Negara Tak Bertuan Itu Bernama Internet

internet

Kemajuan internet dan teknologi digadang-gadang sangat membantu aktivitas manusia. Dari mulai informasi hingga transportasi, dari mulai hiburan hingga rutinitas harian. Awalnya kehadiran internet telah mempersingkat waktu kegiatan manusia karena banyaknya sumber-sumber yang membantu dan mendukung, meski hanya menerjemahkan sebuah kata dari bahasa asing.

Saya sebenarnya sudah beberapa kali menulis artikel yang berhubungan dengan ini. Kalian dapat membacanya di sini:

Sekarang saya ingin membahas sisi internet itu sendiri, yang sudah seperti sebuah negara dalam dimensi yang lain, memiliki masyarakat sendiri, namun tidak memiliki pemerintahan dan hukum yang baku.

Banyak undang-undang IT yang mengontrol kegiatan masyarakat dunia maya yang disebut dengan netizen (internet citizen) hingga ada yang disebut dengan polisi siber. Namun tetap, kebebasan para netizen di dunia maya lebih sulit dibendung daripada di dunia nyata.

Bagaimana pembahasan detail dan apa dampaknya?


  • Tidak ada batas, tidak ada pemimpin

Saya cukup kesulitan mencari artikel dalam bahasa Indonesia mengenai dampak internet yang berhubungan dengan kebebasan netizen di dunia maya. Yang kerap saya temukan adalah artikel mengenai efek negatif internet yang terlalu umum dan kebanyakan hanya membahas itu dan itu saja. Jadi saya memutuskan untuk membuat artikel versi saya sendiri.

Hal ini bermula dari ketidaknyamanan saya dalam berinternet, mungkin semenjak 2016, di mana banyak orang yang mulai berlomba-lomba untuk mendapatkan citra mereka sendiri di internet, apa pun caranya. Saya tidak mengerti apa latar belakangnya, para netizen mulai untuk berulah dalam pandangan saya pertama kalinya di tahun 2016.

Banyak orang yang terlalu bebas menyebarkan konten-konten yang menyinggung perasaan orang lain meski tidak menjurus ke sesuatu yang dilarang semisal pornografi, banyak juga orang yang berargumen sepuasnya karena tidak ada yang membatasi arah argumen mereka. Bahkan, tidak sedikit orang-orang yang memperingatkan dengan bahasa yang baik justru kembali diteror oleh warga maya karena mereka merasa privasinya terpelihara dengan nama samaran dan/atau dengan lokasi palsu.

Akibatnya, tidak sedikit generasi kita yang semakin tidak hormat kepada orang yang lebih tua, semakin bebas tak terarah setiap ucapannya, dan semakin tak terkontrol kegiatan mereka di internet. Tidak perlu melihat kepada postingan pribadi, hanya mengacu kepada kolom komentar saja, terutama pada artikel-artikel yang kontroversial, itu sudah dapat dibedakan antara kotak satu dengan kotak yang lain.

Dari sini sifat bangga kepada diri sendiri dan merasa diri paling benar dapat tumbuh dalam diri seorang netizen, yang secara langsung tidak langsung berdampak hebat kepada dirinya di dunia nyata.


  • Influencer yang tidak memiliki standar

Siapa yang dapat dijadikan panutan di internet? Jawabannya adalah siapa pun. Bahkan orang yang memiliki sedikit kemampuan, misalnya hanya mengedit sebuah gambar sedikit agar terlihat menghibur dapat menjadi topik yang trending di jagad maya. Setiap pujian hingga media-media memuat hasil karyanya dan seseorang dapat menjadi terkenal hingga masuk Wikipedia.

Tidak percaya? Kalian dapat mencobanya sendiri. Misalnya mengedit wajah seseorang menjadi seorang aktor yang sedang melakukan adegan peperangan. Bukankah itu menarik melihat gambar dari layar lebar terkenal dengan wajah aktor yang berubah menjadi sesuatu yang lain? Tidak perlu khawatir karya kalian akan buruk karena di Youtube sudah tidak terhitung berapa banyak tutorial untuk membuat gambar tempelan menjadi sangat realistis hanya dalam beberapa tahap di sebuah aplikasi pengolah gambar.

Lakukan itu setiap hari dengan orang dan cuplikan film yang berbeda dan BUM! Lebih dari 100k pengikut sudah di tangan. BUM! Wajah kalian akan menghiasi media-media luar sebagai orang yang memiliki skill yang menakjubkan mengubah wajah aktor-aktor terkenal menjadi sesuatu yang berbeda.

Percaya kepada saya, itu adalah hal yang sangat mudah. Tidak perlu latihan selama bertahun-tahun untuk menguasai teknik manipulasi, hari ini template dan tutorial sudah menjamur banyak di internet atau bahkan program manipulasi pun semakin memperbarui tools-toolsnya untuk para pelanggannya sehingga untuk membuat karya masterpiece hanya diperlukan beberapa kali klik saja. Kita hanya perlu sedikit ide nakal dan sedikit kreasi untuk menghasilkan sebuah karya berbeda.

Tidak untuk urusan manipulasi gambar saja, aspek yang lain dari musik, permainan, pemrograman, hingga olahraga, dan otomotif pun serupa.

Di lain pihak, netizen sudah lebih jarang mengunjungi situs-situs yang manfaatnya lebih besar untuk mereka menghadapi hidup di kemudian hari. Saya masih belum berbicara masalah akhirat, saya hanya berbicara bagian di dunianya dahulu saja, berapa banyak netizen yang akhirnya menemui masa-masa sulit ketika usia mereka sudah menyentuh usia menikah? Sisi gelap ini tidak pernah diungkap di dunia maya karena memang tidak ada orang yang ingin mempublikasikan masa kesedihannya di internet.

Hari ini yang kita sebut-sebut sebagai panutan justru secara tidak langsung banyak yang ‘meracuni’ kita secara langsung dan tidak langsung, kebanyakan. Inilah yang disebut para netizen sebagai Internet Toxic yang dampaknya memang tidak main-main.

Ada orang terkenal via Youtuber, masyarakat berlomba-lomba menjadi Youtuber. Ada orang disanjung-sanjung via desain ‘receh’ dan membuat meme, masyarakat berlomba-lomba belajar Photoshop. Ada orang yang kaya-raya berkat main game, masyarakat berlomba-lomba menyibukkan diri mereka bermain game. Benar-benar masa di mana masyarakat seperti begitu kekurangan harta dan kasih sayang, atau hanya masih belum mengerti?

Sejujurnya, saya tidak nyaman, sama sekali tidak nyaman. Saya memasang iklan di blog ini pun bukan mengedepankan penghasilan iklannya, sebab saya sudah memiliki pekerjaan dan jabatan yang sangat layak dibandingkan dengan mati-matian memantau pendapatan iklan di blog saya ini. Saya hanya menjadikannya sampingan, karena memang tujuan awal saya membuat blog ini adalah untuk sharing kepada para pembaca, di mana pembaca pun dapat komplain apa pun tentang blog ini.

Kalian sekarang dapat melihat di bilah samping (sidebar) jika kalian mengakses blog ini dengan PC, atau di bilah bawah artikel dan kolom komentar jika dari smartphone. Apa itu? Akun Instagram saya, kalian lihat, dan kalian dapat mengklik salah satu fotonya untuk dialihkan ke halaman InstaGram saya. Kalian dapat melihat “like” yang saya dapatkan bahkan tidak menyentuh angka 50, untuk kebanyakan foto. Namun saya tetap posting di Instagram karena tujuan saya sharing, bukan fame seeking. Ada komentar saya bersyukur, tidak ada komentar pun insyaAllah tidak mengapa, saya tetap menjaga kualitas konten Instagram saya.

Sekali lagi, saya sangat, sangat tidak nyaman dengan keadaan hari ini. Siapa yang dapat membatasi kebebasan para netizen?


  • Kehidupan ruang rupa

Saya memiliki cita-cita untuk terus mengikuti bagaimana kelanjutan hidup orang-orang yang mendapatkan kepopuleran di dunia maya dengan cara yang, meskipun tidak instan, namun usaha mereka masih tergolong jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang benar-benar bekerja keras dengan cara yang ‘normal’ dalam hidupnya.

Saya membriefing karyawan-karyawan saya untuk tetap hidup normal. Menjadi normal adalah ujian yang paling sulit di zaman yang serba instan ini. Tidak mengapa kita berkarya, memiliki ide yang buas, mengasah kemampuan agar menjadi salah satu yang paling hebat, berpikir di luar kebiasaan (out of the box), karena itu semua masih dalam lingkup ‘normal’.

Tetapi yang saya titikberatkan di sini adalah masalah pengaruh (influence) dari setiap orang yang kita temui di internet. Setiap orang ingin menjadi selebgram, dibayar sponsor, dan menjadi jutawan dalam waktu yang sangat singkat, apa pun lingkup dan bidangnya.

Dahulu saya sering sekali mencari anak-anak bangsa yang berprestasi mengharumkan negeri ini, namun semenjak 2016, saya mulai agak membatasi pencarian saya tersebut dan lebih fokus ke dalam analisa realistis mengenai dampak netizen, terkhusus dari anak bangsa itu sendiri dalam peranannya memajukan negara Indonesia ini.

Terlalu banyak positif palsu. Tidak hanya di Indonesia, melainkan seluruh dunia. Apalagi mereka yang berkarya karena orientasinya hanya uang, sedangkan karyanya mungkin hanya dapat dinikmati sesaat karena sudah banyak pesaing yang dapat membuat hal serupa.

Maka dari itu, saya mengingatkan kembali karyawan-karyawan saya bahwa ujian terbesar hari ini adalah “menjadi normal”.

Saya hanya rindu di mana pada zaman dahulu banyak konten-konten di internet yang begitu mudah dinikmati selain dari hiburan-hiburan ‘receh’ yang hanya bagus atau menghibur, namun tidak menginspirasi. Tidak ada perlombaan yang membabibuta perihal komersil. Semuanya murni bakat, ilmu, atau pun kekonyolan.


  • Antisipasi

Saya hanya membatasi penggunaan internet mulai hari ini semenjak saya sadar kehidupan saya lebih bahagia dengan sedikit waktu dengannya. Saya benar-benar ingat masa di mana internet membantu saya untuk menyelesaikan tugas saya tanpa membuang-buang waktu saya yang lain.

Hari ini justru sebaliknya, sedikit bekerja, saya setiap beberapa menit sekali mengecek media berita, jejaring sosial, artikel-artikel acak, dengan berjam-jam waktu yang terbuang. Saya hanya dapat termenung dilumuri rasa sesal tiap malam di atas tempat tidur, memandang langit-langit dengan tatapan kosong.

Saya tidak lagi berpikir menjadi selebgram meskipun mereka memiliki kemampuan dan ide yang terlihat mumpuni sekali pun, akan membawa negara ini menjadi negara maju. Aspeknya bukan hanya bidang hiburan untuk menjadi negara maju, saya pernah ke Singapura sekali dan saya sangat kagum akan perilaku masyarakat di sana, yang seakan mereka tidak pernah kenal budaya yang mengganggu waktu mereka. Semuanya hening, khidmat, dan terlayani dengan baik. Bahkan saya yang baru pertama kali ke sana tidak dapat tersasar karena semuanya serba mudah, dari mulai akses hingga petunjuk jalan. Tidak ada yang serba tanggung, dengan istilah yang penting ini dan yang penting itu.

Saya hanya ingin beristirahat, mengurangi waktu saya di internet, mengurangi sifat adiktif saya di layar kaca yang mana saya harus membuat metode seperti orang yang berhasrat ingin berhenti merokok. Saya rasa efeknya sama saja sebab hal ini berhubungan erat dengan candu. Saya ingin mengembalikan kualitas waktu saya seperti tahun-tahun lalu yang saya bahkan dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam satu hari, tanpa adanya penundaan.

Orang yang terkenal via internet meskipun skill mereka unik dan fantastis, tidak lagi mendapatkan perhatian penuh dari saya. Saya hanya ingin berkiblat kepada ilmuwan, atau seniman zaman dulu yang karyanya benar-benar legendaris dan sulit dilupakan, menginspirasi saya dalam menyuplai ide untuk membuat pekerjaan saya lebih berkualitas. Mereka tahu kapan harus bercanda dan serius.

Hari ini bahkan saya tidak tahu lagi di mana orang-orang yang kemarin sempat terkenal di jagad maya karena hal-hal yang tidak biasa. Mungkin yang masih bertahan hanya satu, sampai beberapa orang saja dari ribuan.

Tidak ada yang dapat menghentikan keganasan setiap influencer yang kita bahkan tidak paham orientasinya apa, sedangkan banyak orang yang masih awam akan dengan mudah menjadikan mereka sesembahan baru.

Usia saya sudah memasuki tahapan yang serius, saya tidak ingin bermain-main lagi.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • Ingin me-request sesuatu untuk saya bahas/saya posting? Saya akan pertimbangkan saran pembaca semuanya. Saya membuka saran kalian di kategori jalan-jalan, atau masalah sosial, atau cerita horor. Pastikan tidak spam, promosi, atau request konten dewasa. Atau bisa juga request fitur blog atau bahkan komplain.

    Isi request kalian di sini:

    Surel Anda (wajib)

    Apa yang ingin Anda request, sebuah deskripsi singkat (wajib)

    Terima kasih. :)