Tes Kepribadian

Apa kalian pernah mengikuti sebuah tes kepribadian? Saya pernah, rekan-rekan saya juga.

Tes kepribadian yang saya ikuti pada saat itu adalah St*fin, yang mana sebenarnya bukan tes, melainkan hanya sebuah identifikasi sidik jari kemudian keluar hasilnya secara hampir instan.

Setelah itu, sang promotor atau penyedia tes akan menjelaskan hasil yang telah kita dapatkan.

Saya mendapatkan “Insting”, dan saya akui memang pembahasannya cukup akurat, lebih dari 90% benar-benar sesuai dengan sifat saya.

Karena kagum, rekan, karyawan, dan teman saya semuanya saya ajak untuk mengikuti tes itu dan keluarlah hasilnya.

Kemudian promotornya menjelaskan begini dan begitu, kami lumayan riuh karena sebagian besarnya akurat. Belum lagi kemudian sang promotor menjelaskan hubungan antar kepribadian satu sama lain, mendukung dan menaklukan.

Kami cukup puas pada saat itu.

Dan ada juga yang mengikuti tes-tes kepribadian lainnya, yang mana hasilnya ada yang INTJ, ENFJ, dan seterusnya.

Semua itu bertujuan agar seseorang lebih mengenali bagaimana karakter diri dan bagaimana perlakuan yang cocok untuknya.

Hanya saja, tes kepribadian ini bisa berubah menjadi sesuatu yang justru tidak ingin kita dekati. Apa itu?


Punya ahli masing-masing

Beberapa orang ternyata cukup alergi dengan tes kepribadian. Saya yang waktu itu cukup bersemangat menceritakan pengalaman tes kepribadian saya kepada orang-orang itu, menjadi urung dan mencoba untuk bersimpati.

Alih-alih saya mencoba untuk mencari tahu apa penyebabnya.

Setelah saya kumpulkan, ternyata dari sekian alasan, muaranya hanya satu. Tes kepribadian ternyata menjadi alat untuk menghakimi seseorang.

Sungguh itu sangat bertentangan dengan tujuan dari tes kepribadian itu sendiri.

Sebuah produk tes yang muncul dengan penelitian susah-payah demi merangkul banyak orang, ternyata harus berakhir menjadi senjata traumatik bagi mereka.

Introvert itu tidak bisa begini!

Sensing itu wajib begitu!

INTJ itu orangnya pasti blablabla!

Parahnya, penghakiman sepihak itu justru berasal dari para promotornya itu sendiri. Mereka, sang promotor tidak menyadari bahwa mereka mendapatkan pelatihan untuk menyampaikan, bukan untuk menjadi psikolog dadakan.

Akibatnya, tidak sedikit perlakuan yang menyimpang, yang sudah tidak sesuai dengan hasil tes kepribadian, membuat orang lain tidak nyaman hanya karena yang satu merasa lebih tahu daripada yang lainnya.

Tidak jarang ada promotor yang bersikukuh menilai para peserta tes meski mereka sudah mantap menggeleng, menolak penilaian promotor tersebut.

Apalagi saat hasil tesnya ‘meleset’.


Sebuah kisah

Lalu apa tujuan saya mengajak rekan dan kenalan saya untuk tes kepribadian?

Pastinya tujuan utama saya bukanlah untuk menilai dan menghakimi mereka secara sepihak.

Tujuan saya mengetahui kepribadian mereka adalah agar dapat memperlakukan orang-orang yang saya sayangi lebih baik lagi.

Misalnya, saya menjadi mencoba memahami orang introvert dan mengajak mereka berbicara secara introvert. Begitu pula dengan ekstrovert.

Atau ada orang yang hasil tesnya ternyata tidak cocok menjadi programmer, padahal ia begitu ingin jadi programmer.

Sementara saya sudah tahu bahwa dia memang benar-benar sangat tidak cocok menjadi programmer. Dengan kata lain, kemampuan memecahkan masalahnya sangat rendah.

Lalu apa yang saya lakukan? Apakah saya kemudian bilang bahwa ia tidak cocok menjadi programmer dan menyuruhnya dengan serta-merta mencari hobi lain? Tidak, tentu saja. Itu bukanlah hal yang etis.

Melainkan, saya jelaskan bagaimana programming yang kompleks itu sebenarnya. Saat ia ternyata ciut nyalinya dan menyerah, baru saya mencoba untuk menebak apa yang ia suka dan berbicara dari hati ke hati.

Barulah saya tahu ternyata ia berbakat untuk berkomunikasi dengan orang lain, seperti bernegoisasi dan tidak merasa malu untuk berbicara dengan orang yang baru saja ia kenal.

Setelah itu saya arahkan untuk menerjuni pekerjaan humaniora seperti diplomat, HRD, atau digital marketing. Sekarang dia sudah berbahagia di posisinya.


