yang ngebul karena dinginnya.
Mirip adengan di kartun-kartun dimana saya harus berjuang menyentuh air yang keluar dari sela-sela lubang keran. Akhirnya saya beranikan tangan saya untuk berendam di bawah air terjun yang dihasilkan oleh keran yang menyala deras. HaaiiiyyyaaaH!
Eh, airnya nggak dingin. Mungkin dinginnya tangan saya sudah mengalahkan segalanya. Jadi, saya berwudlu dengan sangat happy ~
Masih 40km lagi. Tetapi setelah sampai di Sukanagara (liat Google Maps), semua tidak begitu terasa karena di sekeliling adalah pegunungan dengan kebun-kebun tehnya. Oke, sesi kebun tehnya selesai, kini kami harus meneruskan sisa 20km lagi dengan belokan final ke curugnya. Oh, maaf saya tidak foto pemandangan kebun tehnya karena terlalu asyik dengan pemandangannya hehe…
“Kang, Curug Citambur masih jauh?”
“Masih… 6km, eh, 10km lagi! Tinggal lurus aja.” Kata warga setempat.
Berkilo-kilo kami tempuh. Lalu karena saya paham perhitungan jarak, saya katakan ini sudah hampir 10km dan belum juga sampai. Di atas saya mencari orang untuk bertanya kembali, namun sebelum itu, sebuah jepretan halus mendarat di tangan…
Lautan kabut, subhanallah.
“Kang, Curug Citambur masih jauh?”
“Masih, lurus aja terus, 9km lagi.”
Darimana pengukuran 10km yang tadi? Ini sudah jauh parah! Saya tidak memakai Google Maps karena baterai saya lowbat dan saya terlalu malas untuk mengeluarkan powerbank. Ya sudah, yang penting kami hanya lurus terus pasrah mengikuti jalan. Kanan-kiri memang pemandangannya bagus karena komposisinya sawah, hutan, pegunungan, serta matahari terbit. Namun, kami lelah, pantat saya pun lelah. Akhirnya, dari jauh terlihat tebing perbukitan dan sebuah air yang mengalir deras dari atas.
“Air terjun!!! Itu air terjun!!! YAY!”
Namun jalanan berbatu dan rusak masih terus kami tempuh, seperti tidak akan pernah sampai ke tujuan. Di tengah-tengah kepayahan kami itu, tiba-tiba mendadak muncul sebuah plang,
Alhamdulillaaahhhh… *nangis-nangis
Warung masih belum pada buka kecuali yang berjalan mie dan gorengan. Biarlah, meski matahari pagi sudah terik, tetap saja getaran tubuh kami berdua sepertinya cukup untuk membangunkan semut sekampung. Makan yang panas-panas sepertinya sedikit menenangkan.
Di pintu masuk ada Talaga Leuwi Soro. Apa? Soro? Mirip nama jin penghuni pantai selatan, Nyi Soro Kidul. (Oh, wait…)
Intinya saya mulai menarik paksa kamera saya keluar dari tas.
Nice? Isn’t it?
Tiket masuknya Rp13.000,-, namun kami didiskon jadi pas 10 rebu. Dari kemaren dapat diskon terus? Mungkin karena pelanggan pertama hehe… Ya sudah saya bahagia. Kami akhirnya parkir di tempat yang sudah disediakan.
Petunjuk jalan apa ini, kok? Whahahah, bisa… bisaa… kreatif.
Sebuah hal yang menyenangkan karena air terjunnya tidak jauh dari lokasi. Juga tersedia beberapa fitur tambahan seperti terapi ikan (Rp10k), rumah terbalik dan bukit lucu (saya tidak tahu apa nama bukitnya, Rp5k), dan bebek-bebekan (saya tidak tahu harganya).
Di dalam sudah ada mushalla, toilet, dan warung-warung, jadi pengunjung sudah tinggal melompat saja kesana-kemari. Dari jauh sebenarnya terlihat curug lain yang debitnya lebih kecil, namanya Curug Cimaja, saya tidak tahu darimana masuknya.
Oh, di bawah ada platform-platform alay (maaf ya saya sebut begitu, soalnya saya sudah sangat bosan dengan fitur-fitur selfie seperti itu hehe…) yang masing-masing dikenakan biaya lagi, namun saya tidak tahu berapa harganya masing-masing.
Jika kalian turun ke bawah, pemandangan air terjunnya akan lebih maknyoz, sedangkan saya ‘lupa’ tidak turun, makanya saya jadi zbl zmph kenapa nggak ke bawah!
Tetapi saya setidaknya dapat ini,
Ya sudah, saya foto-foto cantiq, eh, ganteng sebelum meluncur ke air terjun.
Dan cuma menanjak dikkiiittt supaya sampai ke ‘puncak’ pemandangan air terjun.
Dari atas, pemandangan siluet bukit lucu (beneran, saya tidak tahu apa namanya) terlihat jelas dengan pohon-pohonnya, membuat segala sesuatunya menjadi lebih eksotis.
Saya langsung kembali lagi ke bawah merasakan fitur-fitur lain. Benar, karena masih pagi dan pelanggannya baru kami saja, petugas masih belum bertugas membuat kami memasuki semuanya free! Termasuk terapi ikan, yang ketika saya coba ikan-ikannya justru pada kabur (dasar ikan pada kurang ajar!) dan tentu saja, rumah terbaliknya.
Setelah itu, BUKIT LUCUKK!!! (Terakhir, saya benar-benar tidak tahu apa nama bukitnya) yang tak disangka itu merupakan spot terakhir saya menghancurkan memori dan baterai kamera saya.
Di atas ada apa? Tidak ada apa-apa. Hanya tempat duduk dan pemandangan yang sudah terlihat dari bawah tadi. Ya Allah, pengen deh pindah kantor ke sini. Saya dan teman saya menikmati segala sesuatunya, dan jika disebut tafakkur… ya harus benar-benar tafakkur, bukannya mengubah definisi tafakkur jadi Instagram, seperti yang saya lakukan di atas bukit (hah?!).
Karena kami sudah mengantuk parah, akhirnya kami memutuskan untuk bobok di mushalla dari pukul 9.30 hingga Zhuhur. Tidak peduli dengan orang-orang yang melirik ke dalam mushalla melihat kami berdua yang sedang nyenyak. Juga lumayan di atas pintu mushalla ada colokan jadi saya bisa colok hp, sehingga setelah shalat zhuhur, semuanya sudah dalam stamina yang wonderful.
Setelah makan bakso, kami pulang, tak lupa mengecek sesuatu yang mungkin tertinggal, membayar uang parkir goceng, dan meminta kembalian kepada loket yang tadi pagi belum dikembalikan sisa uangnya. Sepanjang perjalanan, kami dikagetkan dengan pemandangan-pemandangan yang tiba-tiba muncul padahal semalam kami tidak lihat apapun sama sekali.
Dah, sampai Jakarta jam 9 malam, lalu menggerus muka saya dengan bantal.
Pantat saya perlu terapi sepertinya.