Sifat Korup

Korupsi adalah masalah yang sangat serius di negara-negara berkembang. Negara maju pun masih memiliki masalah ini namun dalam ‘takaran’ yang begitu sedikit. Mengenai mengapa negara maju minim koruptor, saya sudah pernah bahas di artikel berikut.

Masyarakat di negara berkembang seringkali melulu menyalahkan para pejabat pemerintah yang melakukan korupsi, dari tahun ke tahun, seakan hampir tidak pernah ada harapan untuk berakhir.

Perlu di ketahui bahwa cakupan para pejabat pemerintah ini sangat luas, dari mulai presiden, anggota dewan legislatif, gubernur, bupati, camat, bahkan hingga ketua RT/RW dan pegawai negeri sipil biasa.

Mengenai masalah korupsi yang sepertinya tidak kunjung usai di negara-negara berkembang, timbul sebuah pertanyaan. Setelah sepuluh hingga dua puluh tahun, seharusnya tingkat korupsi berkurang sebab generasi korup yang kemarin sudah digantikan dengan generasi baru.

Nyatanya, tingkat korupsi di negara berkembang hanya fluktuatif, atau naik turun, naik dan turun, terombang-ambing di dalam harapan untuk mewujudkan negeri bebas koruptor.

Artinya, generasi yang seharusnya menggantikan generasi lama yang korup, ternyata sebagian besarnya juga masih korup.

Dan pertanyaan lainnya, memang siapa yang disebut generasi baru tersebut? Untuk negara demokrasi, yang merupakan bentuk pemerintahan sebagian besar negara di dunia, tentu jawabannya adalah masyarakat di negara itu sendiri.

Ingat, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Semua belahan masyarakat dapat menjadi generasi penerus yang mengendalikan wilayahnya.

Seolah-olah, rasio orang bersih dan orang korup di pemerintahan adalah sama dengan rasio di masyarakatnya.

Untuk melihat apakah seseorang di kalangan masyarakat itu memiliki potensi untuk menjadi koruptor atau tidak, saya memiliki lima tips untuk dapat setidaknya membantu mengidentifikasi orang-orang yang masih dalam ‘kelas teri’ sebelum mereka berubah menjadi ‘kelas kakap’.


1. Minim progres dan improvisasi

Adalah wajar jika seorang manusia melakukan penundaan sebab suasana hatinya sedang buruk atau memang motivasinya sedang rendah. Saya pun terkadang jika sudah ‘PeWe’ di atas kasur, sisa pekerjaan hari itu begitu berat saya selesaikan.

Lain halnya jika seseorang memang sudah terlalu sering melakukan penundaan bahkan sedikit sekali melakukan perbaikan dalam hidupnya.

Progres adalah kemajuan, dan kemajuan itu memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi para pelakunya.

Jika kita lihat negara-negara maju seperti Jepang, negara-negara di Eropa, atau bahkan tetangga kita, Singapura, yang sering saya lihat dan saya baca, mereka begitu gemar melakukan improvisasi karena mereka sendiri yang terkena dampak improvisasi tersebut.

Banyak masyarakat di negara maju yang mengorbankan waktu dan harta mereka untuk membuat proyek-proyek yang bermanfaat bagi sesama. Mulai dari mempercantik jalan-jalan di rumah mereka, memasang tanaman-tanaman, bertukar informasi, hingga menyediakan teknologi untuk mempermudah satu sama lain.

Kita sendiri begitu antusias jika aplikasi atau permainan favorit kita memiliki fitur baru yang canggih dan memudahkan. Bagaimana jika fitur baru tersebut terjadi di lingkungan kita? Seperti akses jalan diperbaiki, akses kesehatan ditambah, atau akses keamanan diperketat?

Jika sedari rakyat sudah dibiasakan terus melakukan hal-hal yang bermanfaat dan terus melakukan perbaikan-perbaikan, hal itu akan terus terbawa hingga seseorang sudah menjadi pejabat.

Berbeda dengan negara yang penuh dengan koruptor, jangankan mereka memikirkan perbaikan untuk kebahagiaan warganya, mereka sendiri pun sudah terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk lebih menebalkan pundi-pundi harta mereka.

Tidak heran jika para koruptor tersebut berasal dari golongan masyarakat yang tidak pernah bersemangat melakukan kemajuan dan perbaikan.

2. Meremehkan soft skill

Saya pernah mendengar cerita orang Indonesia yang menggunakan taksi saat tengah malam di Swedia. Pada saat itu jalanan sedang sangat sepi, dan taksi berhenti di lampu merah.

Iseng, orang Indonesia tersebut ‘mencolek’ sang supir, menyarankan ia agar menerobos lampu merah.

Jawaban supir sangat mencengangkan, “Itu bukan budaya kami”.