Mereka yang paham

Saya sebutkan sekali lagi bahwa tujuan saya mengetahui kepribadian orang lain adalah untuk memperlakukan orang lain lebih baik lagi.

Jadi sebenarnya bobotnya bukan berada di orang lain, melainkan di dalam diri saya sendiri.

Maksudnya, dengan mengetahui kepribadian orang lain, saya jadi dapat mengetahui apa yang harus dan jangan saya lakukan dengan orang lain tersebut. Mulai dari tema obrolan, kegemaran atau hobi, hingga bagaimana cara seseorang menanggapi sesuatu.

Apalagi manfaat saya mempelajari kepribadian orang lain, adalah membuat orang lain merasa bahwa saya benar-benar paham bagaimana tabiatnya tanpa ada judging atau penilaian sepihak.

Saya memahami bahwa setiap orang ingin dimengerti, dan alat untuk mempelajari itu adalah dengan tes kepribadian.

Contoh, ada orang yang sulit menyelesaikan skripsinya. Ia bilang, beragam saran dari orang lain sudah ia lakukan dari mulai tidur, menonton film, sampai berwisata. Namun nyatanya, sampai dua tahun pun ia masih belum dapat selesai skripsinya.

Saya menyarankannya untuk tes kepribadian, dan ia menurut.

Setelah saya baca hasilnya, saya kemudian mencoba untuk menyuguhkan usulan agar ia sering-sering bermain keluar, berjalan santai, hingga mampir di pusat perbelanjaan sekadar untuk berjalan dan melihat-lihat.

Ternyata benar, healingnya berada di sana. Saya pun turut gembira saat saya mendengar skripsinya pada akhirnya selesai.

Saya ikut berbahagia saat ternyata saya lebih dapat memberikan kenyamanan kepada orang lain berdasarkan hasil tes kepribadian mereka, membantu menyelesaikan masalah mereka sesuai jalan yang memang sudah menjadi utas DNA mereka.


Amunisi berbahaya

Kepribadian itu memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental.

Seseorang yang telah memahami bagaimana wataknya dan ke mana seharusnya ia melangkah, tentu akan memperbaiki suasana hatinya.

Berbeda dengan orang yang menjadi ciut sebab ada yang memberitahunya bahwa kepribadiannya ternyata mengekangnya dari aktivitas ini dan itu. Apalagi sampai mengeksploitasi apa kekurangannya dan menjadikannya itu alat untuk membuatnya depresi.

Saya menaruh perhatian mendalam terhadap orang-orang yang tidak beruntung seperti itu.

Saat ada seseorang bilang, “Kata promotornya saya itu tidak bisa merencanakan sesuatu.”

Saya katakan, “Tidak, tidak sama sekali. Kau bisa merencanakan sesuatu, tetapi kau hanya harus tau apa bidang yang harus kau rencanakan dan tetaplah fokus di sana.”

Bukan sekali dua kali saya temukan orang yang berpindah haluan dari apa yang menjadi hobi mereka tanpa dasar dan yang mereka jumpai hanyalah rangkaian kegagalan serta jalan buntu.

Yang membuat tambah parah, mereka sudah yakin apa yang promotornya suruh namun mereka tidak memahami detailnya sehingga mereka tetap dalam usaha tanpa arah tersebut hingga mereka depresi dan bahkan putus asa.

Sekali lagi, saya menaruh perhatian dengan orang-orang yang tidak beruntung seperti itu. Padahal mereka sudah keluar modal yang tidak sedikit untuk mengetahui bagaimana kepribadian mereka.


Akhir kalimat

Saya tidak menuduh promotor tes kepribadian itu adalah orang yang pandai menghakimi orang lain. Tidak sama sekali.

Tetapi kenyataannya, ada satu atau dua, atau bahkan lebih dari itu yang memang langsung mewajibkan dan melarang sesuatu kepada peserta tes. Dan memang itu adalah hal yang sangat rawan bagi para promotor.

Sebab sedalam apa pun pemahaman mereka akan hasil tesnya, mereka tetap tidak mengetahui yang lebih mendalam dari kepribadian para peserta tes.

Ada orang yang masalah terbesar baginya adalah kekurangan perhatian, ada orang yang masalah terbesar baginya adalah kekurangan gengsi, dan ada pula orang yang masalah terbesar baginya adalah saat kontribusinya mendapatkan pandangan sebelah mata.

Bagi saya, beberapa masalah terbesar orang lain itu ringan bahkan sepele. Tetapi karena itu bukanlah masalah yang sesuai dengan kepribadian saya.

Maka dari itu, saya tetap mendengarkan secara mendalam saat beberapa orang yang bahkan hingga berurai air mata menjelaskan permasalahan hidupnya yang bagi saya itu sepele.

Karena saya memahami, saat sebuah masalah adalah ringan bagi saya, mungkin itu bisa membuat orang lain depresi, frustasi, dan bahkan bunuh diri.

Saya hanya membayangkan rasa depresi yang pernah saya rasakan, kemudian mengaitkannya dengan masalah ‘sepele’ orang lain tersebut, sehingga saya dapat mendengarkannya dengan penuh empati.

Apalagi saat saya sudah mengetahui hasil tes kepribadian mereka, membuat saya lebih mudah mencarikan mereka solusi-solusi ringan dengan harapan mereka bisa bangkit kembali dan ceria.

Sejauh ini saya berhasil menanamkan rasa tenang kepada mereka dan saya bersyukur akannya di saat sebagian besar teman-teman mereka hanya menggampangkan masalah mereka bahkan hingga menjadikannya bahan candaan.

Saya mungkin sesekali terselip penilaian sepihak saya, namun saya hanya terus meningkatkan kewaspadaan dengan lebih teliti membaca air muka lawan bicara saya.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
๐Ÿค— Selesai! ๐Ÿค—
Ada masalah kesehatan mental? Bingung curhat ke mana?
Curhat ke Anandastoon aja! Mari, klik di sini. ๐Ÿ’—

  • Sebelumnya
    5 Alasan Saya Cinta Orang Produktif

    Berikutnya
    Hindari Merespon Curhat dengan 5 Perkataan Ini


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. ๐Ÿ˜‰

    Kembali
    Ke Atas

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Apakah artikelnya mudah dimengerti?

    Mohon berikan bintang:

    Judul Rate

    Desk Rate

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Dan terima kasih juga sudah berkontribusi menilai kemudahan bacaan Anandastoon!

    Ada saran lainnya untuk Anandastoon? Atau ingin request artikel juga boleh.

    Selamat datang di Polling Anandastoon.

    Kalian dapat iseng memberi polling seperti di Twitter, Facebook, atau Story Instagram. Pollingnya disediakan oleh Anandastoon.

    Kalian juga dapat melihat dan menikmati hasil polling-polling yang lain. ๐Ÿ˜Š


    Memuat Galeri Poll...

    Sebentar ya, Anandastoon muat seluruh galeri pollnya dulu.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Asik poll ditemukan!

    Silakan klik salah satu poll yang kamu suka untuk mulai polling!

    Galeri poll akan terus Anandastoon tambahkan secara berkala. ๐Ÿ˜‰

    Judul Poll Galeri

    Memuat poll...

    Sebentar ya, Anandastoon memuat poll yang kamu pilih.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Masih memuat ~

    Sebelum memulai poll,

    Anandastoon ingin memastikan bahwa kamu bukan robot.
    Mohon agar menjawab pertanyaan keamanan berikut dengan sepenuh hati.
    Poll yang 'janggal' berpotensi dihapus oleh Anandastoon.
    Sebab poll yang kamu isi mungkin akan bermanfaat bagi banyak orang. ๐Ÿค—

    Apakah nama hari sebelum hari Kamis?

    Mohon jawab pertanyaan keamanan ini. Jika jawaban benar, kamu langsung menuju pollnya.

    Senin
    Rabu
    Jumat
    Sabtu

    Atau, sedang tidak ingin mengisi poll?

     

    Wah, poll telah selesai. ๐Ÿค—

    Sebentar ya... poll kamu sedang di-submit.
    Pastikan internetmu terhubung agar dapat melihat hasilnya.

    Hasil poll ๐Ÿ‘‡

    Menunggu ~

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya Anandastoon akan menebak rekomendasi artikel yang kamu inginkan ~

    Heihei maihei para pembaca...

    Selesai membaca artikel Anandastoon? Mari, saya coba sarankan artikel lainnya. ๐Ÿ”ฎ

     

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya kamu bisa main game langsung di artikelnya.

    Permainan di Artikel

    Bermain dengan artikel yang baru saja kamu baca? ๐Ÿ˜ฑ Kek gimana tuh?
    Simpel kok, cuma cari kata dalam waktu yang ditentukan.

    Mempersiapkan game...

    Aturan Permainan

    1. Kamu akan diberikan sebuah kata.

    2. Kamu wajib mencari kata tersebut dalam artikel.

    3. Kata yang ditemukan harap diblok atau dipilih.
    Bisa dengan klik dua kali di laptop, atau di-tap dan tahan sampai kata terblok.

    4. Terus begitu sampai kuota habis. Biasanya jumlahnya 10 kuota.

    5. Kamu akan berhadapan dengan waktu yang terus berjalan.

    6. DILARANG Inspect Element, CTRL + F, atau find and replace. Juga DILARANG berpindah tab/windows.