Hari ini banyak sekali pegiat IT yang berkecimpung menargetkan AI sebagai sasaran produknya. Alasan utamanya terkadang cukup bikin geleng-geleng kepala. “Keren soalnya” katanya seperti itu.

Banyak yang menyangka saat seseorang berbicara tentang AI, yang ada dipikirannya adalah sesuatu tentang humanoid atau teknologi yang dapat menirukan manusia, atau bahkan dapat dijadikan sebagai pengganti manusia.

Well, itu memang benar. Mereka tidak salah. Tapi sebenarnya AI memiliki arti yang lebih simpel dari itu.

Memangnya apa itu AI?

Prinsip Dasar AI, seperti yang kita tahu memiliki kepanjangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah istilah bagi sekumpulan perintah atau metode khusus yang disuntikkan kepada mesin agar mereka dapat menjalankan sekumpulan perintah tersebut.

Intinya, AI dalam sebuah program komputer terjadi jika ada perintah “if”.

Teorinya memang seperti itu.

Perlu diketahui, AI itu sangat sederhana. Saat kalian menekan tombol ke bawah di keyboard kalian, sorotannya akan ‘menurut’ ikut ke bawah. Itu juga termasuk AI dalam hal yang sederhana.

Contoh AI paling signifikan ada dalam permainan digital, contohnya saat kita bertarung melawan musuh.

Ada musuh yang baru dapat menyerang jika pemain sudah mendekatinya. Atau ada juga ‘reflek’ musuh melindungi diri jika ada senjata pemain yang akan mengenainya.

Bukan hanya itu, AI juga melingkupi seluruh bidang seperti desain grafis, musik, hingga operasional dan keuangan.

AI dalam bidang desain grafik misalnya, saat kita memilih Auto Color/Tone di Adobe Photoshop misalnya, target gambar dengan ajaibnya langsung memiliki warna yang lebih baik.

Dan tentu saja, AI mengikuti kemajuan teknologi.

Saat ini temuan teknologi telah berhasil membuat segala sesuatunya menjadi kompleks, maksudnya kompleks di sini misalnya tampilan layar dari pixelated menjadi smooth dengan cakupan warna lebih banyak, atau dari memori RAM yang hanya mentok di MegaByte sekarang sudah puluhan GigaByte, ukuran memori penyimpanan (storage) yang semakin besar namun semakin hemat tempat, audio sudah semakin jernih, dan lain sebagainya.

Maka secara otomatis AI terupgrade dengan sendirinya, menjadi jauh lebih mudah dan fleksibel. Apalagi ditambah banyaknya tools, template, dan tutorial yang membuat para programmer menjadi lebih cepat mengembangkan AI modern.

Bahkan karena semakin begitu detailnya teknologi yang dikembangkan, AI dapat dikembangkan menjadi lebih mirip manusia, dengan kelakuan layaknya seorang manusia.

Teknologi yang seperti selayaknya seorang manusia itu dimulai dari pengenalan sidik jari, pengenalan raut wajah (face recognition), OCR (membaca teks dari gambar), hingga teknologi gerakan dan suara.

Bagaimana jika programmer pemula ingin terjun di bidang AI?

Sebenarnya saya sendiri jika sedang mendapatkan waktu luang, saya menulis program AI sederhana dengan kodingan saya sendiri.

Ada teknologi AI yang sangat simpel, tapi tentu sangat berguna. Misalnya yang berhubungan dengan pengolahan data.

Kita sudah tahu bahwa data itu mahal. Dengan data kita bisa tahu apa yang sedang terjadi di dunia ini, dan dapat membuat kesimpulan hingga prediksi setelahnya.

Namun data yang mahal tentunya akan lebih terasa jika manfaatnya jika data tersebut sudah diolah, tidak lagi disajikan mentah.

Data yang diolah dapat disajikan dengan berbagai macam grafik yang menarik atau kita menyebutnya dengan visualisasi data.

Lalu dimana terasa AInya bagi para pengguna?

Terkadang data yang telah disajikan dengan grafik yang cantik ternyata masih dapat membingungkan audiens. Bahkan dapat memunculkan pertanyaan seperti, “Untuk apa tujuan penyajian data seperti ini?”

Inilah perlunya menyuntikkan kecerdasan buatan (AI) seperti membangun berbagai kesimpulan dari grafik-grafik tersebut.

Dan bukan hanya kesimpulan dari grafik semata, melainkan kesimpulan dengan bahasa yang memang sudah selayaknya manusia.

Misalnya, bayangkan ada grafik yang menggambarkan tingkat kematian akibat bunuh diri di berbagai provinsi di Indonesia.

Maka kita bisa buat kesimpulan dengan bahasa manusia dari visualisasi tersebut seperti, “Provinsi di mana warganya paling banyak melakukan bunuh diri adalah ABC, dengan cara gantung diri.”, dan kesimpulan-kesimpulan lainnya yang seakan ditulis oleh seorang manusia asli.

Jika memang kita dapat menghasilkan kesimpulan tersebut secara otomatis dari setiap visualiasi data, maka selamat! Kita sudah dapat membuat AI modern kita sendiri di tingkat yang paling simpel namun berkelas.

Suka
Komentar
pos ke FB
pos ke Twitter
  • Selesai membaca? Jangan pergi dulu! 😉

    Minta waktunya sebentar dong, plis sebentaaarrr doang. Gak sampe 5 menit saya janji. Anandastoon minta saran dan komplain kalian di formulir berikut untuk membuat situs ini menjadi lebih baik. Komplain kalian sangat berarti bagi Anandastoon. Makasih ya sebelumnya.
    Oiyak! Untuk melihat apakah saran kalian didengar Anandastoon atau tidak, bisa cek ke halaman penerapan komplain berikut...


  • 0 Jejak Manis yang Ditinggalkan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kembali
    Ke Atas