Nekad Girang: Purwokerto, Small World & Curug Bayan

Miniatur DuniaAwalnya memang dari Instagram saya lihat sebuah kincir angin mungil dan banyak bunga-bunga tulip indah terhampar di sekelilingnya. Ah, Belanda, saya selalu menyukai kincir anginnya yang ikonik itu. Tapi sebentar, mengapa ada tulisan Purwokerto di sana? HaH?!! Lantas Mbah Gugel pun kembali saya suruh untuk melakukan tugasnya, dan barulah saya tahu bahwa Purwokerto membuka wahana wisata baru yang temanya tentang miniatur dunia. Wah!

Walaupun lokasinya terletak di kaki Gunung Slamet itu ternyata memiliki angkutan umum untuk menuju padanya. Kebetulan, setelah saya puas melanglangbuana ke Gunung Galunggung kemarin di Tasik, boleh juga untuk bandel sedikit untuk mencoba ke yang lebih jauh. Naik kereta sendirian ke Purwokerto? Siapa takut!

Wait, Purwokerto itu ternyata hanyalah kota sebagai pusat administrasi, saya pikir selama ini adalah kabupaten. Yang menjadi kabupatennya adalah Banyumas. HmayGawd! My life is a lie!


  • Hanya dalam sekali kedipan

Saya tidak begitu senang menginap-menginap, jadi saya rencanakan berangkat pada malam hari agar dapat bobok di tettha (ehm, kereta). Ketika saya cari jadwal kereta yang pas, saya menemukan KA Serayu berangkat dari Pasar Senen jam 9 malam dan perkiraan tiba di Purwokerto jam 8 pagi. Lama juga ya? Apa karena ekonomi? Paling murah sih, cuma Rp67.000. Tapi ya sudahlah, pengalaman pertama kali naik kereta lintas provinsi.

Saya memiliki rencana berangkat ke Purwokerto pada Jumat malam. Waktu itu saya hari mencoba pesan tiket KA dari Tokopedia (kebetulan saya punya appnya di hape) ternyata tiket yang paling murah sudah habis untuk jadwal pulangnya (iya dong, pesannya pulang pergi). Akhirnya saya coba keberangkatan malam Minggu, dan KA Serayu masih memiliki tempat duduk, banyak dekat jendela lagi. ‘Sik! Akhirnya saya lakukan booking tiket pada kali yang paling pertama dalam sejarah kehidupan saya. Dan pesannya pun gampang, pang, pang.

Pertama, pilih stasiun pergi dan tujuan, jangan lupa centang pilihan “pulang pergi”. Kemudian tentu saja, tanggal keberangkatan dan pulang serta jumlah penumpang, tetapi untuk jumlah penumpang tidak perlu diutak-atik mengingat defaultnya adalah 1 orang dewasa.

Kedua, pilih gerbong dan kursi kereta. Ini yang paling menyenangkan. Jika pilih yang dekat jendela, di satu sisi melihat pemandangan yang ciamik hanya tinggal nyender. Namun di sisi lain, kalian perlu berjuang keras berpermisi ria dengan tetangga duduk kalian jika kalian ingin ke toilet, sedikitnya kalian langkahi kaki-kaki mereka.

Terakhir, konfirmasi data penumpang (cuma identitas aja, tenang, nggak ditanya jomblo atau nggak, apalagi jumlah cicilan) dan melakukan pembayaran. Saya waktu itu memakai internet banking, jadi tinggal klik token terus bahagia deh. Kode booking kemudian dikirim lewat email dan Whatsapp. Kelar.

Hari H nya, saya diantar teman saya menuju Stasiun Pasar Senen jam 7 malam. Sekalian makan dan shalat Isya di stasiun. Tak lupa cetak tiket di ruangan sebelah Indomaret stasiun (sudah ada petunjuk arahnya) dengan menginput kode booking untuk pergi yang sudah tertera di WhatsApp. Kemudian joss… setelah konfirmasi lalu tercetak otomatislah tiketnya.

Saya mengantri pada jam setengah 9 malam di pintu masuk peron dengan membawa KTP asli untuk dicocokkan namanya dengan tiket oleh petugas. Kemudian cusslah ke peron melalui dua pintu masuk. Apa? Dua pintu masuk? Awas, jangan salah masuk, lihat pada tulisan LEDnya apakah itu menuju peron KA yang kita pesan atau tidak. Saya hampir saja salah masuk sebelum akhirnya sadar tulisan gerbangnya bukan KA Serayu.


  • Ngemper elegan

Saya masuk ke dalam kereta menempati tempat duduk saya sesuai gerbong dan nomor kursi. Colokan pun tersedia dua buah dan kursi yang agak empuk. Namun kursinya begitu tegak sehingga saya ditantang untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur semalaman, beginilah bedanya ekonomi dengan bisnis apalagi eksekutif.

Sepanjang perjalanan, pegawai KA yang bertugas menggantikan pedagang asongan berkeliaran ke sana ke mari. Kebetulan malam itu saya lapar, bodohnya saya tidak membeli bekal apapun selain air mineral. Namun ketika saya ingin popmie, yang mondar mandir justru hanya yang berjualan mijon dan kopi. Padahal ketika saya baru berangkat yang seliweran jualan nasi goreng dan makanan kenyang lainnya sangat banyak. Ah, sudahlah, mau tidur pun ternyata repot sumpah. Apalagi posisi yang sempit dan kaki yang tidak terlalu dapat selonjor. Saya iri melihat penumpang di depan saya yang memiliki bantal leher, ah, andai saya menuruti saran teman saya untuk beli bantal leher juga…

Stasiun Cikampek, Purwakarta, Cimahi, Kiaracondong, dan Ciawi (Garut) pun telah disinggahi. Tetapi saya masih belum bisa bobok. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga malam. Saya ke toilet untuk buang air kecil dengan mengganggu penumpang sebelah saya yang sedang berada dalam mimpi indahnya.

Dan sekarang di toilet. Perlu diketahui toiletnya ada di luar gerbong, tepat sebelum dan sesudah sambungan kereta. Jadi satu gerbong punya dua toilet, jika toilet yang satunya penuh, bisa pakai toilet yang lain. Toiletnya pun sepertinya kurang 1,5 meter persegi, namun fasilitasnya sudah lengkap, dari mulai westafel mini, cermin, keran, dan pengharum ruangan, tanpa gantungan pakaian. Oh good.

Ya know? Buang air di toilet kereta itu sesuatu banget. Kereta yang bergerak turun naik kanan kiri di atas rel benar-benar super payah untuk memusatkan hajat kita ke target kloset. Berantakanlah pancuran airnya kemana-mana. Norak banget ya, penumpang yang satu ini…

Tung! Stasiun Tasikmalaya! Announcer telah berkata demikian. Tanpa disadari 80% para penumpang tiba-tiba kabur ke luar kereta. Ada apa ini? Kok pada turun semua?! Alhamdulillah, saya bisa selonjoran! Saya lihat para penumpang lain yang tersisa pun menyelamatkan diri masing-masing mencari tempat empuk yang benar-benar kosong, dan lalu memuaskan hasratnya dengan tidur dengan berbagai macam gaya. Termasuk saya yang seakan tidur di indekos saya sendiri, dengan kaki diangkat bak makan di warteg.

Ah, bahagianya… bisa bobok sampe pagi. Oh, pagi pun saya bangun disambut dengan pemandangan sawah yang luar biasa dengan hujan deras yang mengguyur. Apa? Hujan deras? Ya ampun, saya lupa sebelumnya tidak mengecek ramalan cuaca. Yah, mendung-mendungan deh di lokasi wisata…


  • Nekad berkesan

Saya ingat kata teman saya yang senang main ke Purwokerto, bahwa hati-hati dengan segala macam tawaran yang ada di sekitar stasiun Purwokerto, karena saudaranya pernah dibegal di stasiun. Saya menurut dan menaruh ransel yang berisi laptop beserta kamera saya di depan dada. Kemudian saya tolak semua permintaan setiap orang yang berdiri di pintu keluar stasiun dengan lembutnya, dengan tujuan utama masuk ke gang perumahan penduduk terdekat untuk mencari mushalla. Tentu saja, qadha shalat shubuh hehe…

Setelah itu, saya sarapan ketoprak di seberang stasiun dan mencari angkot untuk ke Baturaden. Naiknya angkot G1, bukan G2 dan minta turun di pertigaan Sumampir dekat KFC. Angkotnya ternyata lebih lama dari busway hahah. Saya menunggu di sebrang stasiun (persis depan parkir sepeda motor) waktu itu hingga 15 menit lebih, mungkin karena hari Minggu jadi sepi.

Setelah itu saya lanjut angkot hijau tua di simpang Sumampir menuju Batu Raden (angkotnya memang hanya itu) dan minta turun di gerbang desa Ketenger. Kemudian saya lanjutkan dengan berjalan kaki masuk ke dalam desa dan belok ke arah kiri ketika mentok menuju taman miniatur dunianya. Kurang lebih jaraknya hanya 800 meter, saya pikir hingga 2 km.

Screenshot_532

Yup, parkiran super luas untuk menampung banyak bus pariwisata dan harga tiket masuknya adalah Rp20.000,-. Setelah cap tiket dan cap tangan juga, kini saya masuk ke tempat yang luar biasa ini. Dari awal masuknya saja isinya semua sudah tempat selpi. Oh my… saya langsung ke kanan untuk segera melihat miniatur lokal dan dunia. Sejujurnya saya sulit sekali mengambil gambar yang damai mengingat banyaknya pengunjung yang kesana kemari dan berisik. Ah, demi gambar yang sesuai ekspektasi, saya rela menunggu hingga kondisinya aman terkendali di setiap miniatur, terutama di air mancur Singapur dan Menara Pisa…

Kalian dapat melihat apa saja yang ada di taman itu lewat foto-foto berikut.

Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur DuniaAda beberapa miniatur yang tidak saya foto karena… sedikit absurd… sorry. Seperti menara dubai dan unta piramida? Tetapi saya tentu saja memberikan apresiasi berlebih kepada pemerintah yang telah membangun ini semua. Oh, Menara Petronasnya ada tulisan coming soon, ternyata masih pondasinya saja.

Ada sewa kostum luar negeri juga seperti kimono dan baju Belanda. Harganya murah, hanya sekitar Rp20.000an. Kemudian di luar itu ada jembatan cantik dan terowongan ban warna-warni, lalu ada belasan fitur menarik lainnya yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Benar, saya males nulisnya hehe. Kabar bahagia untuk kalian yang senang selpi…Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur DuniaTernyata masih banyak lahan yang belum dipakai, semoga kedepannya dapat diperluas dan ditambah fiturnya agar dapat saingan dengan Disney Park hahah.

Oh, alhamdulillah, ternyata cerah.


  • Singkat namun penuh memori

Setelah puas, saya akhirnya keluar dari tempat wisata tersebut dan membeli merchandise berupa baju Baturaden, Small World, seharga Rp55.000. Kemudian saya disarankan agar berjalan menuju air terjun oleh yang punya toko, tidak jauh mungkin sekitar kurang dari dua kilo.

Di tengah perjalanan saya mampir untuk shalat Zhuhur di sebuah masjid. Tetapi mengapa masjidnya sepi ya? Apa belum adzan? Ya sudah saya menunggu dan duduk-duduk di tempat wudlu hingga akhirnya ada seseorang yang datang dan berkata kepada saya bahwa sudah masuk waktu shalat. Apa? Saya periksa di aplikasi jadwal shalat, ternyata Purwokerto telah Zhuhur pada pukul 11.55, sementara di Jakarta pukul 12.04. Pantas.

Perjalanan dilanjutkan ke Curug Bayan, cukup ikuti jalan yang tadi, namun ketika sampai pertigaan tetap lurus. Petunjuknya lumayan jelas kok, tinggal berjalan dengan pasti saja. Setelah itu belok kiri menuju curugnya, jaraknya masih 1 kilo lagi. Namun perjalanannya jauh lebih baik karena cuaca berangsur cerah. MasyaAllah!

Curug Bayan

Yup. Di gerbang masuk curug bisa langsung belok kanan dan ada arah ke Curug Bayan dalam jarak 200 meter. Saya ditagih Rp3.000,- sebagai bukti masuk dan setelah itu tinggal wahnya saja. Curugnya benar-benar friendly, saya menyebrang dengan melepas sepatu saya menyusuri dinginnya sungai agar dapat duduk di tepat di depan curugnya menikmati indahnya alamnya Allah ini.

Curug Bayan

Eh, ada rombongan polisi lagi piknik!

Eh, itu anak orang mau diapain?!

Eh, itu anak orang mau diapain?!

Saya duduk diam, sejenak mendengar desiran dan riuhnya gemuruh air terjun yang begitu sejuk didengar. Iya, diamnya saya disini sudah jelas membabat habis Instagram Story saya. Setelah itu saya berpuas-puas membantai memori kamera saya tanpa ada belas kasihan terhadapnya.

Curug Bayan

Hari itu benar-benar puas. Saya pulang.

Saya belum makan siang, saya memutuskan untuk mampir ke warung kecil di pintu keluar dan memesan kupat tahu. Berbincang-bincang dengan orang sana, bahwa sekarang orang sini lebih senang ke mall daripada ke curug sebagaimana orang-orang sini yang lebih memilih naik kendaraan pribadi daripada angkutan umum (pantas jarang angkotnya). Mengapa jadi kebalikan dari Jakarta ya?

Jam sudah menujukkan pukul 14.00, sedangkan kereta berangkat jam setengah 5 sore. Akhirnya saya membayar makanannya seharga Rp8.000,- dan bergegas pulang. Angkot hijaunya memang cukup sering, namun menunggu angkot G2nya itu loh! Jauh lebih lama dari nungguin baswei. Sudah hampir setengah 4 sore dan yang lewat hanya angkot B1, B1, dan B1. Parahnya, warna angkotnya sama dengan G2, yaitu oranye tua.

Apa bedanya angkot G1 dengan G2? Jadi ini semacam Loopline sepertinya. Angkotnya berputar dalam satu rute hanya searah. Contohnya rute dari utara ke selatan lewat barat lalu memutar ke utara lagi lewat timur dan rute lainnya dari utara ke selatan lewat timur lalu memutar ke utara lagi lewat barat.

Menunggu selama itu, banyak yang menyarankan saya agar naik Gojek, akhirnya saya pesan itu. Eh, pas mau tekan tombol pesan Gojek, angkotnya muncul tepat di depan batang hidung saya. Naik angkot deh jadinya, untung belom pencet tombol. Semoga gak ngetem… semoga nggak ngetem, ngetem…

Alhamdulillah sampai stasiun jam 4. Langsung cetak tiket pulang dan shalat ashar. Saya langsung naik kereta Serayu jam 16.18. Dan selesailah perjalanan.

Teman saya minta oleh-oleh. Screw that! Masih untung saya dapet kereta.

Ini oleh-olehnya sepanjang perjalanan kereta,

KA Serayu KA SerayuMalamnya kembali tidak dapat tidur, namun jauh lebih parah. Hanya dapat tidur sebentar dan tiba-tiba sampai di Jatinegara. Dah, pesen gojeg pulang dah. Selesai dah. Kelar dah.

Sebentar, setiap orang yang saya ajak bicara kok pada kaget ya begitu tahu saya sendirian dari Jakarta ke Purwokerto hanya satu hari tanpa adanya saudara yang tinggal di Purwokerto seorang pun.


  • Galeri

Curug Bayan Curug Bayan Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia Miniatur Dunia

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)