Profesi Gen Z

Semenjak 2018 sebenarnya saya sudah cukup familiar dengan artikel-artikel mengenai profesi gen Z atau pekerjaan-pekerjaan yang cocok bagi generasi Z.

Generasi Z itu sendiri adalah julukan bagi setiap orang yang lahir di kisaran tahun 1997 sampai dengan 2012.

Saat saya membaca tentang artikel-artikel tentang profesi gen Z dari tahun 2018, saya tidak terlalu peduli karena memang banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang memang terkenal baru atau sedang tren di zamannya.

Beberapa dari profesi yang menjadi rujukan para gen Z kebanyakan tidak jauh dari kreator konten, teknologi (programming & desain), serta pengusaha kopi.

Sampai pada akhirnya sesaat sebelum saya tuliskan artikel ini, saya tersadar sesuatu. Ada sebuah ketidaknyamanan yang saya temui di media-media sosial, yang sebenarnya sudah saya rasakan dari dahulu.

Langsung saja saya katakan, “Tidak ada yang namanya profesi gen Z”, sesuai judul artikel.

Profesi adalah profesi, mereka memiliki nilai apa pun bentuknya. Yang saya khawatirkan adalah saat beberapa bidang pekerjaan terlalu dilebih-lebihkan, sudah barang pasti akan muncul ketidakseimbangan antarprofesi.

Ketidakseimbangan, layaknya keabnormalan, seperti dua buah atmosfer, panas dan dingin, yang tidak dapat menyatu. Satu-satunya yang dapat menyatukan keduanya adalah sebuah tornado yang berujung kehancuran dan bencana besar.


Adil dan merata

Saat generasi Z berbondong-bondong menerjuni sebuah profesi, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, ketidakseimbangan akan muncul.

Bisa jadi sebuah profesi akan menjadi langka dan sulit untuk mencari SDM yang masih tangguh, dan profesi lainnya sudah begitu penuh sesak karena terlalu banyak yang bergabung di dalamnya.

Sebuah bidang kerja yang terlalu banyak peminat akan merusak nilai pasar karena begitu banyaknya pilihan yang sama.

Pada akhirnya, beberapa orang akan bermain licik dan menjatuhkan harga. Tentu para calon pelanggan akan memilih mereka yang memiliki harga termurah.

Sementara itu, para pekerja ahli yang memasang harga wajar akan kalang kabut mempertahankan nilai jasanya.

Begitulah akibatnya jika sebuah harga pasar sudah rusak. Penawaran yang terjadi jauh lebih banyak daripada permintaan sehingga beberapa penyedia jasa terpaksa harus menganut hukum rimba agar mendapatkan pelanggan daripada harus kehilangan bisnis mereka.

Sekarang cobalah lihat profesi Youtuber yang sempat diagung-agungkan beberapa tahun silam sebagai profesi yang menggiurkan. Banyak kenalan saya yang bercerita bahwa teman-teman mereka beralih profesi menjadi Youtuber. Padahal, sebelumnya pekerjaan mereka sudah nyaman duduk di bawah naungan AC.

Lalu bagaimana kini ‘nasib’ para Youtuber tersebut? Yang bertahan mungkin hanya kurang dari 3% dan selebihnya hanya usaha sampingan. Sisanya mengenaskan dan harus menelan kenyataan pahit bahwa mereka harus menjadi karyawan kembali, dari awal. Saya bahkan pernah prediksi dari tahun-tahun sebelumnya.

Di luar itu, beberapa perusahaan sudah semakin sulit mencari para tenaga ahli yang benar-benar menguasai bidang lainnya, yang tidak tercantum dalam daftar-daftar profesi gen z yang beredar di media-media.


Niat yang keruh

Apakah gen Z adalah orang-orang manja (entitled)? Sebenarnya saya ingin katakan jikalau itu kembali kepada individual masing-masing. Generasi-generasi sebelumnya juga memiliki orang-orang yang manja dan pemalas.

Namun saya memilih untuk mengutarakan jawaban lainnya.

Saat ini, beberapa generasi Z yang saya perhatikan, di jalan, di kafe, di lingkungan kerja, di tempat wisata, sepertinya terlalu condong kepada mengikuti perkembangan zaman.

Maksud saya, kebanyakan mereka lebih memilih pekerjaan yang dapat mereka selesaikan dari rumah, dengan gaji besar.

Beberapa perekrut kerja yang saya kenal hingga saya pribadi bahkan hingga frustasi mencari calon SDM yang punya dedikasi. Kebanyakan mereka ingin bekerja santai dengan mengharapkan gaji yang berada jauh di atas upah minimum.

Beberapa gen Z memilih pekerjaan yang alur kerjanya sudah tersedia lewat tools dan template, dan berangan-angan mendapatkan penghasilan terbaik darinya.

Lagi, waktu yang tersita untuk melihat sesama generasi Z di media sosial telah membawa banyak dampak negatif.

Kebanyakan para gen Z terpengaruh orang-orang seusia mereka di media sosial yang dapat pergi ke luar negeri, hidup bergelimang harta, dan banyak pengikut karena mereka menekuni salah satu profesi gen Z.

Mungkin para gen Z sudah banyak melihat generasi sebelumnya yang bekerja susah payah dan masih hidup di garis rata-rata, jadi mereka tidak ingin lagi memilih pekerjaan itu.

Dengan lugunya, beberapa orang menganggap kemewahan para gen Z di media sosial adalah murni hasil jerih payahnya dalam menekuni salah satu profesi gen Z.

Padahal mungkin yang benar-benar sukses hanya segelintir, sisanya adalah mereka yang masih menikmati uang orang tuanya yang memang sudah hidup berkecukupan.


Statistik simpel

Apakah Generasi Z adalah generasi yang lebih malas dan manja dari generasi sebelumnya?

Mungkin iya, dan mungkin tidak. Kita dapat membuat statistik kita sendiri.

Benar bahwa generasi-generasi sebelumnya ada yang pemalas dan manja, namun bukan berarti dari sisi kuantitas adalah sama.

Untuk mengujinya, tidak ada salahnya kita memilih untuk berbincang-bincang dengan orang yang kita kenal mengenai apa profesi pilihan mereka, dan apa niat mereka dalam menekuni bidang tersebut. Kemudian, kita bisa tarik kesimpulan dari penelitian mini tersebut.

Kita juga dapat menilai dari seberapa efisien waktu yang mereka gunakan, dan seberapa dalam mereka memahami konsep dari pekerjaan atau bahkan tujuan hidup mereka.

Kita hanya tidak ingin para generasi Z menerjuni bidang mereka karena terpengaruh dari media-media sosial. Hal ini membuat para generasi Z kehilangan identitas diri mereka sendiri.

Apalagi hal ini menjadi lebih parah dengan para generasi Y dan X yang tidak siap dengan pesatnya perkembangan teknologi. Banyak dari mereka yang terlewat dari apa-apa yang anak mereka saksikan di jagat maya.

Terlebih beberapa generasi sebelumnya justru ‘menyuburkan’ penyakit untuk memaksa generasi berikutnya supaya menekuni sebuah keahlian karena menurut mereka itu adalah profesi santai dan easy money.

Pada akhirnya tidak ada seorang pun yang bisa kita salahkan apabila kekurangan profesi tertentu yang membuat negara mengimpor tenaga ahli dari luar.


Kalimat penghibur

Seseorang sudah memiliki bakat masing-masing, saya bahkan sudah jelaskan di postingan saya yang lain. Bakat itulah yang membuat setiap manusia menjadi unik satu sama lain.

Kebanyakan generasi Z tidak mengetahui bakat mereka karena bisa jadi identitas mereka sudah tergerus oleh pengaruh negatif dari media sosial.

Sisanya, generasi Z yang mengetahui apa bakat mereka terkadang menjadi bimbang hingga ketakutan apakah bakat mereka dapat menyesuaikan permintaan pasar yang dalam hal ini adalah rentetan profesi gen Z.

Padahal, apa pun profesinya, semua itu tetap dapat mendatangkan kesuksesan. Kuncinya hanyalah memahami konsep dan terus melakukan perbaikan (improvisasi).

Jadi, sebaiknya agar tidak mencari profesi yang bermodal santai dan berpenghasilan tinggi. Karena jika otak manusia dapat melakukan pekerjaan bergengsi sedemikian mudahnya, kemungkinan robot pun juga dapat dilatih untuk bisa.

Apalagi jika faktanya, kebanyakan generasi muda saat ini memilih bekerja hanya untuk memberi makan gengsi mereka, tidak lagi memperhatikan identitas, konsep, dan detail yang membuat robot atau orang lain sulit untuk mereplikanya.

Beberapa hari sebelumnya saya pernah menuliskan artikel tentang mengerikannya profesi desain grafis hari ini. Bukan hanya penerjunnya dapat berebut satu sama lain, beberapa robot (AI) juga telah dapat mengambil alih mereka karena modalnya hanya tools dan template.

Kalian dapat membacanya di sini.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
๐Ÿค— Selesai! ๐Ÿค—
Ada masalah kesehatan mental? Bingung curhat ke mana?
Curhat ke Anandastoon aja! Mari, klik di sini. ๐Ÿ’—

  • Sebelumnya
    Saat Profesi Desain Grafis Hampir Punah...

    Berikutnya
    Otodidak? Awas Bahaya 5 Hal Berikut


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Minta Komentarnya Dong...

    Silakan tulis komentar kalian di sini, yang ada bintangnya wajib diisi ya...
    Dan jangan khawatir, email kalian tetap dirahasiakan. ๐Ÿ˜‰

    Kembali
    Ke Atas

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Apakah artikelnya mudah dimengerti?

    Mohon berikan bintang:

    Judul Rate

    Desk Rate

    Terima kasih telah membaca artikel Anandastoon!

    Dan terima kasih juga sudah berkontribusi menilai kemudahan bacaan Anandastoon!

    Ada saran lainnya untuk Anandastoon? Atau ingin request artikel juga boleh.

    Selamat datang di Polling Anandastoon.

    Kalian dapat iseng memberi polling seperti di Twitter, Facebook, atau Story Instagram. Pollingnya disediakan oleh Anandastoon.

    Kalian juga dapat melihat dan menikmati hasil polling-polling yang lain. ๐Ÿ˜Š


    Memuat Galeri Poll...

    Sebentar ya, Anandastoon muat seluruh galeri pollnya dulu.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Asik poll ditemukan!

    Silakan klik salah satu poll yang kamu suka untuk mulai polling!

    Galeri poll akan terus Anandastoon tambahkan secara berkala. ๐Ÿ˜‰

    Judul Poll Galeri

    Memuat poll...

    Sebentar ya, Anandastoon memuat poll yang kamu pilih.
    Pastikan internetmu tetap terhubung. ๐Ÿ˜‰

    Masih memuat ~

    Sebelum memulai poll,

    Anandastoon ingin memastikan bahwa kamu bukan robot.
    Mohon agar menjawab pertanyaan keamanan berikut dengan sepenuh hati.
    Poll yang 'janggal' berpotensi dihapus oleh Anandastoon.
    Sebab poll yang kamu isi mungkin akan bermanfaat bagi banyak orang. ๐Ÿค—

    Apakah nama hari sebelum hari Kamis?

    Mohon jawab pertanyaan keamanan ini. Jika jawaban benar, kamu langsung menuju pollnya.

    Senin
    Rabu
    Jumat
    Sabtu

    Atau, sedang tidak ingin mengisi poll?

     

    Wah, poll telah selesai. ๐Ÿค—

    Sebentar ya... poll kamu sedang di-submit.
    Pastikan internetmu terhubung agar dapat melihat hasilnya.

    Hasil poll ๐Ÿ‘‡

    Menunggu ~

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya Anandastoon akan menebak rekomendasi artikel yang kamu inginkan ~

    Heihei maihei para pembaca...

    Selesai membaca artikel Anandastoon? Mari, saya coba sarankan artikel lainnya. ๐Ÿ”ฎ

     

    Ups, sepertinya fitur ini masih dikembangkan Anandastoon

    Di sini nantinya kamu bisa main game langsung di artikelnya.

    Permainan di Artikel

    Bermain dengan artikel yang baru saja kamu baca? ๐Ÿ˜ฑ Kek gimana tuh?
    Simpel kok, cuma cari kata dalam waktu yang ditentukan.

    Mempersiapkan game...

    Aturan Permainan

    1. Kamu akan diberikan sebuah kata.

    2. Kamu wajib mencari kata tersebut dalam artikel.

    3. Kata yang ditemukan harap diblok atau dipilih.
    Bisa dengan klik dua kali di laptop, atau di-tap dan tahan sampai kata terblok.

    4. Terus begitu sampai kuota habis. Biasanya jumlahnya 10 kuota.

    5. Kamu akan berhadapan dengan waktu yang terus berjalan.

    6. DILARANG Inspect Element, CTRL + F, atau find and replace. Juga DILARANG berpindah tab/windows.