Mengomentari Alfabet

Entah kenapa saya dari dulu ingin membuat postingan untuk mengomentari setiap huruf di alfabet kita ini. Dari A, sampai Z. Yaelah emangnya cuma bu Tedjo doang yang seneng komen. Selain untuk mengisi waktu saya yang kebanyakan hanya dipakai untuk main Candy Crush saja setiap harinya, lebih baik saya berbahagia dalam nyinyirin setiap huruf yang sudah bersahabat dengan kita sedari kita muncul di atas bumi pertiwi ini.

Okei, dimulai.


A

Saya menamainya huruf jagoan, atau mungkin huruf sapujagat ya? Secara, huruf ini memang huruf yang paling awal, paling nyaman diucapkan, dan sebuah vokal yang paling ‘maruk’ untuk berpartisipasi dalam menjadi bagian kata. Coba saya tantang, apa bisa kalian membuat sebuah cerpen yang sama sekali tidak menggunakan huruf A?

AAAAAAAAAA!!! Bahkan teriak pun wajib pakai huruf AAAAAAA!!! Soalnya huruf A bisa mengekspresikan diri lewat lebarnya mulut sampai PUAAAAAAAASSS!!!

Oh iya, bahkan nama saya pun. Ingin rasanya seperti huruf A, kontribusinya banyak betul sampai-sampai huruf A ini menyabet rekor sebagai huruf yang paling banyak dipakai di aksara kita ini.

B

Saya kadang menyebutnya sebagai huruf Bangor atau huruf Gembul. Karena ‘ledakan’ yang dihasilkan dalam pelafalan huruf inilah, huruf B seringkali digunakan untuk memuaskan nafsu kita terlebih saat marah. Terlebih, banyak kata ‘kurang ajar’ yang memang mengandung atau bahkan dimulai oleh huruf B.

Bodoh! Bego! Babi! Bangsat! Bobrok! BedebbBBBbbah!

Silakan di-list sendiri sisanya hehehe…

C

Aduh say, kalau huruf C bisa berbicara, dia pasti komplain karena dia benar-benar sering mengalami salah sebut.

Kata huruf C, “Eh, gue ini huruf Ce… Ce! Ce! Carli! Carli! Bukan Se! Apalagi gue disamain sama si huruf K! Jaoooh bok!”

Masyarakat kita tidak jarang meng-K-kan huruf C dengan alasan agar keren dan keinggris-inggrisan. Namun sayangnya, alih-alih mereka menggunakan bahasa inggris murni, yang ada hanyalah kata tanggung. Inggris bukan, Indonesia bukan.

Berikut adalah contoh-contoh penulisan yang bikin ngamuk huruf C: Documentasi, Contak, Contraktor, Decorasi, dst…

Kata huruf C, “Cukkkuuuuuupppp!!! Belajar lagi sama anak TK sana!”

Ampun mbah, jangan ngamuk mulu hehe…

D

Hampir sama, atau bahkan sama seperti huruf B, ini merupakan huruf ‘bangor’ lainnya yang mana huruf ini dapat diledakkan untuk melampiaskan kekesalan seseorang, meski tidak seheboh huruf B.

“Dasar Dungu! Dodol luh! BodddDDDdddooohhh!!!”

Entah kenapa saya memiliki memori yang tidak begitu menyenangkan dengan huruf D ini.

E

Nah, kembali kepada huruf vokal yang saya juluki sebagai vokal nyinyir. Seandainya Ibu Tedjo digambarkan sebagai sebuah huruf, ya huruf E ini yang paling pantas untuk menggambarkan dirinya. Bagaimana tidak, dari cara pengucapannya saja, kita sudah ‘dipaksa’ untuk sumringah duluan.

Maka dari itu jika kita tertawa terkekeh karena ada kejadian lucu yang menimbulkan suara tawa yang tidak perlu terlalu keras, bunyinya adalah hehehehe

Namun huruf E ini menjadi rancu di bahasa Indonesia ini karena memiliki dua buah pengucapan yang berbeda. Mungkin karena bahasa kita ini terlalu simpel, sampai-sampai tidak ada diakritik yang boleh hinggap di huruf mana pun, termasuk huruf E ini.

Salah pengucapan, salah pula artinya. Contoh: memerah.

Jika dibaca memerah, maka itu adalah kegiatan memeras susu sapi.

Jika dibaca memérah, maka itu adalah peristiwa yang menjadikan sesuatu berwarna merah.

Ternyata huruf E masih perlu make up untuk membedakan gendernya hahahah. Setahu saya bahasa Sunda sudah mengaplikasikan penulisan diakritik untuk huruf E ini.

F

Saya tidak tahu kenapa, setiap saya melihat huruf F ini, saya teringat tokoh kartun Suneo dalam serial Doraemon. Mungkin karena gaya rambutnya mirip huruf F.

Lagi, kita terbelit dalam bahasa kita sendiri. Bahkan kita tidak dapat membedakan mana F dan mana huruf V. Kedua huruf tersebut seringkali bertengkar memperebutkan posisi mereka dalam penyebutan sebuah nama.

Beruntung, aksara Sunda tidak memiliki konsonan F dalam susunan alfabetnya. Namun ada orang Sunda yang marah ketika dia dituduh tidak dapat menyebutkan huruf F. Katanya, “Kata siapa orang Sunda tidak bisa mengucapkan huruf F?! PITNAH!”

Hehehe…

Oh iya, kita sendiri tidak pernah diajarkan sepertinya bagaimana untuk membedakan huruf F ini agar tidak tertukar dengan huruf V. Seharusnya kita diberitahu bahwa huruf F adalah seperti huruf P yang mengeluarkan suara, sedangkan huruf V adalah seperti huruf B yang mengeluarkan suara.

Jadi, tidak perlu lagi menyanyakan “F garpu atau V Vespa?” Hanya untuk membedakan sebuah huruf.

Dan menyebutkan huruf F itu sama sekali tidak membuat kita lebih keren. Jadi kalau sebuah kata memang ditulisnya dengan huruf P, ya sebut saja huruf P seperti kata Pikir, bukan Fikir. Laptop, bukan Laftof! Yah, meski huruf F ini merupakan pengaruh dari bahasa Arab juga sih…

Fusing ane bang… fusing! Ane maunya Fulus!

G

Oh iya, huruf ini juga bisa diledakkan seperti huruf B dan D lho. Tidak jarang setiap kata untuk menggambarkan sesuatu yang tidak menyenangkan dimulai dengan huruf G. Huruf G juga bisa digunakan sebagai penegasan seperti, “Hormat, Grak!”. Untungnya, huruf ini dapat dijinakkan dengan huruf N. Jadilah mereka bersatu dan menghasilkan NG yang lebih ringan di mulut saat diucapkan.

Abang sayang… gak punya uang…

Huruf ini memiliki adik yang merupakan versi lembutnya, yaitu huruf K. Tidak jarang terkadang banyak orang yang masih bingung apakah sebuah kata berakhiran G atau K. Namun setidaknya, yang berakhiran K lebih lembut untuk didengar.

Coba bandingkan, “Goblog” dengan “Goblok” lebih ‘halus’ mana untuk didengar?

H

Huruf H adalah huruf konsonan yang begitu ramah dan lembut, bahkan kita tidak perlu menggerakkan apa pun di mulut kita untuk mengucapkan huruf H. Bahkan, bernafas dari mulut saja meskipun mulut tertutup, itu sudah merupakan huruf H.

Dan uniknya, saya tidak tahu juga kenapa (saya bukan seseorang yang ahli di bidang kedokteran atau biologi), mengucapkan huruf H bisa membuat seseorang merasa lebih lega. Tak jarang, orang yang menahan amarah seringkali mendesah atau menghela nafas panjang yang sarat huruf H.

Huruf ini juga dapat memperlembut pengucapan huruf sehingga ada beberapa huruf H yang menjadi ‘hantu’ di beberapa kata. Seperti, kata “Hutang”, padahal penulisan yang benar adalah “Utang”. Kemudian kata “Silahkan”, padahal penulisan yang benar adalah “Silakan”.

Dan yang terakhir, ini adalah huruf paling bau dari seluruh abjad. Tidak percaya, ucapkanlah huruf H di depan wajah seseorang setelah memakan semur jengkol. Hahahah.

I

Huruf paling simpel, huruf paling imut, huruf paling hemat tempat, huruf yang sewaktu kecil punya titik, huruf yang berada di tengah air dan di belakang api, dan huruf vokal ringan seperti huruf E. Kita tidak perlu ‘mengganti persneling di mulut’ berlebih untuk berpindah pengucapan dari huruf E ke huruf I, mungkin hanya perlu ada pergeseran tulang di tenggorokan sedikittt.

Karena simpelnya, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya bahas dengan huruf ini. Dimikiin infirmisi ying bisi siyi simpiikin. Tirimikisih.

J

Kembali kepada huruf yang dapat diledakkan seperti huruf B, D, dan G. Huruf J juga mengambil bagian dari kumpulan huruf tersebut. Maka dari itu, orang-orang bersuku Jawa benar-benar melogatkan keempat huruf tersebut dengan begitu medok, bahkan dengan bantuan huruf H. Seperti teman saya yang bersuku Jawa, melafalkan nama saya dengan “AnanDHA”.

Bahkan beberapa teman saya yang bersuku Jawa tidak lulus ujian pengucapan huruf Arab karena mereka punya kendala dalam pengucapan huruf Ba, Jim, dan Dal disebabkan adanya tambahan huruf H yang menjadi identitas logat mereka. Secara kebetulan juga, huruf-huruf tersebut juga merupakan huruf Qalqalah yang artinya huruf Ba (B), Jim (J), dan Dal (D), dapat dipantulkan jika menjadi huruf mati tanpa vokal (sukun).

Namun huruf J ini memiliki frekuensi kemunculan yang lebih sedikit dibandingkan huruf lainnya. Mungkin karena banyak orang yang sudah begitu puas dengan huruf B, D, dan G, jadi huruf J ini tidak melulu kebagian tempat dalam mengisi kamus. Agak kasihan jadinya.

K

Huruf K ini memiliki relevansi dengan huruf G, namun bermusuhan dengan huruf C. Alasannya sudah saya sebutkan sebelumnya. Tetapi sebenarnya, huruf K ini juga memiliki sahabat karib yaitu huruf H, sesuatu yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Mengapa? Huruf H dan K adalah huruf yang dieja dengan vokal A, sementara yang lain dieja memakai huruf E. Huruf H dan K juga sama-sama berasal dari tenggorokan. Ditambah, huruf H dan K dapat bersatu menjadi pelafalan baru, KH, yang sebagian besar terpengaruh dari ejaan Arab seperti makhluk, khalayak, dst.

Dan huruf K ini memiliki fungsi lain sebagai rem mulut. Kita tidak mengenal apostrof seperti Hamzah dalam huruf Arab untuk memberhentikan pengucapan secara paksa, sebagai gantinya, huruf K ini mengambil peran.

Contohnya: Kakak, kakek, dan bapak, tidak pernah ada dari kita yang mengucapkan huruf K terakhir dari kata-kata tersebut, karena huruf K ini sudah berubah menjadi rem mulut sehingga pengucapan langsung terhenti seketika dengan jasa huruf K ini.

Namun justru fungsi huruf K ini diplesetkan oleh anak-anak milenial untuk membuat sebuah kata menjadi menggemaskan. Seperti: Lucuk, jugak, bobok, dan lain sebagainya.

Adapun huruf K yang benar-benar dilafalkan di akhir kata, seperti “batuk”, “jorok”, dan yang lainnya, biasanya diucapkan dengan bantuan huruf H yang lembut seperti sebuah pantulan kecil sehingga tidak terdengar seperti KH dalam makhluk, jadi seakan-akan huruf K ini mengeluarkan angin setelah kita melafalkan huruf K terakhir seperti “jorok-h”, “serbuk-h”, “semerbak-h”.

L

Huruf L, sebuah huruf yang mengawali “Lidah” kita, karena lidah memiliki bagian penting dalam pengucapan huruf L ini. Tak heran, jika kita bernyanyi dan ingin menggerakkan lidah kita sedangkan kita tidak hafal liriknya, yang kita bunyikan adalah “La-La-La Li-Li-Li”.

Pastinya, lidah telah menandatangani kontrak kerjasama dengan bagian depan mulut, tepatnya pada gigi depan bagian atas untuk mengucapkan huruf L ini. Wajib dengan gigi atas depan, karena jika lidah mundur sedikit ke belakang, itu sudah menjadi kontraknya huruf N.

M

Huruf yang merupakan versi lembut dari huruf B dan dapat ditahan ini ternyata menjadi saudara ‘jahat’ huruf N. Huruf M dan N memiliki bentuk yang hampir sama, namun huruf M ini lebih serakah dari saudaranya sendiri. Berapa banyak huruf awal dalam sebuah kata yang diraup habis oleh huruf M ini, tidak menyisakan saudaranya si huruf N ini kecuali sedikit, sangat sedikit. Bahkan ada imbuhan yang berawalan huruf M.

Tega betul huruf M sama saudaranya sendiri, huruf N. Saya jadi nggak respek sama huruf M. Bhahahahah.

N

Awalnya saya benci dengan huruf N, mengapa? Coba saja membuat daftar nama-nama hewan, tumbuhan, dan lain sebagainya, yang dimulai dengan huruf N. Pasti yang ditulis itu lagi, itu lagi. Berbeda jauh dengan saudaranya, huruf M.

Tapi saya tidak lagi benci dengan huruf N setelah saya tahu ini akibat ulah saudaranya yang kemaruk itu, si huruf M.

Apalagi setelah saya sadar bahwa huruf N ini mengalah dan menjadi penyeimbang. Kata huruf N, “Tidak apalah saya tidak menjadi seterkenal huruf M, lebih baik saya ditaruh di bagian akhir kata untuk menyeimbangkan pengucapan.

Maka dari itulah, kita tidak pernah kehabisan kata-kata yang diakhiri oleh huruf N, bahkan ada imbuhan yang berakhiran N, semuanya berkat pengorbanan huruf N untuk membuat sebuah kata menjadi lebih nyaman diucapkan, terutama saat akhir kata. Aduh, saya jadi terharu dengan huruf N. Terima kasih ya huruf N.

Belum lagi, merupakan sebuah jasa huruf N yang dapat beradaptasi dengan huruf-huruf lainnya untuk mempermudah mengucapan. Bagi yang muslim, dalam ilmu tajwid (bahasa Arab) kita sudah mengenal izhar, idgham, iqlab, dan ikhfa, semuanya membahas perihal membaurnya huruf N ini dengan huruf lainnya.

Huruf N bisa menjadi NY jika bertemu huruf J. Contoh, Kata “Pinjam” seringkali kita lafalkan dengan “Pinyjam”.

Huruf N bisa menjadi NG jika bertemu huruf K. Bahkan huruf K-nya yang larut dalam huruf N tersebut, seperti “mengerjakan”, “menguras”, “mengasihani”, dan seterusnya.

Bravo huruf N! Hormat saya untuk huruf N… Oh iya, AnandastooN juga berakhiran N hehe…


Akhirnya selesai saya nyinyir alfabet babak pertama ini.

klik di sini say untuk membaca nyinyiran saya tentang huruf O sampai huruf terakhir Z.

  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


    Diskusi dengan Anandastoon


    Anandastoon baru saja buat forum untuk diskusi dengan sesama pembaca. Temanya banyak, mulai dari pengalaman horor, menarik, travelling, curhat, tanya jawab, programming, dan lain sebagainya. Mari kunjungi Forum Anandastoon

  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Kembali
    Ke Atas
    Mode Gelap