Jangan Banyak Cincau: Menyelisihi Alasan-Alasan Perokok

Alasan Perokok

Walaupun saya bukan perokok, sebenarnya saya tidak memiliki begitu masalah dengan para perokok. Beberapa teman saya adalah perokok meski dengan bantuan semangat saya, frekuensi merokok mereka berkurang. Bahkan, terkadang saya sendiri yang menyuruh mereka untuk merokok (lho kok?) karena jika langsung menyuruh berhenti total, mereka akan tersiksa dengan keadiktifan dari rokok tersebut. Jadi saya pakai metode pelan-pelan.

Jikalau begitu, apa tujuan saya membuat artikel ini?

Saya sebenarnya agak terganggu atau bahkan sangat terganggu dengan artikel-artikel internet mengenai pembenaran-pembenaran para perokok yang sering saya jumpai. Padahal mah, kalau mau merokok, ya merokok saja, tidak usah banyak alasan ini dan itu.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa merokok itu merupakan kecerdasan. What?


  • Kecerdasan “sosial” para perokok

Alasan-alasan yang sering disebutkan para perokok adalah mereka memiliki kecerdasan spesial yang tidak dimiliki oleh orang lain. Apa itu? Mereka berkata dengan bangganya bahwa itu adalah kecerdasan sosial. Seperti apa?

Contoh kecerdasan sosial yang terjadi di kalangan para perokok adalah komunikasi kepada orang yang tidak mereka kenal, perihal meminta korek untuk menyalakan rokok mereka. Sudah, itu saja. Saya tidak pernah mendengarkan adanya contoh lain yang begitu mereka sebut-sebut sebagai kecerdasan sosial tersebut selain dari meminjam korek atau menawarkan rokok.

Hanya sebatas itu saja kah kecerdasan sosial mereka?

Apakah mereka yang kemudian menjadi teman sosial para perokok karena korek dan rokok tersebut kemudian menjadi sahabat dan saling membantu dengan kebaikan? Well, most likely not. Kemungkinan besar tidak. Bahkan orang yang tidak merokok pun dapat menjalin hubungan dengan orang lain semisal menawarkan makanan atau sejenisnya.

Jika demikian, di mana sesuatu yang digaung-gaungkan perokok sebagai “kecerdasan” itu?

Justru yang saya sering lihat adalah mereka kerap melanggar norma sosial dengan merokok dekat orang hamil, merokok di angkutan umum, merokok di tempat yang sudah jelas larangan rokoknya. Terlebih, mereka mengabaikan orang-orang yang secara terang-terangan terganggu dengan asap rokok mereka.

Masih mau dikatakan bahwa itu adalah “Kecerdasan Sosial”?

Terkadang jika dinasehati, bukannya meminta maaf, justru semakin menjadi.

Sebatas itu kah, “kecerdasan sosial” para perokok?


  • Kan di ruang terbuka

Yang penting jendelanya di buka kan? Merupakan alasan praktis yang sebenarnya tidak masuk akal yang sering digaung-gaungkan para perokok dengan dalih asap rokoknya bisa langsung ke luar jendela. Yang terjadi dan berdasarkan fakta di lapangan adalah, asap para perokok yang sudah tiba di mulut jendela pun dikembalikan lagi oleh angin ke dalam.

Ini kerap terjadi di angkutan umum atau di tempat yang ada larangan merokok. Semua alasan dilancarkan demi melegalkan nafsu adiktif rokok mereka.

Padahal sebenarnya jika ingin ketat, di ruang terbuka pun sebenarnya tidak diperbolehkan untuk merokok khususnya di ruang publik seperti taman, dan tempat-tempat wisata yang identik dengan keramaian. Polusi udara pun dapat terjadi bukan hanya karena knalpot atau cerobong pabrik. Sulutan api dari rokok-rokok yang dihisap orang-orang pun dapat membuat indeks kebersihan udara menjadi anjlok.

Apa lagi jika merokok sambil berkendara. Tidak jarang saya mendapatkan laporan dari orang-orang yang mengeluh asapnya langsung mengenai wajah mereka bahkan percikan api dari para perokok tersebut. Lebih parah, rok teman saya hampir terbakar karena ada pengendara yang buang puntung rokok yang masih menyala sembarangan.

Lagi, para perokok di jalanan hanya membuat pembenaran dengan menyalahkan orang lain karena tidak menggunakan helm full face atau pelindung kepala lain demi melancarkan nafsu rokok mereka.


  • Menyejahterakan petani tembakau

Alasan yang dapat menjebak orang lain berikutnya adalah, para perokok ingin turut menyejahterakan petani tembakau. Oh ya? Mengapa tidak sekalian kalian tenggak saja minuman keras agar dapat menyejahterakan petani anggur? Mengapa validitas alasan kok setengah-setengah?

Lagi, mereka berkilah setidaknya ingin menyejahterakan buruh pabrik rokok. Saya tanya, sewaktu para perokok mendengar banyak buruh pabrik rokok yang terkena PHK apakah mereka kemudian peduli? Saya hanya geleng-geleng kepala.

Terlebih, para perokok itu sendiri terkadang sering mengeluh diri mereka tidak sejahtera karena uang mereka yang mereka habiskan untuk membeli rokok dan membelikannya untuk teman-teman mereka. Suatu paradoks yang bahkan saya sendiri sulit untuk mencerna alasan-alasan para perokok tersebut.

Bagaimana seseorang itu peduli dengan kesejahteraan orang lain jika dia sendiri tidak peduli kesejahteraan dirinya sendiri, bahkan ini bukan sama sekali termasuk bagian dari rela berkorban.


  • Merokok itu sehat

Tidak pernah mendengar ada orang meninggal karena rokok, begitu alasan berikutnya para perokok. Yakin? Tidak pernah mendengar atau tidak pernah mau mendengar? Padahal kini zaman sudah canggih. Orang-orang terpencil pun sekarang sudah mahir menggunakan jejaring sosial, masak googling saja tidak bisa?

Beruntung para perokok tersebut merokok di daerah terbuka dan bercampur dengan oksigen meskipun kemudian udara menjadi tercemar karena ulah mereka. Namun tetap saja mungkin ada bagian-bagian dari tubuh mereka yang mulai berkurang fungsinya meskipun dokter berkata bahwa paru-paru mereka tidak masalah.

Sekarang yang lebih baru, para perokok bangga karena cukai rokoknya dapat menambal anggaran kesehatan negara, dan itu meniru negara tetangga. You know? Yang dikeluhkan dokter akibat penyakit rokok jauh lebih besar daripada cukainya itu sendiri. Karena yang terkena penyakit bukan karena perokok saja, yang tidak merokok pun menjadi terkena imbasnya karena asap dari para perokok tersebut.

Ada lagi, katanya sebagian perokok, merokok tidak membatalkan puasa karena tidak ada elemen yang masuk ke dalam rongga tubuh. Itu kan hanya asap? Kilahnya. Sebelum itu, saya ingin tahu ulama mana yang mereka jadikan panutan. Jika di akhirat ditanya oleh Allah yang meminta pertanggungjawaban atas dalih mereka itu bagaimana?

Lalu, jika merokok tidak membatalkan puasa, mengapa penyakit yang dialami oleh perokok sebagian besar adalah penyakit dalam? Katanya tidak ada elemen yang masuk? Asap knalpot dan pabrik adalah tidak dapat dihindari, jika perokok apakah tidak dapat menghindari asap rokok di bulan suci?

Ucing ala incess…


  • Kesimpulan

Kembali ke pernyataan awal, meskipun saya bukan perokok, sebenarnya saya tidak memiliki begitu masalah dengan para perokok. Beberapa teman saya adalah perokok meski dengan bantuan semangat saya, frekuensi merokok mereka berkurang.

Saya hanya tidak betah dengan alasan-alasan yang dibuat para perokok untuk melegalkan aksi mereka. Jika merokok itu adalah suatu hal yang lumrah, mengapa rambu larangan merokok itu dipasang di mana-mana?

Jadi, Jika mau ngerokok ya ngerokok aja, nggak usah banyak cincau!

Alasan lucu para perokok itu lah yang membuat mereka semakin tidak dihargai.

Ada teman saya yang sudah mulai mengurangi rokok, dan yang membuat saya kagum adalah, teman saya meminta maaf jika dia benar-benar ingin merokok sehingga saya beri kelonggaran padanya. Kemudian dia merokok di tempat yang sebisa mungkin jauh dari kerumunan.

Di samping itu, dia tetap memiliki cita-cita untuk berhenti merokok.

Ada lagi teman saya yang dulunya adalah perokok. Namun sekarang dia sudah benar-benar berhenti merokok. Saya tanya, kok bisa? Dia jawab, tekad saja, berhenti kok. Tak puas, saya melengkapi pertanyaan saya, “Apa yang kamu lakukan ketika zat adiktifnya sedang naik?”

Dia jawab, “Saya hanya menghindari keinginan merokok dengan jajan yang lain, seperti teh atau sebagainya.”

Mantap.

Ada lagi teman saya yang benar-benar berhenti merokok karena dia tidak enak dengan orang yang terganggu dengan asap rokoknya. “Berdosa saya.” Begitu ucapnya. Dia hanya menggantikan rokok dengan permen hingga nafsu rokoknya benar-benar hilang.


  • Penutup

Terakhir, jika ada perokok yang bilang, “Yang tidak merokok diam saja!”

Saya katakan, “Oh begitu? Maksudnya jika ada orang mabok, yang tidak mabok diam saja. Jika ada orang berjudi, yang tidak judi diam saja. Jika ada koruptor, yang tidak korupsi diam saja. Begitu keinginanmu kan?”

Sekarang, kita tahu bahwa cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan hambatan dari jalanan. Pertanyaan saya, jika ada perokok yang buang puntungnya sembarangan dan apinya masih menyala, apa kabar imannya?


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)