Setelah hampir dua bulan lalu saya mereview Encanto, ternyata ada film Pixar yang menyusul dengan trailernya sempat menggebu-gebu.
Okai, intinya film ini mengambil latar di Toronto, Kanada pada tahun 2002. Saya cukup mengapresiasi Pixar di sini karena banyak karakter yang bukan hanya multirasial, tapi multireligi.
Ada muslimah berhijab juga di sini! Bahkan salah satunya tampak di salah satu poster filmnya, seperti gambar di atas ini… Sebagai muslim, saya begitu excited Pixar benar-benar memasang sesuatu yang lebih luas dalam standarnya. Nice!
Film ini kalau dilihat dari trailernya menceritakan seorang gadis yang baru saja beranjak remaja, yang saya nggak tau kenapa tiba-tiba kerasukan makhluk halus dan berubah jadi panda merah raksasa yang UNYUKKK!!! AKKK!!!
Kayaknya seru nih. Maka dari itu saya tonton, dan setelah saya tonton ternyata filmnya… eh terlalu dini untuk ngasih konklusi. Mari dibaca reviewnya… murni loh dari lubuk hati dakuh ~
Dalam review ini saya akan mencoba untuk sama sekali tidak menuliskan βSpoilerβ.
Cukup mengejutkan kualitas animasi sekelas Pixar ternyata tidak mampu menyentuh angka delapan dalam Turning Red kali ini. Lho kenapa? Ada apa memangnya sampai saya ‘tega’ memberikan rating yang lebih rendah dari ekspektasi?
Jika dibandingkan dengan Soul atau Onward, Pixar sepertinya agak ‘banting stir’ dalam membuat modelling dan rendering seluruh grafik dan animasi Turning Red. Tapi apakah itu buruk? Untuk standar Pixar, saya akui, cukup.
Saya hanya seperti merasa jika saya menonton animasi besutan ‘lokal’ atau animasi di Asia Tenggara seperti U*pin dan I*pin. Meskipun memang kualitas Turning Red pastinya lebih baik daripada film animasi “berbudget lebih minim” tersebut, namun c’mon, ini Pixar!
Maksud saya, coba lihat desain karakter berikut,
Coba lihat karakter muslimahnya. Duh, serasa liat ponakan lagi nonton Nu*ssa.
Apalagi ditambah dengan perpaduan animasi yang terinspirasi dari anime, seperti tatapan memelas dengan mata yang penuh bintang, dan lain sebagainya.
Saya sampai berkali-kali mengecek untuk meyakinkan jika saya sedang menonton animasi dari Pixar.
Belum cukup dengan itu, desain lingkungan dan atmosfernya bagi saya sangat boring. Beberapa film sebelumnya seperti Soul atau Onward, atau bahkan Coco, mereka setidaknya memiliki tema fantasinya yang memukau. Sedangkan di Turning Red ini, segala sesuatunya bahkan sedikit terlalu kotak dan kaku.
Benar bahwa ada environment fantasi di Turning Red ini. Tapi itu hanya sebatas hutan bambu?! Oh dear.
Pixar, what happened? Budget keuangan dikau kesamber Covidkah? Atau mungkin ini alasannya kenapa Turning Red ini hanya ditayangkan di Disney+, tidak seperti Encanto yang berhasil hinggap di bioskop meskipun masih dalam badai Covid.
Wait, ada musikkah di film Pixar? Saya tahu Coco juga punya, namun Pixar tidak seperti Disney yang sudah dikenal sebagai film animasi yang doyan musikal.
Sebenarnya tidak ada musical number di sini, namun saya beri skor karena ada satu dariΒ boyband 4*Town ini. Mungkin remaja awal akan menyukai musiknya namun saya hanya agak cringe dengan itu.
Sisanya hanya skor-skor di latar belakang yang sudah jadi standar Disney/Pixar.
Film ini mencoba untuk lucu dengan animasi-animasi spontan daaannn… cukup berhasil. Maksudnya, saya beberapa kali memang sempat melepaskan tawa dengan riang namun tidak seintens Encanto.
Lho, apa komedinya buruk? Tidak buruk, tapi tidak bagus juga. Saya hanya merasa banyak sekali material yang di-recycle dari film-film animasi Disney/Pixar sebelumnya. Contohnya seperti yang barusan saya sebut, animasi dan ekspresi dadakan, gaya centil, dan beberapa dialog yang sepertinya saya sudah agak bosan dengan itu.
Tapi tipikal Pixar, sepertinya memang banyak sekali film-film Pixar yang tidak terlalu mengedepankan komedi, tidak seperti sepupunya, Disney.
Yah tidak mengapa, yang saya suka dari Pixar justru melihat seberapa dalam ceritanya. Apakah jalan cerita Turning Red ini dapat menyelamatkan skor-skor yang saya berikan sebelumnya?
Saya sebenarnya agak kurang sudi mengatakan kalau Turning Red ini hanya recycling plot dari film-film animasi lain. Masalahnya, saya melihat banyak sekali jalan cerita yang sudah berkali-kali saya saksikan di film-film lain.
Namun saya tidak ingin membahas itu dulu, saya ingin menceritakan bagaimana sebenarnya secara garis besar si Turning Red ini.
Yang saya suka dari Turning Red ini adalah jalan ceritanya straightforward. Benar, jalan ceritanya begitu to the point dan tidak bertele-tele. Ini merupakan poin plus sebab akhir-akhir ini banyak film yang plotnya agak diundur-undur hanya untuk menyuguhkan beberapa plot-twist ringan yang sangat tidak penting dan ujung-ujungnya ke situ-situ juga.
Namun ada beberapa jalan cerita yang to the point yang saya rasa agak terlalu brutal dan hampir tidak diterima akal sehat di sini.
Contohnya saat ibunya Mei langsung menyeret Mei ke toko di mana penjaga tokonya ditaksir Mei. Saya sampai mengernyitkan dahi kenapa Pixar menyetujui adegan ekstrem seperti ini. Saya mungkin akan trauma seumur hidup hahah.
Ibunya Mei terlalu overprotektif hingga seringkali mempermalukan Mei dengan begitu sadis. Tapi meskipun begitu, hampir tidak ada adegan film ini yang hard to watch, atau “malas ditonton lagi”. Setidaknya bagi saya.
Maksudnya “Hard to Watch” di sini, Turning Red tidaklah seperti sinetron-sinetron yang dulu terkadang ibu saya suka bilang, “Pindahin dong channelnya! Ibu gak mau liat dulu!” pada sebuah adegan yang ‘terlalu sadis’ atau ‘terlalu depresi’ untuk dilihat.
Bahkan, saya menyenangi berbagai plot-twist mini yang begitu mengalir dan tidak terlalu dibuat-buat sehingga memperlambat jalan cerita. Jadi mirip seperti Coco, di mana ada kenyataan-kenyataan mencengangkan terungkap seiring jalannya cerita.
I like that! Thank you Pixar.
Namun sayang, klisenya terlalu banyak. Mungin Cinema Sins akan menemukan sangat banyak ‘kesalahan’ atau ‘budaya tabu’ dalam Turning Red ini. Contohnya, sebenarnya sih banyak sekali saat klimaks.
Saya seringkali melontarkan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang menyelisihi film selama filmnya berlangsung. “Lho kok gini?”, “Lah emangnya nggak bisa kalo gitu?”, “Yah, ini kan udah sering”, dan lain sebagainya.
Untuk lebih jelasnya, saya berikan sedikit spoiler di sini. Misalnya ada adegan mirip Gozilla yang jalan di tengah-tengah kota. Lho, kenapa orang-orang seakan gak pada nyadar ada makhluk segede gaban lagi jogging di pusat kota? Bahkan hanya terdengar suara dentum dari langkah kaki saja. Tidak ada teriakan, atau kepanikan lain seakan orang sudah menganggap monster itu lumrah.
Yup, Turning Red punya adegan seperti itu.
I atut!
Saya sebetulnya senang jika klimaks sebuah film diambil di area yang unik sehingga nuansa tegangnya berbeda daripada klimaks yang terjadi di tempat-tempat biasa.
Seperti Coco (lagi) misalnya, klimaksnya berlatar di sebuah konser sehingga adegan menegangkannya memiliki sensasi tersendiri dan saya suka itu!
Tebak? Turning Red memiliki adegan klimaks yang mirip… dengan Coco. Original yang nggak original.
Sayangnya, klimaksnya tidak begitu intens, namun masih cukup nyaman untuk disimak. Agak sedikit disayangkan Pixar memiliki jalan cerita yang cukup lemah dibandingkan film-filmnya yang lain.
Dan coba tebak lagi? Turning Red ini seperti saya menonton Encanto lagi namun versi Made In China. Turning Red memiliki berbagai dialog dari Encanto seperti “Saya lelah menjadi sempurna”, dst… dst…
Dan yang sedikit tidak dapat dimaafkan, spoiler dikittt lagi, pesan moralnya tidak sekena Encanto bahkan cenderung abusif. Dari menit-menit awal kita sebenarnya akan tahu bahwa film-film seperti ini pasti berbicara mengenai pentingnya menjadi diri sendiri.
Tapi… Turning Red ini agak sedikit kebangetan dalam menjadi diri sendiri, membuat pesan moral menjadi sedikit ‘tidak bermoral’.
Mei, kau ini rajin, pintar, dan berbakti. Mengapa yang seperti ini justru dianggap tidak apa-apa? π
Wait, itu nilai 75 masih dibilang “Nggak belajar ya?” Terus yang dapet nilai 20 dikasih note apa? “Keluar loh dari ini sekolah!” Gituh? π€£
Turning Red adalah salah satu film Pixar, atau satu-satunya dari film-film Pixar yang ada di review Anandastoon ini, yang mendapat perhatian sebelah mata dari saya.
Grafik seperti minim budget, musik cringe, beberapa animasi pun cringe yang saya malas lihat lagi, pesan moral kebablasan, jalan cerita pun seperti anak kecil nyusun lego yang pada nemu di jalan.
Masalahnya saya berbicara dengan standar Pixar yang seharusnya bisa jauh lebih baik dari itu.
Padahal, latar belakang atau backstory film sudah sangat menggoda karena begitu menyatukan mitologi Cina dengan realisme atau dunia nyata. Saya senang jalan cerita seperti ini. Namun eksekusinya malah terlalu seperti sinema remaja.
Dan yang terakhir, ini, sekali lagi saya berikan gambar sebagai pengantar tidur kalian. Mungkin kalian akan langsung pulas karena gambar unyu ini.
Filmnya easy to watch. Panda Meinya cute, fluffy n huggable, anak-anak pasti suka. Yang aku takjub sama animasinya cuma alisnya aja yang lebih detail. Haha.. Tapi, reff lagu nobody like you kek mirip bagian lagu hymn for the weekend.
Setuju banget sih ini.
Yup, despite kekurangannya, filmnya easy to watch dan saya akuin cukup menghibur. Mungkin bagus kalau dibuat series kali ya Nis?
Dan ssstttt… begini2 dirikuh pengen dapetin signaturenya si Fluffy Giant ituhh… UNYUKNYA 100!
Saya gak bisa nyangkal masalah alis, soalnya memang bener juga sih.
Terakhir, chorus/riff lagu 4*Town itu pantesan saya kayak pernah denger dari sesuatu yang lain! Hahah.