Kesedihan di Pabangbon & Muara Gembong

Muara Gembong

Ini bukan artikel jalan-jalan yang biasanya karena saya benar-benar tidak menikmati sesi travelling saya yang dua ini (bukan satu). Jadi kategorinya sudah saya masukkan ke dalam Curhat juga.


Chapter Pabangbon, Bogor

Teman saya mau jalan-jalan. Secara, dia iri karena saya selalu menemukan tempat-tempat unik (padahal saya dapat dari ngkong Gugel) dan memiliki foto-foto dokumentasi yang cukup bagus. Saya biasanya jalan-jalan sendirian dengan kendaraan umum dan/atau ditambah ojeg, namun beberapa dari postingan saya tidak saya sertakan akses umumnya karena memang saya bersama teman saya memakai sepeda motor dan tidak ada akses umum sama sekali.

Setelah lebaran, dia ingin kembali jalan-jalan dengan saya. Saya akhirnya berpikir keras mengenai tujuan kali ini, yang memang tidak ada akses kendaraan umum ke sana. Di Facebook, ada teman saya memposting wisata alam yang baru saya dengar bernama Pabangbon. Benar-benar tepat waktu, ya sudah, kami cuss kesana.

Melewati Parung dan Leuwiliang, akhirnya sampai di Pabangbon yang di sebut dengan Papa (Panorama Pabangbon), Mamanya mana? Never mind, sebelum Pabangbon, ada tempat wisata yang sama-sama memuat pijakan-pijakan alay (mohon maaf saya sebut begitu, soalnya saya sudah bosan dengan pijakan-pijakan selfie begitu hehe…) yang bernama Bukit Bintang. Namun saya tidak tertarik.

Tak disangka tempatnya ramai. Konon kata blog-blog yang menggenangi internet, tarif masuknya murah hanya cukup bayar parkir saja senilai Rp5.000,-. UoU! Hebat! Lagi pula ketika saya tahu itu dikelola oleh pihak Perhutani, maka saya tidak khawatir.

Setelah bayar parkir goceng, eh sebentar, itu lahan parkirnya dibuat dari kayu-kayu yang tersusun melayang. Serius itu bakal kuat? Banyak kendaraan-kendaraan besar lho di sana. Ehm, cuma moge sih, mobil diarahkan di tempat lain parkirnya. Tapi tetap saja alas kayu tersebut akan kuat kah?

Berjalan menuju ke atas, terlihat loket dadakan lagi yang menagih Rp20.000 dari masing-masing kami. Loh? Ternyata ada kertas kecil yang bertuliskan, hanya untuk momen lebaran saja hingga tanggal 24 Juni, dan hari itu adalah 24 Juni. Aduh, ya sudahlah.

Panorama Pabangbon ini terlalu banyak fitur-fitur yang dapat dinikmati, dari mulai replika balon udara, sepeda melayang, hammock bertingkat, rumah hobbit, jam, sarang burung, payung-payung hias, dan tentu saja, pijakan-pijakan alaynya. Namun saya sama sekali tidak menikmatinya. Masing-masing dari semua itu ternyata harus bayar Rp5.000,- bahkan termasuk colokan dan WiFi. Well played Pabangbon, well played!

Saya jujur tidak suka model begini. Ditambah lagi, tidak semua staf ramah dan responsif. Ya sudah, saya hanya foto-foto seadanya lalu pulang. Saya sudah tidak memiliki mood lagi untuk ini. Kemudian teman saya bilang, bahwa temannya juga dimintai bayaran setiap fitur selfie di Puncak Mustika Manik, mungkin karena entah momen liburan atau weekend.

Saya langsung pulang, dengan tidak lupa menunjukkan tiket parkir (bukan nomor parkir) yang ternyata dipintai lagi ketika ingin keluar. APA? PENITIPAN HELMNYA BAYAR JUGA?!

Ya sudah, setidaknya dapat sedikit dokumentasi berikut:

Pabangbon Pabangbon Pabangbon Pabangbon

How are these type of destinations become a new mousetrap for you guys?

Apa? Curug Cilame? Memang benar hanya 200 meter, namun saya sudah tidak selera.


Chapter Pantai Muara Gembong, Bekasi.

Tidak puas, beberapa hari kemudian kami mencoba untuk mampir ke Pantai Muara Gembong di Bekasi Utara. Saya lihat sih, gambarnya di Google bagus-bagus. Ya sudah, lewat Tanjung Priok, saya menuju ke sana pukul 2 sore. Ternyata setelah perbatasan Jakarta-Bekasi, jalanan jadi kontras, maksud saya jadi kontras rusaknya, seperti baru pindah planet. Oh, apakah mungkin ini alasannya mengapa Bekasi disebut planet terpisah?

Hingga akhirnya saya tiba ke daerah asing yang agak terisolir. Ya ampun, teman saya pun berkata mempertanyakan mengenai akses orang-orang di sekitar itu. Meskipun dekat Jakarta, namun sudah seperti di pelosok daerah (tidak separah baduy sih). Google Maps pun sampai kehilangan arah hingga kami diberitahu agar balik lagi berkilo-kilo meter menuju jalan setapak yang benar.

