Zona Nyaman

Beberapa banyak yang heran mengapa beranda media sosial saya bersih dari keluhan masalah-masalah pribadi. Beberapa bahkan pernah bertanya apakah saya pernah terkena masalah, saya menjawab tentu saja iya. Masalah pribadi saya bahkan segunung.

Kemudian beberapa orang bertanya kembali mengapa saya seakan-akan seperti tidak punya masalah, saya hanya tertawa sedikit kemudian saya bercerita tentang apa yang terjadi pada diri saya yang sebenarnya, lalu secara dramatis mereka spontan mengusap-usap punggung saya. Dude, relax…

Saya tahu sulit sekali mencari orang yang dapat diajak mendengar tanpa harus mendapatkan penilaian awal. Maka dari itu, saya membuat ramuan saya sendiri agar saya tetap terlihat bahagia.


Tips Lebih Bahagia Ala Anandastoon #14

Tetap di Zona Nyaman

Mungkin dari kita ada yang sudah familiar dengan tantangan keluar dari zona nyaman, dan sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu.

Namun saya justru menemukan kasus unik dari beberapa orang yang ‘telah berhasil’ keluar dari zona nyaman mereka.

Saya mendengarkan secara seksama mengenai apa saja yang mereka utarakan setelah mereka keluar dari zona nyaman, dan saya benar-benar tidak mempercayainya.

Maksud dari “saya tidak mempercayainya”, itu justru lebih condong ke arah yang berbau negatif dari positif. Lho, maksudnya?

Saya ceritakan saja salah satunya, karena yang satu ini sebenarnya sudah mewakili sebagian besar yang lain.

Jadi, saya dahulu pernah bertemu dengan seseorang yang terlihat sedikit kelelahan. Ia berbicara mengenai hobi-hobi yang ia jalani dari masa ke masa, di luar zona nyamannya.

Tetapi yang justru terjadi adalah ia semakin frustasi menemukan hobi apa yang cocok untuknya. Di usianya yang sudah menyentuh kepala tiga, ia bahkan masih tidak tahu apa yang harus ia lakukan, sepertinya tidak tentu arah.

Bahkan dia merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya yang sekarang sebab memang bukan keahliannya.

Kira-kira gambarannya seperti itu. Banyak orang yang justru menjadi kehilangan arah saat mereka keluar dari zona nyaman mereka.

Tetapi saya sendiri sebenarnya lebih memilih untuk tetap berada di zona nyaman, karena di sinilah terbentuknya diri saya.

Lho, kenapa justru bertentangan dengan prinsip “keluar dari zona nyaman?”

Secara mengejutkan, apa yang saya lakukan “di dalam” zona nyaman ini justru sangat tidak bertentangan dengan prinsip “keluar” dari zona nyaman itu sendiri.

Agak paradoks, namun itulah yang memang terjadi. Saya akan jelaskan mengapa-nya di sepanjang artikel ini.

Saya pernah memberikan masukan, tepatnya lebih dari sekali, kepada orang-orang yang sedang stuck dalam mencari apa yang sebenarnya menjadi bakatnya.

Saya katakan, “Kalian tidak perlu keluar zona nyaman. Mengapa tidak kalian ekspansi saja zona nyaman kalian?”

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, zona nyaman itu adalah area di mana seseorang terbentuk, terbiasa, dan memang benar-benar telah nyaman serta berbahagia untuk berada di dalamnya.

Jadi seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk keluar dari area nyaman tersebut, apalagi jika seseorang tidak memiliki kendali di luar zona nyamannya. Alih-alih menemukan apa yang ia impikan, justru ia menjadi tersesat.

Mengapa seseorang tidak tetap berada di dalam ‘rumah’nya dan meluaskan bangunannya daripada harus membangun rumah baru di antah-berantah?

Seseorang yang gemar memasak sebaiknya agar tidak memaksakan dirinya menjadi programmer. Seseorang yang gemar menulis sebaiknya agar tidak memaksakan dirinya untuk menjadi atlet. Kecuali jika memang seseorang itu memiliki hobi sekunder.

Sekarang lihat diri kita sendiri bagi yang masih belum menemukan apa bakat kita. Kita tanya secara jujur kepada diri ini apa yang sebenarnya kita gemari dari kecil.

Sejujurnya, saya menjadi programmer justru bukan hobi dari kecil. Lalu bagaimana saya menemukan zona nyaman saya di ranah programing?

Dahulu, saya sebenarnya suka desain level permainan. Dari kecil, saya menyenangi memainkan permainan yang memiliki fitur “level editor”nya. Jadi saya dapat memainkan “hasil karya” saya sendiri.

Setelah saya menginjak bangku Madrasah Aliyah (SMA sederajat), saya terpikir lagi untuk membangkitkan hobi masa kecil saya, yakni desain level. Artinya, saya juga harus bisa membuat game saya sendiri.

Namun sayang, saat saya mencari di Google bagaimana cara membuat game, yang saya temui justru adalah kode-kode program semua. Yang artinya, saya mau tidak mau harus belajar programing. Yuck! 🤢

Awalnya memang melelahkan, ditambah saya otodidak belajar koding. Tetapi karena saya memiliki ambisi untuk mewujudkan kembali apa yang telah saya gemari dari semenjak saya kecil, alhamdulillah pada akhirnya saya menemukan kunci nyaman dari programing tersebut.

Pada akhirnya, sampai ditulisnya artikel ini, dengan melakukan ekspansi zona nyaman dari “desain level” ke “programing”, saya telah berhasil menjadi seorang direktur IT.

Begitu pun dengan beberapa rekan saya yang sedang stuck dalam hobinya dan merasa bahwa hobinya tidak cocok untuknya, saya memberikan saran serupa.

Misalnya, ada kenalan saya yang hobi menulis namun sedang tidak ada ide untuk menulis dan kemudian merasa bahwa kegiatan menulisnya tidak membawa manfaat lagi untuknya, ia memutuskan untuk “keluar dari zona nyaman” untuk menggali hobi baru.

Saya tidak serta-merta mendukungnya. Jika memang ia tidak terpikirkan ingin “tinggal” di zona seperti apa, lebih baik jangan keluar dari zona nyamannya. Sebab,

Hampir tidak pernah atau bahkan tidak pernah ada akhir yang baik bagi orang-orang yang keluar dari zona nyaman hanya untuk ‘ikut-ikutan’ orang lain semata.

Lalu apa yang harus ia lakukan? Benar, ekspansi zona nyaman.

Jika seseorang memiliki hobi menulis tentang kegiatan pikniknya dan sedang buntu, mengapa tidak ia mulai melirik tema lain dan dipadukan dengan tema pikniknya?

Misalnya, ia menulis tentang rekomendasi tempat-tempat mistis untuk para penggemar wisata horor, atau ia memadukan wisata kuliner, atau ia menulis tips-tips serta pengetahuan umum yang bertema seputar pariwisata seperti budaya unik atau budaya luar.

Dan jika seseorang yang hobi menulis itu memiliki hobi sampingan memasak, mengapa ia tidak mulai untuk meracik resep makanan unik kemudian ia bagikan ke dalam artikelnya?

Inilah yang saya maksud dengan meluaskan zona nyaman.

Terakhir, apa maksudnya mengenai pernyataan paradoks bahwa apa yang saya lakukan “di dalam” zona nyaman ini justru sangat tidak bertentangan dengan prinsip “keluar” dari zona nyaman?

Karena jika kalian mencari “comfort zone” di Google Images, hampir semua gambar yang tampil dengan kompak menjelaskan bahwa yang perlu dilakukan seseorang adalah memperbesar zona nyamannya saja agar ia dapat meraih sesuatu di luar zona nyamannya tanpa meninggalkan zona nyaman yang telah membentuknya bertahun-tahun.

Jika seseorang meninggalkan zona nyamannya dan memilih menjadi sesuatu yang lain, ia akan asing dengan dirinya sendiri.

Intinya, binalah zona nyaman kalian karena di sana kalian ‘tinggal’. Kalian cukup mencari sesuatu yang baru, hanya dan hanya jika sesuatu itu berhubungan dengan apa yang dapat membuat tempat tinggal kalian tersebut menjadi lebih besar dan lebih kuat.

Untuk artikel tips bahagia serupa namun tak sama, dapat kalian baca di sini. 🤗

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas