Teori Konspirasi

Saya berbuka puasa bersama dengan beberapa kolega lama saya di Tangerang pada Ramadan kemarin. Kami berbincang-bincang masalah pekerjaan dan kami saling bertukar tips.

Hingga akhirnya salah satu dari kolega saya mulai membahas salah satu teori konspirasi yang ia yakini. Temannya memberi isyarat kepada saya jika hal ini memang “sudah menjadi sifat”nya dan kemungkinan akan sedikit sengit.

Benar saja, saya yang menjadi target perbincangan teori konspirasi yang ia yakini, dan berusaha untuk “memasukkan saya ke dalam logika”nya. Namun saya dengan tenang dan terhibur berusaha untuk mementahkan logikanya kembali, mencoba menerawang apa yang membuat ia begitu bernafsu dengan teori tersebut.

Hingga akhirnya saya paham inti dari motifnya menjejali saya dengan teori konspirasi yang ia anut. Ia meyakini jika ada segelintir orang yang mencoba memengaruhi dunia dengan sistem yang selama ini diyakini oleh banyak orang.

Segelintir orang atau organisasi tersebut sangat lihai dalam menjadi “mafia” dan bertanggung jawab untuk mengatur seluruh sistem dan kurikulum di seluruh dunia selama ini.

Namun sebelum itu, memang apa sih teori konspirasi yang ia yakini? “Bumi Datar (Flat Earth)” 😂

Yup, dia merasa penjelasan mengenai bumi datar masuk ke dalam logikanya. Dan ia menekankan bahwa ada organisasi terselubung yang ingin “menyesatkan” umat manusia dengan memasukkan teori bahwa bumi itu bulat.

Dan karena organisasi tersembunyi itu sukses mempengaruhi masyarakat di dunia bahwasanya bumi itu bulat, mereka mencoba mempengaruhi masyarakat dengan teori lainnya seperti vaksin dan lain sebagainya.

Saya sendiri hanya menahan tawa, terhibur. Namun di satu sisi saya agak mengernyitkan dahi sebab,

Yang paling sulit jika berbicara dengan orang-orang yang telah dicuci otak adalah mereka telah menganggap dirinyalah yang benar dan orang lainlah yang telah tercuci otaknya.

Namun alhamdulillah saya pada akhirnya telah sedikit ‘menundukkan’ sang kolega dibantu dengan temannya sehingga menjadi ‘jinak’ kembali.

Sepanjang jalan saya hanya berpikir, karena inikah banyak sekali aliran-aliran menyimpang yang memiliki pengikut yang tidak sedikit?

Maka dari itu, sebagai luapan rasa kekhawatiran saya, saya ingin menyajikan artikel ini dengan harapan para pembaca dapat lebih berhati-hati dengan fenomena dahsyatnya teori konspirasi ini yang selama ini saya pikir hanya main-main.

Mungkin beberapa dari kita telah “selamat” dari teori konspirasi bumi datar, namun belum tentu selamat dari teori-teori konspirasi lainnya.

Sebelumnya memang apa sih tujuan dari orang-orang ‘iseng’ yang mengeluarkan teori atau aliran konspirasi melenceng seperti itu?

Dear, perlu diketahui,

Selain harta, yang diincar oleh nafsu manusia adalah jabatan. Banyak orang yang bahagia jika memiliki banyak pengikut yang dapat mereka atur-atur.

Inilah lima pencegahan dari saya dengan harapan kalian dapat memilah teori-teori atau aliran konspirasi yang bertebaran di luar sana.


1. Not reinventing the wheel

Apa maksudnya “Not reinventing the wheel” atau “merancang kembali struktur roda”?

Dear, roda itu berbentuk lingkaran dan memang sudah nyaman kita pakai. Apa yang akan terjadi jika ada segelintir orang yang ingin mengubah bentuk roda menjadi misalnya, bujur sangkar, segitiga, atau segi delapan?

Kita pasti akan dengan mantap memilih roda yang berbentuk lingkaran.

