
Apakah film Mario Bros yang satu ini hanya bisa dinikmati oleh fansnya Mario saja? Kita akan bahas.
Menjadi ‘fans’ Nintendo secara nggak langsung akhir-akhir ini emang bener-bener dibanjirin sama beberapa kejutan dari Nintendo itu sendiri.
Maksudnya apa ya, fans nggak langsung? π
Iya, saya tuh kurang begitu suka sebenernya sama game-game Nintendo. π
Saya sendiri lebih ke Mega Man daripada Mario sama Zelda.
Jadi fans secara nggak langsung ini, saya nge-fans, tapi saya sendiri hampir nggak pernah mainin gamenya Nintendo, jangankan punya konsolnya.
Tapi, saya suka presentasinya, kreativitasnya, musiknya, bahkan produktivitasnya dari pihak Nintendo itu sendiri. Bahkan Nintendo banyak menginspirasi desain-desain yang saya buat, termasuk desain blog Anandastoon ini.
Ok, cukup ngebleber nggak jelasnya. Balik lagi ke fokus artikel.
Nah, pas Nintendo ngumumin sekuel dari film Super Mario Bros dan pakek embel-embel “Galaxy” di judulnya. Saya tentu penasaran berat lho.
Soalnya yang pernah saya liat permainannya di Youtube, Super Mario Galaxy itu game yang nyelesaiin task atau objektif di planet-planet tertentu yang mereka sebut dengan “galaxy”. Padahal mah bukan galaksi, tapi planet.
Di sana pasti ada Rosalina, karakter utama penjaga galaksi-galaksi tersebut yang kemudian kekuatannya diambil sama si Bowser.
Bakal seperti apa ya, jalan ceritanya? Masalahnya iklannya saya liat masif banget. Pasti budget marketingnya nggak main-main.
Tapi sayangnya… di trailer-trailer berikutnya, Shigeru Miyamoto (bapaknya Mario) terlalu banyak ngeluarin pernyataan dan katanya bakal banyak banget easter egg yang menarik untuk dicari.
Dari sana banyak orang jadi khawatir kalau filmnya bakal fokus ke easter eggnya daripada ke jalan ceritanya. Udah gitu, ada beberapa easter egg game Nintendo di luar game Mario Brosnya itu sendiri.
Apalagi di film pertamanya, laju alur ceritanya itu nggak terlalu jelas, terlalu cepat berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Kalau kalian pernah baca review saya tentang film Disney Raya (ada Indonesianya cuyy)Β kira-kira kayak gitu.
Nah, berhubung game Super Mario Galaxy ini bercerita tentang Mario yang berpindah-pindah planet atau galaksi, itu semakin membuat fans khawatir tentang jalan ceritanya, apakah ada atau nggak.
Kayak lebih baik dibuat series saja antar planetnya daripada satu film keseluruhan.
Jadi ini film bakal cuma jadiΒ cash grab doang atau nggak? Dan, karena ini sekuel juga, biasanya jalan ceritanya nggak sebagus film pertama.
Hal ini disempurnakan saat H-1 sebelum tayang, para kritikus film dari portal berita internasional yang masyhur kayak The Times atau The Guardian, membanjiri jagat maya dengan review sadis dan brutal.

Yup, pakek acara bilang film Super Mario Galaxy ini lebih parah dari AI-lah, kiamat sinema, siksaan untuk tetep duduk buat nonton, sampe film asal-asalan yang dibuat sama anak 5 tahun.
Serem amat yakkk… π±
Sampe akhirnya saya punya kesempatan nonton, better saya sendiri yang ngulas gimana filmnya pake mata dan kepala saya sendiri, hehe.
Illumination itu bukan Disney, jadi saya nggak berharap nilai yang bagus untuk fantasinya.
Jujur ya, alasan utama kenapa saya mau nonton film animasi karena ada unsur fantasinya. Bukan cuma renderan realistis. Kalau filmnya cuma berlatar di gang sempit atau bekas bongkaran, itu udah jadi pemandangans sehari-hari di belakang rumah.
Faktor hiburannya, terkhusus untuk orang kota yang udah capek sama sekeliling hampir 24/7 itu adalah faktorΒ escapismnya, supaya sejenak saya bisa keluar dari realita yang bikin capek fisik dan mental.
Kebetulan, karena Nintendo yang gamenya sarat fantasi jadi supervisor langsung untuk film ini, saya tertarik seberapa imajinatif renderan latar galaksinya. Karena di film pertamanya, saya nggak terlalu berkesan.
Tapi waw, saya akui, beberapa cuplikan latar dari filmnya bener-bener bikin saya pengen saya jadiin wallpaper kalau ada. Tentu ini jadi nilai plus banget bagi saya.

Saya jadi inget masa-masa waktu saya nonton Ralph Breaks The Internet, yang sempat bikin saya ternganga dengan presentasi atau penggambaran latarnya pada saat itu.
Ini yang saya cari kalau saya nonton film animasi. Selama ini yang berhasil menyita perhatian saya kebanyakan cuma dari Disney dan Pixar aja. Nah, Super Mario Galaxy ini termasuk salah satunya.
Sejauh ini, memang baru Disney yang komedinya “top notch” bagi saya. Bahkan Pixar aja masih belum selevel Disney untuk ukuran komedi.
Apalagi Illumination yang jadi studionya Super Mario Galaxy ini.
Tapi faktor komedi ini bukan faktor penentu yang besar bagi saya, kecuali kalau filmnya memang genrenya betul-betul komedi.
Maksudnya, ada sih momen-momen yang bikin bengong dan konyol sepanjang cerita. Cuma nggak ada yang bener-bener bikin saya ngegelegak.
Nggak apa-apa, setidaknya dengan perilaku konyol para karakternya sesekali bikin saya menonton dengan santai dan nggak terlalu serius.
Yang mana, justru film Mario kali ini genrenya lebih ke action daripada komedi itu sendiri.
Yep, bener banget, cukup banyak adegan berantem-berantemannya sepanjang jalan cerita, baik berantemnya itu penting, atau nggak penting.
Sebelum saya bahas inti filmnya, saya cuma mau bilang satu: Kebanyakan cuplikannya udah saya liat di trailer yang masif sebelumnya.
Bapak Miyamoto ini kayak “nggak bisa diem” buat ngeluarin trailer-trailer kecil yang ternyata hampir mencakup lebih dari 70% jalan cerita.

Di filmnya itu sendiri, cuplikan trailernya memang ada ekstensi sekitar beberapa menit. Tapi untungnya, adegan atau cerita pentingnya nggak dibocorin di rentetan trailer film.
Ada “sweet spot” di sini, yakni interaksi anaknya si Bowser (Bowser Jr) dengan Bowsernya itu sendiri. Kalau saya bilang, film Galaxy yang ini lebih menitikberatkan jalan ceritanya antar keluarga si Bowsernya daripada si Rosalina itu sendiri.
Bahkan karakter Yoshinya aja nggak terlalu banyak dapet jatah cerita selain cuma “ngelendot” sama si Mario bersaudara.

Saya nggak tau gimana cara Illumination nge-handle film animasi anak-anak dari segi cerita.
Maksudnya, berkaca dari Disney, meskipun film anak-anak, tapi ceritanya juga bisa dinikmati sama para milenial blangkotan juga.
Apakah Super Mario Galaxy ini bisa dinikmati seluruh usia? Atau hanya anak-anak saja? Atau bahkan, hanya dari fansnya Super Mario saja?
Saya mempertanyakan hal ini karena setiap ada “filler” atau “easter egg”, saya berkali-kali cek jam buat liat berapa lama lagi sisa waktu tayangnya. Jangan sampai filmnya habis cuma buat pamer karakter-karakter yang nggak ada hubungannya sama jalan ceritanya sama sekali.
Tapi itu untungnya hanya terjadi di setengah film pertama.
Saya akui, meski cukup banyak “filler” dan “easter egg” yang saya temui di sini, tapi di setengah film kedua, jalan ceritanya mulai intens.

Di sini saya mulai banyak spekulasi tentang apa yang akan terjadi setelahnya.
Apalagi klimaksnya terjadi di setengah jam terakhir yang bagi saya kayak nggak cukup waktu buat ada adegan-adegan puncak.
Tapi saya cukup kagum gimana Illumination nggak ngambil jalan pintas untuk antiklimaks atau konklusi film sekuel Mario ini. Contohnya kayak, di akhir cerita villainnya udah pasti kalah, tempat villainnya bakal roboh, dan klise-klise lainnya.
Justru penyelesaian konfliknya cukup menghangatkan hati saya.
Jadi, ceritanya nggak terlalu kaleng-kaleng lah ya. Tadinya saya udah siap banget mau kasih nilai jelek buat jalan ceritanya macam Frozen 2.
Fansnya Rosalina ngamuk karena idolanya ternyata nggak banyak dapet sorotan sepanjang cerita. Lagipula,Β backstorynya Rosalina ternyata nggak setragis yang ada di gamenya.
Saya juga nggak nyangka kalau filmnya ternyata lebih fokus sama si Bowsernya daripada karakter lain. π
Tapi di luar semua kekurangan itu, ditambah dengan Illumination yang nggak seterkenal Disney, Pixar, apalagi Dreamworks, ternyata punya kapabilitas buat bikin jalan cerita yang solid.
Filmnya ramah segala usia, bukan cuma untuk anak-anak aja. Kita yang udah blangkotan bisa ikut nikmatin juga. Baik fansnya Mario Bros, atau pun yang bukan.