3 Cerita Horor Kereta yang Pernah Saya Dengar

cerita horor keretaKereta hantu, banyak yang sudah mendengar kisah tentang itu. Bahkan beberapa film di layar lebar mengangkat cerita bagaimana sebuah transportasi ular listrik dapat dijadikan wahana horor tersendiri. Tetapi itu hanya sebatas cerita horor yang kalian simak.

Bagaimana dengan cerita horor yang berhubungan dengan kereta di mana kalian pernah mendengarnya sendiri dari orang yang kalian kenal? Saya punya beberapa kisah, dan ini adalah kisah nyata. Namun saya agak lupa detailnya sehingga mohon maaf untuk presisi cerita tidak begitu akurat.


  • Kereta yang salah

Saudara saya bercerita, bahwa kenalannya ada yang naik KRL dari stasiun Tebet menuju Bogor. Waktu itu KRL masih ada yang tipe ekonomi dan AC, kejadiannya sebelum tahun 2013, dia bersama penumpang lain yang baru selesai bekerja tentunya memenuhi stasiun untuk kembali ke rumah masing-masing.

Tak berapa lama, kereta datang. Namun begitu pintunya terbuka, orang-orang sudah memenuhi kereta sehingga tidak ada penumpang dari stasiun yang masuk, dan tidak ada juga penumpang dari kereta yang turun. Melihat tidak ada penumpang yang ingin naik, dia akhirnya memaksa naik dan berdesakan dengan para penumpang di dalam kereta karena dia sudah ingin pulang ke rumahnya.

Anehnya, banyak penumpang di stasiun menjerit ketika kenalan saudara saya itu naik ke dalam kereta. Tetapi begitu dia penasaran dengan apa yang terjadi ternyata pintu sudah menutup. Stasiun-stasiun berikutnya pun begitu, tidak ada penumpang yang ingin naik dan tidak ada penumpang dari kereta yang turun, membuat dia harus berdesakan hingga stasiun terakhir.

Dia tidak dapat melihat wajah para penumpang lain sepanjang perjalanan, dan berdirinya cenderung kaku. Para penumpang di kereta pun terlihat diam semuanya, yang pada akhirnya dia merasa aneh dan tetap pada posisinya menunggu hingga stasiun terakhir.

Sesampainya di stasiun terakhir dia turun dari kereta dan disambut dengan teriakan beberapa penumpang. Dia yang penasaran ada apa, diberitahu oleh penumpang lain, bahwa tadi dia melayang sepanjang perjalanan. Tidak ada kereta sama sekali.


  • Dapat kereta terakhir

Masih dalam seri kisah KRL jadul, seseorang tergopoh-gopoh berlari stasiun Bogor untuk mendapatkan kereta terakhir. Namun di stasiun Bogor dia diberitahu petugas bahwa layanan kereta sudah berakhir. Dari dalam stasiun dia melihat masih ada kereta yang sedang menunggu untuk diberangkatkan di sebuah peron, petugas lainnya pun melihat kereta tersebut. Akhirnya dia diizinkan untuk membeli tiket dan naik kereta terakhir tersebut.

Di kereta pada saat itu hanya ada dia sendiri, sepanjang perjalanan. Tidak merasa ada yang aneh, dia tetap pada posisinya hingga tiba di stasiun Manggarai. Setibanya di stasiun Manggarai, stasiun sudah sangat gelap dan terkunci sehingga dia tidak dapat keluar stasiun. Tidak punya pilihan lain, dia akhirnya tidur di peron stasiun.

Paginya, seorang pedagang asongan membangunkan dia (dulu banyak pedagang dan pengamen di KRL) dan bertanya mengapa ada di sini. Dia tentu saja menjelaskan duduk perkaranya dan pedagang asongan tersebut menjawab,

“Tidak ada kereta setelah stasiun tutup, juga tadi malam saya diberitahu seseorang bahwa ada orang yang berjalan di atas rel dari stasiun Bogor hingga Manggarai.”


  • Kereta Portal

Ini adalah pengalaman dari seorang profesor dari perkuliahan teman saudara saya. Dia waktu itu menggunakan kereta api jarak jauh (KAJJ) untuk pergi ke Purwokerto. Perlu dicatat, dulu KAJJ ada yang bangkunya berhadap-hadapan, bukan mengarah ke depan, seperti yang di Transjakarta atau KRL kini.

Di dalam kereta, sang profesor duduk di sebelah bule. Mereka saling tegur-menegur dengan bahasa Indonesia. Si bule ternyata agak lancar berbahasa Indonesia meski terbata-bata dan memiliki logat yang lucu. Selama pembicaraan dengan si bule, sang profesor memperhatikan para penumpang di depan dan di sampingnya duduk dengan kaku dengan wajah yang dingin tanpa gerakan.

Merasa semakin aneh, sang profesor mulai ketakutan. Pembicaraannya diberhentikan dengan si bule dan juga memilih untuk diam. Petugas karcis pun datang untuk memeriksa karcis penumpang satu per satu untuk dilubangi. Hingga pada giliran sang profesor, dia menyerahkan karcisnya pada petugas dan dilubangi, kemudian dikembalikan lagi kepada profesor.

Sekarang apa yang ada di tangannya ini adalah sebuah tiket yang bertuliskan tahun “1970”. Sambil menahan pipis karena begitu ketakutan, dia berusaha untuk tenang. Sang profesor bahkan tidak berani menoleh kepada si bule yang sedaritadi ia ajak berbicara.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)