Melewati sawah dengan jalan kecil, teman saya mempertanyakan rutenya. Kata orang-orang memang benar lewat sana, tapi… semakin lama semakin hancur hingga jalanan hanya tanah jeblog dan bebatuan kasar. Menangis kendaraan teman saya dibuatnya.

Setengah lima, kami istirahat di sebuah warung. Ternyata pemiliknya adalah orang Betawi Asli, yang juga termasuk orang yang pertama kali buka jalan pintas itu. Jika lewat jalan utama, maka jauhnya sekitar 3x lipatnya. MasyaAllah. Padahal kemarin presiden dan mobil-mobil dinas yang lain mampir ke sini, namun tidak diperbaiki jalannya, keluh si Bapak. Begitu pula dengan Pertamina yang salah satu proyeknya terletak dekat sini.

Berbincang-bincang demikian, saya sempat mengambil foto cantik berikut:

Muara Gembong

7km lagi, kami harus meneruskan perjalanan khawatir keburu malam dengan kembali berjuang di tengah tanah yang tiba-tiba basah karena telah tiga hari hujan tanpa henti. Sepeda motor teman saya… ugh. Berjuang melawan lumpur yang hancur, hingga saya memilih berjalan kaki beberapa ratus meter. Bahkan akhirnya teman saya sudah sedikit lagi sampai di batas menyerahnya.

Muara Gembong

Itu teman saya yang mencuci sepatunya karena kotor, tapi “How this road is supposed to be passed?!

Di tengah ambang keputusasaan, saya masih sempat memotret sebuah gambar, yang ternyata itu adalah daerah kerajaan tumbuhan bakau. UoU!Muara Gembong

Muara Gembong

2km sebelum sampai pantainya, jalanan kembali normal. Namun sepertinya sudah terlalu sore untuk menikmati pantainya. Tiba-tiba seorang asli sana menghampiri dan bertanya perihal kami. Teman saya langsung menjawab bahwa kami adalah tim survey (what?) dan ingin berfoto-foto. Lalu si Bapak bilang dia ingin mencari orang lain dahulu.

“Pasti pungli lagi.” Desah teman saya.

Ya saya hanya masuk sebentar dan keluar lagi. Kebetulan di atas ada bangunan tinggi bak mercusuar yang kami sedikit foto-foto di atas.

Muara Gembong

Dari atas, kilau lampu-lampu Ancol dan Tanjung Priok terlihat jelas, namun… kami lagi-lagi gagal menikmati destinasinya.

Hingga akhirnya, kami sedikit berbincang-bincang dengan si Bapak tersebut.

B (si Bapak) : “Tadi ada calon gubernur yang kemari, katanya janji ini akan menjadi salah satu destinasi wisata favorit. Sebenarnya untuk ke pantainya, masih harus naik perahu lagi menuju sebuah pulau karena ini sebenarnya bukan pantai.”

Ohhh…!

B : “Ini saya juga panggil orang untuk guide saja, bukan pungli (loh, kok si Bapak tau itu pungli?) agar ketika kalian berjalan di atas pijakan bambu pantai tidak terjeblos (apa alasan ini bisa diterima?).”

S (Saya) : “Baiknya, Bapak membangun loket kasir di sini supaya orang paham bahwa di sini adalah awal dari tempat wisata.”

B : “Kami tidak mau buat karena takut disangka kami pasang tarif.”

S : “Lha? Justru jika ada biaya-biaya dadakan seperti tadi itu jauh lebih buruk lagi Bapak, karena orang-orang akan berkata bahwa itu adalah pungli meskipun Bapak meyakinkan itu bukan.”

Si Bapak mengangguk.

S : “Langsung pasang saja tarif sekian misalnya Rp10 ribu agar turis paham dan itu untuk semuanya. Jadi tidak perlu ada tambahan lagi. Jika biaya semuanya terpisah tanpa pemberitahuan di awal, yang ada turis malas dan kalian tidak mendapatkan apapun kecuali sedikit.”

Tak terasa malam tiba, si Bapak sepertinya senang mendapatkan pencerahan. Bulan purnama pun sepertinya tersenyum mengiringi perjalanan kami pulang selepas shalat maghrib. Sebuah bulan yang berbentuk lingkaran sempurna, mengapung di atas jajaran hutan bakau, menginspirasi saya untuk membuat puisi berikut.

Kami mengambil rute normal, bukan jalan pintas seperti saat pergi dan benar saja, jauhnya berkali-kali lipat karena mengikuti alur sungai Citarum. WHAT! Saya benar-benar sedih, padahal jika pemerintah peduli, jalan pintas dapat banyak dibuat untuk menghemat waktu orang-orang dengan ekstrim. Bahkan akses jalan yang terisolir tanpa angkutan umum membuat semuanya lebih buruk.

Seperti tidak ada kepedulian. Andai saya punya wewenang…

Malam itu, di tempat antah berantah, dan sebagai penutup artikel ini, saya memotret sebuah pabrik malam dengan api seperti yang di acara olimpiade.

Muara Gembong

2 Ekspresi:

  1. Pake kamera apa bang ? Beniiing bgt

    • Saya memakai kamera Nikon D5300. Namun kejernihannya terjadi karena saya edit di Adobe Lightroom yang presetnya saya buat sendiri.
      Terima kasih telah berkomentar. 🙂
      Jika punya Instagram, dapat difollow IG saya: @anandastoon 🙂

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)