Namun tetap ada segelintir orang yang tertarik untuk mempercayai jika roda itu tidak selamanya dapat berbentuk lingkaran. Mereka membuat teori jika roda yang berbentuk lingkaran itu sudah usang dan harus diperbarui agar terlihat ‘lebih modern’.

Mereka membuat beragam artikel, karya ‘ilmiah’, hingga video-video yang memperkuat landasan teori mereka bahwa bentuk roda sudah harus diubah dari lingkaran ke bentuk lain.

Sayangnya, ada saja beberapa orang yang menjadi pengikut teori tersebut. Apa alasan kebanyakan orang berhasil dicuci otak oleh penganut teori “roda segi empat” misalnya?

Teori tersebut cocok ke dalam logika para pengikutnya, dan teori tersebut kemudian digembok oleh sang pencetus agar pengikutnya tidak dapat menerima teori lain.

Sama seperti saat kita kecil dahulu, saat diberitahu oleh orang tua kita bahwa jangan menuruti bujukan sembarang orang yang memberi permen sebab bisa jadi ia adalah penculik, para pencetus teori konspirasi menggunakan trik serupa. Inilah mengapa mereka dapat berhasil mengunci teori tersebut di dalam pikiran kita.

Jadi, jika suatu saat kita mendapatkan teori asing yang mencoba untuk mengubah sistem yang telah berjalan bertahun-tahun, dimohon agar diteliti dahulu kebenarannya dengan mengumpulkan wacana dari berbagai sumber.


2. Hargai orang berilmu

Kebanyakan penganut teori konspirasi atau aliran yang menyimpang adalah mereka sudah enggan menilik pendapat yang berbeda.

Padahal dulunya, para penganut teori konspirasi tersebut bukanlah orang cerdas dan mungkin cenderung berbuat semaunya.

Tidak heran jika para penganut aliran-aliran aneh memiliki tipikal keras kepala dan merasa dirinya paling benar, sebab tidak ada lagi ilmu yang dapat mereka banggakan diluar itu.

Perlu kita ketahui, sebelum kita menelan logika dari sebuah teori konspirasi, di luar sana banyak sekali orang-orang mengalokasikan waktunya untuk menuntut ilmu di saat orang-orang bersantai dan bermain.

Orang-orang kritis dan berilmu itulah yang seharusnya kita jadikan teman diskusi dari setiap teori-teori konspirasi yang kita temui.

Ingat, menggunakan jasa orang yang berilmu itu sama dengan menghargai mereka.

Mengapa kita ingin menelan obat tanpa resep dokter? Mengapa kita ingin menelan ajaran asing tanpa ada bimbingan dari orang bijak nan berilmu?

Sekarang lihat tubuh kita, jika ada partikel asing masuk dari luar, maka sistem imun kita akan berada di garda depan, menyaring seluruh partikel dan memilah mana partikel asing yang diizinkan masuk dan mana yang ditolak.

Begitu pun dengan setiap teori asing yang masuk, demi kemaslahatan dan kedamaian hidup di tengah masyarakat dan meminimalisir saling curiga serta debat kusir, orang-orang yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menimba ilmu harus kita jadikan orang yang bertugas di garda depan melindungi kita dari berbagai metode asing yang mungkin akan mengganggu keharmonisan masyarakat.


3. Belajar objektif

Objektif adalah hal yang cukup sulit dilakukan bagi sebagian orang. Sebab orang yang objektif dituntut untuk memandang masalah dari berbagai sisi, dengan mengesampingkan opini pribadi.

Kebalikan dari objektif adalah subjektif, atau melihat masalah hanya menurut pandangan pribadinya saja.

Kebanyakan orang justru cenderung subjektif dalam memandang sebuah masalah, orang-orang subjektif memandang masalah hanya dari rasa suka atau tidak suka, atau dari selera logika berpikirnya saja. Padahal ini menjadi sasaran empuk para pencetus teori konspirasi untuk mencari pengikut.

Subjektif hanya dapat diaplikasikan jika kita menilai karya seni. Misalnya, seseorang tidak suka musik pop, namun seseorang yang lainnya lagi justru sangat menggemarinya.

Subjektif tidak dapat diaplikasikan dalam menilai sebuah ilmu, karena ilmu memiliki pengaruh bagi khalayak luas, bukan untuk diri seseorang saja.

Inilah kita memerlukan orang-orang objektif nan kritis dalam memilah seluruh informasi dari luar, tak terkecuali teori konspirasi dan aliran asing. Dan merekalah yang menyajikan kesimpulan apakah informasi tersebut layak didengar atau harus ditinggalkan.

Orang-orang objektif terbiasa memikirkan masalah orang banyak, sedangkan orang-orang subjektif lebih memilih memikirkan masalah mereka pribadi dan cenderung mengabaikan orang banyak.


4. Keterbukaan informasi

Saya sendiri sebenarnya tidak masalah jika seseorang ingin menganut teori tertentu selama memiliki muara pada hulu yang sama.

Contohnya, sebuah masalah matematika memiliki beragam cara penyelesaian dan tetap mendapatkan hasil yang sama.

Atau, sebuah masalah pemrograman memiliki beragam solusi algoritma dan program tetap dapat berjalan dengan hasil yang diharapkan.

Inilah mengapa muncul pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”. Bukankah perbedaan itu indah?

Jika para penganut teori memiliki dasar hulu yang berlaku, mereka akan cenderung dapat menjelaskan mengapa dengan teori tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sama.

Berbeda dengan teori yang menggantung, kebanyakan pengikutnya akan buntu dan perdebatan cenderung stagnan atau berputar-putar di lingkup yang itu-itu saja.

Saya biasanya mengakhiri perbincangan jika seseorang mencetuskan sebuah teori yang dimulai dengan frasa “menurut saya…”

Karena saya tahu, orang yang terlalu sering berucap “menurut saya” biasanya hanya memaksa lawan bicara untuk mengikuti nafsu logikanya saja, tidak peduli sebuah logika dapat diterima atau tidak. Mereka hanya tidak memiliki dasar yang pasti dan dapat dipertanggungjawabkan.


5. Dua arah teori

Seseorang mencetuskan teori sebab ia melihat adanya sebuah masalah dan adanya sebuah potensi untuk diselesaikan.

Coba kita berbicara dulu mengenai beragam teori yang sudah diajarkan dari sekolah. Misalnya, teori-teori yang ada di buku pelajaran matematika, fisika, kimia, hingga bahkan ekonomi dan sosiologi.

Semua teori tersebut berbicara tentang sebuah masalah, dan mengarah kepada sebuah solusi yang direkomendasikan.

Bahkan, beberapa teori menghasilkan produk berupa rumus dan formula.

Teori yang baik bukanlah teori yang hanya membuka sebuah masalah, namun juga menyediakan beragam solusi yang memungkinkan.

Masalahnya, banyak sekali para pengikut sebuah teori yang mereka hanya bisa membeberkan masalah bahkan cenderung menakut-nakuti.

Saat saya bertanya mengenai apa yang harus dilakukan untuk menyikapi masalah tersebut atau bagaimana teorinya, mereka terbungkam sejuta bahasa.

Bagaimana orang-orang seperti itu ingin dapat dipercaya oleh orang lain? Bahkan teori yang mereka anut saja masih banyak mengundang sejumlah tanda tanya.

Pada akhirnya mereka hanya berkata, “ikuti saja kami”. Oh dear God, saya dari kecil sudah dididik orang tua saya agar tidak mengikuti orang yang tidak dikenal hehe…


Yap, semoga lima tips di atas dapat membantu kita untuk menyaring informasi dari luar terutama beragam teori konspirasi dan aliran asing.

Saya tidak berkata jika teori konspirasi itu adalah salah, sebab beberapa teori konspirasi ada yang ternyata benar terjadi. Namun saya di sini lebih menekankan kepada bagaimana cara memilah berbagai teori konspirasi tersebut agar kita tidak menjadi pengikut buta.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas