Ustadz Gaul dan Kiasan Gaul, Bagaimana Konteksnya?

Ustadz Gaul

Sumber: inet

Belum lama ini saya dihebohkan oleh ustadz-ustadz muda yang banyak tayang di televisi. Ustadz-ustadz tersebut agak berbeda dari ustadz yang lain. Dia tidak memakai kopiah sebagai tutup kepala, namun menggunakan tutup kepala yang sering dipakai oleh anak-anak muda. Saya awalnya agak aneh melihatnya, namun saya menilai pembahasannya cukup menarik dari yang saya dengar di televisi.

Sampai akhirnya ada teman saya membagikan sebuah postingan mengenai sebuah kias yang dapat dikatakan agak berlebihan dan kelewatan. Saya hanya menyanggah sedikit bahwa banyak ulama-ulama yang juga memakai kias atau perumpamaan dengan bahasa atau perkataan yang wajar.

Melihat komentar saya tersebut, dia menjapri saya via Whatsapp sebuah link, yang saya begitu saya buka, ternyata mengarah ke video berikut.


  • Mari berhijrah, tapi hijrah kemana?

Kehadiran ustadz-ustadz dengan tipe seperti itu lebih dapat diterima anak muda karena memang termasuk strategi marketing mereka untuk mempertahankan kredibilitas agama para remaja minimal mereka tertaut hatinya kepada masjid. Ini sebuah gebrakan positif yang memang harus diapresiasi.

Bahkan tidak sedikit komunitas-komunitas yang menjadi rajin ke masjid kemudian. Dari sana kemudian banyak channel televisi yang kemudian berlomba-lomba menayangkan ustadz-ustadz tersebut dalam acara-acara kajian agama mereka, membuat nama mereka menjadi harum dan membumi.

Kajian-kajian yang dibawakan oleh para ustadz gaul tersebut tidak jarang disisipi oleh humor-humor yang tidak diduga sehingga membuat para penonton menghasilkan gemuruh tawa yang menghiasi seantero majelis, menaruh konsep bahwa agama itu tidak seekstrem yang dibayangkan, atau bahkan, agama itu ‘fun’.

Tentu, ini adalah sebuah prestasi besar yang dapat membuat orang-orang mengenal agamanya menjadi lebih mudah. Mari kita berhijrah ke arah yang lebih baik lagi. Tetapi tunggu dulu, menjadi lebih baiknya kemudian ke arah mana?


  • Gaya yang syar’i atau syar’i yang bergaya?

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, berpenampilan necis bak anak muda ditambah dengan bahasa-bahasa kekinian menjadi sebuah strategi marketing yang membuat lebih mudah orang dalam menyerap apa yang dibicarakan. Dari yang saya pantau, tidak sedikit anak muda yang mudah bosan jika tema tausyiahnya monoton atau terlalu serius.

Di masjid depan rumah saya, ada sendiri kajian khusus anak muda yang pembawa kajiannya bukanlah sembarang orang. Ustadz tersebut memberikan ceramah yang berbobot namun juga disisipi bahasa-bahasa humor berkelas tanpa harus menjatuhkan orang di sana-sini. Jadilah majelis tersebut banyak dihadiri oleh anak-anak muda yang kemudian banyak yang mengenal agama lebih baik lagi.

Saya sendiri pernah memberi tahu teman saya, bahwa jika ingin mengajak orang kepada kebaikan, tidak apa separuh-separuh dahulu sebagaimana strategi orang-orang kafir dalam menyesatkan umat. Seperti, jika ingin mengajak para wanita berhijab, tidak apa untuk menjadikan mereka berjilboobs dahulu, asalkan jangan ditinggal.

Pernahkah kalian mendengar ada katak yang ditempatkan dalam suatu bejana yang diisi air, dan bejana tersebut ditempatkan di atas sebuah kompor? Jika kita langsung membesarkan api pada kompor tersebut, maka katak dipastikan akan melompat karena kaget. Namun jika kita perlahan-lahan membesarkan apinya, maka katak tidak akan menyadari ini dan pada akhirnya mati kepanasan, bahkan sebelum airnya mendidih.

Paham maksud saya? Jika kita mengajak orang untuk menggapai hidayah dengan tiba-tiba, seperti jika ada wanita yang kesehariannya memakai pakaian terbuka namun kita langsung menyuruhnya memakai gamis yang syar’i dan bahkan berniqab, sudah dipastikan wanita tersebut akan menjauhi sang pemberi nasehat.


  • Konteks lebih mendominasi

Kembali lagi ke video. Terlihat seorang tokoh ustadz ternama yang sebagian besar kita telah kenal menyebutkan banyak analogi-analogi dalam kajian beliau. Salah satunya adalah seorang istri Nabi yang disebut traveller, Nabi Dawud a.s. mengadakan konser, mempermasalahkan berat badan, menyebut Nabi Musa a.s. sebagai premannya para nabi, dan sebagainya. Bagaimana tanggapan saya pribadi akan hal yang sedang heboh tersebut?

Benar, pernyataan beliau tersebut menuai banyak sekali kecaman dari ustadz-ustadz lainnya. Sebenarnya saya sendiri tidak mempermasalahkan setiap kias atau analogi yang dilemparkan. Tanpa video yang dipotong-potong sekalipun, apa yang beliau sampaikan sudah jelas dengan analogi-analogi yang telah diberikan.

Sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan. Namun hanya ada dua analogi beliau yang membuat saya tidak nyaman, bahkan sangat tidak nyaman. Apa saja itu?

  • Menyebut istri nabi sebagai traveller

Cobalah kalian buka Instagram, buka situs-situs travelling, maka kalian akan temukan bagaimana gadis-gadis traveller tersebut tersingkap. Sekalipun perempuan tersebut benar-benar berhijab, maka kita tahu sebagian besar adalah mengenai kegiatan jalan-jalan yang berdasarkan kesenangan semata. Mereka bahagia di tengah alam, di tengah dunia baru, dan mereka menikmatinya.

Bandingkan dengan sebuah kisah, dimana Rasulullah saw. pernah menyuruh Siti Aisyah r.anh. agar masuk ke kamar dengan roman wajah yang tidak senang setelah ditemukannya Aisyah di depan rumah sedang bercengkrama dengan salah satu sahabat Rasulullah di depan rumah. Bahkan AlQuran pun menyuruh demikian,

“Dan jika kalian meminta suatu keperluan kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir karena itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab:53)

Bagaimana bisa kemudian dengan peraturan sekeras itu kemudian istri Rasulullah disebut dengan traveller? Saya paham ini adalah kias, namun jika tidak segera diklarifikasi, saya khawatir akan banyak wanita traveller yang berlandaskan kias ini.

  • Nabi Musa a.s adalah premannya para nabi

Mungkin ini yang paling tidak dapat ditolerir. Saya paham maksud sang ustadz dalam mempermudah pembawaan kajian dengan memberikan kias. Tetapi hal ini sepertinya agak sedikit kelewatan. Apa? Preman? Kita tahu bahwa tidak pernah muncul sebuah stigma positif dari benak masyarakat tentang preman. Bahkan, istilah preman syar’i sepertinya tidak akan pernah ada. Mengapa mencampurkan hal negatif dengan positif?

Menjadi kuat bukannya semerta-merta menjadikan orang tersebut preman. Karena, tidak semua preman adalah orang kuat. Apalagi istilah preman disematkan kepada kalamullah dan disebut sebagai premannya para nabi.


  • Kesimpulan

Di luar itu semua, kita paham, bahwa yang namanya manusia memiliki salah dan tidak jarang tergelincir. Apalagi, ustadz tersebut sudah meminta maaf dan klarifikasi atas ketidaktepatan kias beliau. Seharusnya, kita dapat memaklumi dan tidak terlalu membawa masalah ini terlalu dalam. Mungkin kita jika sudah terkenal seperti beliau akan melakukan kesalahan yang sama atau bahkan lebih parah?

Ustadz-ustadz gaul tersebut sudah banyak berjasa menarik anak-anak muda menjadi rajin ke masjid, seharusnya kita merasa malu dan termotivasi. Kesalahan terjadi karena mereka adalah manusia biasa dan normal. Jika kita selalu menghina tokoh agama, kepada siapa lagi kita akan belajar?

Di satu sisi, saya mungkin menganggap cukup kepada style para ustadz-ustadz gaul. Kadang style akan menjadi patokan dalam berstandar. Kita tidak ingin nantinya ada khatib Jum’at yang memakai jeans. Bahkan, kita tidak boleh mengunjungi istana negara dengan pakaian kasual, semua harus sopan dengan aturan yang telah ditetapkan meski semuanya tidak tertulis. Biarlah mereka saja yang menjadi ustadz gaul, selanjutnya semoga tetap berpakaian ‘normal’ selayaknya pemberi taushiyah.

Kemudian, ceramah itu harus berdasarkan bobot isi, tidak hanya kental dengan humor. Karena yang sedang didengarkan adalah sebuah peringatan yang nyata, pernyataan itu telah diulang-ulang sangat banyak di dalam Al-Qur’an. Taushiyah bukan acara standup comedy. Karena Rasulullah pun memberikan khutbah dengan mata yang merah, serius, jauh dari istilah humor.

Saya sendiri pun kadang menginginkan ceramah yang humoris, asalkan sesuai dengan bobot yang diberikan dan humor yang wajar, tidak ada kata kasar atau melecehkan. Humor adalah salah satu strategi marketing dalam melakukan pendekatan. Mengapa harus kalah dengan para misionaris?


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)