Kripikpasta Horor #24 : Rumah Temanku

Rumah Temanku

urban legend by : anandastoon

Kripikpasta Horor

Aku mengunjungi rumah temanku yang memang aku baru pertama kali mengunjunginya. Rumahnya tingkat tiga, maklum dia orang kaya. Sesampainya di rumahnya hanya ada aku dan temanku sendiri, orang tuanya sedang ada urusan dengan pamannya. Karena rumahnya luas, saya meminta izin kepada temanku untuk melihat-lihat. Dan temanku mengizinkannya.

Aku berkeliling rumahnya dengan cukup takjub, andaikan rumahku seperti ini. Kemudian aku naik ke lantai dua, mengitari koridor ruangan, kemudian menemukan tangga ke lantai tiga. Tangganya terlihat usang, seperti tidak pernah dilewati dan dibersihkan. Ruangan di atasnya juga cukup gelap, padahal masih siang.

Akhirnya aku coba menaikinya karena penasaran. Semakin naik ke atas perasaanku semakin tidak enak, mungkin atmosfernya yang belum biasa bagiku. Tetapi sepertinya ada hal lain yang tak dapat kujelaskan di luar atmosfir.

Tiba di atas, aku kembali menemukan lorong yang gelap, menuju ke sebuah belokan yang terdapat sedikit cahaya. Aku mengikuti koridor panjang tersebut dan di tengah-tengahnya kutemukan sebuah cermin besar yang cukup aneh. Aku melihat diriku sendiri di cermin itu. Entah mengapa, semakin aku memperhatikan bayangan diriku sendiri di cermin tersebut, perasaanku semakin berkecamuk. Aku langsung segera meninggalkannya dan meneruskan berkelilingnya.

Pada akhirnya tiba di ujung lorong yang sedikit bercahaya tersebut. Aku menuju sumber cahayanya di arah kanan dan ternyata itu sebuah pintu menuju balkoni atas. Lalu aku pikir cukup untuk berkelilingnya, aku memutuskan untuk kembali.

Lorong yang tadi pun aku lewati. Kali ini aku kembali melihat bayanganku sendiri di cermin yang tadi. Benar-benar ada yang aneh dengan cermin besar ini, pikirku. Mengapa pemilik rumah ini menaruhnya di sini? Di saat aku berpikir demikian, ternyata aku melihat bayanganku tersenyum. Sedangkan aku tidak tersenyum. Dia mulai berjalan ke arahku sambil menunjukkan senyumnya yang semakin lebar dan menyeramkan.

Rambut bayangan itu perlahan-lahan menjadi putih, matanya mulai menghitam dan ada darah yang mengalir keluar darinya. Aku masih terpaku dengan apa yang aku saksikan pada saat itu. Kuku-kukunya tiba-tiba mencuat hitam dari jari-jarinya, dan dia tiba-tiba langsung berjongkok dengan gerakan yang sangat cepat. Aku menyadari posisinya yang lebih dekat dari cermin daripada diriku. Itu bukan bayanganku lagi, dan dia tiba-tiba melompat dari cermin kearahku seperti ingin menerkamku!

Temanku yang masih berada di lantai satu sepertinya kaget mendengar teriakan di atas dan mulai menaiki tangga. Sesampainya temanku di lorong lantai dua, dia melihatku dengan dengan panik turun dari tangga dan berlari menuju dia. Temanku langsung memeluk aku yang menangis dan juga gemetar hebat. Dituntunlah aku menuruni tangga ke lantai utama dan aku menceritakan apa yang aku lihat.

“Maksudmu cermin besar yang di lantai tiga?” Temanku bertanya. Akupun mengangguk.

Temanku melanjutkan,

“Sebelumnya aku minta maaf padamu karena aku lupa mengingatkanmu agar jangan pergi ke lantai tiga. Ruangan itu tidak pernah ada yang pakai semenjak pembantu rumahku terjatuh di kamar mandi setahun lalu dan meninggal pada saat itu juga di lantai tersebut.”

“Dan kamu baru melewati kamarnya yang tak memiliki pintu dan kusen, itu bukan cermin.”

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)