Saat kita melamar kerja, biasanya selalu ada dua aspek yang memang wajib dimiliki. Kedua aspek tersebut yakni hardskill dan softskill.

Gampangnya, hardskill itu adalah kemampuan yang kita miliki, sedangkan softskill adalah akhlak.

Seperti saat saya membuka lowongan kerja untuk programmer, tentu saja hardskill yang saya butuhkan adalah orang yang bisa ngoding.

Begitu banyak lamaran masuk ke email perusahaan. Namun sayangnya, hanya 10% saja yang memiliki softskill.

Banyak email lamaran kerja yang tidak memiliki tubuh surat atau bahkan hingga tidak punya kepala surat (subject). Di antaranya ada CV yang ditulis dengan setengah hati, beberapa CV yang saya temui memiliki kata-kata yang disingkat-singkat dan tidak mencerminkan bahwa ia butuh kerja. Tentu saja saya tidak akan menerima pelamar seperti itu.

Sayangnya, beberapa orang begitu meremehkan softskill atau akhlak ini.

Contoh paling remeh, saya pernah melihat dua buah peringatan lift rusak. Kedua peringatan tersebut masing-masing bertuliskan,

1. “LIFT RUSAK!!!”

2. “Mohon maaf lift rusak, mohon gunakan tangga di samping musala 🕌➡

Perlu diketahui, meskipun keduanya memiliki info yang sama, namun penyampaian akhlak keduanya bagaikan bumi dan langit.

Coba bayangkan jika ada ibu hamil, lansia, atau orang sakit, yang sangat memerlukan lift, ternyata liftnya sedang rusak dan peringatannya ditulis dengan huruf kapital serta dipenuhi dengan tanda seru. Ditambah, di peringatan tersebut tidak dituliskan bagaimana alternatifnya.

Kita dapat membayangkan betapa kecewanya orang yang sedang benar-benar membutuhkan lift tersebut.

Padahal, seseorang tidak perlu sekolah tinggi untuk dapat menulis peringatan yang baik. Itu seharusnya merupakan hal yang sudah diajarkan dari kecil.

Softskill atau akhlak adalah wajib dimiliki oleh siapa pun, akhlak yang baik bukan hanya milik si kaya atau si miskin. Karena jika akhlak seseorang sudah mulia, tanpa berteriak “Hargailah kami!”, orang-orang akan secara otomatis menghargainya tanpa diminta.

Jika sebuah lapisan masyarakat sudah begitu memandang sebelah mata kebaikan seremeh apa pun, dikhawatirkan dari mereka akan terpilih pemimpin-pemimpin yang ‘gak ada akhlak’.

Berapa banyak pemimpin atau staf pemerintahan yang menggunakan jabatan mereka bukannya untuk mengayomi namun justru untuk menakut-nakuti atau bahkan meneror rakyatnya, yang nyata-nyata menjadi sumber utama penghasilan utama para pejabat lewat pembayaran pajaknya?

Watak yang buruk tidak akan hilang dengan harta dan jabatan, bahkan bisa tumbuh lebih subur.

3. Menggampangkan masalah orang lain

Tidak pernah ada cerita, seorang pemimpin yang baik dilahirkan dari lapisan masyarakat yang menganggap enteng suasana hati atau kesehatan mental orang lain.

Seperti yang telah saya jelaskan di postinganpostingan saya sebelumnya, suasana hati adalah hal yang krusial bagi setiap manusia yang notabene adalah makhluk sosial.

Menggampangkan masalah orang lain seperti dengan berkata, “Ah elah cuma gitu doang!”, atau “Ya ampun masalah begitu aja manja banget!” dapat menimbulkan ketidakamanan sosial.

Jika tingkat ketidakamanan atau insecurity warga di suatu wilayah sudah tinggi, akan tumbuh sifat saling curiga dan lenyapnya rasa saling percaya terhadap satu sama lain.

Seseorang tidak dapat berkata, “Kan tidak semuanya begitu…” karena itu akan memparah keadaan. Ingat, nila setitik saja sudah dapat merusak susu sebelanga, apalagi jika nilanya diguyur.

Hal menggampangkan masalah orang lain juga sering terjadi pada hal lain.

Misalnya, tidak jarang saya perhatikan, saat ada orang yang bekerja tidak maksimal, bukannya ia melakukan perbaikan, justru ia berdalih, “Ah masih mending dikerjain!”, atau “Gak bersyukur banget sih, masih mending ada!”

Padahal, tidak ada kebaikan bagi orang yang melakukan pekerjaan tidak dengan sepenuh hati. Sebab, kekurangan pekerjaan yang menurut orang lain sepele, bagi sebagian yang lain mungkin masalah besar.

Coba bayangkan jika para pemimpin melakukan pekerjaan “yang penting ada”, terus saat mendengarkan saran dari warganya ia hanya bilang “kan bisa begitu…”.

Listrik mahal? “Cabut aja meterannya!”

Cabe mahal? “Tanam sendiri!”

Itukah sifat pemimpin yang kita inginkan? Para pemimpin seperti itu tidak berasal dari golongan alien. Mereka dulunya hidup di tengah kita, yang kemungkinan besar memiliki sifat yang sama seperti kita.

4. Memilih gengsi atas prestasi

Kita tahu beberapa orang yang minim prestasi kerja, tidak begitu rajin, bahkan cenderung memiliki performa yang buruk saat bekerja, namun memiliki nafsu tinggi untuk meraih dunia.

Tidak heran banyak orang yang perjalanan karirnya berisiko tinggi, tetapi ia memaksakan diri untuk membeli barang atau kendaraan mewah secara kredit agar mendapatkan gengsi di masyarakat.

Padahal, jika ia memiliki prestasi kerja yang baik, ia akan mendapatkan harta dengan lebih mudah bahkan secara perlahan melunturkan minatnya untuk mencari gengsi lewat harta dan jabatan.

Saya memahami pada dasarnya manusia ingin mendapatkan pengakuan oleh sekitarnya, namun saya sedang berbicara tentang bagaimana cara seseorang mendapatkan pengakuan tersebut.

Jika seseorang terlalu mengedepankan gengsinya atas harta dan jabatannya, prestasi kerjanya perlu dipertanyakan.

Belum pernah saya dengar koruptor yang berprestasi, belum pernah saya dengar koruptor memiliki kinerja yang baik. Justru mereka menjadi koruptor karena mereka tidak terpikirkan bagaimana memiliki kinerja yang baik.

Pejabat yang berkinerja baik akan mendapat gengsi dengan sendirinya oleh prestasi kerjanya, tanpa harus repot-repot memikirkan darimana ia akan mendapatkan gengsi.

5. Memilih drama atas kinerja

Orang-orang biasanya akan melakukan banyak drama untuk menutupi kesalahan dirinya yang seharusnya ia perbaiki.

Contohnya, saya pernah menemui beberapa kasus, namun saya sebutkan salah satunya saja sebab ini sudah mewakili secara garis besarnya:

Jadi ada seorang karyawan yang bekerja semaunya, tugasnya banyak yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan cenderung membuat perusahaannya tidak stabil karena ulahnya. Pada akhirnya, saat ia tidak dapat lagi dibina, ia diberhentikan karena tidak ada lagi pilihan lain.

Lalu apa yang terjadi berikutnya? Bukannya ia menyadari kesalahannya dan mulai memperbaiki akhlaknya agar ia dapat lebih mudah diterima perusahaan lain, ia justru membuat drama dan playing victim alias merasa dirinya terzalimi.

Ia sebarkan kisah manipulatifnya di media sosial, ia hingga membawa keluarga sebagai bagian dari korban atas ‘kezaliman’ perusahaan yang sebenarnya ia zalimi.

Mengapa ia lakukan hal sekeji itu? Sebab ia paham, banyak orang yang masih gemar mengonsumsi drama. Jadi persetan dengan kinerja, beberapa orang lebih memilih untuk membuat drama karena mereka tahu ‘pasar’nya.

Tidak heran jika para calon pejabat melakukan hal serupa untuk meraih simpati masyarakat.

Berbagai pencitraan dilakukan karena para calon pejabat itu memahami jika masyarakatnya dapat dikelabui dengan drama.

Banyak orang bersimpati saat ada pejabat berfoto dengan para pasien saat mengunjungi rumah sakit. Padahal tidak ada fasilitas rumah sakit yang kunjung ia perbaiki.

Banyak orang kagum dengan pejabat memasang hiasan religi seperti plang asmaul husna dan gapura berkalimat syahadat di jalan. Padahal jalanan dalam radius lima kilometer di sekelilingnya masih banyak yang rusak dan minim penerangan.

Atau banyak orang tergila-gila saat pejabat melakukan groundbreaking atau kunjungan-kunjungan. Padahal masyarakatnya hampir tidak mendapatkan manfaat apa pun dari kegiatan tersebut.

Di negara-negara maju, drama-drama seperti ini tidak akan dilirik. Masyarakat negara maju hanya peduli dengan negara tempat ia tinggal karena mereka sudah menganggap negara mereka seperti rumah sendiri.

Orang-orang yang berpotensi merusak ‘rumah’ hanya untuk kepentingan pribadinya, tidak layak mendapatkan tempat di hati masyarakatnya.

Inilah mengapa negara-negara maju minim koruptor.

 

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas