Sumpah PemudaAh, 28 Oktober, hari Sumpah Pemuda. Saya sebenarnya sudah dari awal tahun ingin menulis artikel yang bertema Sumpah Pemuda ini, namun saya hanya menunggu saat yang tepat, yakni tentu saja bertepatan dengan harinya.

Tidak, saya tidak akan membahas bagaimana sejarah Sumpah Pemuda dan lain sebagainya. Saya hanya ingin membahas poin-poin dalam teks Sumpah Pemuda itu sendiri dan kita refleksikan dengan penerapannya di masa-masa sekarang ini.

Kita tahu bahwa isi dari Sumpah Pemuda terdiri dari tiga poin utama, yakni:

  1. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Saya hanya ingin mencocokkan satu per satu poinnya dengan apa yang terjadi sekarang ini, di mulai dari yang paling terakhir terlebih dahulu.


  • Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Kita tahu betapa bangganya kita saat ada orang luar yang berbicara bahasa Indonesia. Saya ingat betul saat-saat histeria ketika Obama mengucapkan “bakso, sate, nasi goreng”.

Bahkan beberapa youtuber luar menyadari hal ini dan memanfaatkannya untuk mendulang pemirsa mereka. Tidak heran jika saat para youtuber dari barat atau pun dari Asia Timur semisal Korea Selatan berbicara sepatah kata bahasa Indonesia, trafik kontennya langsung melesat tinggi.

Waw, benar-benar sebuah dedikasi untuk menjunjung tinggi bahasa nasional sendiri bukan? Lalu apa yang terjadi di “area internal” masyarakat itu sendiri?

Ironinya, sebagian besar masyarakat Indonesia itu sendiri justru hampir-hampir tidak mengenal bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sekarang siapa di sini yang ‘langganan’ mendapatkan nilai bagus dari mata pelajaran Bahasa Indonesia?

Baiklah, saya mungkin tidak akan seekstrim itu. Tapi pertanyaannya, sejauh mana kita memahami Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sendiri?

Saya paham mungkin banyak orang Amerika sana yang masih tidak memahami pedoman dasar (grammar) bahasa mereka sendiri seperti, banyak dari mereka yang masih tertukar mana penggunaan “your” dan “you’re”, atau “their” dan “there”, serta masih banyak lagi.

Namun, banyak orang Amerika itu sendiri sepertinya tidak tersinggung saat banyak yang berkata “English is stupid” karena pengucapan antar kata yang tidak konsisten.

Orang kita justru sebaliknya, justru sangat marah jika bahasa nasional kita ini dicemooh orang lain. Tetapi kenyataannya, banyak dari kita yang ternyata masih sangat payah dengan bahasa kita sendiri.

Bahkan banyak yang enggan menerima koreksi saat sebagian orang-orang kita menuliskan sesuatu dengan begitu salah, sangat tidak tepat tanda bacanya, bahkan kata-katanya cenderung semaunya. Dalihnya, “Ah yang penting orang ngerti“.

Say, mengapa kita begitu menyembarangi bahasa kita sendiri? Bahkan masih banyak dari kita yang tidak memahami bahasa Indonesia yang baku.

Saya tidak menuntut untuk mengerti istilah-istilah sulit, namun saat saya membaca surat lamaran kerja dari para calon pelamar kerja, banyak dari surat lamaran tersebut diisi bukan dengan kata-kata resmi melainkan dengan kata-kata pergaulan sehari-hari. Sedangkan surat lamaran kerja resmi, kebanyakan kata-katanya benar-benar seperti hasil salin-tempel dari Internet secara mentah.

Hanya sedikit pelamar kerja yang benar-benar menulis dengan sepenuh hati. Tidak mengapa melihat rangkaian kata-kata resmi dari contohbsurat lamaran yang telah beredar di internet, namun setidaknya saya hanya ingin satu atau dua kalimat resmi yang benar-benar dari hati.

Dan yang paling agak sedikit mengganggu saya, saat mengadakan perkumpulan resmi teman-teman saya dari berbagai kalangan dan suku, sepertinya masing-masing cenderung membuat kelompoknya dan berbicara dengan bahasa daerah mereka sendiri-sendiri.

Artinya, bahasa Indonesia masih belum cukup menjadi bahasa pemersatu di negeri ini.


  • Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Negara Indonesia dianugerahi dengan berbagai macam SARA, yakni suku, agama, ras, dan anatomi. Bahkan kita mengikatnya dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika.

Kita bangga jika keanekaragaman kita diekspos media luar. Kita pun marah jika orang luar menyentil dan mengusik keberagaman kita.

Lalu apakah penerapannya seharmonis itu?

Sekarang cobalah kita pergi ke sebuah portal situs berita yang kita rasa cukup besar dan carilah berita yang menyinggung suku, agama, atau ras tertentu, kemudian lihatlah bagaimana warga dunia maya berkomentar.

Nyatanya, banyak sekali kasus pertikaian yang berhubungan dengan suku, ras, dan agama tersebut.

Masing-masing membentuk solidaritas dan perkumpulannya sendiri, serta mereka benar-benar keras kepala setelah itu dan tidak ingin dikalahkan.

Saya pernah mendengar salah seorang dengan beraninya melanggar peraturan dan berkata, “Saya dari daerah X! Jangan macam-macam!”

Saya ladeni, “Ya, terus? Apa di daerahmu tidak ada orang yang diajari sopan santun?”

Saya pikir kejadian itu hanya terjadi pada satu atau dua orang saja, ternyata gengsi kelompok benar-benar merata di masing-masing wilayah. Hampir setiap minggu saya selalu menemukan berita atau postingan di media sosial tentang ‘bentrok’ antar wilayah karena SARA.

Dan saya sendiri hampir berpikir jika citra bangsa kita ini baru terlihat baik saat ada kegiatan pengambilan gambar saja. Baru sedikit sekali orang yang benar-benar menerapkan keharmonisan secara menyeluruh.

Lagi-lagi poin Sumpah Pemuda yang hampir tidak terlihat penerapannya di masa modern ini.


  • mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Ini poin yang terakhir, yang paling kuat.

Kita mungkin begitu senang saat ada video atau foto yang berisikan anak-anak bangsa kita yang berlari bahagia sambil mengibarkan sang saka bendera merah putih. Atau para pendaki gunung yang mengibarkan bendera Indonesia saat mereka tiba di puncak.

Sebuah fenomena yang membanggakan.

Tetapi sekali lagi, bagaimana “pengamalannya”?

Mungkin sudah sering kita mendengar banyak orang-orang kita yang lebih memilih berkarya di luar negeri.

Alasan mereka lebih memilih berkarir di negara maju, salah satunya tentu saja, “di negeri sendiri saya tidak dihargai.”

Jadi peribahasa “daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri“, ternyata tidak berlaku untuk sebagian besar kita.

Ditambah lagi, banyak orang-orang berprestasi dan membawa oleh-oleh dari luar justru bukan hanya tidak didukung oleh pemerintah setempat, namun ternyata juga diusir dari negaranya sendiri.

Saat orang-orang berprestasi tersebut kembali ke negara asalnya, Indonesia, mereka pastinya selalu bercerita bahwa di negara maju mereka mendapatkan pelayanan baik begini dan begitu.

Tetapi ada lawan bicaranya yang justru membalas mengusirnya, “Yaudah tinggal aja di negara sono!”

Pada akhirnya jelaslah mengapa banyak orang-orang kita yang berprestasi di negara maju lebih memilih untuk mengembangkan karirnya di sana.

Baiklah, di sisi lain, saya coba mengambil contoh perbandingan dari negara maju itu sendiri. Saya langsung katakan saja dari negara tetangga imut yang kemajuannya telah berkembang sangat pesat.

Saya lansir dari situs Quora,  tentang jawaban dari salah seorang warga Singapura yang lebih memilih meninggalkan negaranya sendiri dan menjadi warga negara asing, Australia. Namun pada akhirnya, ia ingin kembali lagi menjadi warga negara asalnya, Singapura.

Lalu apa tanggapan orang Singapura itu sendiri melihat kelakuan warganya yang secara sengaja meninggalkan negaranya untuk tinggal di negara lain, padahal orang tersebut bukanlah siapa-siapa, orang berprestasi bukan, orang berpengaruh juga bukan.

Mungkin ada dari kita yang akan menanggapi, “Ngapain balik lagi ke sini? Kita nggak butuh dirimu yang udah keluar milih negara lain daripada tinggal di sini. Situ siapa? Orang penting juga bukan!

Namun ternyata bukan seperti itu respon orang Singapura, melainkan seperti ini:

Sumpah Pemuda

“Dari sanalah kau berasal. Kau mungkin membenci negara tempat kau dilahirkan dan dibesarkan. Tetapi saat kau pindah ke negara orang, kau akan menyadari bahwa tanah airmu benar-benar unik dan berbeda. Tidak mengapa, itu wajar. Kembalilah, selamat datang di rumah…”

Duh, saya sendiri sampai terharu melihat bagaimana mereka memperlakukan warga negaranya yang sengaja minggat tetapi ingin kembali.


Jadi, sampai mana kiprah kita dalam semangat membangun negeri ini? Bisakah kita mengeluarkan tenaga ekstra untuk terus memperbaiki negeri tanpa harus menunggu adanya kerusakan atau bencana terlebih dahulu?

Mungkin dapat dimulai dari hal yang ringan, seperti saat kita berwisata ke tempat unik, jangan lupa untuk memberi review tentang bagaimana jalur dan aksesnya, berapa harga masuknya. Jangan sampai negara yang katanya indah ini namun justru warganya lebih memilih menjadi turis di negara lain hanya karena destinasi wisata di sana lebih mudah, lebih jelas, dan lebih manusiawi.

Atau mungkin kita dapat menjadi pahlawan dengan melaporkan setiap ketidaknyamanan yang terjadi. Saat bertemu jalan yang rusak, cobalah untuk memotretnya dan melaporkannya ke dinas setempat via email atau jejaring sosial resminya.

Banyak sekali hal ekstra yang dapat kita lakukan sebagai usaha untuk tidak mengecewakan para pahlawan yang telah memerdekakan negeri ini dari para penjajah yang sebenarnya mereka juga ingin membangun negeri, namun dengan identitas mereka tentunya.

Jadi, semangat membangun negeri ini jangan sampai kalah dengan para penjajah dulu. Lihat? Siapa yang membangun sebagian besar rel kereta api di negeri ini? Kita harus lebih baik dari itu, minimal dengan peduli dengan bagaimana lingkungan tempat kita tinggal terlebih dahulu.

Cobalah untuk menanam pohon, membersihkan selokan, aktif melaporkan ketidaknyamanan, berikan edukasi dan penyuluhan, atau hanya membayar pajak pun sebenarnya sudah cukup. 😉

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap