Menjadi diri sendiri

Beberapa banyak yang heran mengapa beranda media sosial saya bersih dari keluhan masalah-masalah pribadi. Beberapa bahkan pernah bertanya apakah saya pernah terkena masalah, saya menjawab tentu saja iya. Masalah pribadi saya bahkan segunung.

Kemudian beberapa orang bertanya kembali mengapa saya seakan-akan seperti tidak punya masalah, saya hanya tertawa sedikit kemudian saya bercerita tentang apa yang terjadi pada diri saya yang sebenarnya, lalu secara dramatis mereka spontan mengusap-usap punggung saya. Dude, relax…

Saya tahu sulit sekali mencari orang yang dapat diajak mendengar tanpa harus mendapatkan penilaian awal. Maka dari itu, saya membuat ramuan saya sendiri agar saya tetap terlihat bahagia.


Tips Lebih Bahagia Ala Anandastoon #9

Menjadi Diri Sendiri

Ya, ya, ya. Saya tahu jika tips kali ini cukup klise. Kita bahkan sudah lelah mendengar motivator menyemangati “Jadilah diri sendiri” kemudian kebanyakan dari para motivator tersebut hanya meninggalkan pemirsanya dalam kekosongan setelah itu.

Bagaimana menjadi diri sendiri? Bukankah saya hidup di tubuh saya sendiri? Apa memangnya yang dimaksud menjadi diri sendiri itu?

Perlu diketahui, banyak orang menolak konsep “menjadi diri sendiri” karena mereka membanding-bandingkan dengan para penjahat dan pecundang. Mereka berkilah, “Terus maksud loh kalo gue jahat, artinya gue harus jadi diri gue sendiri yang jahat gituh?”

Dear, konsep menjadi diri sendiri tidak teraplikasikan begitu saja. Jadi ada momen khusus dimana menjadi diri sendiri perlu diaplikasikan.

Seperti yang telah kita ketahui, di zaman media sosial telah sampai ke tangan hampir setiap orang, banyak dari kita yang mengetahui kejadian di seluruh dunia dengan instan di depan layar yang telah menjadi milik kita sepenuhnya.

Semua berita baik dan berita buruk, kita konsumsi.

Termasuk juga berita tentang orang-orang yang telah menggapai mimpi yang kita damba-dambakan sedari dulu. Mereka ‘merebutnya’ dari kita ‘tanpa izin’.

Dari sinilah pangkal munculnya ketidakamanan seorang warga net di dunia maya.

Apa yang kita lakukan setelah itu? Beberapa ada yang berbesar hati dan memberi selamat kepada orang-orang sukses itu, beberapa ada yang iri dan memblok mereka, bahkan sampai ada yang dengki dan menuduhnya yang tidak-tidak.

Juga di dalamnya ada yang bernafsu untuk menjadi orang-orang sukses tersebut.

Saya akui, dulu sewaktu saya membeli kamera DSLR karena mendapatkan inspirasi dari sebuah permainan untuk membuat background saya sendiri, saya mulai mengisi Instagram saya dengan hasil-hasil foto saya.

Hingga akhirnya… saya bertemu dengan orang-orang yang hasil fotonya mendapatkan ribuan likes dan ratusan komentar pujian. Saya ingin menjadi orang tersebut, saya lupa untuk apa awalnya saya membeli kamera.

Namun saya bersyukur usaha saya untuk meniru orang lain ternyata tidak membuahkan banyak hasil hingga saya kelelahan. Karena kini, banyak yang orang-orang yang ingin saya tiru tersebut sudah tergantikan dengan orang lain.

Tentu saja ini menjadi sebuah tamparan untuk saya. Saya sejenak memandangi kamera dan hasil-hasil foto saya, saya meminta maaf kepada ‘mereka’ semua.

Saya lupa dengan keunikan saya sendiri. Saya terlalu bernafsu untuk menjadi orang lain yang bahkan saya enggan mengetahui siapa dan bagaimana diri mereka itu.

Di film animasi Disney Encanto, si tokoh utama (Mirabel Madrigal) dengan pernah lantang berkata bahwa dirinya ingin dapat begini dan begitu seperti si A, si B, dan si C. Kemudian ia menyadari bahwa ada karunia dalam dirinya yang selama ini ia acuhkan karena ia terlalu berusaha menjadi orang lain yang pada akhirnya hanya berujung sia-sia.

Sayangnya, banyak dari kita yang sepertinya tidak diajarkan untuk menjadi diri sendiri sedari kecil. Sebagian besar orang tua dan guru menuntun kita untuk menjadi orang lain yang kita belum tentu tertarik akannya.

Jangan heran jika konsep “menjadi diri sendiri” ini adalah sesuatu yang sering kita dengar, namun begitu asing di benak kita.

Bahkan, konsep “menjadi diri sendiri” sering dibelokkan menjadi sesuatu yang agak menyesatkan seperti “jika seseorang itu penjahat, maka ia harus menjadi diri sendiri yang jahat” atau “jika seseorang itu pecundang, maka ia harus menjadi dirinya yang pecundang itu”.

Pernahkah kita menyadari bahwa ada dari teman-teman atau diri kita sendiri yang terombang-ambing mengikuti tren tanpa arah demi ingin menyamakan status dengan orang lain?

Saya pernah ditanya seseorang, “Nan, kamu kan orang IT, kenapa gak ngikut cryptocurrency yang sekarang lagi viral?”

Saya jawab, “Saya tidak tertarik. Saya sudah pengalaman terlalu mengikuti yang viral-viral dan saya tidak bahagia pada akhirnya. Biarlah crypto itu hanya diikuti oleh orang-orang yang tertarik saja. Saya sudah berbahagia dengan apa yang saya punya.”

Bisa saja saya melebarkan sayap kepada sesuatu yang tidak saya tertarik akannya. Mungkin sayap saya akan bagus setelah itu, namun saya akan menjadi sesuatu yang tidak dikenali.

Jadi, biarlah saya melebarkan sayap dari hobi yang saya punya.

Saya bahkan seringkali ditanya, “Nan, bakat IT kamu bagus, kenapa gak ngelamar aja di perusahaan yang menawarkan gaji puluhan juta? Daripada kamu bertahan di perusahaan ini? Sayang lho…”

Saya jawab, “Bahkan pernah ada tawaran gaji Rp35juta kepada saya dari sebuah perusahaan luar negeri. Namun saya tolak. Mengapa?”

Saya kembali meneruskan, “Dear, look, ini adalah perusahaan yang saya bangun sendiri dari awal bersama tim saya. Artinya ini adalah rumah saya, kerajaan saya. Sudah menjadi tanggungjawab saya untuk ikut membina rumah yang saya telah bangun sendiri, dari yang tidak berbentuk menjadi bersinar perlahan-lahan.”

Bisa saja kemudian saya meninggalkan perusahaan yang telah saya bangun ini dan berpaling kepada yang lain. Namun sesuatu dari sanubari saya menolak. Sanubari saya berbisik, “This is not you (ini bukan dirimu)”.

Kita mungkin akan selalu menikmati pekan-pekan pertama saat kita mencoba untuk menjadi orang lain yang menurut kita lebih sukses. Namun yang terjadi selanjutnya, banyak orang kehilangan arah setelah itu.

Parahnya, saat seseorang sudah kelelahan meniru orang lain itu, bukannya ia mulai mengapresiasi apa yang ia punya, ia justru kembali mencari orang lain yang lebih bergengsi dan mulai meniru mereka lagi, begitu seterusnya.

Kita sudah melihat bagaimana dunia hiburan dan seni kini begitu berantakan karena banyaknya karya yang begitu mirip satu sama lain, cepat mengudara, dan cepat tenggelam karena begitu cepat membosankan.

Dari ribuan karya seni tersebar, mungkin hanya puluhan yang idenya orisinal. Sisanya hanya meniru atau remix yang begitu mirip dengan karya lain. Saat itu viral, dan saat itu pula sudah terkubur. Hampir setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi bagian yang viral, dengan meniru orang lain.

Sebenarnya tidak ada yang salah untuk berpartisipasi dan tren yang sedang viral, selama seseorang memegang kunci dari peti harta karunnya sendiri.

Kini saya sudah sangat berbahagia dengan kehidupan saya sekarang. Semuanya alhamdulillah berjalan lancar bahkan tanpa saya minta. Sebab tanggungjawab saya hanya membina rumah saya sendiri tanpa harus melirik rumah lain, sebagus apa pun itu.

Intinya, seburuk apa pun yang saya punya, bagaimana pun itu adalah milik saya sendiri. Artinya, saya harus menjadi diri saya sendiri untuk membangun apa yang saya punya itu menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.

Saya akan selalu mencari tips dari orang yang lebih berpengalaman mengenai bagaimana kiat membangun ‘rumah’ saya lebih baik. Namun bukan berarti saya kemudian meniru proses orang tersebut seluruhnya.

Ini bukanlah tentang hijaunya rumput tetangga, ini adalah tentang menghijaukan rumput yang telah menjadi milik kita sendiri.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas