Saya Minta Maaf

Seseorang mengirim pesan kepada saya setelah saya diamkan, “Nan, kalau ada salah saya minta maaf ya.”

Sebuah hal yang saya apresiasi dari dirinya yang berani untuk meminta maaf duluan. Saya tidak lagi mau mengingat kesalahannya. Namun kali kedua dia berbuat salah serupa, dan kembali mengirimkan pesan kepada saya setelah berhari-hari saya diamkan. Isi pesannya masih sama, “Kalau saya ada salah, saya minta maaf ya.”

Dari sini saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kalimat permohonan maaf tersebut.


  • Standar emosi yang ketat

Sebenarnya tidak ada masalah dengan ucapan, “Kalau ada salah, saya minta maaf” karena itu merupakan bentuk sebuah kehati-hatian yang layak dihargai. Di setiap kesempatan, dalam pidato, ceramah, khutbah, bahkan dalam sesi Master of Ceremony (MC) sekalipun sering ditutup dengan kalimat tersebut.

Kata-kata permohonan tersebut diucapkan untuk menormalisasi atau menetralisir setiap butir-butir aksi kita yang dirasa kurang berkenan bagi orang lain. Ada orang yang gaya berbicaranya memang langsung ke sasaran. Ada orang yang gaya menyampaikannya senang menganalogikan dengan kehidupan sekitar yang terkadang menyinggung.

Semua itu watak naluri, kita tidak bisa mewajibkan orang lain memiliki gaya bicara monoton yang sama dengan kita. Bahkan orang yang sudah profesional sekali pun, sesekali ada saat dimana lidahnya tidak bisa berkompromi dengannya.

Di sinilah perlu adanya netralisir dari setiap langkah kecil yang mungkin sedikit membuat beberapa kalangan tidak senang.

Lalu mengapa saya menjadi sangsi dengan kalimat permohonan maaf tersebut?


  • Pintar mencari celah

Beberapa orang yang berbuat salah dengan saya, bahkan saya sendiri terkadang kehabisan cara untuk menyapa kembali seseorang yang telah terluka dengan sebuah perbuatan. Seringkali opening yang dilayangkan adalah, “kalau ada salah, saya minta maaf ya”. Setelah itu, komunikasi berjalan dengan normal kembali.

Tetapi akhir-akhir ini, kalimat tersebut sudah tidak lagi saya layangkan kepada orang lain kecuali dalam acara-acara resmi seperti ketika saya menjadi pembicara atau sejenisnya. Diluar itu jika saya berbuat salah dengan seseorang, kalimat tersebut tidak lagi saya ucapkan.

Bahkan semakin hari, jika seseorang yang sepertinya dengan sengaja berbuat kesalahan kepada saya dan mencoba meminta maaf kembali dengan hiasan kalimat “kalau ada salah, saya minta maaf” justru membuat saya semakin menjauhinya.

Sekali lagi, mengapa bisa demikian?


  • Inti dari segala inti

Saya khawatir kalimat “kalau ada salah, saya minta maaf” hanya berakhir jadi template bagi sebagian orang. Alih-alih menyadari apa kesalahannya, dia berpikir bahwa cukup mengeluarkan kalimat jitu tersebut maka masalah selesai. Akibatnya, dia tidak pernah menyadari apa kesalahannya dan akan terus-menerus mengulangi perbuatan yang sama.

Dalam hal lain, kalimat “kalau ada salah, saya minta maaf” memiliki kemungkinan membuat orang menjadi semakin malas introspeksi dan cenderung menggampangkan emosi seseorang.

Namun di satu sisi tantangannya adalah, banyak dari kita yang tidak lulus ujian ketika berhadapan dengan kalimat tersebut karena tidak jarang ketika orang yang tersalah tersebut melayangkan jurus kalimat “kalau ada salah, saya minta maaf”, hati kita akan dengan sedikit luluh meresponnya.

Tetapi semakin kemari, saya akhirnya membangun standar emosi yang agak tinggi. Boleh saja seseorang meminta maaf kepada saya dengan kalimat itu, namun saya akan memburunya untuk mengingat apa kesalahannya yang membuat saya begitu marah kepadanya.


  • Konklusi

Sebenarnya emosi adalah sebuah ilmu pasti, layaknya matematika. Untuk memahami matematika emosi, perlu menjadi ahli bidang tersebut. Dan untuk menjadi ahli, seseorang harus menyadari konsep dan fundamental emosi tersebut, bukan justru sibuk mencari-cari jalan pintas, tips dan trik, atau hacking dalam memahami emosi seseorang. Pada akhirnya, bukan keharmonisan yang timbul, melainkan sebuah kekacauan yang begitu dingin.

Sebenarnya bukan kalimat “kalau ada salah, saya minta maaf” saja yang rentan dijadikan tameng oleh mereka yang tidak bertanggungjawab, kalimat-kalimat yang lain cukup banyak yang sering diselewengkan maknanya, atau tidak diucapkan pada saat yang tepat.

Maka dari itu, ketika saya berbuat salah dengan seseorang, saya meminta maaf dengan langsung menyebutkan detail kesalahan saya, atau setidaknya, bertanya dengan lembut mengenai apa kesalahan yang telah saya perbuat kepadanya. Mengapa harus dengan lembut? Karena saya mencoba untuk menyatukan kembali cermin yang sedang pecah, gerakan yang salah sedikit akan membuat cermin semakin pecah, atau setidaknya tangan saya yang akan tergores.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke X
๐Ÿค— Selesai! ๐Ÿค—
Ada masalah kesehatan mental? Bingung curhat ke mana?
Curhat ke Anandastoon aja! Mari, klik di sini. ๐Ÿ’—

  • Sebelumnya
    Bakat Mentah, Tidak Dapat Dipakai, Dibuang Sayang

    Berikutnya
    Nyerocos Asal Mula Nama Daerah Di Jakarta


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. ๐Ÿ˜‰

    Kembali
    Ke Atas

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Apakah artikelnya mudah dimengerti?

    Mohon berikan bintang:

    Judul Rate

    Desk Rate

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Dan terima kasih juga sudah berkontribusi menilai kemudahan bacaan Anandastoon!

    Ada saran lainnya untuk Anandastoon? Atau ingin request artikel juga boleh.

    Selamat datang di Polling Anandastoon.

    Kalian dapat iseng memberi polling seperti di Twitter, Facebook, atau Story Instagram. Pollingnya disediakan oleh Anandastoon.

    Kalian juga dapat melihat dan menikmati hasil polling-polling yang lain. ๐Ÿ˜Š


    Memuat Galeri Poll...

    Sebentar ya, Anandastoon muat seluruh galeri pollnya dulu.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Asik poll ditemukan!

    Silakan klik salah satu poll yang kamu suka untuk mulai polling!

    Galeri poll akan terus Anandastoon tambahkan secara berkala. ๐Ÿ˜‰

    Judul Poll Galeri

    Memuat poll...

    Sebentar ya, Anandastoon memuat poll yang kamu pilih.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Masih memuat ~

    Sebelum memulai poll,

    Anandastoon ingin memastikan bahwa kamu bukan robot.
    Mohon agar menjawab pertanyaan keamanan berikut dengan sepenuh hati.
    Poll yang 'janggal' berpotensi dihapus oleh Anandastoon.
    Sebab poll yang kamu isi mungkin akan bermanfaat bagi banyak orang. ๐Ÿค—

    Apakah nama hari sebelum hari Kamis?

    Mohon jawab pertanyaan keamanan ini. Jika jawaban benar, kamu langsung menuju pollnya.

    Senin
    Rabu
    Jumat
    Sabtu

    Atau, sedang tidak ingin mengisi poll?

     

    Wah, poll telah selesai. ๐Ÿค—

    Sebentar ya... poll kamu sedang di-submit.
    Pastikan internetmu terhubung agar dapat melihat hasilnya.

    Hasil poll ๐Ÿ‘‡

    Menunggu ~

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya Anandastoon akan menebak rekomendasi artikel yang kamu inginkan ~

    Heihei maihei para pembaca...

    Selesai membaca artikel Anandastoon? Mari, saya coba sarankan artikel lainnya. ๐Ÿ”ฎ

     

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya kamu bisa main game langsung di artikelnya.

    Permainan di Artikel

    Bermain dengan artikel yang baru saja kamu baca? ๐Ÿ˜ฑ Kek gimana tuh?
    Simpel kok, cuma cari kata dalam waktu yang ditentukan.

    Mempersiapkan game...

    Aturan Permainan

    1. Kamu akan diberikan sebuah kata.

    2. Kamu wajib mencari kata tersebut dalam artikel.

    3. Kata yang ditemukan harap diblok atau dipilih.
    Bisa dengan klik dua kali di laptop, atau di-tap dan tahan sampai kata terblok.

    4. Terus begitu sampai kuota habis. Biasanya jumlahnya 10 kuota.

    5. Kamu akan berhadapan dengan waktu yang terus berjalan.

    6. DILARANG Inspect Element, CTRL + F, atau find and replace. Juga DILARANG berpindah tab/windows.